
"Ehmh," gumam Nirmala saat Kevin mendesaknya di dinding sambil menciumi lehernya yang jenjang dengan rakusnya. Sebelah tangan pemuda itu meremas dadanya dengan posesif, sementara tangan yang satunya memeluk pinggang Nirmala agar lebih erat menempel ke tubuhnya.
Beberapa menit yang memabukkan saat bibir Kevin menyerang sekujur leher, bahu dan bibir Nirmala. Dan tangan pemuda itu mengerjai dadanya tanpa ampun hingga kemerahan seakan Nirmala adalah pelampiasan stressnya.
"Buka ya?" pinta Kevin saat melepaskan bibirnya.
"Ah... " Nirmala hanya mampu bergumam tidak jelas karena tangan Kevin lebih cepat dari mulutnya. Sebelum meminta izin Nirmala, Kevin bahkan sudah menurunkan resleting blouse Nirmala dan meloloskannya ke atas kepala wanita itu berbarengan dengan menjatuhkan panty wanita itu ke lantai.
Dengan cepat, Nirmala tampil apa adanya. Langsung polos tanpa sehelai kainpun.
Wanita itu ternganga kaget karena tangan Kevin sangat terampil. Bahkan cowok itu masih berpakaian lengkap!
Kevin menggendong Nirmala ke ranjang, menempatkan wanita itu agak di pinggir, dan merenggangkan kedua paha wanita itu. Kedua matanya berkilat saat melihat suguhan di depannya. Bahkan Nirmala bisa melihat Kevin menjilat bibirnya tanda cowok itu ... kelaparan.
Sangat lapar sampai nyalang seakan belum makan 3 hari.
Kali ini pemuda itu tidak meminta izin, ia langsung meraup apa yang ada. Lidahnya bermain di puncak kemerahan, bagian sensitif tubuh Nirmala, beberapa detik berada di sana merangsang saraf Nirmala, sebelum akhirnya merasuk ke dalamnya sampai wanita itu reflek melengkungkan tubuhnya dan berteriak penuh kenikmatan.
Merasakan semua yang ada, merebut paksa semua milik Nirmala.
Hanya dengan lidah.
Dan, ya ...
Ini baru lidahnya. Belum yang lainnya.
"Kevin ..." lenguh Nirmala dengan sisa akal sehat yang ada. "Kevin, pakai pengaman,"
Kevin mencabut lidahnya dan menjilat bibirnya, membersihkan cairan Nirmala yang belepotan di wajahnya. Raut wajah pemuda itu menyiratkan sebuah kepuasan, ia bagaikan beruang madu yang telah selesai menghabiskan nektar yang dikumpulkan kawanan lebah.
Appetizer selesai, kini waktunya main course.
"Nggak bawa," desis Kevin sambil membuka kancing kemejanya.
"Apa?" Nirmala berusaha mengangkat kepalanya dan menatap Kevin.
"Aku nggak bawa pengaman," Kevin melorotkan celananya ke lantai. Lalu membuka boxernya.
Dia telah siap seutuhnya. Ukurannya bisa lebih besar dari pergelangan tangan Nirmala, membuat wanita itu ternganga. Panjangnya bukan normalnya orang Asia. Khas milik pria-pria Eropa, di usia yang semuda itu.
"... Soalnya tadi niatnya ke sini hanya mengobrol, kan,"
"Eh..." Nirmala masih terpana melihat tubuh Kevin. Benda itu akan masuk ke tubuhnya, Nirmala bergidik ngeri membayangkan rasa sakitnya.
"Jangan kuatir, aman kok. Kami wajib tes sebulan sekali, " bisik Kevin.
"Ya tapi tetap saja seharusnya kamu Aaahhh!!!" Nirmala tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena Kevin sudah merangsek masuk ke dalam.
Selanjutnya, semakin ia ingin bicara, yang keluar dari mulutnya hanya leng'uhan dan desa-han. Ia bahkan sudah tidak ingat dimana ia berada saat ini.
Kevin menengadahkan kepalanya ke atas, memejamkan matanya sambil meresapi rasa Nirmala.
Ketat sekali, dan hangat. Sedikit saja didorong ia sudah mencapai area serviks.
Bagaimana bisa sesempit ini? Bukankah Nirmala pernah menikah?
