Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 46


__ADS_3

Kevin menatap layar raksasa yang berisi tayangan CCTV di depannya. Dahinya mengernyit, tangan kanan di bibirnya, ditopang oleh tangan kirinya yang memeluk pinggangnya sendiri.


Ia sedang berpikir.


Mengenai taktik meluluhkan Nirmala.


Ia yakin sekali kalau Nirmala memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi wanita itu terlalu takut melangkah ke depan.


Juga, tersendat akibat masa lalu Kevin.


Yang mana, sebenarnya mereka berdua sudah tahu hal ini sejak lama, kalau masa lalu tidak bisa diubah, dan trauma sulit diusir pergi.


Kevin kecewa,


Tapi saat Nirmala tadi berlalu, ia pun menyadari.


Kalau ia terlalu tergesa-gesa.


Masalahnya, ia sudah menahan hal ini sangat lama menurutnya.


6 bulan pencarian, ditambah 6 bulan akhirnya ketemu tapi malah tak bisa mendekat.


Kevin sangat menginginkan Nirmala.


Dan sangat bersyukur wanita itu masih single.


Sudah banyak kekecewaan melandanya, termasuk penundaan pengadilan bagi para pembunuh ibunya yang rupanya menyeret nama besar dalam dunia politik. Artha ingin menyapu bersih semuanya, tapi Kevin tak ingin lebih banyak korban lagi.


Ia bukan siapa-siapa Artha, dan pria itu sebentar lagi akan menikah dengan sahabat baiknya.


Jadi ia lebih baik pergi, sembunyi, menjalani hidupnya dengan nyaman menurut caranya sendiri sambil menunggu. Ia masih percaya proses peradilan di negara ini dapat mengusahakan keadilan bagi seluruh rakyatnya.


Dan ada campur tangan Tuhan dalam masalah ini.


Sudah cukup sedih-sedihnya, sekarang urusan... perut.


“Copot semua kameranya,” bisik Nirmala di dekat telinganya, dari arah belakangnya.


Kevin kaget dan menoleh.


“Ih, Tante. Ini kan demi keamanan dan keselamatan ber...”


“Hadapnya nggak perlu ke apartemen saya,kan?!” potong Nirmala sambil meletakkan nasi goreng di meja makan. “Oh iya, kenapa isi kulkas kamu snack semua? Kamu nih harus banyak makan daging loh,”


“Kalau mau makan tinggal ke warteg,”


“Terus kenapa di sini nggak ada kompor?!”


“Yaaa... karena aku makannya di warteg,”


“Nggak bagus jajan terus,”


“Dari kecil aku makannya di warteg,”


“Ya iya lah ibu kamu kan punya warteg,” Nirmala berkacak pinggang sambil mencibir.


“Mulai sekarang kalau lapar kan tinggal ke unit depan,” Kevin meringis, “Atau sekalian aja aku pindah?”


Nirmala menghela napas dan duduk. “Kita perlu membicarakan banyak hal, Kevin. Termasuk mengenai kepindahan kamu ke sini,”


Kevin duduk di depannya, mengambil sendok. “Makan dulu ya, Tante Sayang,”

__ADS_1


Nirmala lagi-lagi menghela napas.


Malam mereka dihabiskan dengan mengobrol.


Banyak hal.


Nirmala lebih banyak menyimak, karena memang hidup Kevin bervariasi. Dinamis seperti sifat anak ini.


Sesekali ia tersenyum dan menatap Kevin dengan perasaan rindu.


Betapa selama ini malam-malamnya dihabiskan dengan memikirkan anak ini berada di sebelahnya, tidur sambil memeluk dirinya. Dan berapa banyak hari-harinya yang dihabiskan untuk bekerja karena berusaha menghilangkan bayangan itu. Karena itu gaya hidup Nirmala berubah drastis, terutama jam tidur.


Setiap teringat Kevin, ia bangun dan melakukan aktivitas yang bisa mengalihkan perhatiannya.


Tapi pemuda ini selalu ada.


Pemuda ini sudah mencuri hidupnya.


Haruskah ia menyerah saja dengan keadaan? Karena semakin ia menjauh, semakin dekat Kevin. Di saat ia merasa sudah mulai move on dan intensitas mengingat Kevin berkurang, Kevin dalam wujud manusia sebenarnya malah muncul di depannya.


Dan, apakah yang sekarang ini mimpi? Atau kenyataan?


Yang bisa membuktikannya hanya esok hari.


Di saat pagi menjelang, semuanya tidak hilang.


Itu bukti kalau semua ini nyata.


Kevin yang sedang bercerita di depannya sekarang bagaikan ingatan klip slow motion di pandangan Nirmala. Begitu indah dan tampaknya tak tergapai, tapi selalu ada di benaknya.


“...Tapi akhirnya Om Artha malah memberlakukan cicilan, udah gitu jumlahnya menghabiskan setengah gajiku pula! Untung aja makan siang masih catering dari kantor, kalau sedikit senyumin ibu-ibu kantin bisa lah dapet take away makan malam, hehe,” cerita Kevin.


