Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 8


__ADS_3

Sekitar satu jam kemudian,


“Bangs*at, capek bener gue,” Kasep duduk setengah berbaring sambil menghisap cerutu hasil rampasan dari ruangan Big Boss Opal Corporate.


“Tapi lumayan coeg dibayar sejuta buat push rank entar malem,” gumam Agus, masih sambil berbaring juga. “Ohok!Ohok!Ohok!!” dan ia pun terbatuk.


Kasep dan Kevin terkekeh mentertawakan ketidakmampuan Agus menghisap cerutu.


“Si bedul ujung cerutunya kagak dipotong dulu,” gumam Kasep.


“Asepnya jangan dihirup bego, lo bisa keracunan! Ini beda sama rokok!” gumam Kevin.


“Nikmatinnya tuh dikit-dikit cuy, jangan sekaligus,”


“Iya dah yang udah pakar! Besok jadi brand ambassador isep-isep cerutu,” gerutu Agus.


“Gue isep juga nyawa lo,” gumam Kevin.


Lalu mereka terdiam sambil berpikir,


“Tadi tuh gue berani sumpah ngeliat genangan merah kayak darah di lantai,” gumam Kasep.


“Itu genangan karat, bukan darah,” kata Kevin.


“Lo serius Kev? Udah lo pastiin?”


“Menurut penglihatan gue genangan itu mengandung Fe2O3.nH2O, berupa oksida atau karbonat yang warnanya coklat-merah berlaku sebagai anode, di mana besi mengalami oksidasi,” ujar Kevin dengan nada sepenuhnya menyindir.


Kasep diam, Agus pun bungkam.


“Gue tiba-tiba jadi lebih pusing dari tadi,”


“Siapa itu desi?” tanya Agus.


“Oksidasi, daya khayal lo ketinggian cuy,”


Dan mereka kembali hening.


“Itu ruangan udah dibiarin berapa tahun sih sampe tumpukan kertasnya setinggi dengkul kita?!” keluh Kasep.


“Gue sempet ngeliat ada berkas perceraian segala, terus ada panggilan dari polda, ada undangan dari Kerajaan Inggris,”


“Gue ada tokek mati kegencet, sarang semut, bungkus nasi padang,”


“Sulit dipercaya ada begitu-gituan di kantor semewah ini,”


“Iya,” Kevin mengambil botol tipis dari saku kemeja sekolahnya dan menegak isinya.


Kasep dan Agus menatapnya,


“Apa’an tuh?”


Kevin menyeringai, “Isinya Whiskey, gue ambil dari lemari Big Boss,”


“Naudzubillah min dzalik,” gumam Agus.


“Sini bagi!” desis Kasep.


“Woy, sholat lo nggak diterima 40 hari loh! Biasa mabok bensin, ini sok-sok’an minum wiski!” ujar Agus mencegah Kasep.


Tak lama, terdengar dentingan notifikasi pesan singkat di ponsel Kevin.


Dari Mami. "Besok pagi jam 10, bisa? Klien spesial cuma nemenin ngobrol. Kalau urusannya merambat, itu terserah lo,"


"Berapa?" tanya Kevin, sementara Agus dan Kasep masih memperdebatkan mengenai boleh tidaknya Kasep ikutan minum wiski.


"5 juta perhari," balas Mami.


Kevin mengernyit. Bayaran lebih murah karena seharian, tapi tidak bercinta.


"Orangnya kayak gimana?" tanya Kevin. Karena menghabiskan waktu seharian, kalau orangnya nggak enak dilihat akan jadi membosankan.


"Relasi gue nggak bakalan ada yang mengecewakan. Yang ini dadanya montok, haha!"


"Semua juga begitu, tapi kebanyakan nggak asli, nggak bisa diremes," ketik Kevin sambil tersenyum sinis.


"Gue ngerasa tersindir, dasar bocah," balas Mami.


Kevin terkekeh, lalu mengetik lagi, "Tapi semua kebutuhan dan belanja, tanggungan dia ya. Gue cuma nemenin aja jadi pajangan,"

__ADS_1


"Iya lah,"


"Oke Mam, Shareloc," ketik Kevin.


"Sip!"


*


*


Kevin duduk di salah satu sofa di area ruang tunggu sebuah hotel bintang 5 di kawasan Mega Kuningan. Lobi hotel penuh dengan bule berseliweran dan para eksekutif muda. Setahu Kevin, hotel ini memang terletak kawasan perkantoran elit dan dekat dengan banyak kedutaan. Hotel yang didatangi Kevin saat ini pernah mendapat ancaman teror yang lumayan menghebohkan dunia di tahun 2003. Tahun dimana Kevin bahkan belum direncanakan lahir ke dunia.


(Di novel ini, untuk kenyamanan bersama peristiwa pandemi Covid 19 tidak ditampilkan, harap kemakluman para Pembaca.)


