
Di kemudian hari,
"Bocah edan, besok pagi bisa ya jam 9!" pesan singkat dari Mami datang saat Kevin selesai mengerjakan tes kelayakan untuk Matematika dan Fisika. Tes terakhir minggu ini.
Wajahnya segar dan penuh semangat. Khas pelajar yang sudah melewati rintangan demi rintangan, dan membuat bangga banyak orang.
Keluar dari kelas, ia pun berjalan menuju kantin dengan tidak melewati koridor, namun nekat menyebrangi lapangan yang ada di tengah bangunan sekolah, seakan sedang memamerkan dirinya.
Lalu pemuda itu pun menggeliat dan mengangkat tangannya ke atas sambil merentangkannya, penuh kelegaan di tengah lapangan.
Menikmati sepoi angin yang menerpa rambutnya.
Dan kebebasannya dari soal-soal njelimet yang membuat otaknya lelah.
Terutama dari kalimat : "... terangkan secara singkat dan padat mengenai..." atau "... Sebutkan dan jelaskan ..."
Kevin pun menghela napas sambil tersenyum lebih manis dari biasanya.
"Kak Keviiiin! Suit suit!!" seru beberapa anak saat melihat Kevin.
Kevin pun mengerling sambil melayangkan ciuman jarak jauh dengan wajah penuh charming tiada tara. Diiringi dengan teriakan 'Kyaa! Kyaa!' para kaum hawa.
Kasep dan Agus hanya mengikuti langkah Kevin dengan rasa dongkol yang hampir sampai di ubun-ubun.
"Anjrooot, si bule bedul! Nilai rata-ratanya 4,8/5. Kebuat dari apa sih otaknya?!" umpat Kasep sambil memeriksa ponselnya, membaca nilai tes yang dipublikasi sekitar 1 jam setelah latihan soal selesai.
"Tapi nilai lo kan 3,8/5 Sep," desis Agus.
"Tetep aja anjlok," gumam Kasep.
"Lah apa kabar gue yang cuma 3/5 ..." keluh Agus.
"Perasaan Kevin bengong-bengong aja kok waktu Bahasa Indonesia, kenapa nilainya bisa gede yak? Punya berapa kepribadian sih tuh anak?!" keluh Kasep.
"Gue liat sih dia ngetik, tapi tatapannya kosong tuh. Nggak tau juga apa yang dia ketik. Sinopsis novel bo-kep kali?"
"Di bahasa Inggris dan ekonomi juga hampir sempurna. Makan apa sih dia? Nyerap energi temen-temen sekitar kali ya?"
"Nggak ada gunanya ngiri sama orang yang hokinya gede, Sep,"
"Bener juga lu,"
"Gibahin gue yaaaaa," sahut Kevin sambil mensejajari langkah kedua temennya. "Makan mekdi yuk! Gue traktir!"
"Beuhhh! Saeeeeeek! Gitu dooong!!"
"Capcus Buuund!"
Dan selanjutnya, boloslah mereka dari sekolah dan melewatkan Solat Jumat.
*
*
"Mam, gue kan Sabtu masih sekolah, masa harus bolos lagi?!" ketik Kevin membalas pesan singkat dari Mami. Kasep dan Agus sedang di konter memesan makanan dan Kevin menunggu di kursi.
"20 juta," balas Mami.
"Oke, bolos lagi," balas Kevin gpl.
(Gpl : Gak Pake Lama)
Lalu cowok itu bersandar ke kursinya dan berpikir. Sampai kapan ia menjalani bisnis semacam ini?
Ia pun mengetik pesan singkat lagi ke Mami.
"Habis kerjaan yang ini jeda dulu ya mam, gue mau menata hidup,"
"Bahasa lo udah kayak filsafat. Selesaiin dulu sekolah lo, baru nata hidup!"
"Nama aslinya Nirmala siapa?" tembak Kevin selanjutnya.
__ADS_1
"Habis yang ini selesai gue kasih tahu, sekalian sisa 15 jutanya. Uang muka 5 juta buat transport sekalian ya, udah masuk ke rekening lo. Cek aja," desis Mami.
Kevin pun menghela napas kecewa, pake banget. Kembali dia bergumam kesal sambil menelungkupkan wajahnya ke meja.
"Tadi seneng banget, sumringah. Sekarang muram durjana lagi," kata Kasep sambil meletakkan paket makanan ke depan Kevin.
"Nih kembaliannya, gue sekalian take away buat adek gue ya!" kata Agus.
Kevin mengambil sundae strawberry dan meraupnya. Manis, dingin, intinya berasa enak.
Lalu meraupnya sekali lagi.
Belakangan dia suka makanan manis. Makin setara bocil aja selera makannya. Apa karena otaknya lagi ruwet jadi mengirimkan sinyal kalau butuh gula?
Rasa yang begini, mengingatkan apa ya? Ada kejadian baru-baru ini, yang membuatnya suka makanan manis.
Lalu Kevin terdiam.
Ia pun teringat.
Rasa tubuh Nirmala.
"Ah! Gila..." gumamnya sambil kembali terlungkup.
"Tuh kan galau lagi, moodnya naik turun. Salah makan magic mushroom kayaknya," desis Kasep.
