Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 24


__ADS_3

"Keviiiin!" tampak Marisa melambaikan tangan dari sebuah cafe yang berada di lobi Yudha Mas Corp. Gedung tempat Amethys Tech berkantor.


Kevin agak tertegun sebentar, lalu ia mencibir. Marisa yang ia kenal biasanya berada dibalik seragam SMA yang ketat itu, saat ia berpakaian biasa terlihat seperti wanita dewasa yang dadanya ingin melarikan diri karena terjepit blouse.


"Tukang pamer," gumam Kevin sambil menatap dada Marisa terang-terangan.


"Mau? Suntik sana," tantang Marisa sambil sedikit mengguncangkan tubuhnya.


"Njir," Kevin cengengesan.


"Kita tunggu darling dulu ya, dia Direktur IT di Amethys Tech,"


Hampir saja Kevin terbatuk geli, astaga, Marisa bilang 'darling'! Masih jaman panggilan itu, dunia udah tua begini.


Kevin pun duduk dan memesan kopi.


"Lu nggak ikutan ngelamar di sana?" tanya Kevin.


"Buat apa?" mata Marisa membesar.


"Ya buat kerja lah, masa buat ngelo-nte,"


"Ya buat apa kerja kalo dengan ngelo-nte gue bisa beli iphone bobba chasing gold 24k?! Buang-buang waktu aja deh,"


Mindset anak jaman sekarang. (Huh! Amit-amit.)


Kevin hanya diam sambil tersenyum penuh arti, karena sampai ibunya meninggal dia masih menjalani pekerjaan semacam Marisa.


"Om lu yang ini, dah punya bini?"


"Katanya dia duda, 3x nikah-cerai. Terus karena buat konglomerat, cerai itu lebih mahal dari nikah, akhirnya dia trauma sama pernikahan. Hasil kerjanya habis cuma buat tuntutan mantan-mantan bininya,"


"Lo nemu di mana sih yang model begituan, beruntung banget,"


"Gue sok-sok'an ikutan softlaunch tentang peluncuran saham. Yang harusnya lakinya Bu Ida yang dateng tapi beliau berhalangan hadir, gue nggak sengaja liat undangan di ruangan Bu Ida. Akhirnya gue gantiin mereka dateng. Dan di situ gue ketemu darling,"


"Lu emang udah ngerencanain hal ini yak! Dasar ghendeng," maki Kevin.


"Lo tahu sendiri bo-nyok gue pingin gue kuliah di kampus negeri biar jadi pejabat di BUMN, kayak mereka. Lah, gue mana tertarik gitu-gituan, gue pingin seneng-seneng, bukannya pake seragam!"


"Lo dikasih seragam juga, masih bakalan joged-joged pamer pantat di Bigo, paling langsung ditendang gara-gara pake atribut negara. Dibilangnya Oknum, hahahahaa!"


"Ajigile, langsung kebayang di otak mesum lo yee!" Marisa menoyor dahi Kevin.


"Sesama mesumers jangan saling menghalangi,"


"Hahahaha!"


Tak berapa lama, seorang pria, berambut putih dan wajahnya lumayan kece. Mendekat dan mencium pipi Marisa.


"Hey, Bebi," sapanya ke Marisa.


Kevin lagi-lagi hampir tersedak karena geli. Darling dan Bebi. Udah pasti panggilan itu ide si Om.


"Darling, kenalin ini temen akooooh," Marisa bergelayut manja di lengan si Darling.


Geli rasanya melihat gaya Marisa kayak lintah ketumpahan garam. Kevin agak bergidik.


Si darling mengulurkan tangan ke Kevin, Kevin pun menjabatnya, "Nama saya Frans, saya di bagian Operasional dan IT Amethys Tech,"


"Saya Kevin, Pak,"


"Saya dan tim sudah melihat rancangan awal kamu untuk konsep aplikasi perhitungan budget akuntansi dan statistik. Dan kami suka dengan desainnya karena eye cathing dan mudah dioperasikan. Memasukkan hitungan sudah seperti main game. Kalau kamu tidak keterima di sini, saya bahkan ingin membeli aplikasi itu dari kamu. Sebagai perusahaan yang baru berkembang, kami butuh banyak rancangan untuk memulai dari awal," kata Pak Frans.


