Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 38


__ADS_3

"Om, sebenarnya saya mau ketemu Om bukan mau minta tempat tinggal," Kevin meringis tak enak.


Artha sudah begitu baik padanya, dan tak ia kira akan se-pengertian itu terhadap masalahnya. Mungkin Artha pun merasa bersimpati atas cerita Kevin.


"Oh, nggak mau nih? Ya sudah saya batalin,"


"Jangan Om! Mau kok!!" seru Kevin cepat.


"Jadi cowok kok plin plan," gerutu Artha.


Sabar, Kevin, Sabaaaarrr, batin kevin pun menggeliat. "Tapi tujuan saya sebenarnya, mau bertanya kalau Om ada kenalan detektif yang bisa saya sewa atau preman yang sering dipakai untuk proyek,"


Artha menatap Kevin sambil merengut.


Sepertinya pria itu sedang berpikir sesuatu yang lebih efisien."Kamu bilang tersangkanya sudah ditangkap kan?"


"Ya Om, sudah,"


“Saya tahu maksud kamu menanyakan hal itu, antara kamu mau mencari barang yang mereka rampok atau membalas mereka yang merampok kamu, salah satu atau bisa dua-duanya. Tapi maaf saja saya akan beritahu kenyataan pahitnya,” kata Artha sambil mendekat ke arah Kevin.


"Kamu tahu kan kalau preman sudah turun tangan, yang hilang jarang bisa kembali. Termasuk perhiasan ibu kamu," sambung Artha.


Kevin menarik napas panjang.


Ya, dia tahu,


Tapi apa salahnya usaha dulu?


Sampai sekarang ia berharap benda peninggalan ibunya, setidaknya gelang yang masih ada noda darah ibunya bisa kembali.


"Saya bisa mengusahakan agar tersangka dihukum tanpa keringanan, tapi kawanannya tetap akan sulit dilacak," kata Artha.


Maka, dengan berat hati, Kevin menghela napas dan menunduk.


Apakah harus ia ikhlaskan semuanya...?


"Malam ini kamu pulang saja dulu, saya sudah minta Chandra untuk menemani kamu. Motor simpan saja di kosan Wana, kamu tunggu jemputan. Besok pagi-pagi kamu segera pindah,"


"Ya Om," jawab Kevin lemah.


**


Esok harinya,


"Cuma itu bawaan kamu?" tanya Chandra sambil mengangkat alisnya, heran.


"Mau bawa apa lagi Mas? Kan barang-barangku raib,"


Kevin menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tamu, lalu menengadahkan kepalanya ke atas menatap plafon.


Chandra duduk di sebelahnya sambil menggaruk kepalanya, "Kok kamu bisa sial begini sih?"


"Hem, memang nasibku Mas," gumam Kevin. Sambil mendorong-dorong satu buah koper, sisa barang-barang yang bisa diselamatkan. Itu pun isinya hanya pakaian ibunya dan benda lain yang tak terlalu penting.


"Ini, saya menemukan ini di bawah karpet," Chandra menyerahkan sesuatu yang berkilau ke Kevin.


Kevin menerimanya sambil mengernyit.


"Astaga!" Cowok itu langsung menegakkan tubuhnya, "Cincin kawin ibu!"


"Mungkin terjatuh waktu mereka..."


Chandra tidak melanjutkan kalimatnya karena Kevin menggenggam cincin itu dan menciumnya sambil menangis sesenggukan.


Lalu keadaan pun hening,


Hanya ada isak tangis dari laki-laki yang kini tak berdaya.


Sekian lama tragedi bertubi-tubi, dan akhir-akhir ini Kevin bagaikan disadarkan kalau jalan hidupnya salah.


Apakah ini hukuman yang harus ia tanggung akibat gaya hidupnya yang seenaknya?!


Harus ibunya yang maju sebagai penebus dosa?


Sungguh, hanya Tuhan yang tahu.


"Hem, Kev," gumam Chandra perlahan, "Kayaknya kita juga harus beli perabotan buat isi apartemen kamu, juga baju dan kebutuhan lain,"


"Aku nanti beli sendiri aja pelan-pelan Mas, paling aku butuh baju buat ke kantor," Kevin mengusap wajahnya untuk sekaligus menghapus air matanya. Ia terlalu sering berduka.


