
Cklekk!
Wana membuka pintu ruangan Artha dengan sapu dan pel di tangan kirinya dan troli yang penuh berisi peralatan bersih-bersih.
Baru saja ia membuka pintu, ia menyadari kalau ada seseorang di ruangan itu.
Artha sedang berdiri membelakanginya dengan posisi menatap ke arah luar jendela.
Pria itu menoleh ke belakang dan mereka berdua sama-sama saling menatap.
Wana dengan tatapan kaget tapi sinisnya, dan Artha dengan tatapan heran dan menerawangnya.
"Pagi Pak Artha, maaf mengganggu," desis Wana sambil menutup kembali pintunya.
"Wana," panggil Artha sambil setengah berlari ke arah pintu dan menarik tangan Wana.
"Ya Pak? Ada yang bisa dibantu?" Wana bersikap dingin.
"Ah! Kamu ... " entah kenapa kalimat Artha seakan berhenti di ujung kerongkongan. Lidahnya langsung kelu saat melihat mata Wana yang menatapnya dengan kesal.
Pria itu menghela napas.
"Maafkan aku," desis Artha, "Bukan maksudku menolakmu, aku hanya kaget,"
"Kaget?"
"Iya, kaget,"
"Kenapa kaget? Kamu sudah bersikap seperti itu padaku, apa kamu tak menyangka kalau ujung dari hubungan kita adalah pernikahan? Atau kamu menganggap semua wanita itu murahan? Mau saja dipegang-pegang tanpa ikatan?" Panjang lebar Wana berbicara dengan nada sarkas.
Hal itu langsung membuat Artha bagaikan dihujam berpuluh-puluh pisau.
Pria itu menarik napas panjang.
Iya, Wana benar. Ia sudah keterlaluan.
"Kamu benar, selama ini wanita di sekelilingku hanya untuk kepuasan seksual semata, aku pernah trauma dengan hubungan cinta," Artha mengakui sambil menarik Wana masuk ke dalam ruangannya dan mengunci pintunya.
"Tapi tolonglah Wana, beri aku waktu untuk menguasai diri,"
"Hm, aku capek," desis Wana.
"Aku tahu hubungan ini tidak mudah,"
"Bagaimana sih sebenarnya perasaan kamu terhadapku? Normalnya pria yang jatuh cinta dengan wanita akan tak sabar untuk menikahinya,"
"Jaman sekarang belum tentu,"
"Jadi, jaman sekarang adanya laki-laki brengsek yang tersisa di muka bumi,"
"Wana, tolong dong. Berhenti menghujat semua laki-laki hanya karena tingkahku,"
"Jadi, aku bisa jadi istri kamu?"
Artha mengelus janggut panjangnya.
"Kamu serius mau jadi istriku? Usiaku 2 kali usia kamu, loh. Akan ada banyak gap diantara kita,"
"Selama ini juga banyak gap kok, tapi aku malah mendekat. Kamu pun sepertinya tak menyerah akan diriku,"
"Di usia muda kamu akan terpaksa menjalani hidup sebagai istri pengusaha. Akan ada banyak tekanan di sana-sini,"
"Kamu akan selalu ada untukku, kan?"
"Bagaimana kalau aku dipanggil duluan?"
"Belum tentu begitu, bagaimana kalau malah aku yang lebih dulu?!"
__ADS_1
"Apa kamu sudah berpikir ke depannya akan seperti apa? Kamu kan bisa cari yang lebih muda dariku,"
Wana menghela napas dan membuang muka
"Perasaan kamu selama ini terhadapku bagaimana sih selama ini. Aku jadi bingung dengan hubungan percintaan ini,"
"Aku cinta kamu, tapi untuk hubungan pernikahan, aku... " Artha merapikan rambutnya ke belakang dengan jengah, "Aku belum pernah mengalaminya,"
"Memangnya aku pernah?!"
"Yaaah..." Artha langsung specless.
"Sudahlah, semau kamu aja," Wana akhirnya merasa capek. "Mau kamu jungkir balik, roll depan roll belakang, aku tak peduli lagi. Usia kamu memang sudah lanjut dan mungkin sudah banyak pikiran mendesak selain pernikahan, malah yang ingin menjadikan aku istri adalah asisten kamu yang jauh lebih muda," Wana mengangkat bahunya, mengambil pel dan mulai mengairi dan memeras kainnya.
Lalu berjalan ke ujung ruangan dan mulai mengepel lantai.
"Wana, bukan begitu," Artha mengikutinya dengan panik.
"Silahkan kembali bekerja Pak, maaf sudah ganggu paginya dengan keluhan saya,"
CPRETT!
Air pel-an sengaja dicipratkan Wana ke atas sampai Artha mundur takut terkena cipratannya.
"Aku mungkin memang hanya wanita level rendahan yang pantasnya digerayangi saja, tidak untuk dinikahi,"
CPREET!!
Kena jidat Artha.
"Mungkin terlalu murahan atau aku sebenarnya jelek,"
CPRETT!!
Kena dokumen penting.
"Memang yatim piatu sih ya, udah miskin bawel pula, berharap dinikahi konglomerat kaya dan hari tuanya bergelimang harta,"
CPRETT!!
"Memang akunya aja yang nggak tau diri, main minta dinikahi saja, kayak nggak ada laki-laki lain di dunia ini selain kamu,"
CP...