Kevin mengirimkan pesan ke Mami yang menginformasikan kalau dia sudah sampai di lobi. Prosedurnya, nanti Mami akan memberitahukan si klien mengenai keberadaan Kevin. Kebanyakan hotel zaman sekarang, untuk naik ke lantai atas harus menggunakan kartu khusus kamar masing-masing, jadi tidak ada orang asing selain tamu yang berjalan-jalan menyusuri koridor unit seenaknya.


Tak lama, saat Kevin sedang mengecek komentar subscribernya, seseorang menghentikan langkahnya di depan Kevin.


Yang pertama cowok itu lihat karena sedang menunduk, adalah high heels Tory Burch yang terkesan seksi.


Lalu betis kurus yang seputih pualam.


Rok berwarna pastel dengan brokat putih yang elegan, ikat pinggang Chanel warna putih bertaburan batu mulia, dan diatasnya lagi... Dada cup D yang menantang.


Bukan hanya itu, dagu lancip, bibir sensual dan mata sayunya yang sedang menatapnya dalam-dalam seakan membuat Kevin merasa sedang di kawasan Olympus, taman Dewa-Dewi Yunani.


Cantik sekali wanita di depanku ini! Batin Kevin. Ia langsung merinding.


"Kamu Kevin?" tanya wanita itu. Suaranya serak dan seksi. Jenis yang saat bilang 'hm' saja sudah membuat yang mendengar salah sangka.


"Iya," jawab Kevin masih dengan tampang bengongnya.


Wanita itu mengulurkan tangan lentiknya. Kuku panjang dan lancip dengan cat berkilauan.


"Nirmala," katanya memperkenalkan diri.


"Oh, iya Tante," Kevin berdiri dan menjabat tangannya.


Tangan wanita itu ringkih, terasa di telapak tangan Kevin.


Nirmala tampak memperhatikan Kevin dari atas ke bawah. Lalu tersenyum puas.


"Kita ke atas saja yuk," ajak Nirmala akhirnya.


Kevin mengangguk, lalu mengikuti wanita itu.


Dalam diam, Kevin memperhatikan Nirmala dari belakang.


Nirmala, nama yang jarang ada, artinya suci tanpa cacat. Kalau melihat dari postur tubuhnya, semua masih terlihat kencang dan terawat. Namun entahlah di balik pakaian, Kevin hanya bisa menduga-duga. Kerutan di punggung tangannya menandakan dia berusia lebih dari 30 tahun walaupun wajahnya tampak seperti 20tahunan.


Nirmala membuka pintu kamarnya dan mempersilahkan Kevin masuk lebih dulu. Kevin melewatinya sambil tetap menatap matanya dan tersenyum tipis.


"Mau minum apa, Kevin?" tanya Nirmala sambil membuka lemari es mini di kabinet.


"Yang manis apa Tante?" Kevin ikut menunduk melihat isi lemari es. Nirmala sambil menoleh karena kaget karena Kevin sudah berada di dekatnya.


Wangi, pikir Nirmala.


Wangi yang berbeda dari anak-anak seuusianya. Yang ini tampak lebih 'mahal'. Pikir Nirmala lagi.


"Kamu pilih sendiri saja ya," kata Nirmala sambil beranjak ke konter untuk membuat kopi.


Kevin memilih minuman soda dan duduk di sofa sambil membuka kalengnya. Lalu menatap keluar jendela hotel.


Mendung.


Sebentar lagi mungkin akan hujan.


Nirmala duduk di depan Kevin sambil mengaduk tehnya.


Sudut matanya masih menelisik anak muda di depannya ini, yang bersikap santai serasa berada di rumah sendiri. Kemungkinan besar ia sudah terbiasa dengan suasana hotel dan bertemu banyak orang seperti Nirmala.


"Jadi, tante mau saya temani kemana? Atau hanya di hotel saja?" tanya Kevin langsung sambil menegak sodanya.


"Tergantung mood saya," kata Nirmala.


"Saya baru kali ini menemani 'hanya mengobrol' biasanya tidak usah banyak bicara,"


"Hem, langsung action ya?" pancing Nirmala.

__ADS_1


"Begitulah,"


"Kenapa kamu mengambil jalan ini untuk mendapatkan uang? Kamu dari keluarga broken home?"


"Nggak juga, ibu saya punya warteg, bapak saya sudah meninggal, saya sekolah di sekolah unggulan, kehidupan masyarakat kebanyakan. Tapi," Kevin menegak sodanya. "Saya hanya memanfaatkan wajah saya untuk mendapatkan banyak uang. Masuk ke agency model mau tunggu sampai kapan jadi kaya? Banyak juga yang lebih ganteng dan badan berotot lebih besar dari saya,"


"Jadi, kamu sekarang sudah kaya?"


