
Kejadian ini maju beberapa bulan ya gengs, extra part untuk refresh! Karena banyak yang request. Hehe.
Capcuusss ...
*
*
Pagi itu adalah hari yang menentukan segalanya bagi Stela. Ia dipanggil untuk interview kerja di Amethys Tech.
Setelah melewati rintangan ujian psikotes dan tulisan, akhirnya Stela dapat bertemu dengan si empunya perusahaan. Ia pikir akan lebih cepat karena direkomendasikan Artha, namun ternyata perusahaan ini tidak menganut paham nepotisme.
Jadi Stela melewati semuanya seperti calon karyawan lain.
Yang membedakannya, calon karyawan lain yang lolos tes bertemu dengan kepala HRD. Kalau Stela, langsung diwawancara Direktur Utama.
Jadi, Stela Bahana menatap wanita di depannya ini lekat-lekat.
Seksi, berkelas, anggun dan tatapan matanya menyelidik. Segala yang ada di tubuhnya dibuat secara eksklusif, mungkin juga pesanan khusus. Dilihat dari parasnya, keturunan tionghoa yang yang sangat cantik.
Tapi... Stela menarik napas panjang, tegang. Karena wanita di depannya ini tidak selembut wajahnya. Ada hal yang menyebalkan keluar dari diri wanita itu.
Sikapnya itu loh,
Bikin emosi jiwa!
"Kamu lulusan ekonomi, tahu apa kamu mengenai teknologi?"
Jelas Stela tidak tahu apapun kecuali aplikasi foto dan filter di ponselnya. "Saya kesini direkomendasikan oleh..."
"Mau Dewa Air yang recomended, mau Presiden yang recomended, kamu menguntungkan tidak untuk perusahaan saya?!" potong wanita di depannya ini dengan ketus.
Stela menghela napas.
Sabar...
Om Artha bilang harus sabar menghadapi Susan Tanudisastro.
Kalau perlu minum obat penenang dulu sebelum masuk ke ruangannya.
Gali potensi diri kamu, seberapa besar kamu mencintai diri kamu. Apa minat kamu dalam hidup?
Stela berkata ke dirinya sendiri. Dia bertekad untuk berubah, bukan Stela yang dulu.
Stela yang sekarang lebih rendah diri.
Jadi, dengan mengangkat wajahnya. Ia pun menghadapi monster di depannya ini.
"Saya tidak mengerti apa pun mengenai teknologi. Tapi saya berminat di bidang desain," sahut Stela sambil tersenyum.
Susan, Si Direktur Utama Amethys Tech, mengangkat alisnya.
Stela melanjutkan penjelasannya, "Ibu bisa lihat dari style pakaian yang saya kenakan. Walaupun bukan barang bermerek, menurut saya padu padannya cukup sesuai. Kebanyakan orang IT tidak berbakat dalam hal desain dan marketing, mereka cenderung apa adanya. saya berharap bisa membantu mereka dalam hal itu. Anak muda jaman sekarang kebanyakan mengedepankan style dan multifungsi. Sementara saya adalah pengguna, saya tahu apakah sebuah teknologi akan digemari sesuai pasar atau tidak."
Susan pun mencondongkan tubuhnya karena tertarik dengan teknik marketing Stela dalam mempromosikan dirinya.
Jadi Susan melempar sebuah pertanyaan, "Menurut kamu, benda seperti apa yang dibutuhkan anak muda seperti kamu, di jaman metaverse saat ini? Jawab saja sesuai yang kamu inginkan,"
Stela agak tertegun.
Ia teringat perkataan Artha, bahwa Susan menghargai kejujuran, namun dengan cara cerdas. Tidak jujur yang naif, tapi jujur yang elegan.
"Sesuatu yang bisa membuat mereka kaya raya, namun tidak harus bekerja diomelin atasan. Dengan kata lain, hobi yang dibayar," kata Stela.
Ia kepikiran hal ini saat kesulitan mengatur keuangan dari tabungan yang diberikan Artha. Jumlahnya hanya setengah dari yang biasa.
"Jadi, aplikasi yang saat mereka mainkan, mereka malah dibayar. Seperti, kita merekomendasikan aplikasi itu ke teman, kita dibayar 50 ribu langsung masuk rekening bank tanpa syarat,"
"Dan aplikasi apa yang kamu inginkan?" tanya Susan. Jawaban yang diberikan Stela akan merubah masa depan gadis itu selanjutnya.
"Menggunakan metaverse, saya ingin tahu kualitas suatu barang yang dijual secara online,"
"Hm? Contohkan," ujar Susan.
