
Kevin, Sayang ...
Hiduplah dengan baik dan bahagia,
Maaf, Ibu pulang lebih dulu.
*
*
Kata-kata ibu terngiang di benak Kevin. Terus menerus, tanpa henti.
Pertanyaan demi pertanyaan menderanya,
Bagaimana cara hidup tanpa Ibu?
Bagaimana hidup dengan baik?
Kalau sebatang kara apakah bisa bahagia?
Ibu pulang kemana?
Kenapa ibu minta maaf?
Dan pertanyaan lain yang sebenarnya tidak perlu ada jawabannya.
Pdt. Giovanni mengiringi penurunan peti jenazah ke liang kubur dengan pembacaan Pelayan Firman.
"...Ketika Tuhan menciptakan manusia pertama, Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidupnya, demikianlah manusia itu menjadi mahluk yang hidup (Bnd Kejadian 2:7). Namun kelak suatu saat manusia akan kembali kepada sang Penciptanya..."
Dan Pdt. Giovanni pun melemparkan tanah ke dalam lubang kubur) "...Yang asalnya daripada tanah, kembalilah kepada tanah, yang dari debu kembali kepada debu."
Kevin sudah tidak peduli lagi keadaan sekelilingnya. Ia hanya terpaku menatap peti putih itu ditimbun tanah. Ia berdiri di sana sampai semuanya selesai.
Hanya berdiri, tanpa bicara.
Sampai Pdt. Giovanni pamit pun, Kevin tetap di sana. Tidak merespon, tidak duduk tidak minum tidak makan.
Hanya diam di sana sampai senja pun datang.
Ia tidak tahu siapa saja yang datang, siapa saja yang memeluknya, siapa saja yang menangis, siapa saja yang menyelipkan uang duka.
Rasanya semua mati rasa. Ia tidak mampu berpikir.
"Hemm ... Kev," panggil Agus sambil mengelus kedua lengannya. "Udah malem, Kev. Balik yuk. Apa lo mau di sini sampe 7 hari 7 malem? Gue bisa diriin tenda sih kalo lo mau,"
Kevin tidak merespon.
Kalau perlu, mungkin ia akan berdiri di situ 7 hari 7 malam, di depan makam ibunya. Kalau bisa, dirikan juga rumah sekalian di situ.
Agus dan Kasep saling berpandangan.
"Kesurupan kali ya? Daritadi dia kayak patung begitu," bisik Agus.
"Lu jangan sudzon, bedul!" bisik Kasep.
"Kalo begini terus, dia bisa sakit Sep,"
"Gue malah takut kalo dia sadar, pasti dia bakalan benci banget sama kita," gumam Kasep.
Saat Kevin butuh bantuan, Agus dan Kasep sedang marah-marah ke Kevin. Mereka pikir cowok itu kabur dari tawuran. Mereka mengacuhkan panggilan telepon Kevin karena mereka pikir Kevin mau minta maaf atau berbasa basi sebagai alasan mangkirnya dia dari tawuran.
Tidak ada yang menyangka, kalau begini kejadiannya.
Pagi ini, Bu Ida lah yang menelpon Agus dan Kasep, menanyakan mengenai keadaan Kevin. Jelas Agus dan Kasep terbengong-bengong.
Saat akhirnya mereka ke rumah duka, Kevin ada di sana. Duduk di depan peti ibunya, sementara orang-orang mengelilingi peti itu sambil mengucapkan kata-kata terakhir mereka ke arah jasad Ibu.
Kevin hanya diam seakan membeku. Ekspresinya tidak terbaca.
Bisa jadi, cowok itu tidak peduli lagi teman-teman dan orang-orang di sekitarnya.
Karena saat itu, yang membantunya hanya Nirmala.
Juga hari ini, Kevin hanya menatap semuanya dengan pandangan kosong. Bagai tubuh tanpa jiwa.
Barulah saat adzan maghrib sayup-sayup selesai berkumandang,
"Kevin," suara wanita membuat mereka menoleh, termasuk Kevin.
Nirmala ada di sana, menatap Kevin dengan nanar.
Saat melihat Nirmala barulah wajah Kevin berekspresi.
