
Aku akan dewasa perlahan, sembari mencintai kamu.
Kevin Cakra.
*
*
Dengan bersandar santai, Nirmala duduk di kursi salah satu restoran area lobby. Kakinya ia lipat dengan anggun dan salah satu tangannya bersandar di pegangan kursi. Sementara tangan yang lain sibuk menscroll ponselnya, berselancar di media sosial.
Ia sedang kesal.
Sedikit banyak karena Kevin.
Tapi bukan perseorangan, ia lebih kesal karena saat ini sedang merasakan dampak dari berpacaran dengan bocah yang jadi idola.
Tadinya ia mau langsung pulang ikut Bos Danar dan Windy.
Ya Ampun! keluhnya dalam hati.
Ia berpikir dengan gusar. Seharusnya ia pulang saja, dan tidak pedulikan bisikan Kevin untuk menunggunya di restoran ini.
Aku ingin bicara, kumohon.
Begitu saat mereka selesai meeting tadi. Saat semua orang sibuk berpamitan, Kevin menghampirinya dan berbisik begitu.
Astaga,
Saat Kevin memohon, siapa yang bisa menolaknya! Nirmala sampai memejamkan mata karena jantungnya langsung berdetak cepat, mengingat suara Kevin maskulin di telinganya tadi.
Namun saat duduk di restoran ini...
Telinganya panas!
Hujatan dari kanan, kiri, depan, belakang... semua sedang menatapnya dengan pandangan sinis dan ucapan nyinyir.
Nirmala sedang jadi bahan perhatian.
Malah ada yang sengaja mengambil tempat tepat di sebelah kursinya, dekat sekali dengannya, dan menyindir-nyindirnya seperti :
“Gaes, lo denger nggak sih? Ada ibu-ibu tua bangka, nggak tau diri, yang nekat pacaran sama cowok muda! Kayak nggak ngaca gituuu,”
“Lo bayangin nggak sih adegannya? Mungkin aja tu ibu-ibu hiper kan yaaa, kesepian nggak dapet sama lakinya terus nyewa berondong yang mainnya masih kuaaat,”
“Iiiih apa’an sih lo kok bayanginnya udah adegan ranjang ajeee! Ya tapi timpang banget kalo jalan. Apa pake susuk ya jadi si cowok lengket gitu. Pas susuknya lepas si cowok nyadar terus muntah! Hahahaha!!”
“Lo mikir nggak sih kenapa cowoknya mau aja. Tu cowok kan terkenal jutek banget loh. Malah cemberut aje kalo digodain kita-kita. Bisa jadi karena emang si ibu-ibu ini megang Kartu AS si cowok, mungkin aib masa lalu, atau mungkin masalah hutang piutang gitu, loh. Dengan syarat kalo lo godain cewek lain, lo masuk penjara. Kan bisa loh diancem begitu!”
“Ih, berapa sih utangnya?! Sini gue bayarin lah! Kalo seandainya benar, kasian banget si cowok!!”
“Yaaa... si ibu juga umurnya udah berapa sih?! Dia koit ya si cowok masih bisa cari lagi, iya nggak?! Hahahahah!”
“Hoi, lo semua nyadar dong! Si cowok juga jatohnya berondong kalo jalan sama lo-lo pada!” salah seorang perempuan yang melewati meja mereka berujar seperti itu.
Sambil tertegun, Nirmala mendengarkan semua itu. Jelas-jelas kalau mereka sedang membicarakan dirinya dan Kevin. Dan herannya, tuduhan mereka ada benarnya.
Nirmala menyesal.
Menyesal karena pertemuannya dengan Kevin saat pertama kali memang dalam keadaan yang tidak pantas. Bagaimana kalau ada yang bertanya : Bagaimana awal pertemuan kalian?
Para penggosip itu juga benar. Nirmala memegang Kartu AS Kevin, yaitu pekerjaan pemuda itu di masa lalu. Juga masalah hutang piutang, kalau dipikir saat Nirmala membiayai rumah sakit Ibu Kevin hal itu bisa masuk ke kategori hutang kan? Walaupun Nirmala sudah merelakannya sepenuh hati, mengikhlaskannya, namun siapa yang tahu isi hati Kevin?! Begitu pikir wanita itu.
Nirmala hanya menghela napas berat dan menyibukkan dirinya dengan ponselnya, pura-pura tidak dengar.
Ia berniat akan pergi dari sana kalau dalam 5 menit Kevin tidak datang juga.
Tapi, Kevin datang.
Saat pemuda itu masuk, ditandai dengan keadaan yang langsung hening. Dan semua mata menatapnya.