Dan bagaimana mungkin ada laki-laki yang bisa membuang makhluk secantik dan ... Senikmat ini.
Rasanya semua wanita yang pernah dicicipi Kevin hanya butiran pasir. Nirmala benar-benar full course meal yang lengkap!
Tanpa disadari, sambil bergerak perlahan menikmati setiap lekukan tubuh wanita ini, bibir Kevin menyeringai puas.
"Haha," desahnya. "Luar biasa,"
Tangannya menekan pelan area perut Nirmala, sambil ibu jarinya mengusap lembut puncak sensitif wanita itu.
Nirmala melenguh tak terkendali meremas seprai sampai kuku palsunya patah beberapa bagian.
Kevin bergerak semakin cepat. Matanya memperhatikan interaksi yang terjadi. Merekam setiap adegan demi adegan.
Sampai gerakannya semakin cepat.
Nirmala merasa hampir gila. Ia tidak mengingat apa pun. Ia hanya ingat proses Kevin mengerjainya hanya butuh waktu beberapa detik sampai,
"Aku ... Ah!" Nirmala mencoba mengatakan kalau ia hampir mencapai puncak, "Stop! Kevin sto... Oooh!!!" sekali lagi ia berteriak kesetanan.
Kevin mencabut dirinya untuk memberi kesempatan Nirmala untuk menyemburkan beberapa cc cairan tubuhnya.
Nirmala gemetar hebat.
Belum tuntas ia mengeluarkan semua, Kevin sudah menancapkan lagi kejantanannya tanpa ampun.
Dan terus begitu berulang-ulang. Sampai yang diingat Nirmala tayangan TV menayangkan berita tengah malam.
Saat itu, Nirmala merasa sudah gila.
*
*
Jam berapa ini? Pikir Nirmala.
Rasanya badanku sakit semua, keluhnya.
Wanita itu terbangun karena pancaran sinar mentari menerpa kelopak matanya. Menyilaukan dan hangat, membuatnya semakin nyaman bergumul di dalam selimut.
Wanita itu memejamkan matanya lagi. Malas sekali untuk bangun, pikirnya.
Ia bisa mendengar bunyi AC, ia bisa mengendus wangi bunga segar dari vas kristal raksasa di dekatnya, ia bisa mendengar bunyi shower mengalir dari kamar mandi, juga sayup-sayup bunyi suara tv.
Tunggu,
Siapa yang pakai shower?!
Nirmala mengernyit berpikir. Ia tinggal sendiri di apartemen, jadi tidak ada yang menggunakan shower selain dirinya, dan seingatnya ia tidak mengundang siapa pun.
Nirmala mengangkat tubuhnya dengan malas.
"Aow!" desisnya saat menyadari ada bagian tubuhnya yang perih saat ia mengencangkan otot bagian bawah. Nirmala tertegun. Lalu mencoba mengencangkan kembali ototnya.
Ia memekik pelan. Memang sakit ternyata! Apa yang terjadi?
Nirmala terduduk dengan susah payah, lalu menyibakkan selimutnya.
Heh?
Dimana ini?
Ini bukan apartemenku.
Lalu perlahan untaian demi untaian ingatannya mulai tersusun.
Dan membentuk satu nama.
Kevin.
__ADS_1
"Astaga," gumamnya sambil memijat dahinya.
Cinematic ingatan kembali mengganggunya. Bagaimana cara Kevin mengobrol, tertawa, menatapnya, mencium, punggung tangannya, memeluknya ...
Dan bercinta dengannya.
"Ya, ampun!" keluh Nirmala sambil menelungkupkan kembali kepalanya membenam ke bantal dacron kualitas tinggi.
Lalu, jam berapa ini? Nirmala mencari jam dinding.
Pukul 10 pagi.
Dia harus checkout pukul 12 siang atau akan terkena charge biaya kamar lagi untuk satu hari. Dan kenapa dia ada di sofa dan bukannya di ranjang?
Nirmala menatap ranjang. Seprainya sudah digulung.
Lalu wanita itu memiringkan kepalanya karena kebingungan.
"Mikirin apa sih sayang?"
"Astaga!" seru Nirmala kaget. Kevin sudah berada di belakangnya dan menyeringai jahil.
"Serius amat kamu," kekeh Kevin sambil menegakkan tubuhnya dan menuju ke arah tv. Cowok itu meraih ponselnya yang sedang dicharge di colokan listrik.