"Kamu ada duitnya?"


"Ada,"


"Cukup nggak?"

__ADS_1


"Memang Mas Chandra mau ngasih?"


"Bukan saya, tapi Bapak kasih dana cadangan kalau kamu butuh sesuatu,"


Kevin mengernyit. "Pasti nggak gratis kan? Om Artha terkenal pelit," gerutunya.


Chandra menyeringai, "Cicil potong gaji,"


"Hih! Ini aja bingung bayar cicilan apartemen pake apa, kalo gini kapan gaji saya bisa 30 juta sebulan?! Keburu tua baru bisa nikah sama Nirmala! Itu pun kalo dia masih single nggak diambil konglomerat lain," sebenarnya ini gerutuan untuk diri Kevin sendiri, namun karena seruangan hanya ada mereka berdua, jadi mau nggak mau Chandra bisa dengar.


"Nirmala? Ini Bu Nirmala kakaknya Mbak Wana?" tanya Chandra.


Kevin langsung tegang, lalu dia diam.


"Jalan yuk Mas," sahutnya sambil beranjak.


"Bentar dulu, hei! Ada kejadian apa kamu sama Bu Nirmala?!"


"Duh udah hampir siang niiih!" Kevin menarik kopernya ke arah mobil Chandra dengan terburu-buru yang dipaksakan.


*


*


Apartemen Sarang Cinta, Pluit.


Tengok kiri, aman


Tengok kanan, aman,


Tengok belakang, aman,


Tengok atas, aman, nggak ada yang nangkring di plafon.


Dan Kevin pun keluar lift dan masuk ke koridor. Sampai-sampai Chandra dan marketing apartemen mengernyit menatap tingkah Kevin yang mengendap-endap dan aneh.


“Maklum, Mas... abege tingkahnya suka labil,” kata Chandra sambil akhirnya ia menyerah dan melengos menyusuri koridor.


“Apa tak apa dibiarkan tinggal sendiri, Mas?” tanya Mas Marketing sambil mengikuti Chandra, tapi matanya tetap ke belakang mengawasi Kevin yang masih tengok kiri-kanan.


“Saya juga ragu, mana sudah yatim piatu kerampokan pula, takutnya depresi. Tapi nanti juga waras kalau sudah hirup bau duit setumpuk,” kata Chandra sambil menuju ke salah satu unit.


Kevin lagi apa sih?


Takut ketahuan Nirmala.


“Bu Nirmala jam segini biasanya kerja Kev, untuk melupakan masa lalu dia suka ambil lemburan kalau hari libur, termasuk tanggal merah," dengus Chandra di ujung koridor.


“Lah kok situ tahu?!” Kevin sewot.


“Lah kok situ ngeGas?!”


“Mas Chandra...” Kevin mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin dengan Chandra, “Sudah sampai tahap apa kenal Nirmala?”


Chandra memundurkan lehernya menghindari Kevin karena merasa jengah, “Saya kan yang ngurusin segala remeh temeh Pak Artha, ya termasuk calon iparnya juga lah,”


“Iya saya tahu, tapi sudah sejauh apa?” ada nada penuh curiga di kalimat Kevin.


Dan saat itu Chandra menyadari kalau...


“Justru saya yang mau tanya, kamu sudah ngapain aja sampai jadi posesif begini? Saya jadi ragu mau menempatkan kamu di unit depan-depanan persis. Nanti ada kasus asusila saya nggak ikutan loh ya,” Chandra memicingkan mata.


“Saya nggak boleh ketemu dia sebelum gaji saya 30juta sebulan,”


“Itu sudah dipotong pph belom? Iuran jamsostek belom? Asuransi? Cuti? Cicilan apartemen?”


“THP, Mas,”


“Yaaa... Wassalam,”


“Wassalam itu apa?”


“Bye-bye Cinta...”


“Yaaaaahhh....!!”


*


*


Penghuni baru ?


Nirmala bertanya-tanya saat mau masuk ke dalam apartemennya.


Gedung apartemen ini termasuk baru, dan setahu dia unit yang berada tepat di depannya ini belum ada yang menempati. Tapi sekarang seperti ada suara gaduh dari dalam unit.

__ADS_1


Nirmala terdiam sebentar di depan pintu unitnya, menajamkan telinga.