Tanpa Nirmala menoleh saja, wanita itu sudah tahu kalau Kevin yang masuk. Karena memang keberadaan cowok itu semencolok itu. Dimana pun ia berada.
Bahkan setelah lulus sekolah dan masuk ke lingkungan pekerja, Kevin jauh lebih mempesona.
__ADS_1
“Maaf ya agak lama, tadi beresin presentasi dulu soalnya,” kata Kevin sambil duduk di depan Nirmala.
Nirmala tak menjawab, menatap Kevin pun tidak.
Didiamkan seperti itu, Kevin sampai salah tingkah dan menggigit bibirnya tanda gugup.
“Tante?”panggilnya pelan.
“Sori aja kalau kamu harus pacaran sama tante-tante... “ gumam Nirmala pelan dengan sinis. Matanya tetap tertuju ke layar ponselnya.
Kevin sampai mengedip 2x karena ia merasa tak enak hati, dan langsung sadar kesalahannya.
“Heemm... Sayang, kamu udah pesen makan?” tanya Kevin smabil mengubah panggilannya ke Nirmala.
Nirmala meliriknya dengan tajam, cemberut, lalu lanjut main hape.
Kevin mencibir sambil menghela napas. Lalu cowok itu menatap buku menu.
Ia tak ingin makan. Rasanya mual menghadapi Nirmala yang sedang ngambek.
“Nirmala, aku ingin masalah kita cepat selesai. Nggak bakalan maju kalau diem-dieman begini...”keluh Kevin.
Brakk!
Nirmala menggebrak meja.
Kevin tegang.
Semua yang menonton juga terbelalak.
“Pilih aku apa Game?!” seru Nirmala marah.
“Eeeeeh?! Eeeeng... gawat dah nih, milih yang mana yaaaa!” seru Kevin sambil menggaruk kepalanya.
“Pilih mana, Hah?!” desak Nirmala.
“Milih Kamu aja lah! Game mah 3 taun juga muncul lagi versi lainnya!” sahut Kevin kalut.
“Ya udah pasti kamu! Ngapain juga aku pro ke Kasep sama Agus?!”
“Pilih pekerjaan atau aku?!”
Kevin sampai mencebik, “Ya aku kerja juga gara-gara kamu nuntut gaji 30 juta sebulan baru mau kunikahin! Gimana sih?! Kenapa sekarang malah nanya?!” seru cowok itu tak sabar.
Nirmala bersandar sambil tersenyum dan mengangguk puas. Paling tidak, semua pengunjung di sini dengar percakapan mereka. Biar mati kutu semuanya!
“Minta maaf dulu, baru kumaafin,” kata Nirmala dengan nada suara yang lebih tenang.
Kevin terkekeh. Lama-lama Nirmala unik juga tingkahnya. Ya tapi memang pada dasarnya wanita yang begitu dicintainya ini begitu menarik.
Kevin menatap wanita yang berbeda usia 17 tahun darinya dengan tatapan mendamba. Begitu cantik Nirmala dalam balutan dress setelan kantornya yang berpotongan sederhana namun tampak mahal.
Wanita ini sudah mengalami begitu banyak hal menyakitkan, ia tidak ingin lagi jatuh ke dalam cinta lebih dalam.
Ia bersedia menemui Kevin saja, sudah merupakan hal yang sulit. Karena Kevin yang tampan sebenarnya sudah sejak lama membuat hatinya yang beku, mulai mencair. Dan akibatnya, ia jadi lebih santai menjalani hidup.
"Aku minta maaf," hanya kalimat sederhana yang terdengar klise terucap dari bibir Kevin.
Nirmala menatap Kevin sambil memicingkan mata. Ia tampak tidak yakin dan menyelidik.
“Kevin...”
Kevin menatapnya tegang.
Hanya duduk di kursinya dengan posisi menantikan hujatan.
“Kamu...” Nirmala mencondongkan tubuhnya. “Selain rasa nyaman saat denganku, apa yang membuatmu tertarik untuk berpacaran dengan wanita tua semacam aku?”
“Kamu tidak tua,”
“Aku 2x usiamu. Gap kita sangat besar. Aku sudah menopause, kamu lagi matang-matangnya. Aku udah jompo, rambut rontok, gigi ompong, terserang penyakit tua, kamu lagi ganteng-gantengnya.”
“Itu bukan masalah bagiku,”
__ADS_1
“Sekarang itu bukan masalah, kamu belum pikirkan nantinya. Kamu kan terbiasa ‘jalani saja dulu, resiko nanti dipikirin’, iya kan?!”
“Memangnya kalau aku nyaman dekat dengan kamu, nggak boleh?”