"Hah? Serius Darling? Kerjanya di sekolah cuma tidur dan pacaran loh," kata Marisa tak yakin.


"Yang kamu share kemarin buatan dia kan?" tanya Pak Frans.


"Ya iya, aku pikir isinya game,"


"Yang akuntansinya dapet D nggak bakalan ngerti sih," gumam Kevin. Marisa melemparnya dengan kacang.


"Intinya, kami tertarik untuk bekerja sama. Namun ada peraturan perusahan terkendala kelulusan kamu. Saya masih proses pengajuan ke owner untuk sedikit dispensasi,"


"Jadi status saya?"


"Pekerja magang dengan bayaran kontrak tertentu,"


"Begitu juga tak apa, Pak,"


"Darling, darling, gajinya harus gede loh ya, dia yatim piatu tinggal sendirian!" Marisa mengguncang-guncang lengan Pak Frans Darling.


"Range pekerja magang paling cuma 500ribu sampai sejutaan. Tapi karena kamu spesial, bayaran kamu sesuai UMR, belum bonus dan fee untuk desain yang kemarin kamu tunjukan. Apalagi kalau kamu mengerjakan desain dan apikasi lain sesuai permintaan klien, kamu akan dibayar 40% dari harga yang klien tawarkan,"


Kevin hanya menatap Pak Frans dengan penuh harapan. Ini benar-benar melebihi perkiraannya.


Kalau ia sampai diterima masuk kerja, ia akan sungguh-sungguh berdoa supaya Marisa diberikan Hidayah.


"Kalau kamu bersedia menjadi pekerja magang, kita ke atas untuk tandatangan kontrak,"


"Saya bersedia Pak, saya sudah sampai sini," jawab Kevin.


"Oke, yuk," Pak Frans Darling pun beranjak untuk mengantarkan Kevin melihat kantor barunya.


"Aku balik duluan ya Darling," kata Marisa sambil menempelkan pipinya di lengan Pak Frans.


"Oh iya, yang kemarin masih ada?"


"Tinggal setengah,"


"Ini, pakai yang ini saja, baru kuisi semilyar kemarin," Pak Frans Darling mengeluarkan black card dari dompetnya.


"Asiiik," Marisa menerima kartu itu sambil menyeringai lebar dan mencium pipi Pak Frans Darling.


"Gue titip sepatu buat kerja, ukuran gue 42, yang merknya Pedro yak!" seru Kevin.


"Siaul, udah nitip-nitip aje lu! Sana raib!" Marisa mengibaskan tangan ke arah Kevin sambil melenggang ke arah Mall


-----***-----


Kantor Amethys Tech benar-benar kantor impian. Setiap ruangan dibuat cozy dan fun. Kevin teringat desain kantor Google di film 'The Internship', mirip seperti itu.


Sepanjang jalan, karyawan yang berlalu lalang menatap Kevin dengan terpukau. Yang wanita bahkan memperhatikannya dari atas ke bawah.


Hal biasa bagi Kevin, karena itu dia selama ini menghindari tempat ramai.


Juga alasan Kasep dan Agus tidak mau mengajak Kevin hangout di Mall, langsung jiper kalah saing, soalnya.


"Di sini nggak pakai baju formal ya Pak?" tanya Kevin.


"Bebas, kamu mau ke kantor pakai daster, pakai mukena, pakai singlet, bertato, juga terserah. Yang penting saat bertemu Klien ya rapi saja, tahu diri karena membawa nama baik perusahaan," kata Pak Frans.


Kevin semakin bersemangat.


"Kita ke ruangan HRD dulu ya," kata Pak Frans.


Kevin mengikutinya sambil mengamati suasana sekitar. Dia bahkan sudah merencanakan mau selfie dimana.


Dan saat memasuki ruangan HRD, suasana ruangannya lebih serius.