"Begini, Bu, saya sering belanja online. Seringkali tidak cukup hanya dengan melihat foto atau video yang dishare pembeli, karena tingkat kepuasan manusia antara satu dengan yang lain tidak sama. Seperti, ada yang puas dengan sandal 25 ribu namun dengan kualitas karet yang besok bolong, malah berkomentar : untuk harga segitu worth it lah yaaa. Bagi saya komentar semacam itu tidak memuaskan. Jadi dengan metaverse saya ingin mengecek sendiri kualitas barangnya, sampai saya bisa berkomentar : untuk harga 25 ribu, ini melebihi ekspektasi,"
"Jadi, saya ingin melenturkan sendiri sandal itu, tentunya secara online, lalu apakah pas di kaki saya atau tidak, ringan atau berat, kualitas warna, ketahanan saat dipakai outdoor, dan lainnya. Sebelum menjual, seller harus memasukan video mengenai hal-hal itu, kita kasih kriterianya, sehingga saat metaverse seakan kita melenturkan sendiri barangnya. Dan saat kita membeli, kalau kita share barang itu ke pembeli lain, kita dapat penghasilan. Entah itu dalam bentuk uang tunai, atau poin. 5000 rupiah atau 10 ribu rupiah, saya lebih baik menerima dalam tunai, bukan diskon,"
Susan pun terdiam.
Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke kursi kulit putih yang tampilannya bagaikan singgasana.
"Oke, kamu diterima," gumamnya.
__ADS_1
"Hah?!" seru Stela.
"Saya bilang kamu diterima, nggak kedengaran? Saya harus berteriak atau bagaimana?"
"Bu-bukan itu bu... serius nih saya diterima?"
"Kamu pikir saya lagi nge-prank? Waktu saya cukup ketat,"
"Eeeh, nggak bu, maaf. Saya cuma kaget," gumam Stela sambil menyeringai.
"Karena, kami memang sedang mengembangkan ide semacam itu. Salah satu staff IT kami kemarin mengeluh, kalau barang yang dia beli online, saat di gunakan orang lain terasa pas, tapi saat ia gunakan malah terasa aneh. Jadi kami sedang mengembangkan aplikasi yang bisa mendeteksi postur si pembeli dan memadupadankan dengan outfitnya. Semacam itu lah," Lalu Susan meraih ponselnya,
"Raka, panggil Kevin ke sini," desis Susan. "Kamu duduk dulu saja di situ, saya mau panggil staff IT untuk berdiskusi dengan kamu,"
"Langsung meeting ya bu?"
"Berdiskusi, bukan meeting. Kamu tidak sepenting itu," desis Susan.
Stela menunduk karena langsung jiper.
Tidak lama seorang pemuda mengetuk ruangan Susan dan melongok ke dalam, "Panggil saya, Paduka Ratu Yang Mulia?"
"Ck! Lama-lama kamu saya somasi! Jabatan orang seenaknya diubah-ubah. Panggil saya Madam Boss! Sini kamu!" seru Susan sambil melambaikan tangan ke sosok di belakang Stela.
Stela pun tertegun.
Astaga! Pikirnya. "Ganteng banget," gumamnya tanpa sadar.
"Makasih," ujar Kevin membalas pujian Stela tanpa ekspresi.
"Eeeh, anuuu, saya bukannya bermaksud memuji," Stela Langsung salah tingkah.
"Jadi menghina dong?"
"Ya bukan jugaaa,"
"Kamu jangan ketipu wajahnya, sikapnya jutek banget kalo sama cewek. Bisa-bisa kamu dibully setiap hari. Dia jenis cowok jahat, lidahnya tajam dan sering bikin cewek-cewek di sini nangis," kata Susan.
Kevin hanya mencibir, namun tidak menampik.
Sejak meninggalkan pekerjaannya sebagai gigolo karena mengejar wanita impiannya, ia memang agak antipati sama cewek. Terutama yang mengejar-ngejarnya, sudah pasti bakalan dibikin patah hati.
"Saya sudah biasa sama cowok jahat," kata Stela karena teringat sama pacarnya, Chandra, yang boro-boro manjain dia, yang ada malah digembleng jadi pembantu terus. Tapi karena bucin maksimal yaaa apa boleh buat. "Tapi belum ada yang terlihat seperti ini, Bu,"
"Saking gantengnya jadi terlihat cantik, kayak anime,"
"Wibu, dasar," gumam Kevin langsung.
"Suka anime belum tentu wibu, tahu aja karena pacar saya penggemar cosplay. dia sering dandani saya... eh, ehem! Keceplosan kan," gumam Stela langsung berdehem.
Kevin agak batuk karena menahan tawa.
"Pokoknya, Stela, kamu saat ini saya tempatkan di tim kreatif. Masa percobaan 3 bulan, saya telepon Johanes Kadiv HRD kami. Untuk saat ini kamu ikut Kevin ke ruangannya untuk mendiskusikan ide online shop tadi. Platform itu akan dibeli oleh Yudha Mas Corp, jadi kerja kalian harus maksimal," gumam Susan sambil menyuruh mereka keluar ruangan.
