Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 55


__ADS_3

“Bro!” Agus menghampiri Kevin dan langsung memeluknya dengan erat. “Njir! Kangen gue!”


“Lo serius ke sini pake jaket almamater?! Luar biasa songong,”


“Biar mencolok bro, hahaha!”


“Nggak lucu, bangor!” gerutu Kevin sambil merengut. Ia sebenarnya agak envy ke Agus karena sebentar lagi ia tidak akan memakai jaket kuning itu lagi, demi masa depan penuh pundi-pundi harta duniawi.


“Kasep mana?” tanya Agus sambil celingukan.


“Masih ikutan wawancara sama Pak Darling buat masuk ke divisi Game Tester,”


“Gue baru mulai besok wawancaranya. Duh, Deg-degan gue,”


“Tenang aje, lo pasti bisa. Btw, lo dateng ke sini sendirian kan?”


“Mana mungkin gue sendirian...”


GABRUKKKHHHGYTDNJYHJUKGAHBCFE!! (Ceritanya bunyi 'jatuh ganteng' ala Kevin)


“Kak Keviiiinnnnn kangeeeennnnn!!!” Yah kalau suara cempreng begini sih semua juga bisa nebak kali ya siapa orangnya.


“Gus, di sini tuh pengadilan. Beraninya lo bawa-bawa jenglot kesini...” keluh Kevin sambil menoyor kepala Dian agar cewek itu menjauh darinya. Tapi pelukan Dian terlalu erat bagaikan lintah belum ditaburi garam.


“Bantuin gue lah biar badan gue enteng sebentar,” gumam Agus sambil merenggangkan tubuhnya. “Lagian kalo dia macem-macem di sini banyak aparat,”


Farida menyusul mereka sambil berjalan perlahan karena perutnya sudah membesar. “Kak Dian begitu liat Kak Kevin jadi kesetanan. Aku nggak kuasa menghentikan,”


“Udah biarin Kevin kesambet Dian sebentar, gue mau healing sama Pak Suraji di starling,”


“Gus, cewek lo gesek-gesek Joni gue pake dengkul,” Kevin menatap Agus tajam, tanda kalau ia sangat tidak nyaman.


“Setrum aja pake defribrilator,” gumam Agus sambil melenggang pergi ke arah starling.


“Hah? Ngapain bawa-bawa vibrator?!” (Ini beneran salah paham).


“Otak lo Hub melulu! Itu Defri... ya sudahlah, bomat! Titip cabin yak!” dan Agus pun berlalu ke arah starling pinggir jalan (iya lah kalo di tengah jalan bisa ketabrak).


“Kalo sama Kak Kevin, aku mau lah di setrum. Duh ngefans banget lah akooooh!” Dian menggesek-gesekkan pipinya di dada Kevin, foundationnya sampe meper-meper.


“Lo tuh udah punya cowok! Kaga ada malu-malunya!!” Kevin mendorong dahi Dian sampai cewek itu melonggarkan pegangannya.


“Semua juga tau Kak Kevin crush aku, Agus masa depanku, mami sumber uangku, papi wali sahku,”


“Ih, amit-amit jabang bayi!” Farida meringis sambil mengelus perutnya.


“Sayang...” Nirmala datang. Lalu langkahnya terhenti sambil menatap Kevin yang berbaring setengah duduk di lantai dengan seorang cewek cantik memeluknya posesif. “Wah, jarang-jarang kamu punya klien masih muda,” malah diajak bercanda.


“Dia bukan klien! Idiiih!” seru Kevin sambil berusaha menjauhkan Dian dari pelukannya. Tapi apa daya cengkeraman Dian udah kayak burung elang matok cilok. Elangnya elang bangkai pastinya.


"Klien apa Kak Maksudnya?" tanya Dian.


Nirmala memicingkan mata menajamkan penglihatannya ke arah Dian. “Kamu... bukannya yang ngaku adik psikopat ya?”


Dian menatap Nirmala dengan mata bulatnya, lalu ia teringat kalau wanita di depannya ini adalah cinta dalam hidup Kevin. “Nama tante siapa?”