"Kamu..." rasanya tenggorokan Kevin sangat kering. Ia sebenarnya ingin bertanya kenapa Nirmala bisa berada di sini.
Nirmala menaikkan bahunya sekilas, "Tadinya aku mau tinggalkan saja kamu, tapi aku penasaran dan kembali ke rumah sakit. Mereka mengabari kalau ibu kamu sudah meninggal,"
"Nir..." suara Kevin tercekat di tenggorokan.
Rasanya berat sekali berbicara. Kevin menelan ludahnya dengan susah payah, dan berusaha berbicara.
Tapi alih-alih suara, malah air mata yang langsung jatuh dari matanya.
Seketika tubuhnya langsung lemas. Ia pun terjatuh berlutut di hamparan rumput.
Ia bagai disadarkan.
Kevin menatap gundukan tanah dengan nisan bergrafir salib. Nama ibunya terukir di sana.
Semua emosi yang tadinya ia bendung, akhirnya pecah.
Ia mulai terisak, lalu menangis, dan selanjutnya berteriak frustasi.
Nirmala memeluknya dengan erat, berusaha menguatkannya.
Kevin menumpahkan semuanya di pelukan Nirmala. Semua stress dan penyesalannya.
Berteriak sekuat tenaganya, memaki semua kesialannya.
-----***-----
Bunyi dentingan piring.
Suara penggorengan beradu dengan sutil.
Lalu suara dispenser.
Kevin membuka matanya dengan susah payah, mentari mengetuk kelopaknya.
Apa yang terjadi?
Sepertinya aku bermimpi ibu meninggal karena kecelakaan. Pikir Kevin sambil duduk di tepi ranjang dan mengusap mukanya dengan kedua tangannya.
"Ya Ampun, mimpi gue jelek bener. Gue kayaknya harus beliin nyokap cincin berlian, deh..." gumamnya pelan sambil mengacak-acak rambutnya.
Tapi ada Nirmala di mimpi, segitunya gue kangen dia ya, pikir Kevin lagi sambil membuka pintu kamarnya.
Cowok itu menuju ke dapur, melihat seorang wanita sedang menata meja makan, sambil memunggunginya.
Lalu memeluknya dari belakang.
"Masak apa sih Bu, ribut amat pagi-pagi!" gumam Kevin.
__ADS_1
Lalu cowok itu tertegun.
Parfum ini...
Juga tekstur tubuh ini...
Ini bukan ibunya!
Kevin membuka matanya dan mundur, melepaskan tubuh itu.
Rasanya lekuknya familiar.
Ia mengerjabkan matanya untuk memulihkan penglihatannya.
Nirmala ada di depannya. Berdiri mengenakan celemek masak ibunya, di depan meja makan.
"Kenapa..." gumam Kevin.
Dan rangkaian demi rangkaian ingatan kembali mendera.
Bukan mimpi.
Semuanya kenyataan.
Ibunya sudah tidak ada di dunia.
Dan Kevin pun tidak sadarkan diri.
*
*
"Iya, mohon maaf, dia masih shock dengan kejadian itu," Nirmala memberi penjelasan kepada para tamu yang datang.
"Kita kaget banget. Kami sudah lapor polisi Bu! Mudah-mudahan proses investigasi berjalan lancar. Kami sudah menggalang dana untuk membantu kelancarannya!" kata Pak RT dan warga yang datang.
"Terimakasih ya bapak-bapak, ibu-ibu. Tolong selalu memberi semangat ke Kevin," kata Nirmala.
"Bu Nirmala ini apanya Kevin?"
"Saya hanya teman keluarga yang kebetulan datang paling pertama saat Bu Bella dibawa ke IGD," kata Nirmala.
"Ooh, temannya Bu Bella!"
"Sepertinya usaha Bu Bella, warteg, akan kami tutup, saya yang akan menanggung semua kebutuhan Kevin sampai dia lulus sekolah," kata Nirmala. "Mohon maaf bagi pihak-pihak yang setiap hari datang membantu,"
"Tak apa bu, yang penting Kevin ada yang mengurus," kata pak RT.
Samar-samar Kevin mendengar obrolan di ruang tamu. Ia masih berbaring di ranjangnya.
