Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Hari Suram Bagi Chandra


__ADS_3

Hari Selasa yang cerah.


Dengan angin sepoi, langit bersih dari awan, udara tidak terlalu panas, matahari santuy menyinari bumi.


Bagi kebanyakan orang, pagi itu adalah hari yang pas untuk ngopi di kantin sambil gibah, sebelum Boss datang.


Bagi para Boss, hari itu pas banget untuk ngopi di rumah leyeh-leyeh sebentar menikmati hasil jerih payah sebelum ke kantor agak siang dikit.


Bagi para shareholders, pagi itu waktu yang pas untuk mencoba peruntungan investasi di bidang usaha yang belum pernah mereka geluti.


Intinya, mood hampir semua orang bagus hari itu. Awal bulan, baru gajian, baru terima deviden dari hasil profit bulan lalu, pemerintah juga adem anyem belum membuat kebijakan baru yang nyeleneh dan bikin esmosi jiwa.


Kecuali...


Bagi satu orang.


Chandra.


Sudah pasti lah!


Dengan setelan suit Tommy Hilfiger hitam yang normalnya membuat pria biasa bertampang standar menjadi ganteng maksimal dalam waktu sepersekian detik, seharusnya wajahnya tidak muram.


Apalagi rekeningnya sedang gendut-gendutnya. Artha baru saja memberi dia dan Bira bonus tambahan karena laporan DNA kemarin. Sebagai wujud apresiasi, kata Artha.


Jumlahnya tak main-main, nilainya bisa membeli city car terbaru.


Kalau Artha sudah loyal ya begitu tingkahnya. Tapi kalau moodnya jelek sedikit saja, bisa-bisa mereka langsung diasingkan ke Pulau Sentinel.


"Pak Sekuriti, untuk hari ini JANGAN ADA YANG KE LANTAI 50 BAGIAN DIRUT. Kecuali Stela Bahana nanti siang jam 10. Siapkan 10 penjaga untuk mencegah orang masuk," sahut Chandra dengan wajah super duper serius.


Si sekuriti yang tadinya ingin bertanya 'ada apa' seketika bungkam dan tidak berani menginterupsi.


Chandra juga bersikeras mengganti password pintu agar tidak ada karyawan dari divisi lain yang ndablek masuk. Ia akan mengedarkan pengumuman 'sedang tidak boleh diganggu, nekat masuk, ada sangsi!' di depan pintu lift lantai 50.


Semua dokumen mendesak yang membutuhkan tandatangan Artha, dititipkan ke kurir untuk diletakkan di meja depan pintu. (Ah! Nggak seru nih, si Chandra)


Termasuk makan siang dia dan Bira, dikirim dan ditinggalkan di meja depan pintu.


Tapi semua bisa saja terjadi, kalau Artha mulai kambuh jahilnya.


Sudahlah, yang penting Chandra sudah mencoba.


"Hai Brooooooo!!" seru Bira senang sambil merentangkan tangannya.


Chandra menatapnya sinis dari atas ke bawah.


"Curang, dasar!" sahutnya sebal.


"Lah! Apanya yang curang?! Jelas-jelas daster ini looooh! Extra robek di bagian pinggang dan sedikit bau bawang, punya nyokap soalnya," kekeh Bira dengan bangga.


Daster hijau dengan panjang sedengkul yang beneran nggak menarik dan sering dipakai bapak-bapak lomba sepakbola 17an. Masih tertutup sebenarnya. Bira mondar-mandir di lobi orang-orang juga paling hanya menyeringai.


Lalu Chandra menatap kotak bertuliskan Versace di depan mejanya.


Kotak dari Artha.


Dan dia pun menghela napas.


Astaga, berat sekali jadi asisten Bapak, sih, tapi kalau resign tanpa alasan jelas hidupku bisa kacau balau. Batin Chandra penuh derita.


Ini semua gara-gara Bira si bencong! Mulutnya ember! Umpat Chandra yang dengan sinis mengamati Bira yang sedang menggoyang-goyangkan pinggang agar dasternya berkibar.


"Adem bro! Pantes ibu-ibu suka pake beginian," gumam Bira.


"Lo pake celana lagi ga di baliknya?!"


"Pake lah," Bira mengangkat roknya dan memperlihatkan celana pendek spandex yang sering ia kenakan saat bersepeda.


"Bisa semilir kalo kaga, nanti enter wind gimana?"

__ADS_1


Candra berdecak, lalu berdoa. Dan ia buka lah itu kardus mewah.


"Anjay!" keluhnya sambil membuang muka saat melihat isinya.


Bira memanjangkan lehernya mengintip isinya.


Brokat hitam. Karena belum diangkat jadi wujudnya belum terlihat. Tapi itu beneran brokat.


Bira terkekeh menggoda.


"Gue tetep pake blazer. Nggak ada aturan yang melarang kan?!" sahut Chandra.


"Yah bro! Kok pake blazer?!"


"Kalo lu nggak mau gue pake blazer, lepas spandex lu,"


"Iya iya pake dah blazer, nggak ada aturannya juga sih," Bira menyerah sambil melindungi asetnya dengan kedua tangan.