"Pak Johanes, ini pekerja magang saya. Kontrak untuk tim saya yang kemarin kami ajukan, sudah jadi kan?" kata Pak Frans.


"Sebentar Pak, ada sedikit perubahan. Baru saja ada persetujuan dari Pak David untuk menerimanya sebagai Karyawan Tetap dengan syarat ada keterangan kelulusan dari sekolahnya," kata seseorang yang sedang sibuk di depan printer, berdiri membelakangi mereka.

__ADS_1


"Waah, memang jodoh kamu kerja di sini Kev," desis Pak Frans. "Owner ternyata suka dengan hasil kerja kamu. Susah loh mengambil hati Pak David Yudha,"


"Ini serius pak? Bukan prank kan?" Kevin tampak panik. Ia mengenal nama yang tadi disebut. Pengusaha muda, Crazy Rich Jakarta, satu dari 12 Naga. Dan tampaknya Amethys Grup adalah miliknya karena Pak Frans tadi bilang 'owner'.


"Saya nggak ada waktu buat nge-prank," Pak Frans menyeringai.


"Ini Pak kontrak barunya, tolong dipelajari saja dulu," seseorang menghampiri mereka dan menyodorkan sebuah Map.


Dan Kevin mengernyit.


Orang di depan ini, si HRD ini, sepertinya dia kenal.


Bulu kuduknya langsung meremang.


Dan kakinya pun reflek mundur selangkah.


Radar waspada di otaknya langsung menginstruksikan untuk bergerak menjauh, dan berlindung di belakang punggung Pak Frans Darling.


Jo


Di depannya.


Tersenyum padanya dengan penuh kelicikan.


Kevin pun menelan ludahnya.


"Oke, Kevin, selanjutnya kamu di sini dulu, baca kontraknya baik-baik. Kalau ada kendala dan penawaran lain dari kamu, Pak Johanes akan membicarakannya dengan owner, " kata Pak Frans Darling. "Welcome to the team," dia mengulurkan tangannya ke arah Kevin.


Kevin antara ketakutan tapi harus tersenyum, intinya serba salah. Harus menerima uluran tangan Pak Direktur IT dengan jumawa di lain pihak ia waspada dan jengah dengan pandangan Johanes yang menusuk.


Akhirnya Kevin pun tersenyum tipis dan menjabat tangan Pak Frans.


"Dingin amat tangan kamu," gumam Pak Frans sambil melepaskannya, "Terlalu senang ya? Santai aja kali,"


Bukannya terlalu senang...


Pingin kabur, malah.


Dan akhirnya Kevin pun berhadapan dengan Jo.


Untung saja saat itu ruangan HRD penuh orang yang lalu lalang karena masih pagi dan waktunya orang mulai beraktivitas. Sebagian bertanya ke Jo sambil bisik-bisik dan menatap Kevin dengan penasaran. Sebagian lagi hanya curi-curi pandang menatap Kevin lekat-lekat.


"Wooo, akhirnya ada juga yang ganteng selain Jo di sini. Udah bosen gue ngeliat lo jadi idola melulu," desis salah seorang pria yang masuk ruangan sambil membawa kopi dari cafe terkenal.


Kevin melirik Jo sambil pura-pura baca kontrak, padahal tidak fokus sama sekali.


"Udah jangan pada ribut, ntar dia nggak konsen baca kontrak, gue males ditanya-tanya lagi," gerutu Jo ke teman-temannya sambil duduk di depan Kevin dan mengutak-atik laptopnya.


"Kalo ada yang tidak jelas, tanya langsung aja ya... Kevin," desis Jo.


Kevin tidak menjawab, lalu menghela napas dan mulai bisa menguasai dirinya. Tampaknya di kantor tidak ada yang tahu kalau orientasi Jo akan ketertarikan seksual berbeda.


Dan setelah beberapa saat membaca, sampailah dia di kolom penghasilan


Tanya apa nggak ya?


Nggak tanya, nanti salah.


Mau nanya nanti 'digigit'.


Pikir Kevin ragu.


