Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 30


__ADS_3

"Kamu ini..." AKP Suraji menggelengkan kepala saat melihat Kevin dan beberapa mahasiswa yang mendampingi Kevin di Polda Metro Jaya.


"Lama nggak ketemu sudah pakai jaket almamater saja," ia menjabat tangan Kevin dengan bersemangat. "Hebat, ibu kamu pasti sangat bangga!"


"Saya belum resmi jadi mahasiswa sih pak, masih ikut-ikut seminar dan ospek,"


"Ospeknya di depan gedung MPR DPR, benar-benar sibuk ya kamu," kata Pak Suraji. "Temen kamu apa kabar? Jadi nikah?"


"Jadi Pak, hari minggu besok,"


"Waduh, cepat sekali ya. Tapi untung saja sudah lulus sekolah!" Pak Suraji menepuk-nepuk bahu Kevin dengan bangga.


"Jadi bagaimana Pak? Soal Pepen dan temannya?"


"Kami menunggu Haji Sueb datang. Walinya beliau. Dan ada dugaan Pepen memang disusupkan ke kelompok mahasiswa atas suruhan oknum tertentu untuk mengacaukan demonstrasi. Banyak pihak tertentu yang memang menyewa preman untuk dijadikan biang kerusuhan dan provokator agar jalannya demo berubah menjadi anarki. Kami sedang mendesak mereka memberi keterangan mengenai kelompok lainnya," Kata Pak Suraji. Dan kemudian dia menghela napas.


"Dan... Ya Kev, mereka mengakui kalau mereka yang melakukan kejahatan berencana atas ibu kamu. Jadi status tersangka sudah pasti akan disandangkan. Kamu sudah mengajukan tuntutan dan menunjuk pengacara?"


Kevin menggeleng, "Pengacara yang bagus, mahal Pak,"


"Kalau yang seperti ini, memakai pengacara yang baru pemula saja sudah pasti menang sih Kevin, karena bukti-buktinya kuat," kata Pak Suraji. "Hanya... Hati-hati. Mungkin kamu harus pindah rumah. Karena Ijal, adalah anak buah preman paling berbahaya di Indonesia. Jadi ada kemungkinan mereka akan balas dendam ke kamu,"


Kevin merinding. Ia mengelus kedua lengannya.


"Baik Pak," ia kebingungan.


Padahal gaji dari Amethys baru cair bulan depan, kerja saja belum mulai.


Dan sialnya, Pak Komandan benar.


“Kamu kalau butuh bantuan saya, walaupun itu hal pribadi, telpon saya saja. Saya akan usahakan bantu,” Pak Komandan menepuk-nepuk bahu Kevin, lalu beranjak pergi.


Kevin meringis sambil menggaruk kepalanya. Ada ya orang sebaik Pak Suraji, padahal Kevin tahu pekerjaan Pak Komandan juga sudah bejibun.


**


"Ngapain lu di sini??" gumam Kevin saat membuka pintu rumahnya dan mendapati ada Kasep di depan pagarnya.


"Gue ganggu waktu c*li lo yak? Maap ye,"


"Anjay, gue kalo pengen tinggal telp, kaga ada colay-colayan!" Kevin cengengesan.


"Telpon sapa? Hansip?!" ejek Kasep.


"Telpon pisa hat, biar lupa ya makan aja," Kevin membuka gembok gerbang


Kasep terkekeh mendengarnya, tapi tampak ia berulang kali menoleh ke arah belakang.


"Kev, mereka anak-anak komplek lu?" bisik Kasep.


Kevin melirik sekilas ke arah belakang Kasep. Beberapa anak muda dengan motor mereka tampak nongkrong sambil main kartu di pos siskamling.


"Nggak tau, gue nggak kenal dan baru liat sekarang," bisik Kevin.


"Gue kayaknya pernah liat beberapa orang itu suka ada di kerumunan tawuran," bisik Kasep sambil masuk ke dalam garasi Kevin.

__ADS_1


"Tawuran kita?" tanya Kevin.


Kasep mengangguk. "Gue kan termasuk suka inget muka orang, kalo nama suka lupa malah,"


"Kok mereka bisa di sana ya?"


"Lo lapor dan telpon pak RT deh, sekalian telpon pisa hat haha,"


"Lo kesini sebenernya mau apa sih?! Ini tuh malam midodareni, lu harusnya lagi dipingit bro!"


"Ya makanya gue kesini,"


"Elah! Dasar Cikin!"


Dan akhirnya Kasep menghabiskan waktu di rumah Kevin dengan main game di PC, sementara Kevin sambil waspada mengintip-intip jendelanya mengamati sekuriti kompleknya membubarkan kerumunan di pos siskamling.


Terdengar motor butut modif mereka digerung sampai bisingnya kedengaran sepanjang komplek, tanda kalau mereka kesal karena dibubarkan.


Lalu Kevin pun teringat peringatan dari AKP Suraji tadi siang, bahwa Kevin kalau bisa pindah dari rumah kontrakan karena ada kemungkinan diincar oleh anggota preman yang lain.


Kemungkinan ini dendam pribadi.