"Waktu itu saya sudah memperkenalkan diri,"


"Kartu namanya udah kubuang, karena keberadaanmu tak ada artinya bagi hidupku,"


"Duile...," gumam Kevin sambil menatap Dian dengan sinis.


“Nama saya Nirmala,” Nirmala mencoba bersabar.


“Nirmala siapa?”


“Nirmala Dierja,”


“Tanggal lahir?”


“Woy ngapain lo nanya tanggal lahir segala!” Kevin akhirnya bisa membebaskan dirinya.


“Kak Kevin, aku kenal ahli supranatural yang bisa melunturkan pelet seseorang,” bisik Dian.


“Wah! Aku difitnah! Hahahaha!” Nirmala tertawa geli.


“Kenapa kamu malah ketawa sih? Marah, dong!” sungut Kevin ke Nirmala.


“Usia segini kalau marah tekanan darahku suka gampang naik,” Nirmala mengangkat bahunya.


"Karena aku nggak terima kalah sama tante-tante macam begini! Aku lebih cantik kaaaak!" seru Dian sambil tetap bergelayut di pinggang Kevin, macam kunti suka sama cowok yang nggak sengaja pipis di pohon besar. Ng1ntil kemana pun.


"Mananya yang cantik? Dada tepos begitu!"


"Aku bisa usahakan jadi gede, gampang tinggal ke Korea!"


"Lo nggak kasian apa sama si Agus yang selama ini bela-belain makan hati supaya punya ruang di hati lo?!"


Dian mengetuk-ngetuk dagunya, berpikir. "Tenang aja Kak Kev, ada ruang untuknya di hatiku, tapi 1x1 meter. Untuk Kak Kev, ruangannya 1 hektar,"


"Otak lu konslet," Kevin menoyor Dian.

__ADS_1


Nirmala hanya diam sambil mengamati Kevin. Kalau dia pikir-pikir, sikap Kevin ke perempuan memang jutek dan cuek. Mungkin orang yang tahu kelembutan seorang Kevin hanya segelintir. Seperti Ibu Kevin dan Nirmala.


Terdengar Farida tertawa terbahak-bahak, "Ya ampun Kak Kev, aku sih nggak nyalahin Kak Dian, aku juga mengakui kalo tampangmu itu cakep banget loh Kak. Saking sukanya, aku sampe mandangin fotomu di hapenya Bang Kahar biar anakku juga cakep,"


"Jangan sampe anak kamu mirip aku, bisa-bisa aku digebukin Kasep," kata Kevin.


"Aku udah izin Bang Kahar kok Kak, dia juga sadar kalo gen kami level standar, hahahaha!"


Bresssh!!


"Heh?"


"Loh?"


"Eh? Lo serius ngompol di depan gedung pengadilan begini Da?!" ujar Dian sambil geleng-geleng kepala.


"Ini bukan air kencing, Kak..." Farida menatap Dian dengan tegang.


Semua diam.


"Kak Kev..." Farida mencengkeram lengan Kevin. "Tiba-tiba mules banget, Kak..."


"Njir!!"


Nirmala merogoh kunci mobilnya, "Aku ambil mobilku ya sayang. Atur napas usahakan tenang dan sabar," wanita itu mengusap kepala Farida. Tampak cewek itu mengangguk tapi masih tegang. Lalu Nirmala setengah berlari ke arah parkiran menghampiri mobilnya.


"Si Kasep nggak angkat telepon, masih di ruangan Direksi kayaknya. Tapi aku udah WA," sahut Kevin.


"Astaga... Ya Allah jadi sakit banget!"


"Bukannya HPL bulan depan ya?!"


"Ini udah 'bulan depan' Kak Kev!"


"Waktu berjalan cepet juga ya!" Kevin menggaruk kepalanya. "Tapi Da, kamu bakalan punya anak! Gilaaa 'ponakan' aku mau lahir!!" (Siapa yang nolak punya 'om' macam Kevin? Bisa-bisa bapak kandungnya sendiri nggak diakui).


"Hehe..." Farida mengangguk pelan sambil menahan nyeri. Ia tahu kalau Kevin juga tegang tapi berusaha ceria supaya Farida tidak kalut.