"Yuk," ajak Kevin.
*
*
Saat di luar ruangan,
"Dasar, kalo berhubungan dengan suaminya dia begitu tuh tingkahnya. Menggebu-gebu cenderung memperbudak," gumam Kevin sambil mengeluh.
"Suaminya?"
"Iya, yang mau beli platform e-commercenya adalah suaminya, David Yudha, pemilik Yudha Mas Corp. Entah ada apa di balik itu tapi Bu Susan selalu sok tegas kalau sudah menyangkut dia," kata Kevin. "Eh, nama kamu siapa tadi, Mbak?"
"Stela,"
"Stela siapa?"
"Stela Bahana,"
Kevin terdiam sambil mengernyit. "Wait, kayak kenal nama itu, tapi dimana yak?" gumam Kevin.
Stela memiringkan kepalanya, "Ternyata saya populer juga ya sampai kamu berasa kenal saya,"
"Bukan itu, gue kayak negatif thinking. Kayak ada hal jelek waktu gue tahu nama itu, tapi gue nggak inget," Kevin mengernyit sambil melipat kedua tangannya.
"Saya harus nungguin kamu mikir atau kita sambil jalan aja?" kata Stela.
"Lewat sini," gumam Kevin masih sambil mengernyit.
__ADS_1
"Keviiinnnn," beberapa orang wanita di pojokan memanggil Kevin dengan mesra. "Nengok sini dong sayaaang,"
"Berisik tante girang," gerutu Kevin.
"Aaah, judes banget tapi ganteeeng,"
"Sakit jiwa pada," gerutu Kevin lagi sambil berjalan menuju lift.
"Kamu kok galak banget sih, mereka nyapa baek-baek loh," kata Stela.
"Yang mereka pikirin cuma hal mesum," sahut Kevin sambil menekan tombol lantai.
"Ih sudzon aja,"
"Pengalaman gue soal wanita bejibun, sekarang lagi jalan menuju insap. Percaya aja," gumam Kevin.
"Jadi kerja saya apa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Hem," Kevin menyerahkan tablet berisi konsep desain platform. "Pelajari ini,"
"Wah, sama seperti yang tadi saya utarakan ke Bu Susan," Stela tampak membolak balik halaman tablet.
"Lalu, pegang ini, fotokopi," Kevin menyerahkan 2 buah bantex.
"Oke,"
"Lalu ini diseduh air panas," Kevin menyerahkan sesachet kopi.
"Hah?"
"Lalu ke indoapril, ini daftar belanjanya,"
"Eh?"
"Terus tolong ganti galon ya, OB lagi disuruh beli nasi padang sama yang lain,"
"Eh? Eh?"
"Juga, Kalo ada waktu, pijetin pundak gue,"
"Hah?!"
*
*
Stela membanting tasnya saat tiba di rumah malam itu.
Chandra yang sedang menonton tv di ruang tamu sampai kaget melihat tas yang dibanting di sampingnya. "Pulang-pulang kenapa muka kamu serem banget begitu?!"
"Itu sih bukan kerja jadi tim kreatif! Tapi magang! Masak aku disuruh bikin kopi dan angkat galon?! Aku bukan Lucas di Limerence!!" seru Stela kesal.
(Baca novel otor yang judulnya Limerence yaaa hihihihi)
"Hm,"
"Dasar cowok rese! Kenapa di usia semuda itu jabatannya harus tinggi sih?! Emang apa hebatnya dia hah?!" jerit Stela lagi.
"Siapa?"
"Namanya Kevin Cakra! Entahlah dia itu ada hubungan apa sama Bu Susan! Yang jelas di sana dianggap jenius! Tapi tabiatnya macam setan lepas dari kerangkeng!!"
"Kevin... Cakra?"
"Gitu lah! Kalo aku nggak salah denger,"
"Aku kenal sih. Dia yang menemukan laporan DNA kamu,"
"Apa?" Stela nggak jadi marah.
"Hehe, nggak kusangka dia kerja di Amethys,"
"Tunggu..." Stela langsung mendekati Chandra, "Bagaimana caranya dia bisa menemukan laporan DNAku?"
"Yaaa, waktu itu dia dan bu Yuni..." Chandra langsung terdiam. Tiba-tiba dia merasakan firasat buruk dan langsung melirik pacarnya itu.
"Nggak jadi," gumam Chandra cepat. Instingnya mengatakan kalau ia jangan sampai cerita ke Stela soal si Kevin. Karena bisa saja digunakan Stela untuk memeras Kevin.
"Kalo nggak jadi cerita, libur pelayanan 2 bulan," ancam Stela.
"Jadi Kevin itu, bla bla bla," dan meluncurlah semua dari mulut Chandra.
Baik pemirsah, sekian intermezzonya. Cerita selengkapnya nanti saja di season 2 okeeeee?!
__ADS_1
Cup cup muah!