Ia tidak mampu turun dari sana.
Hanya bisa menangis, hanya meratap.
Sampai Nirmala masuk ke kamar umtuk memeriksa keadaanya, Kevin berusaha duduk.
"Hei," Nirmala tersenyum lembut sambil duduk di pinggir ranjang Kevin dan mengelus pipi cowok itu. "Kamu tahu, sebelum meninggal, ibu kamu beli apa di warung?"
"Apa?"
"Ini," Nirmala memberikan kotak permen karet bagi perokok yang sudah penyok. "Kamu disuruhnya berhenti merokok,"
"Hem," Kevin menerima kotak itu sambil tersenyum nanar. "Oke, aku akan berhenti,"
"Juga ini," majalah game terkenal edisi pertama yang sampulnya sudah lecek, tampak kertasnya sudah mulai menguning. Kelihatannya dibeli dari toko loak.
"Ya Ampun, Ibu..." desis Kevin sambil membolak-balik isi majalahnya. Beberapa bahan ujungnya sudah dimakan rayap, "Ngapain sih dia..." dan Kevin pun kembali terisak.
Wanita dengan lembut mengelus rambut ikal Kevin. "Aku memberikan keterangan kepada polisi berdasarkan yang kutahu saja, termasuk jejak rekam medis yang kuperoleh dari rumah sakit. Kalau kejadiannya kurasa kamu yang lebih tahu detailnya..."
Kevin hanya mengangguk sekilas.
"Kamu sempat bicara dengan beliau?" tanya Nirmala.
"Sempat, beberapa menit sebelum alat penunjang hidupnya berbunyi,"
"Boleh kutahu apa yang dia katakan?"
"Hm," gumam Kevin sambil membuka bungkus permen karet dan memasukan sebutir ke mulutnya, "Hiduplah dengan baik dan bahagia,"
Nirmala mengangguk,
"Itu kata-kata impian setiap orang tua kepada anaknya di penghujung hidup. Kamu beruntung Kev, beliau juga beruntung karena kalian bisa saling bicara,"
Kevin hanya diam sambil menatap kotak permen karet di tangannya. Rasa mint yang kuat seperti pasta gigi dicampur rempah, menerpa lidahnya.
Lalu cowok itu menganggguk lemah,
"Nirmala," desisnya.
"Ya?"
"Boleh tetap di sini bersamaku?" pinta Kevin.
"Itu niatku, tapi aku hanya bisa cuti 2 hari, sekarang dan besok. Jadi kamu cepatlah bangkit dan semangat lagi," kata Nirmala sambil meninggalkan kamar Kevin.
"Padahal maksudku untuk selamanya, loh,"
"Saat begini kamu masih bisa bercanda, Kev," dan Nirmala pun menutup.pintu kamar Kevin.
Padahal maksud Kevin bukan bercanda.
----***-----
"Perlu ditemani?" tanya Nirmala saat Kevin keluar dari kamar dengan berpakaian rapi.
"Tak usah, aku mau segera datang mumpung ingatanku masih fresh," pemuda itu berencana ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.
"Teman kamu ada di depan, di teras," kata Nirmala.
Kevin mengernyit. Pasti yang dimaksud adalah Kasep dan Agus.
"Aku nggak punya teman," dengus Kevin muram, sambil menyambar ponsel dan helmnya.
Nirmala menghentikan langkahnya dengan menarik lengan Kevin. "Sebentar," kata wanita itu.
"Ada apa?"
Dan Nirmala memeluk Kevin dengan erat. "Kamu hebat," desis wanita itu.
"Ha?" desis Kevin.
"Iya, kamu hebat karena bisa mengurus semua sendirian, dan tegar," kata Nirmala sambil mengangkat kepalanya sambil menatap Kevin.
"Tanpa bantuan kamu, entahlah," gumam Kevin. Tapi dia membalas pelukan Nirmala. "Makasih ya," sahut cowok itu sambil mencium dahi Nirmala.
"Sudah sana berangkat, aku mau membereskan kamar ibumu," Nirmala melepaskan pelukannya dan mencubit pipi Kevin.