Lalu pemuda itu melihat ke sekelilingnya. Ramai orang, jadi tampaknya Jo tidak akan macam-macam.


"Pak Johanes," panggil Kevin.


"Ya, sayang?"


"Bercanda," gumam Jo selanjutnya. Tapi dia berlagak tetap fokus ke layar laptopnya.


Minta ditabok, sumpah! Maki Kevin dalam hati. Mangkel.


Jo tersenyum ke arah Kevin, bagaikan Lucifer menatap pendosa yang akan masuk ke nerakanya, sambil menyatukan tangannya dan menopang dagunya.


"Ada yang tidak jelas?" tanya Jo.


"Hem... Kenapa kolom penghasilan dikosongkan?" tanya Kevin berusaha tidak menatap Jo, atau dia bakalan jadi batu.


"Oh, Pak David bilang kamu isi sendiri saja. Karena dengan kemampuan sekaliber kamu, yang bisa menentukan harga adalah kamu sendiri. Tapi ini rahasia antara kita saja. Kalau yang lain dengar bisa ngamuk-ngamuk, dibilang pilih kasih," Jo berbicara dengan suara rendah, berusaha agar yang lain tidak mendengar penjelasannya.


"Jadi, gaji saya sudah bukan UMR lagi?"


"Kamu mau isi setara UMR juga nggak masalah buat saya. Tapi kamu perlu tahu kalau di sini naik gaji susah, soalnya perusahaan baru besar. Kalau kamu salah tulis nominal kekecilan, jangan protes,"


Kevin tidak mengerti.


Menurutnya, aplikasi yang ia ciptakan hanya level anak sekolahan. Ia sebenarnya berniat memberikan aplikasi itu ke guru akuntansinya yang sering kerepotan menjelaskan pelajaran dengan cara sederhana, karena siswa-siswanya nilainya jeblok semua kecuali Kevin.


Tapi belum sempat Kevin berikan aplikasinya, guru itu sudah dimutasi ke kota lain karena ikut suaminya yang dinas.


Dan saat Marisa bilang Kevin harus memberikan contoh portfolio, ia hanya memodifikasi sedikit mengikuti Laporan Keuangan Standar Perusahaan.


Jadi dengan bingung, Kevin menggaruk kepalanya.


Berhitung.


Biaya hidup sebulan, ditambah sewa kost-an di dekat sini, ditambah gaya hidup, ditambah menabung.


Nggak etis kalo langsung isi 30 juta kan? Toh dia pegawai baru. Belum berijazah pula.


Jadi Kevin tulis : Rp. 10.000.000 s/d tahun ke 2, kenaikan 150% tahun ke 3 dst. Belum bonus dan insentif.


Dan ia serahkan ke Jo.


Jo menaikkan alisnya, lalu tersenyum sinis. "Karena Bu Dewi menghilang, kamu berusaha menutup kebutuhan dengan bayaran yang setara. Not bad, Kev," sindirnya.


"Pak Jo bilang isi terserah saya,"


"Saya harap kinerja kamu setara dengan gaji,"


"Kenapa jadi sinis?" gerutu Kevin.


"Hem, ini perusahaan berbasis teknologi. Jadi kemampuan seperti kamu dibayar mahal. Kami hanya pelengkap," Jo masih sinis menatap Kevin.


Oke, sekarang terbaca alasan Jo memiliki pekerjaan ganda. Selain untuk hasratnya, juga untuk hidupnya. Dan karena Mami menghilang, otomatis penghasilan tambahan Jo juga menghilang. Wajar kalau ia sinis begitu melihat Kevin seenaknya menetapkan harga.


Tapi yang namanya kerja profesional, semua harus sesuai aturan, tidak boleh menggunakan emosi.


"Oke saya akan buatkan duplikatnya, setelah itu kita keliling. Saya akan kenalkan kamu ke semua teman-teman," Jo beranjak dari duduknya.


Kevin duduk bersandar di kursinya dan menghela napas. Rasanya dia baru saja lepas dari cekikan genderuwo. Sesak!