Manusia beneran atau hanya khayalanku karena kesepian? Batinnya.


Lalu terdengar suara tawa dari dalam unit.


“Kevin?” gumamnya pelan.


Sepertinya ia mendengar suara tawa Kevin.


Beberapa saat kemudian, ia pun terkekeh menyadari kekonyolannya, “Astaga, sudah jadi halu ya aku! Mana mungkin ada Kevin di sini?!” ia pun menggeleng dan masuk ke apartemennya.


Sambil membatin, besok akan memberi salam kepada penghuni baru, siapa tahu mereka bisa saling membantu.


Tanpa ia tahu di dalam unit memang...


“Tembok gue nggak usah pakai digambar Ti717 dong! Ah Elah nggak ada keahlian lain ape selain gambar itu!!” seru Kevin sambil menjambak rambut Kasep.


“Lah, kan sesuai sama diri lo! King Of G4l3r!”


“Anjrit!” Kevin mencipratkan cat ke wajah Kasep.


“Anjrit juga!” Kasep mencipratkan cat juga ke wajah Kevin.


Akhirnya mereka ciprat-cipratan.


Chandra melewati mereka sambil membawa mangkok mie instan yang baru saja ia masak, “Mesra banget ya kalian kayak pengantin baru ngecat bareng, mudah-mudahan saya nggak ketularan,” gerutunya.


Kenapa juga sekalinya ada tanggal merah, bukannya Me Time, dia malah harus berkutat dengan segala hal absurd seperti menemani Kevin kemana-mana, dan angkat-angkat fuurniture?! Sudah begitu tidak dibayar lembur pula.


Tapi paling tidak, dia dapat apartemen murah untuk tempat tinggal Stela dengan diskon lumayan walaupun letaknya di lantai bawah.


“Makan dulu nih!” kata Chandra sambil duduk di sofa baru yang masih dilapisi plastik. Lalu pria jutek itu menatap hasil kreasi Kasep dan Kevin di sepanjang dinding apartemen.


“Ini serius mau dicat Pink?” gumamnya tanpa ekspresi, tapi sebenarnya hatinya mengejek.


“Cakep kan Mas?”


“Kayak spa plus-plus,”


“Loh kok tahu?”


“Kejebak bocah kan gue...” umpat Chandra.


Kevin terkekeh, "Ceile emang situ doang yang kalo senggang ke spa?!" ia lalu melirik Kasep.


"Ape lo lirik-lirik?!" Kasep salah tingkah.


"Gue punya mata terserah gue mau lirik lirikan!"


"Cowok ke spa itu sudah dianggap biasa kali!"


"Iya kecuali yang nekat nggak ganti baju masih pake seragam abu-abu!"


"Tahu dari mana lo begituan! Lo beneran stalking gue yak!"


"Mami di spa Kelapa Gading ngomong ke gue," Kevin tersenyum simpul.


"Njir cctv lo dimana-mana,"


"Lo jangan main-main ama gue, gue pegang kartu As lo, sampe Joker dan bahkan kotak kartunya gue pegang!"


"Hoy, balik lagi ke cat, malah ngegosip," gerutu Chandra.


“Ini cat dasar kok Mas, artist grafittinya belom dateng, lagi diperbudak,” kata Kevin sambil terkekeh.


“Aku dataaaaaanggg!!” Seru Agus senang sambil membuka pintu apartemen Kevin.


“Brooooo kangen gue!” seru Kevin langsung memeluk Agus, sepertinya phobia Gaynya sudah sembuh.


“Ngapain aje lo selama ini? Nginem yak!”


“Gue ngga bakalan berdalih, terus terang gue memang lagi jadi babu. Tapi gue seneng-seneng aje,”


Kevin dan Kasep langsung diam. Agus bilang ‘seneng-seneng aje’ itu berarti di belakangnya adaaa...


“Kak Kevin, apa kabar?”


Ada Dian di sana.


Kevin dan Kasep langsung balik badan dan makan mie instannya dalam diam. Setengah cemberut, sih.


Mereka lupa kalau sekarang Dian selalu ikut kemana pun Agus pergi.


Bagaikan sudah sepaket, Pesan Agus, Dapat Dian.

__ADS_1


__ADS_2