Nirmala mengulurkan tangan ke pipi Kevin dan membersihkan nasi yang menempel. Lalu memasukan butiran nasi itu ke mulutnya sendiri.


Kenapa rasanya manis? Apa aku salah memasukkan gula? Atau karena tertempel pipi Kevin?


Pikir Nirmala sambil mengernyit dan mengunyah lagi butiran nasi itu di mulutnya. Memastikannya sekali lagi.


Oh, tidak kok. Rasanya gurih. Ternyata memang pengaruh anak ini sudah sampai ke indera perasaku. Pikir Nirmala kemudian.


Saat ia sadari, Kevin sedang memandangnya.


Sesaat mereka hanya diam saling bertatapan.


Tak mengindahkan suasana di sekeliling mereka,


tak acuh dengan suara samar yang mengelilinginya.


Beberapa detik yang sunyi,


Hanya ada mereka berdua di dunia yang hening.


Lalu terbesit hal yang selalu ingin ditanyakan Nirmala ke Kevin.


“Kev,”


“Hm?” Kevin masih menatapnya dengan ekspresi yang sama, setengah menerawang, setengah mendamba, tapi tak berani mendekat.


Takut Nirmala kabur lagi.


“Apa fantasi terliar kamu terhadap saya?” tanya Nirmala.

__ADS_1


Terlihat sebelah alis Kevin terangkat, “Setelah sekian lama, kenapa harus tanya yang itu, sih? Nanti kujawab kamu malah lari,”


“Parah dong jawabannya,” begini kesimpulan Nirmala.


“Ya udah pasti parah, aku berpengalaman dalam hal itu, dan aku masih abege, udah pasti yang aneh-aneh yang terlintas,” Kevin setengah mengomel karena oertanyaan tak terduga Nirmala.


Nirmala terkekeh, lalu menunduk. Rasanya telinganya panas saking malunya.


Untuk apa ia tanyakan hal itu? Apakah tidak ada hal lain untuk meningkatkan kepercayaan dirinya selain tahu kalau ia jadi bahan objek seksual bocah kuliahan?!


“Abege..." gumam Nirmala, "Tidak terasa sudah lama waktu berlalu sejak aku melihat kamu dalam seragam putih abu-abu, ya. Sekarang udah ada jaket almamater saja di gantungan baju kamu,”


“Dan Name Tag,”


“Ah iya, dan Name tag. Aku saja yang bukan siapa-siapa kamu bangga, apalagi ibu kamu ya,”


“Kamu bukannya bukan siapa-siapaku,”


“Aku selalu bukan siapa-siapanya semua orang,”


“Sekali-kali percaya dengan dirimu sendiri dong, Tante. Banyak yang peduli sama kamu, kok. Kamunya saja yang tidak menerima mereka,”


Nirmala lagi-lagi terdiam.


Sekarang jadi banyak sosok yang timbul di ingatannya.


Papa di penghujung hidupnya bilang : Nirmala, Papa selalu percaya denganmu.


Mama di saat terakhirnya bilang : Mala, titip adik dan Papamu. Hanya kamu yang mama yakin bisa melalui semuanya.


Wana baru-baru ini bilang : Kenapa kakak selalu membiarkan semua orang menyakiti kakak? Aku yang sayang kakak jadi semakin sedih melihatnya. Sayangi saja dulu dirimu sendiri, Kak.


Bosnya di kantor juga bilang : Saya perhatikan dari dulu kamu selalu ada andil di setiap solusi. Tertarik untuk dipromosikan lebih tinggikah Mbak Dierja? Kalau tertarik anytime hubungi saya.


Kalau dipikir, banyak juga yang peduli dengannya. Gara-gara Jaka dan keluarganya, semua jadi ia pagari dengan pikiran suramnya.


Dan nyatanya,


Yang ia paling inginkan untuk ada dan peduli padanya, adalah pemuda di depannya ini.


Yang menyadarkan bahwa dunia ini, walaupun penuh dengan hal buruk, tapi selalu terselip hal baik di setiap perjalanannya. Tak peduli batu sebesar apapun menimpanya, dia selalu tidak pantang menyerah untuk maju dan menghadapi semuanya.


Kevin sebenarnya adalah guru dalam kehidupannya. Usianya hanya setengah umur Nirmala. Tapi persoalan hidupnya 3x lebih rumit.


Yang begitu saja masih bisa ia hadapi dengan senyum.


Permasalahan hidup yang menjadikan Kevin dewasa dan melihat persoalannya dengan dagu terangkat, seakan puas dengan hidupnya sendiri.


Kemana saja aku selama ini? Hanya mengurung diri dan insecure tak beralasan. Padahal masalahku sudah lama selesai.


Jadi,


Inilah saatnya menerima hal baru,


Memulai hidup dari awal,


Mengisi lembaran ingatannya dengan hal yang paling diinginkannya.


Yang pertama tersirat adalah,


“Kevin, mau hidup denganku?”

__ADS_1


__ADS_2