Ia mengibaskan kerah bajunya karena merasa kepanasan, padahal ACnya sebenarnya dingin.


"Hai,"


Seorang wanita menghampirinya dan mencondongkan tubuhnya, memperlihatkan belahan dadanya yang putih mulus.


"Nama kamu Kevin? Kenalin, aku Zahra, staff Marketing,"


"Wuuu, liat yang bening-bening cepet datengnya! Disuruh meeting telat melulu!" sebuah suara berteriak dari kejauhan.


"Sirik aja sih, bukan urusan lo!" desis Zahra sambil mengibaskan rambutnya. Gayanya mirip Marisa.

__ADS_1


"Jadi... Kamu apanya Pak David? Kok belum lulus sekolah sudah diterima kerja?" tanyanya langsung.


"Saya nggak kenal Pak David," kata Kevin. Oke, Kevin ralat sedikit, Zahra seperti perpaduan Marisa ditambah Dian.


"Masa?! Jadi siapa koneksi kamu? Pak Frans?"


Nggak mungkin Kevin bilang 'Bebi-nya' Pak Darling, kan?!


"Dia diterima karena punya kemampuan," potong Jo sambil menghampiri Kevin dan meletakkan map berisi duplikat kontrak kerja di depan cowok itu.


Tampak Zahra kaget dan langsung jengah saat melihat Jo datang.


"Eh, Pak Jo. Hehe, selamat pagi, Pak," sapa Zahra langsung sopan.


"Dalam sebulan kamu terlambat 15 kali,"


"Marketing kan tidak harus ada di ruangan Pak, kami sering dari rumah langsung ke klien karena lebih dekat dibanding harus ke kantor dulu," Zahra mencoba membela diri.


"Konsep Marketing kita bukan door to door seperti sales panci. Kamu bukannya memasarkan sistem lewat media sosial dan iklan ya? Buat apa pergi keluar kantor? Apakah ada klien yang minta bertemu langsung, untuk melihat apakah wajah kamu kalau difoto itu palsu pake filter atau asli?" tembak Jo tanpa basa-basi.


Zahra ternganga mendengar Jo bicara segamblang itu.


"Itu namanya pelecehan seksual pak," gumam Zahra masih tidak mau kalah.


"Yang kamu katakan ke Kevin barusan, namanya perundungan, memang kenapa kalau dia masuk ke sini tanpa ijazah? Kamu iri? Target kamu saja tidak tercapai," balas Jo sinis.


Zahra menggigit bibirnya merasa kalah.


"Info aja ya Zahra, saya sudah diminta Bu Presdir untuk memecat saja pegawai yang tidak berguna, terutama yang tidak mencapai target dalam setahun," gumam Jo sambil memberi kode ke Kevin untuk mengikutinya.


Kevin hanya menatap bergantian antara Jo dan Zahra. Entahlah siapa membela siapa, siapa menjatuhkan siapa. Persaingan di dunia kerja adalah hutan rimba yang sebenarnya.


Atau, Jo bersikap sedingin itu ke cewek seksi macam Zahra karena memang sebenarnya dia tidak suka perempuan? Semua masih menjadi misteri.


Tapi Kevin malas juga cari tahu. Buat apa, coba?! Lebih baik ia menghindari kedua orang ini.


Jadilah Jo masuk ke dalam lift untuk menuju lantai lain tempat para Direksi di berkantor.


"Kita mulai dari jajaran manajemen dulu ya, letaknya di lantai terpisah dari ruangan kita," kata Jo menjelaskan.


Kevin berdiri di depan pintu lift. Ragu-ragu untuk masuk ke dalam.


Masalahnya, di lift tidak ada orang lain.


Jo menahan pintu lift sambil menatap Kevin, lalu ia menyeringai.


Tingkah Kevin yang waspada padanya dianggapnya berlebihan.


Tapi gimana, dong? Menurutnya Kevin cantik. Jenis yang wajahnya bisa memikat wanita maupun pria.


Apalagi saat Kevin waspada padanya, makin jadilah rasa ingin menjahili.