"Mudah-mudahan bini gue di masa depan nggak sebaper si bule kunyuk, capek nanggepinnya harus ngalah melulu," gumam Agus sambil melahap BigMacnya.
Kasep hanya diam. Lalu tersenyum tipis.
*
*
Esok harinya pukul 8 pagi. (Sengaja berangkat satu jam lebih pagi karena bilang ke ibu mau sekolah, padahal mau kerja).
Transaksi kali ini akan terjadi di salah satu apartemen mewah di kawasan Jakarta Selatan.
Sudah biasa banget sih yang seperti itu, cenderung klise malah.
Kalau sudah kecanduan sih tidak usah mengalihkan kata-kata dengan pelarian segala. Memang dasarnya sudah kegemaran celap celup.
Pelarian kok nyewa gigolo... Gimana coba?!
Kevin, seperti halnya anak muda lainnya, sebelum bekerja biasa memutari lingkungan sekitar sekedar foto selfie di sudut yang instagramable.
Kebetulan di dekat spot selfie keren di area apartemen, ada warung kopi kecil yang dipenuhi dengan bapak-bapak.
Karena belum sempat sarapan, Kevin pun masuk ke warung untuk memesan gorengan dan kopi.
"Di lantai 9 ya bang?" seorang bapak yang duduk di samping Kevin berbisik ke rekannya.
"Kamu standby di mobil saja kalau-kalau ada pengejaran,"
"Memang bakalan kabur? Kan kita mau sidak,"
"Bersiap saja untuk kemungkinan terburuk,"
Kevin sih cuek saja dengan obrolan mereka dan mulai menyesap kopinya.
"Yang si Dewi Tunggulnya sudah ada yang jaga kan?"
"Lagi heboh di sana, terduga dalam perjalanan ke Amerika dari semalam, kecolongan,"
"Kalau sudah di sana kan bisa ditangkap Bang?"
"Belom bisa, ada asas praduga tak bersalah. Karena kita kan belum ada bukti. Penggerebekan ini satu-satunya jalan untuk pembuktian,"
"Whatsap yang kemarin janjian tak bisa jadi bukti?"
"Semuanya terhapus, kayaknya terduga punya jaringan cyber yang canggih juga,"
__ADS_1
Kevin mengernyit.
Dewi Tunggul? Amerika? Maksudnya Dewi Tunggullangit? Si Mami? Siapa lagi yang nama panggungnya seunik itu kalau bukan si Mami?
Kevin langsung membeku.
"Kita nunggu gigolonya aja kan ya? Biar bisa di interogasi?"
"Katanya transaksinya jam 9 sih,"
"Hapenya Dewi sudah di sadap?"
"Urusan cyber crime itu, tapi katanya sudah tidak aktif nomornya, dia sepertinya sudah mendarat di Amerika. Tapi kalau ada whatsap baru yang masuk dari si gigolo, kita akan tahu,"
Mam-pus! Batin Kevin langsung bergejolak. Tangannya gemetaran.
Apa mungkin klien kali ini adalah... Cepu?!
Jadi Kevin mengambil napas dalam-dalam, meminta gorengannya dibungkus dan menghabiskan kopinya, lalu pergi dari sana menuju sekolah.
Bodo amat sama 15 juta sisanya.
*
*
"Lu ngapain ke sekolah pake baju sekeren itu?!" Kasep keluar dari gerbang sambil membawa baju ganti yang biasa ia bawa.
"Seragam gue dicuci semua," begitu alasan Kevin. Ia masih gemetaran, nggak ada waktu cari alasan lain.
"Ha?"
"Sini," Kevin mengambil seragam dari tangan Kasep dan mengenakannya.
"Kenapa muka lo pucat? Sakit?"
"Hem, nggak papa," gumam Kevin sambil mengikuti Kasep masuk ke dalam sekolah dan memberikan tips ke penjaga gerbang.
Kalau masih pagi, yang menjaga gerbang biasanya guru, jadi tidak bisa disogok. Kalau sudah agak siang begini, masih bisa dikondisikan karena yang menjaga gerbang sekolah hanya sekuriti.
Di koridor, mereka bertemu Bu Ida.
"Hm? Tumben hari Sabtu kamu masuk sekolah Kev. Itu sepatu kamu kenapa warnanya putih?"
Kevin hanya bisa menghela napas, membuka sepatunya, menyerahkannya ke Bu Ida, dan menuju kelas sambil nyeker tanpa berbicara macam-macam.
Dia benar-benar shock saat itu sampai-sampai tidak bisa menanggapi segala obrolan yang ada.
Tingkahnya membuat Bu Ida dan Kasep saling tatap merasa heran.
"Dia baru datang?" tanya Bu Ida ke Kasep.
Kasep mengangguk.
"Itu baju kamu?" tanya Bu Ida.
"Kok tahu bu?"
"Bordirnya nama kamu,"
Kasep tersenyum masam.
"Ada apa lagi sih?" tanya Bu Ida selanjutnya.
"Nggak tau, Bu. Dari kemarin dia badmood,"
"Ngobat nggak?"
"Setahu saya sih nggak bu,"
"Hm,"
__ADS_1