"Laki-laki atau perempuan hasil USG terakhirnya?" tanya Kevin.


"Diagnosa berubah-ubah kak, dia sering sembunyi bolak balik soalnya nutupin kel4min. Terakhir sih laki-laki, kan aku kontrol sama Kak Kevin. Emang kenapa kok nanya?"


"Aku kan perlu tau mau kuajak nonton bola atau nonton fashion week di SCBD,"


"Emangnya Kak Kevin berani ke SCBD?! Bisa-bisa pulang tinggal ampas, dagingnya habis digerogoti kaum tulang lunak,” tanya Dian.


“Hwahahah! Adududududuhhhh!” keluh Farida.


“Aku nggak bercanda, Kak. Cuma mencoba menjabarkan kemungkinan terburuk!” Dian membela dirinya.


“Pada diem doooong! Ini udah masuk tulang pangguull!!” jerit Dian.


“Woy Debay! Sabar dikit! Di parkiran panas, lebih sejuk di ruang bersaling, oke!! Percaya nih sama Om ganteng!” seru Kevin panik.


“Emang bisa ngerasain ya posisi udah masuk kemana?” tanya Dian.


“Ada rasa nyeri luar biasa di area bokong!” seru Farida hampir histeris.


“Lu jangan nakut-nakutin gue!” seru Dian.


Kevin hanya menatap keduanya sambil meringis. Melihat wajah Farida yang ketakutan dan kesakitan, ia merasa kasihan.


Beginikah penderitaan ibu yang akan melahirkan? Bahkan jabang bayinya belum muncul ia sudah merasa begini sakit!


Tak lama Nirmala datang dan dengan sigap menuntun Farida masuk ke mobil.


*


*


“Kak Keviiiinnnn!!!” jerit Farida menahan sakit. Sebenarnya niatnya ingin melanjutkan dengan kalimat : Kak Kevin, Bang Kahar mana???


Tapi kalimatnya terhenti karena kontraksi semakin sempit alur waktunya.


“Kenapa aku yang dipanggil?” gumam Kevin mendengarkan dari luar ruang bersalin.


“Bapak, kalau mau mendampingi istri, boleh masuk Pak. Agar istri bapak bisa lebih tenang,” kata Mbak Bidan sambil mondar-mandir menyiapkan peralatan bersalin.


“Saya bukan...”


“Kak Kevin!! Bang... Ya Allaaahhh sakiittt!!” jerit Farida.


“Wah sudah waktunya ngeden,” sahut Dokter. “Sini Pak, dampingi ibunya!”


“Heh? Saya bukaaaan...”


“Sudah, sana!” Nirmala mendorong Kevin.


“Nirmala, aku takut!” Kevin panik.


“Dia butuh seseorang di sampingnya, Kev,”

__ADS_1


"Kamu aja deh, sama-sama perempuan! Terakhir aku diprotes rider karena ngeliat perutnya Farida pas USG!"


"Kan kamu yang dipanggil, Kev!"


“Hih! Ya Ampuuun! Gue bakal gebukin si Kasep habis ini!” umpat Kevin sambil masuk ke dalam ruangan dan berdiri di dekat kepala Farida. Masalahnya ia tak ingin melihat aurat Farida.


"Bang..." Farida mencengkeram tangan Kevin. Kukunya menancap lihai menusuk kulit.


"Bang Kahar-mu masih nggak bisa dihubungin. Agus lagi jemput dia ke kantor aku!" Bisik Kevin.


"Ya ampun Kaaaak ini tuh sakit banget! Rasanya kayak dirobek dari dalam!!" Seru Farida jejeritan.


"Nyebut Da! Inget yang Diatas!"


"Kak, kalau aku nggak sempat nimang anakku, tolong jaga-"


"Nggak usah ngomong macem-macem Da!"


"Masalahnya keluargaku nggak di sini! Kenapa lagi-lagi Kak Kevin, sih!!" Jerit Farida menahan sakit.