"Saya masih banyak kerjaan nih, sampai kapan kamu mau berdiri di situ?" kata Jo. Padahal sih nggak ada kerjaan mendesak.


Kevin mencibir dan perlahan masuk ke dalam, dengan melipir menjauhi Jo yang berdiri santai di sebelah tombol lift, dan mengambil posisi pojok sejauh mungkin dari Jo.


Tapi fatal akibatnya.


Lift tertutup, Kevin malah terjebak di pojokan karena Jo malah menghampirinya.


Mam-pus, gue! batin Kevin sambil meraih liontin salibnya.


Untungnya pria itu berhenti tepat sejengkal dari tubuh Kevin. Padahal cowok itu udah ambil ancang-ancang tinju.


"Saya minta maaf atas kelakuan saya waktu itu," kata Jo.


Tiba-tiba otak buffer.


"Ha?" desis Kevin masih belum loading.


"Gaya kamu agak kemayu, saya pikir kamu sejenis," desis Jo.


Kurang ajar si Dajjal, bilang gue kemayu. Lebih parah lo yang maskulin tapi hati lenje! Umpat Kevin dalam hati.


"Dan ukuran kamu... Sangat menggiurkan," Jo melirik bagian bawah pinggang Kevin.


Kevin semakin bengong.


"Yang sebesar itu, bisa bikin saya teriak-teriak keenakan" bisik Jo.


Kevin langsung pucat.


"Yakin nggak mau menjelajah dunia yang baru?"


Dan,


DUAGG!!


Kevin meninju pipi Jo sampai pria itu terjatuh ke lantai lift.


Dan Kevin pun membuka sebelah sepatunya lalu melemparnya ke Jo.


Pletakk!!


"Duh!" kena telak ke muka Jo.


"Tenang dulu Kev!" seru Jo sambil menghindar dan melindungi wajahnya.


"Gue nggak ada masalah ya sama orientasi seksual lo yang beda, tapi jangan ganggu gue!!" Jerit Kevin sambil melempar sebelah sepatunya yang lain ke arah Jo.


Lalu ia kembali melipir ke pojokan sambil merengut mengancam dan terengah-engah.


"Okee! Oke!" Jo berusaha berdiri sambil mengangkat tangan tanda menyerah. "Astaga perih banget!" Jo mengaduh sambil mengelus pipinya yang merah.


"Nggak usah nyerang gue pake pasal-pasal penganiayaan! Dasar beti!" Seru Kevin.


(Beti : Bencong berti**t, bahasa anak jaman 90an)


"Ya bisa aja sih, kamu kan nyerang saya duluan, nggak ada bukti saya ngerundung kamu juga,"


"Gue resign, bodo amat!" desis Kevin sambil memencet tombol lift agar terbuka.


"Jangan," Jo meraih lengan Kevin dan mencegahnya keluar.


"Ngapain lo pegang-pegang gue?!" Kevin bersiap mengangkat kakinya ingin menendang Jo.


"Iyaaa okeee!" Jo kembali mengangkat tangannya. "Nggak usah emosi dulu, masuk sini bicara baik-baik,"


"Bicara baik-baik model lo tuh yang kayak gimana hah?! Di ranjang?!"


"Ya di lift dong,"


"Buset si Dajjal!!" jerit Kevin histeris sambil kembali merapat ke pintu lift berusaha membuka paksa.


"Jangan salah paham, bego!" gerutu Jo. "Maksud saya itu kita bicara bener-bener bicara, nggak pake tanda kutip!"


"Bicarain di tempat yang banyak orang," gerutu Kevin.


"Ya nggak bisa dong, nanti saya malah ketahuan," Jo mengelus pipinya yang nyeri. "Pokoknya sekarang kita ketemu Direksi dan teman-teman dulu. Habis itu..."


"Lo ganggu gue lagi, gue resign!" seru Kevin.


"Iyaaaa, duh kalo bukan karyawan berpotensi udah saya garap, kali!" gerutu Jo.

__ADS_1


__ADS_2