"Oke, aku titip rumah," desis Kevin sambil berjalan ke luar.
Dalam hati, cowok itu membatin. Apa begini perasaan setiap suami setelah menikah dan tinggal serumah dengan istrinya? Padahal menikah saja belum, kok rasanya sudah seperti membina rumah tangga harmonis?!
Dan saat itulah, ia bertemu Kasep dan Agus.
__ADS_1
*
*
Kevin berjalan melewati Kasep dan Agus, berlagak tidak melihat.
Kasep menghela napas.
"Keeev, plis dooong! Gue minta maaaf," Agus menarik-narik lengan kemeja Kevin.
"Siapa lo?" tanya Kevin kesal. Ia menuju CBR hitam kesayangannya di garasi dan masukan kunci ke stop kontak, lalu sembari memanaskan mesin motor besarnya, ia mengenakan helm full facenya.
Matanya masih menatap sinis ke Agus dan Kasep.
"Ceileeee, yaa udah kenalan lagi deh dari awal! Agus Supriyadi, SMA Sincostangen di Jaktim kelas 12," Agus mengulurkan tangannya ke arah Kevin.
Kasep maju dan menatap Kevin dengan penuh penyesalan, "Kev, gue bener-bener minta maaf. Kita semua nggak nyangka kejadiannya kayak gini. Sekarang lo mau apain kita, gue pasrah aja lah kalo itu bisa bikin lo lega," kata Kasep.
"Gitu?" desis Kevin. Cowok itu melepas helmnya, turun dari motor, dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Lalu keluar lagi dengan katana kebanggaannya tersampir di bahu. "Berlutut," desis Kevin sambil menegakkan dagunya.
"Anjrit Kev! Eling dong! Maksud gue kan bukan gituuu!" Seru Agus kaget sambil mundur ke belakang Kasep karena jiper duluan melihat kilau sarung katana.
Kasep pun menarik napas panjang melihat sikap sahabatnya itu. Ia pun menyesali perbuatannya. Selama ini Kevin selalu ada saat Kasep membutuhkan, tapi malah di saat paling menyedihkan dalam hidup Kevin, Kasep tidak ada.
Sahabat macam apa dia?! Kalau Kevin sangat kesal, bahkan tidak mau mengakuinya sebagai teman, hal itu dirasa sangat wajar.
Akhirnya Kasep maju menghadapi Kevin.
Sudahlah, yang terjadi terjadilah, yang penting Kevin mau memaafkannya. Begitu pikir Kasep.
Lalu ia pun berlutut, memasrahkan hidupnya.
"O-oo! Sep Oi! Lebay lu! Berdiri Sep!" Agus terbata melihat Kasep.
"Gue minta maaf," desis Kasep.
DUAGG!!
Kevin menonjok muka Kasep dengan sekuat tenaga. Ia pun menerjang Kasep dengan teriakan kekesalan yang memuncak dan melancarkan bogeman juga tendangan membabi buta di sekujur tubuh Kasep.
Kasep tidak membalas, hanya menerima semuanya.
Agus panik dan berusaha menarik tubuh Kevin agar menjauhi Kasep, tapi Kevin menyikut dagu Agus sampai cowok itu mimisan dan terpental jatuh ke lantai garasi.
"An-jing lo semua! Bang-ke! Gue butuh bantuan lo waktu nyokap gue sekarat! Setidaknya lo temenin gue kalo gak bisa bantu masalah dana! Lo semua dimana bang-sat?!" teriak Kevin sambil terengah-engah. Kepalan tangannya penuh darah Kasep.
Lalu ia berlutut di sebelah Kasep yang terbaring sambil terengah-engah mengatur napas.
Dan Kevin kembali tersedu.
Kasep dan Agus tahu, mereka hanya pelampiasan. Yang namanya takdir, semua terjadi tanpa bisa dicegah manusia.
Seandainya ada mereka di saat kejadian pun, tetap saja tidak akan merubah hal yang sudah digariskan.
"Bro," Kasep susah payah bangkit, "Mulai sekarang kita bareng-bareng bro," Kasep menyandarkan dahinya di punggung Kevin karena kepalanya luar biasa pusing akibat pukulan Kevin yang telak.