“Rasa nyaman itu tanda bias. Kamu juga nyaman dekat dengan Kasep dan Agus. Juga cewek yang katanya anak Bu Dewi sampai datang ke apartemen kamu, juga dengan yang kata kamu istrinya Kasep. Aku lihat kamu juga nyaman dengan mereka. Jadi aku tidak terima alasan ‘nyaman’,”
Kevin mengernyit. Ia tidak mengerti sikap Nirmala saat ini.
Di pikiran cowok itu, kenapa hal ini ditanyakan sekarang? Di saat mereka sudah tidur bersama, sudah bicara dari hati ke hati, bahkan sudah merencanakan pernikahan segala. Kevin bahkan rela menikah muda demi Nirmala.
Namun ia mengerti satu hal ...
Wanita.
Nirmala adalah seorang wanita.
Dan wanita tidak terduga.
Mungkin saja pertanyaan ini diulangi saat mereka sudah memiliki anak di masa depan.
Jadi, Kevin mencoba bersabar. Tujuannya saat ini adalah berbaikan dengan Nirmala. Sudah itu saja.
Jadi mau dimaki-maki seperti apa pun dia harus tenang.
Tapi sebenarnya, Nirmala hanya ingin semua orang yang menghujatnya tadi menguping. Tak apa lah sedikit mengerjai Kevin dengan pertanyaan yang agak dewasa. Ia ingin menunjukan kalau kisah cintanya dengan pemuda di depannya ini tanpa paksaan apa pun. Hanya dua orang yang sedang saling mencintai.
“Aku suka kamu,” itu jawaban Kevin.
Sebenarnya NirmaIa tidak mengerti kenapa anak muda zaman sekarang menyebut kata 'suka' kalau tertarik dengan wanita. Apakah itu berarti sama dengan rasa suka mereka terhadap band favorit? Atau makanan yang mereka gemari? Ada banyak arti dari dalam kata 'suka'.
Namun Kevin, pemuda di depannya ini, kini berusia hampir 19 tahun, tersenyum lembut padanya, "Aku suka kamu sudah lama, dan rasa itu berkembang jadi sayang, lalu tumbuh menjadi cinta," kata Kevin.
Sesuatu yang membuat Nirmala terharu dan terpana. Jawaban yang ini tidak ia sangka bisa meluncur dari bibir Kevin. Laki-laki di depannya masih sangat muda, dengan gentle mengutarakan pendapatnya, ketegasannya melebihi pria lain yang pernah ada di hidup Nirmala.
"Aku ingin kamu terus disampingku. Dan kuharap kamu kesampingkan urusan usia. Aku akan dewasa perlahan, sembari mencintai kamu," ujar Kevin.
Pemuda itu meraih jemari Nirmala yang terletak di atas meja, lalu mengangkatnya dan mengecup punggung tangannya perlahan.
“Dari sekian banyak wanita, aku memilih kamu. Hal itu tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata apa pun. Kurasa, semua ini sudah takdir. Hanya itu,”
Kevin yang apa adanya.
Menyukai Nirmala yang sederhana.
Jodoh yang serasi, bukan?
Walaupun di dimensi berbeda, atau mereka bereinkarnasi menjadi sosok yang berbeda. Pun saat usia mereka setara atau pun terbalik menjadi Kevin yang lebih tua. Mereka akan saling menemukan, dan akhirnya kembali jatuh cinta satu sama lain.
“Terus, gaji kamu udah 30 juta belum?” iseng Nirmala bertanya.
Kevin mencibir. Tanda kalau masih jauh dari itu.
“Terus kamu pede banget gitu bisa membina rumah tangga denganku?!” tanya Nirmala lagi.
“Duuuuh apa’an lagi sih niiih?! Tingkah kamu hari ini aneh banget sih?!”
“Biaya hidupku nih mahal loh! Aku butuh baju branded, tas mahal, skinker dari dokter khusus biar bisa tetap muda. Kalau gaji kamu nggak gede, aku bisa jadi jelek,”
“Kamu nggak pake semua itu juga aku tetap sayang, kok,” sahut Kevin.
“Yakin nih?! Aku akan berpenampilan seenaknya loh! Daster robek-robek, rambut berminyak, bawa sapu dan pel-pelan beli sayur di depan gerbang!”
“Sambil gendong anakku, jangan ditinggal nanti mereka naik-naik lemari nggak ada yang ngawasin,” tambah Kevin.
Mereka pun saling bertatapan.
Sedetik,
Dua detik,
Dan pecahlah tawa mereka berdua.
Hidup Romantis ala receh, here we come! Tukang nyinyir silahkan pergi.
__ADS_1