"Masih jauh, Tante. Saya baru menekuni bidang ini selama 3 bulanan, paling tidak hidup saya nggak melarat-melarat amat," Kevin menyeringai.


"Lalu,"


"Sshhh!" Kevin mencegah Nirmala berbicara lebih lanjut dengan mengangkat telunjuknya. "Sekarang bukan waktunya saya bicara. Tapi giliran tante Nirmala,"


Nirmala mengangkat alisnya, lalu tersenyum tipis.


"Yang saya bicarakan, tidak untuk dipublikasi,"


"Iya, saya harus simpan sampai liang lahat. Begitu, kan?"


"Kalimat dari film yang mana itu?"


"Hehe, Tante lucu juga," Kevin beranjak, lalu duduk di sebelah Nirmala. Paha mereka saling bersentuhan.


Nirmala menarik napas lalu menghembuskannya untuk menenangkan dirinya.


"Sepertinya kamu terbiasa dengan wanita yang lebih tua ya,"


"Itu spesialisasi saya. Justru kalau seusia, saya tidak terlalu nyaman,"


"Kenapa begitu?"


"Tingkah cewek seumuran saya kebanyakan labil, egois, posesif, dan manja nggak ketulungan. Kalau sudah diatas 30 tahunan sudah lebih tenang dan kalem. Juga lebih pengalaman di ranjang, mereka bisa tahu spot mana yang harus disentuh dan apa yang harus dilakukan. Kalau ada keinginan juga langsung dikatakan, nggak pakai kode-kode ambekan aneh,"


Nirmala tampak terperajat.


"Wah wah wah, kamu benar-benar berpengalaman ya,"


"Tidak juga, semua mengalir begitu saja," Kevin mengangkat bahunya sekilas. "Tante punya suami?"


"Saya baru mengajukan proses perceraian ke Pengadilan Negeri,"


"Hoo, biasanya yang booking saya karena kesepian. Tante nggak mau ada adegan ranjang?"


"Saya bisa memuaskan diri saya sendiri, tapi saya nggak punya teman bicara,"


"Saya bukan teman bicara yang baik, loh,"


"Ohya? Kenapa dari tadi saya malah beranggapan sebaliknya ya,"


"Oh gitu? Hehe, jadi malu," Kevin menyeringai sambil menggaruk tengkuknya.


Dan berikutnya obrolan menjadi semakin akrab, saling menceritakan kehidupan masing-masing.


Dari mulai impian di masa depan, masa lalu yang kelam, orang-orang yang mereka suka, orang-orang yang mereka benci, hobi mereka, sampai makanan favorit dan sampailah mereka pada topik ... Gaya berhubungan intim.


"Beratnya hampir 70 kg dan dia minta gaya digendong mepet dinding, apa itu namanya di Kamasutra saya bingung! Kebayang kan limbungnya saya? Ti**t saya nggak patah aja udah untung, Tante!" kata Kevin.


Nirmala terbahak mendengar cerita Kevin sampai-sampai dia mengusap air matanya.


"Saya itu ingatnya dada saya cup C, " Nirmala memulai ceritanya. "Kalo beli di Victoria Secret itu kan biasanya ukurannya kan besar-besar model bule, saya khilaf karena saya sudah lama nggak makan sushi. Pas saya minum, astagaaaa itu tali depan bra saya putus! Klien saya sampai bengong pas liat itu nyembul dari kaitan! Maaaaluuu banget saya! Sejak itu saya pakai Cup D dan nggak mau makan kebanyakan!"


Kevin terkakak sampai memukul-mukul sofa, "Aduh tanteee, kalo mau mukbang tuh pake daster ajaaaa,"


"Kalau saya mau makan AYCE di restoran, pasangan saya yang berikutnya harus maklum kalau saya beneran pakai daster,"


"Eh, mengenai makanan, saya juga ada pengalaman. Jadi klien saya itu penggemar sambel. Pas saya datang ternyata dia lagi ngemil basreng level 15 sambil nungguin saya. Mungkin karena dia udah keburu nafsu liat saya, langsung aja itu dia buka celana saya dan masukin ke mulutnya, tanpa dia sempat minum, jadi ..."


"Tunggu! Tunggu!" cegah Nirmala panik dengan wajah tak percaya, "Itu panas banget dong!"


"Tante, saya sampai nangis di kamar mandi! Perihnya nggak hilang walaupun sudah saya siram air dingin! Beneran nista ituuuu!"


"Keviiin astagaaaaa hahahahahaha!!!"


"Ada lagi tante, Jadi ceritanya saat saya diundang ke pantai dan ternyata saat itu lagi musim ubur-ubur ..."


Dan obrolan mereka pun berlanjut sampai waktunya makan siang tiba. Mereka mengobrol dengan begitu seru bagaikan teman akrab. Karena selama ini memang tidak ada teman yang bisa dibagi untuk hal serahasia itu.


__ADS_1


__ADS_2