Hanya berbalut handuk putih di pinggul, tampak undakan halus otot perutnya.
Tidak terlalu berlebihan seperti bintang iklan parfum Hugo Boss, tapi terasa pas di tubuh anak itu.
Titik air masih tampak menetes di rambut ikalnya, dan bibirnya menyunggingkan senyum tipis saat menunduk memeriksa ponselnya.
Nirmala menarik napas panjang dengan gugup.
"Kenapa..." suara Nirmala serak. Ia menghentikan kata-katanya dan berdehem untuk menjernihkan pita suaranya. "Kenapa aku di sofa?"
"Hem?" Kevin mengangkat wajahnya, "Seprainya basah, jadi kugulung,"
"Eh? Basah?" gumam Nirmala.
Kevin tidak menjawab Nirmala, hanya tersenyum penuh arti.
Nirmala langsung menangkap maknanya. Dan mukanya langsung memerah.
Aku dikerjai bocah! Gerutu Nirmala dalam hati.
Tapi ... Saat di ranjang Kevin bukan anak ingusan, tekniknya tingkat tinggi. Ia mengerti jeda, ia bahkan mengerti area mana yang harus dirangsang, ia juga tidak kasar walaupun terkesan memaksa.
Bagaimana bisa?!
"Aku mandi dulu," gumam Nirmala sambil menunduk menyembunyikan wajahnya yang merah dan buru-buru menghilang ke balik pintu kamar mandi.
Kevin menatap pintu kamar mandi yang tertutup itu dengan perasaan geli.
Lalu kembali fokus ke ponselnya.
Pesan singkat dari Agus : Dian ke basecamp nyariin lo.
Dan Kevin langsung menelponnya, "Ngapain sih dia?" semburnya saat Agus mengangkat sambungan teleponnya.
"Brooooooo dimane lu?" seru Agus.
"Mau tau aje,"
"Semua pingin tau lo dimane, gara-gara Dian,"
"Perasaan gue gak punya hutang deh sama dia,"
"Dorprize? Bentuknya apa? Nge*t sehari semalem?!"
"Woy, Njir!! Otak lu mesum banget yak! Gue aje masih perjakung, lonya sampe Aminah aja diembat padahal bilangnya penggemar tante!"
"Gue butuh Aminah,"
"Buat apa? Buat titip motor gratis?!"
"Nah tuh tau,"
"Lu beneran cowok bgst!"
"Nah tuh tau," Kevin terkekeh.
"Siapa lagi korban lu, hah?! Jangan-jangan di sekolah banyak pula temen maen lo!"
Kevin diam saja. Lalu bergumam lagi, "Nah tuh tau," dan terbahak geli.
"Bajing*n," gumam Agus. "Jangan bilang lo sekarang lagi di tempat salah satu pacar lo!"
Kevin masih diam, tapi kali ini dia terkekeh pelan.
"Gue tutup," geram Agus.
"Ih si Agus ngambekan," Kevin berlagak merajuk.
"Semoga kont*l lo meledak, Bay!"
"Anj*rit!"
Kevin menatap ponselnya dengan perasaan sebal. Datang satu lagi pengganggu. Awas aja kalau Dian sampai mengganggu hidupnya.
Kevin bukan kali ini dikejar cewek. Sering. Dan yang jadi korban kerepotan adalah ibunya yang memang selalu berada di rumah. Keberadaan Kevin seringkali tak terlacak, jadi satu-satunya tempat mencarinya adalah di rumahnya.
Kebanyakan yang mencarinya, justru cewek yang memang ia acuhkan. Banyak pertimbangan saat mendekati perempuan. Seandainya mereka memiliki tingkah merepotkan seperti bossy, sok cantik, anak orang kaya, punya banyak pengikut, lebih baik jauhi. Hasilnya beneran kacau, kalau nekat mendekat. Semua hidup akan dikekang, putus hubungan juga sulit dan bahkan tidak bisa, karena akan diancam.
Jadi lebih baik menjauh.
Kevin akhirnya mencari tahu mengenai keluarga Dian, dengan fake account. Masuk ke sosial medianya dan menghack akunnya. Terlihat foto-foto keluarganya.
With Mom,
Kata-kata itu tertera di caption salah satu foto.