Artha menghentikan gerakan mengepel Wana yang serampangan.
"Oke, kita menikah bulan depan. Aku akan urus acaranya," kata Artha menyerah.
*
*
"Anjaaaay!!!" Seru Gwen sampai berdiri dari duduknya saat siang itu ia dan Wana makan di kantin Fakultas Teknik. "Lo nikah Wan? Khayalan lo udah level damage! Ini pasti akibat Sugar Daddy nggak dapet-dapet, jadinya lo halu!!" seru Gwen.
Wana menatapnya sambil merengut.
"Kalo gini sih, gue harus relain duit gue amblas, nggak mungkin lo bisa ditagih kalo sampai ditangkap dinas sosial dan dimasukin rumah sakit jiwa. Beuh!" gumam Gwen.
Wana lagi-lagi diam dan hanya mengunyah gorengannya.
Lalu tangannya melambai ke arah Gwen.
"Kenapa?" tanya Gwen sambil kembali duduk.
Wana mentransfer sisa dana dari pinjaman Gwen yang belum terpakai lewat e banking. 25 juta langsung dikembalikan ke Gwen.
"Hoo, udah kepake setengah ya, hasilnya bagus sih lo jadi glowing banget gini," desis Gwen.
__ADS_1
"Nih, sisanya gue bayar pake ini," Wana membuka kalung berliannya dan meletakkannya di depan Gwen.
"Lu yang bener aja titanium lo hargain jutaan," dengus Gwen.
"Lo cek aja ke toko mas, itu berlian asli. Nggak liat tuh merknya Frank n Co?!" sahut Wana.
"Hah? Serius nih?" Gwen langsung menyambar kalung itu dan mengamatinya. Lalu dengan terbelalak dia menatap Wana.
"Gue jadi sebel sama reaksi lo, pesen indomie dulu," kata Wana sambil beranjak. Gwen tidak mengacuhkkannya dan fokus pada kalung berlian.
"Bu, pesan indomie 2, kornet telur extra keju segunung. Sambel yang level dower," kata Wana ke ibu-ibu warmindo. "Juga es teh manis,"
Saat itu notifikasi pesan singkat di ponselnya berbunyi.
Ting! Dari Artha.
"Aku otw kampus kamu, mau diskusi tentang pilihan EO,"
Wana mengetik, "Harus banget sekarang ya? Aku lg kuliah loh,"
"Bukannya kamu yang minta cepet? Habis ini aku mau langsung booked," balas Artha.
Wana mencibir, "Ya sudah, aku di kantin teknik,"
"Ini Neng," Bu Warmindo menyodorkan baki berisi dua mangkuk indomie special, dan segelas es teh manis.
*
*
"Waduh waduh, bener kan harusnya gue ke coffee shop aja buat ngerjain tugasnya! Ke sini malah ketemu si Eiger!" Stela melenggang dengan kemayu bagaikan Ratu Sejagad, didampingi kedua ajudannya yang dengan senang hati membawakan buku dan tas semilyarnya.
Wana sedang menyuapkan indomie ke mulutnya. Berusaha tak mempedulikan Stela.
Pedas dan MSG minded, cocok untuk memperbaiki suasana hatinya. Jadi ia bisa kalem aja terserah Stela mau bicara apa.
Tapi tidak dengan Gwen yang langsung melayangkan pandangan sinis ke Stela.
"Cocor bebek, sana ke coffee shop! Lo nggak cocok merakyat macam kita! Pencitraan namanya!" Sahut Gwen.
"Bokap gue salah satu investor di sini, jadi literally, ini kampus milik gue, bisa lah gue makan dimana aja!"
"Kampus ini dibangun pake dana pembangunan, dari mahasiswa. Jadi secara nggak langsung kita juga investor sekaligus customer. Kaga usah congkak!" sahut Gwen.
Wana diam saja sambil menyuapkan suapan ketiga. Dia punya urusan yang lebih penting dibanding sekedar mengurusi Stela.
Stela menggebrak meja kantin dengan kesal, "Jangan sesumbar, bacot lo dijaga! Gue bisa aja minta Rektor buat pecat lo jadi asdos ato tarik lagi beasiswa lo!"
Gwen nggak mau kalah, ia berdiri juga dan menuding Stela, "Coba aja kalo berani, hak gue dilindungi undang-undang. Gue tinggal melayangkan keluhan ke Menteri Pendidikan!"
Dan hebohlah kantin dengan adu mulut keduanya.
Wana masih masa bodo dan menyeruput es teh manisnya.
Segaaaarrr!!
"Sayang?" Artha muncul dan menghampiri Wana.
Suasana langsung hening.
Wana,dengan mulut masih penuh lembaran indomie menoleh ke samping.
Artha langsung duduk di sebelahnya, mencium pipinya dan meletakkan tumpukan brosur EO, di depan Wana.
"Kamu bisa pilih yang sesuai di sini, atau bisa ikut aku ke pamerannya sekarang. Hari ini hari terakhir pameran soalnya," desis Artha sambil memeluk pinggang Wana supaya lebih erat ke pelukannya.
"Hm," mulut Wana penuh indomie.
__ADS_1
"Papa??" panggil Stela dengan wajah tegang. Ia menatap bergantian antara Artha dan Wana.
"Wan?!" gumam Gwen, juga melakukan hal yang sama dengan Stela. Menatap bergantian antara Artha dan Wana.