Tapi Haji Sueb dan Kevin kan sudah berdamai. Kalau dendam sih, seharusnya Kevin yang lebih dendam ke Pepen. Karena Pepen sebenarnya hanya orang luar yang tidak ada hubungannya dengan kasus Aminah alias ikut-ikutan. Kevin bahkan tidak mengerti motif Pepen yang sebenarnya. Namun AKP Suraji bilang kalau Pepen belum mau mengakui alasan sebenarnya mengenai penabrakan yang terjadi.


Kalau boleh, Kevin ingin sekali membalas perlakuan kedua preman itu.


Tapi Agus dan teman-teman yang lain mencegahnya.


Jangan sampai tangan lo terkotori, nanti beritanya simpang siur. Begitu kata mereka.


Penyusup di antara kerumunan mahasiswa, ternyata juga tersangka pembunuhan berencana.


Begitu kalimatnya.


Dan yang menyusupkan para preman ke dalam orasi mahasiswa, biasanya orang yang berpengaruh yang memiliki kepentingan politik.


Jadi wajar kalau AKP Suraji menghimbau agar Kevin pindah rumah.


Untung saja wajah Kevin disamarkan, namun hanya menunggu waktu sampai berita itu tersebar dan para alumni sekolahnya atau tetangganya menambah-nambahi gibahan update.


Kevin hanya bisa mewaspadai semuanya, termasuk ...


Para orang asing yang berkumpul di depan kompleknya saat ini.


Sudahlah,


Sekarang urusan Kasep.


“Sep,” Kevin memanggil Kasep sembari memasukkan barang-barang di lemarinya ke dalam kardus besar. Mencicil persiapan pindahan. “Lu sudah siapin apa saja buat nikah?”


“Nggak ada, modal Bismilah saja,”


“lu entar mau tinggal dimana habis nikah?”


“Kayaknya di rumah gue, nyokap gue suka anak kecil soalnya,”

__ADS_1


“Lo kok nggak cerita ke gue bagaimana reaksi mereka waktu lo ngaku udah bikin hamil Farida?”


Kasep menyeringai, namun Kevin melihat itu bukan seringai yang biasa. Ada kegetiran terlihat sedikit di sana. “Heboh yang pasti,” gumam Kasep sambil mengalihkan pandangannya kembali ke layar komputer.


Kevin menunduk. Ia menilai sikap Kasep yang menarik diri pertanda kalau masalahnya lebih berat dari yang diceritakan. Namun Kasep mungkin belum siap bercerita ke orang lain.


Sampai di malam sebelum menikah begini ia kabur ke rumah Kevin, pasti sedang ada konflik di rumahnya.


“Sep,” panggil Kevin.


Kasep terlihat melirik sekilas ke arah Kevin.


“Lo mungkin bisa kabur kapan saja lo mau. Gue cuma berharap lo juga pikirin Farida yang jelas nggak bisa kabur kemana-mana,”


“Hm,” gumam Kasep pelan.


Kevin melanjutkan membereskan pakaiannya.


“Farida hampir mati karena coba gugurin janinnya,” kemudian Kasep bersuara.


Kevin menahan napasnya dan menatap Kasep dengan kaget.


Kasep hanya tersenyum, lebih getir dari yang tadi. “Gue nggak berharap begitu, Kev. Gue bersedia menikahi dia demi anak itu. Karena memang salah gue, gue akan tanggung jawab. Tapi ternyata orang tua Farida nggak ingin anaknya mengandung janin dari preman tukang tawuran nggak punya masa depan kayak gue,”


“Jadi dia nggak masuk sekolah di hari wisuda kita itu, bukan gara-gara ngidam?”


Kasep mengangguk, membenarkan. “Dia pendarahan hebat, tapi janinnya selamat. Karena pas mau dikuret, Farida ketakutan dan kabur dari klinik aborsi. Keluarga gue yang sekarang merawat dia. Keluarganya... entahlah besok pada dateng apa nggak, yang jelas gue sudah siapin wali nikah seandainya bokapnya Farida nggak dateng,” kata Kasep.


Kevin menarik napas. Ia terkejut karena ternyata masalahnya bukan hanya sekedar hamilin anak orang, menikah, dan semua selesai.


Ternyata banyak bumbu di balik itu.


Dan dengan rapihnya Kasep menyembunyikan semuanya, berlagak tidak terjadi apa-apa.


Tapi...


Semua seperti serba salah.


“Sep,”


“Hm?”


“Mau gue temenin dateng ke bokapnya Farida?”


“Hah? Lo Gila kali!”


“Bagaimana pun mereka pasti juga kecewa lo sudah rebut anaknya,”


“Gue bisa di bunuh kalo sampe nongol,” Tapi setelah mengucapkan kalimat itu, Kasep jadi merenung.


Kevin tahu, Kasep sedang memikirkan Farida. Bahwa restu dari orangtua Farida sebenarnya penting.


Siapa yang tidak mau pernikahan berjalan lancar?


Jadi Kevin tersenyum dan menelepon seseorang, “Halo, Pak Suraji? Tadi siang bapak bilang kalau saya butuh bantuan, bapak akan coba mengusahakan kan? Saya boleh minta tolong Pak?”

__ADS_1


Kasep hanya menatap Kevin sambil mencibir. Dasar antimainstream... pikir Kasep.


__ADS_2