“Hm,” Kevin bergumam saat melihat ibu Dian. Cantik juga ibunya, Pikirnya (hey hey!)
Lalu tertera disana hashtag Dewi Tunggullangit.
Lagi-lagi nama itu. Pikir Kevin sebal.
Setelah beberapa saat sowan ke ig nya Dewi Tunggullangit, Kevin pun menyadari satu hal.
Kenapa nama itu selalu ada, dan Nirmala kalau tak salah menyebut kalau Dewi Tunggullangit adalah salah satu kliennya.
“Untung-untungan aja,” gumam Kevin sambil menghubungi Mami.
"Apa, Kev?" tanya Mami, sepertinya si Mami sedang berada di suatu acara, terdengar suara musik yang gaduh di latar belakangnya.
"Dewi Tanggul Jebol itu nama lo Mam?" tembak Kevin langsung.
__ADS_1
“Sekali lagi lo bilang tanggul gue jebol, gue berhentiin pasokan tantenya!” gerutu Mami.
“Jiaaahhh!! Ternyata beneran elo! Btw, cantik juga lo ya ternyata,”
“Berminat? Cowok ingusan macam lo bukan tandingan gue,”
“Nggak berminat kok, laki lo mafia bisa-bisa gue diiket di rel kereta terus dibuang di hutan jati,”
"Bagooos!" seru Mami. "Mau apa lu nelp gue, tugas lo selesai nggak?!"
"Mission accomplished," sahut Kevin.
"Nggak cuma misi yang selesai kan?!"
"Ya nggak lah, lu ngasih gue Aprodhite gimana gue nggak kesetanan?!"
"Jiaaaahhh Dewi Cintaaa! Emang dia cantik kan?!"
"Banget!"
"Awas lo kesengsem, gue pecat!"
"Duh, dilema dah gue,"
Mami terdiam beberapa saat. Lalu ia pun memperlembut suaranya, "Kev, jangan pakai perasaan. Fatal nanti akibatnya. Misi sekarang ya untuk sekarang, putus kontrak ya selesai, jangan dilanjut ke hal pribadi. Kan gue udah pernah bilang, lo sanggup nggak?! Kalo nggak, lo bilang ke gue, gue biar cari yang lain,"
Kevin menghela napas.
"Yang satu ini entahlah iman gue kuat apa enggak. Dia cantik banget soalnya, ngga cuma di luar, di dalem juga,"
"Astaga, bocah ingusan lagi labil!" umpat Mami dari seberang.
"Gue usahakan sebaik mungkin, oke. Kalau dia minta gue menjauh ya gue menjauh," desis Kevin.
"Lo nelpon gue cuma buat curhat?!"
"Ya nggak lah Mam. Gue nelpon lo soaaaal ... Anak lo, namanya Dian?"
Lagi-lagi ada jeda beberapa saat. Mami tak langsung menjawab.
Jadi Kevin melanjutkan kalimatnya.
"Sekolah di sekolahan gue juga? Kelas 11?" desis Kevin.
"Iya, dia bawaan laki gue, nggak terlalu akrab sebenernya sama gue. Tapi karena gue artis kondyyaaanggg sekaligus sosialitooong ya dia berusaha deket-deket gue,"
"Bilang ke dia, jangan ganggu gue,"
"Hah?"
"Gue gak suka dia cari-cari gue melulu. Nggak ada angin nggak ada hujan, dia kasih gue undangan pesta. Gue tolak, dia nyari-nyari gue ke basecamp temen-temen gue. Ganggu banget,"
"Duh duh duh, iya memang dia ulang tahun sih minggu depan, lu sih terlalu mencolok, jadinya kegaet kan anak tiri gue!"
"Apa sekalian aja kita lakuin di depan dia, biar dia mundur?!"
"Woy bocah gendeng! Bukannya gue nggak mau, tapi kredibilitas gue dipertaruhkan. Sekeliling gue cctv!"
"Ya kalo gitu gue minta bantuan lo buat nyingkirin Dian,"
"Iyaaaaa. Ntar gue bilang ke bapaknya. Gue juga males deket-deket anak sok cantik kayak gitu, lo tenang aja serahin ke Mami lo ini! Okeh?! Yang penting lo kerja yang bener aja, gue udah seneng!"
"Tengkyu Mam!"