"Habis ini gue ikut lo kemana-mana. Gue dukung sepenuhnya keputusan lo. Lo mau berenti tawuran, ayok! Gue juga ikut berhenti! Lu mau jadi rengking satu, ayok! Gue bakalan belajar biar kita masuk universitas yang sama bareng-bareng lah! Lo nggak dateng di nikahan gue, gue bakalan maklumin, terserah lo dah..."
"Hah? Nikahan apa'an?" tanya Agus tak mengerti.
Kasep hanya diam sambil meludahkan darah di sela gusinya ke samping.
"Hm," gumam Kevin sambil tetap terlungkup sambil terisak.
"Maafin gue ya bro? Plis," desis Kasep.
"Hm, nggak usah nempel-nempel, risih," gumam Kevin di sela-sela isakannya. Kasep menjauh sambil mencibir.
Yang penting Kevin sudah memaafkannya.
"Jadi kita bestie lagi nih ya? Suer?" Agus merangkak mendekat.
"Terserah lu dah," dan Kevin pun kembali tersedu. "Gue mau jual Katana sama motor buat biaya kuliah,"
"Gampang, ntar gue tawarin ke yang lain,"
Agus menepuk-nepuk punggung Kevin, ia puas.
Kevin menepis tangannya, "Nggak usah pegang-pegang, geli,"
"Njrit, berasa kulit terbuat dari hajar aswad, eksklusif," ejek Agus.
"Hajar aswad apa'an?" gumam Kevin.
"Batu dari surga yang bisa nyerap dosa, mau megangnya aja rebutan sama sejuta umat,"
"Gue taunya air suci," desis Kevin. "Bego lu pada, ah! Bikin gue kesel aje,"
Nirmala muncul sambil membawa teh kotak yang sudah didinginkan.
"Minum dulu ya, istirahat. Habis ini temani Kevin ke kantor polisi ya. Ini kotak P3Knya" kata Nirmala.
"Makasih tante," desis Kasep.
"Tante ini siapa?" tanya Agus. "Perasaan Bu Bella udah nggak punya saudara, apa dari pihak bapaknya Kevin?"
"Pacar gue," desis Kevin.
Semua langsung membeku,
"Kevin simpanan saya," Nirmala sebenarnya hanya bercanda karena reaksi Kasep dan Agus menurutnya sangat lucu. Lalu wanita itu terkekeh geli sambil masuk kembali ke dalam rumah.
"Ah, Madekipe! Tante lo seksi begitu, pantes aje lo sering lupa dunia! Gila bahenol abis..." gumam Agus sampai memiringkan kepalanya menatap sosok Nirmala.
Kevin membuka sepatunya dan melemparkannya ke Agus agar cowok itu teralihkan pandangannya dari Nirmala.
"Jadi tebakan gue yang lo simpenan tante-tante itu, bener dong yak! Penjahat banget lo Kev," Kasep menyeringai.
Kevin menghapus air matanya dan hanya diam.
Dalam hati ia hanya bisa berdoa supaya Nirmala tidak menghilang lagi dan benar-benar mau jadi pacarnya.
"Cepetan minum, gue mau jalan," Kevin menyambar P3K dan meneteskan antiseptik ke kapas.
"Gus, ambilin teh... WADIDAWW!! Pelan-pelan kunyuk!!" seru Kasep mengaduh saat Kevin menempelkan kapas berisi cairan antiseptik ke dahi Kasep.
"Gini aja sakit, belum pernah kebacok pas tawuran sih lo! Nggak usah sok-sok'aan kalo belum belajar ilmu kebal!" Omel Kevin.
"Kev, sejak kapan lo anti dipegang-pegang?" tanya Kasep.
Kevin hanya diam dan bergidik.
"Ini cemilannya," kata Nirmala sambil meletakkan piring penuh berisi roti tawar bakar isi coklat di depan mereka.
"Makasih tanteeeeeee," seru semua serentak.
"Bini lo baek banget," bisik Kasep.
"Kev, lu udah ngapain aja sama si tante?"
"Bacot lu pada!" gerutu Kevin.
__ADS_1