Kira-kira visualnya begini, saudara-saudara.


jeng jeeeeeeng!!



*


*


Artha terkekeh, "Hehe,"


Lalu menatap Chandra dari atas ke bawah.


Laku Artha kekikik, "khehehehe,"


Lalu kembali mengulangi menatap Chandra dari atas ke bawah.


"Sayang banget karena saat saya mau mendokumentasikan, dia ngamuk Pak," gumam Bira yang berdiri di sebelah Artha.


Chandra hanya diam sambil lanjut fotokopi.


"Chan, paha lo nggak dingin?!" Bira menutupi mulutnya yang hampir ketawa.


"Jangankan paha, semuanya dingin kali," desis Artha.


"Bapak terlalu baik, harusnya kan night dress itu macam lingeriae, ini modelnya yang sampai leher,"


"Kan yang penting transparant dan mini,"


"Satu kalimat lagi ngomongin, saya nekat bakar ni kantor," gumam Chandra.


"Ayo bubaaar bubaaar," gumam Artha sambil berjalan menuju ruangannya. Takut juga dia diancam begitu. Bira pun kembali ke mejanya sambil pura-pura mengetik.


"Chandra, jangan lupa zoom meeting dengan cabang..."


"Nggak ada jadwal zoom meeting hari ini dengan cabang manapun Pak!" Seru Chandra mulai emosi memotong kalimat Artha.


"Masa sih? Kok saya lupa yaaa," Artha menghilang lagi ke dalam ruangannya.


Chandra membanting bantexnya ke meja sambil mendengus keras.


"Pak Chandra, Bu Stela Bahana sudah di depan pintu masuk lantai 50," terdengar suara melalui interkom. Sekuriti di area depan mengabari kalau Stela sudah datang.


"Tutupi matanya dengan kain yang saya sediakan di meja depan lalu tinggalkan dia di depan pintu. Awas jangan ada yang nekat masuk!" seru Chandra.


"Ba-ba-baik Paaak," desis si sekuriti.


*


*

__ADS_1


"Bu Yuni tidak berbicara apa pun kepada tim penyidik kan?" tanya Harry, SH si pengacara.


"Tidak," gumam Yuni.


"Benar ya? Itu porsi saya soalnya," sahut Harry.


"Hem!" dengus Yuni.


"Mereka mengirimkan banyak bukti yang memberatkan, dan sudah pasti dalam hal ini posisi Bu Yuni tidak menguntungkan. Bahkan mereka menyewa 3 pengacara mahal segala,"


Yuni membuang muka. Dia bahkan tak tahu akan membayar Harry, SH dengan apa, kecuali tubuhnya yang belum mandi semalaman.


"Sudah makan?" tanya Harry.


Yuni mengangguk.


"Minum cukup?"


Yuni mengangguk lagi,


"Sanggup menjawab lebih dari 20 pertanyaan hari ini?"


"Anda pikir bagaimana, hah?!" Yuni emosi.


"Tampaknya tidak, oke saya ajukan surat sakit,"


"Huh!" Yuni membuang muka lagi.


*


*


Stela sambil ternganga menatap Chandra. Dari atas ke bawah ke atas lagi ke bawah lagi.


Lalu cewek itu melihat Bira, dari atas ke bawah, lalu beralih lagi ke Chandra.


"Aku tadi sudah bilang penutup matanya jangan dilepas sebelum aku suruh kan?!" geram Chandra.


"Ya ampun, mau ketawa sekaligus pingin cubit gemes," gumam Stela.


"Sekalian taroh tiang di tengah ruangan buat poledance!" gerutu Chandra.


"Usul yang luar biasa!" sahut Stela. "Sampai kapan nih begini?!"


"Cuma sehari,"


"Yaaaah, kenapa cuma sehari?!" keluh Stela sambil merogoh tas untuk mengambil ponselnya.


"Berani foto, aku putusin,"


"Eh, jangan dooong. Nggak foto kook," gumam Stela sambil memasukan kembali ponselnya ke tas.


"Bapak di dalam, masuk saja," gumam Chandra muram sambil duduk di kursinya dan kembali mengetik dengan cemberut.


Stela menghampirinya dengan mata berbinar, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Chandra.


"Setelah ini aku pinjam night dressnya ya, kujamin di baliknya aku nggak mengenakan apa pun," bisik Stela.


Chandra mendengus, tapi setidaknya dia tersenyum tipis. Senyum pertamanya di hari itu.


"Stela," panggil Artha sambil menongolkan kepalanya dari balik pintu.


"Ya Paaaah," Stela menghampiri Artha dengan riang.


"Chandra, nanti kalau Wana datang tolong di ..."


"Saya sudah WA Mbak Wana supaya diam di rumah sakit per hari ini!" Chandra memotong kalimat Artha. "Bapak nggak usah ngada-ngadain jadwal deh!"


"Yaaah, padahal saya kangen dia," gumam Artha sambil menghilang ke balik pintu.

__ADS_1


"Punya Boss satu doang tingkahnya rese banget sih!!" Lagi-lagi Chandra membanting bantexnya ke meja.


__ADS_2