Kevin mengira satu masalah telah usai, ia pun mengetuk pintu kamar mandi. Berniat untuk kembali 'menjahili' Nirmala.
Namun, sebenarnya inti masalahnya baru saja dimulai.
*
*
"Tante," Kevin bertanya ke Nirmala saat mereka berada di dalam lift, turun menuju lobi hotel. "Setelah ini mau lanjut?"
Lanjut yang dimaksud Kevin adalah menjalin hubungan dengan lebih intens diluar hubungan profesional.
"Hm? Kita lewat Bu Dewi saja ya, nanti kalau butuh, aku kontak beliau," begitu jawaban Nirmala.
Membuat Kevin langsung merasa sesak.
"Tidak tertarik pacaran denganku?"
"Kenapa kamu bicara begitu? Kamu bukan jenis cowok yang mau terkekang, Kev,"
"Rasanya kalau sama kamu, aku bisa," sekarang udah mulai ber ‘aku-kamu’ cieee.
Nirmala terkekeh mendengar Kevin yang fakboi bicara mendayu sok romantis, "Kevin, kamu cuma lagi euforia," kata wanita itu.
Kevin menghela napas dan menyandarkan tubuhnya ke dinding lift.
Dia dianggap euforia. Mungkin karena tingkahnya selama ini, sangat wajar kalau Nirmala tidak menganggap semua ucapan Kevin serius.
Walaupun familiar dengan tubuh wanita, tapi belum ada yang bisa mendapatkan hati Kevin seperti Nirmala.
"Carilah pasangan yang seusia, dan yang menerima kamu apa adanya," kata Nirmala lagi.
"Memangnya peranan usia sepenting itu? Ada yang usianya sudah lanjut tapi tingkahnya kekanak-kanakan," gumam Kevin.
Nirmala menghela napas.
"Boleh kubilang secara jujur?" tanya Nirmala
"Iya, silakan,"
"kamu jangan marah, ya," kata Nirmala.
Kevin mengernyit, ia langsung merasakan firasat buruk.
“Begini, Kevin. Wanita seusia aku menginginkan hubungan yang settle. Bertahan, sampai maut memisahkan. Berdua saja dalam suka dan duka tanpa adanya perselingkuhan atau pun flirting ke orang lain. Kamu tahu sendiri dari mana aku mendapatkan rasa trauma,” Nirmala berdiri menghadap Kevin, dan menatap cowok itu dengan sungguh-sungguh. “Kamu pikir apakah aku bisa mempercayai kamu, sedangkan profesi kamu seperti ini?”
“Aku bisa keluar dari profesiku,”
Nirmala menarik napas, mencari cara untuk menolak Kevin. "Dalam hidupku, aku bercinta hanya dengan dua pria. Suamiku yang sekarang dalam proses cerai, dan kamu yang kedua. Sedangkan kamu begitu mudahnya berhubungan **** dengan banyak wanita. Kalau kamu bilang kamu bisek-sual juga aku nggak heran, Kev. Kamu pikir aku bisa menerima kamu yang seperti ini?" ucapan Nirmala mulai menyakitkan.
Kevin menatapnya tanpa bergeming.
Nirmala melanjutkan alasannya, “Aku juga ingin pria mapan dengan pekerjaan tetap dan gaji yang lebih besar dariku. Punya rumah sendiri dan berpengalaman menghadapi hidup. Intinya, bukan bocah yang hanya hebat di ranjang,” Akhirnya terucap juga. Bukan maksud Nirmala berbicara dengan cara menyakitkan seperti itu, tapi kalau tidak begitu, Kevin akan mendesaknya terus menerus. Dan bagi Nirmala yang belum ingin membuka hatinya dengan laki-laki lain, hal itu sangat mengganggu.
Perkataan Nirmala bagaikan panah perak menghujam jantung, langsung tembus ke punggung. Menyakitkan karena sepenuhnya benar.
Nirmala mencari hubungan jangka panjang, sementara Kevin hanya terbawa emosi. Jelas-jelas tidak akan sinkron.
“Kevin, aku minta maaf. Tapi hal ini tidak akan berhasil. Kita berhubungan secara profesional saja,” Ujar Nirmala.
Kevin menghela napas, kecewa.
__ADS_1
Yang paling membuatnya kecewa adalah, saat ia mulai membuka diri terhadap perempuan, ia langsung patah hati di hari itu juga.