"Mana aku tau! Dikira si gembul, dunia ini Indah kali! Jadi dia pingin cepetan keluar, males nungguin ortu lo! Btw, nama kalo cewek Dila aja, dari kata PengaDILAn. Kan terasanya di parkiran gedung pengadilan,"


"Terus kalo cowok kayak Dilan 1990 gitu?! Kak Kevin kenapa mellow sih! Mau aku namain Margareth atau Matthew Kak!"


"Nama bapaknye Kaharuddin Septian, kamu mau namain Matthew?! Bisa gempar satu Jakarta Timur!"


"Aku sesar aja boleh nggaaaaak?!" Seru Farida ke Mbak Bidan.


"Ya percuma kalau "tindakan" ibuuuu, ini bayinya udah masuk panggul, belum sampai persiapan ruangan, bisa-bisa sudah brojol duluan. Dan biayanya dibebankan lebih mahal," kata Mbak Bidan.


"Ibu, ibunya pasien? Masuk saja Bu lihat prosesnya," kata Mbak Bidan yang lain menawari Nirmala.


"Hah? Boleh Sus?" tanya Nirmala


"Boleeeh, semakin banyak anggota keluarga yang support diharapkan bisa lebih menenangkan pasien,"


"Yaaaa, baiklah," Nirmala takut-takut masuk ke dalam ruang bersalin.


"Oke Bu Farida! Ngedeeennnn!" Seru Dokter.


"Hyaaaaaaa!!!" (Ini teriakan Kevin)


*


*


“Sayang...”


“Hm?”


“Kamu... kalau nggak mau punya anak, aku nggak papa kok,”


“Eh? Kenapa?”


“Aku nggak tega ngeliat kamu kesakitan. Ngeliat bini orang melahirkan aja aku udah nangis, apalagi istri sendiri! Orang yang aku cinta sepenuh hati! Itu beneran robek yang! Aku sampe mau pingsan! Ada manusia keluar dari perutnya Farida!”


Nirmala terkekeh,


“Justru, aku melihat Farida malah ingin punya anak,”


“Loh?”


“Hem... melihat wajah Farida yang bahagia setelah melihat bayinya. Aku mungkin juga akan sepertinya, mengusahakan dengan bertaruh nyawa demi buah cinta kita bisa lahir ke dunia, memeluk kita berdua,” Nirmala menggenggam jemari Kevin.


“Kevin, ekspresi seseorang yang sudah menjadi ibu, menatap sendu bayinya dengan hangat, tidak bisa terukur dengan nilai yang dibuat manusia. Tidak ada kata-kata indah yang sebanding dengan gambaran itu,”


Nirmala menatap Kevin dengan sayu, seakan berusaha meyakinkan kalau semua akan baik-baik saja.


“Aku ingin jadi seorang ibu, kalau Tuhan mengizinkan. Mengandung dan melahirkan anak kamu,” kata Nirmala.


Kevin tidak bisa berkata-kata.


Sekali lagi, ia merasa sangat sayang kepada Nirmala.


*


*


Sekelumit curhatan dari Tante Author.


Karena Mengandung itu ibarat persiapan perang, dan Melahirkan itu jihad.


Iya, mengandung itu berarti siap mati. Selama 9 bulan diberi kesempatan beribadah penuh, untuk menabung keimanan. Agar saat siap menyerahkan nyawa, bekal duniawi sudah cukup untuk ke JannahNya.


Kalau "berpulang" ia akan bahagia. Kalau menjejak bumi, ia akan jadi seorang Ibu.


9 bulan diberi ketidaknyamanan agar selalu mengingatNya saat merasa sakit. Tidak diberi haid agar ibadah maksimal. Malah banyak yang dibatasi nafsu makannya agar yang buruk-buruk tidak masuk ke perut.


Dan seorang ibu bukan hanya seorang "Ibu", tapi tiang kehidupan untuk membentuk akhlak generasi makhlukNya. Suatu tugas mulia lain yang diamanahkan Illahi sampai waktu batas manusia.


Semoga selalu Bahagia, Kaum Ibu.

__ADS_1


(Tante Author punya 4 amanah. Hihi. Yang sulung sudah ke surga duluan, mudah-mudahan akhir zaman bisa bertemu ya Sayangkuuuu.)


__ADS_2