
“Aow!” gumam Kevin lirih saat kapas berlumur antiseptik mendarat di sudut bibirnya.
“Sori, bro,” sahut Wana merasa bersalah. Terus terang saja ia tidak berbakat kalau urusan merawat luka-luka.
Kevin hanya menghela napas berat sambil meringis menahan sakit.
Wana ingin bertanya, tapi memutuskan untuk diam dulu, agar Kevin tenang dulu, baru ia biarkan Kevin bercerita sendiri. Karena sepertinya masalahnya cukup berat sehingga Wana tidak enak kalau ‘mengganggu’ Kevin.
“Sori juga sudah ganggu malem-malem,” suara Kevin terdengar parau.
“Nggak papa, kan darurat... kayaknya,” kata Wana sambil mengambil kasa dan plester. Kata ‘kayaknya’ ditambahkan karena Wana tidak tahu secara pasti hal apa yang menimpa Kevin sampai babak belur begini.
“Gue sendiri aja yang balut,” sahut Kevin sambil mengulurkan tangan mencoba merebut kasa dan plester di tangan Wana.
“Serius? Ntar berantakan loh,” Wana menjauhkan plester dan kasa itu.
“Hih! Udah gue aje, lu kalo urusan beginian serampangan!"
“Eh, luwar biasa julid mulut lo, tahu begitu gue siram saja betadinnya tadi!”
“Ngasih betadin saja sampe mencong-mencong. Luka dimana, yang berantakan yang mana,”
“Nggak bisa! Betadin gue, kasa gue, plester gue, kosan gue, gue yang jadi Boss di sini! Nurut aje lo,” sahut Wana.
“Elah, lama-lama bentukan tampang gue kayak dorayaki dikasih kecap. Berantakan nggak jelas,”
“Nggak nggak nggak! Gue pingin coba merawat cowok, sekaliii saja!”
“Kalo mau maen dokter-dokteran sama Om lu aje! Itu kasa beneran atau lap cuci piring?! Nggak ada ya bangsa pembalut kayak waktu itu!” Kevin sewot.
“Ini kasa beneran tapi sudah gue simpen 5 tahun di kotak obat, hehe," Wana menyeringai.
“Bener kan feeling gue! Lo mau gue mati infeksi, kayaknya!”
Kevin berusaha merebut antiseptik di tangan Wana, namun malah mendorong Wana ke atas ranjang sampai mereka berdua jatuh dengan Kevin menimpa tubuh Wana.
Sesaat mereka saling bertatapan karena kaget.
Kevin menatap mata Wana yang bulat dan berbinar, sedangkan Wana secara tak sadar mengagumi wajah Kevin yang saat dilihat dengan jarak sedekat itu terasa tanpa cela.
Maka seketika, timbul perasaan yang berbeda di antara mereka berdua.
Apakah itu?
Romantis?
Jelas tidak!
Yang ada mereka saling dorong.
“Berat goblok,” keluh Wana sambil menjejak tubuh Kevin supaya menyingkir.
“Njir, dada lo keras amat! Pacar lo kan konglomerat beli b3ha yang empuk dikit ngapa?!” Kevin merebut kasa dan plester di tangan Wana.
“Dalam keadaan nimpa gue masih sempet-sempetnya megang dada gue pula! Mau dijotos, Hah?!”
“Reflek!" dengus Kevin sambil menirehkan antiseptik di wajahnya sambil mengernyit menahan sakit, "Lagian gue nggak tertarik. Gue lebih suka cewek pakai bra renda dan agak transparan,”
“Gue ini mau tidur, bukan mau pemotretan VS!”
“Lo terlalu pendek buat jadi model VS. Memang tidur pakai b3ha nggak sesak?”
“Lah!! Darimana lu tahu hal itu Tong! Gawat juga hidup lo sampe tahu rahasia wanita macam begitu!!”
“Ya tahu lah, gue tidur sama cewek sudah nggak kehitung jumlahnya,”
“Jijik ah! Nggak usah dilanjut ceritanya! Ini kenapa jadi berantem sih?”
“Biar gue lupa sama masalah gue,”
“Jadi lo sengaja singgah ke sini biar lo lupa masalah lo, jadi mancing keributan begitu? Teman-teman lo pada kemana?!”
“Yang satu pingsan, yang satu sibuk pacaran sampe nggak bisa dihubungi,”
“Memang teman lo cuma dua?!”
“Yang lain pada ngejauh, soalnya insecure,”
“Yang lain ngejauh soalnya lo congkak, Idih kepedean,” Wana terduduk di pinggir ranjang sambil mencibir.
“Lu cariin gue makan sana, atau minum kek! Masa ada tamu nggak dijamu?!” sahut Kevin sambil melambaikan tangan mengusir Wana. Lah, itu bukannya kosannya si Wana, kenapa malah ngusir si empunya?!
“Oh iya! Masalah bertamu! Ini kosan cewek kok lu bisa nongol di sini? Sekuriti gue lumayan nyebelin kalo urusan kunjung-mengunjungi, loh! Om Artha saja nyogoknya banyak jadi bisa masuk,”
“Cieee... sudah nyelundupin pacar yaaa. Makin dewasa aja lo!” goda Kevin sambil tersenyum getir, karena perih di sudut bibirnya.
“Udah diem, bego!” Wana memukul Kevin dengan bantal, “Kenapa lo bisa di sini? Dan yang penting, lo itu habis ngapain luka-luka begitu, Hah?!”
__ADS_1
Kevin terkekeh lemah.
“Sini,” ia melambaikan tangan ke Wana supaya mendekat.
Dengan wajah polosnya, Wana menggeser duduknya dan mepet ke Kevin. “Kenapa?”
Dan Kevin pun memeluknya.
Lalu membenamkan wajahnya di leher Wana.
Wana hanya diam sambil membelalakkan matanya karena kaget.
“Parfum lo wanginya sama kayak wanita yang gue sayang. Jadi gue kesini mau peluk lo,” Kevin memejamkan matanya, berharap Wana tidak mendorongnya.
Wana menghela napas, lalu menepuk-neouk punggung Kevin. Ini bukan pelukan berbau mesum atau vulgar.
Lebih ke pelukan rasa persahabatan.
Tampaknya, Kevin memang butuh ditenangkan.
Maunya Kevin sih meluk Nirmala. Masalahnya, Kevin belum tahu Nirmala dimana, yang ada hanya Wana. Lagipula, bukan hanya itu saja tujuan Kevin menemui Wana.
“Ya Ampun, Kev... gue jadi pengganti ini? Ya sudah, demi adek gue tersayang yang sering gue porotin buat beliin bobba,”
“Oh iya, ntar diganti ya duit gue, akumulasi!”
“Anjir!” Wana langsung menggeliat membebaskan diri.
“Lo kan bentar lagi jadi sosialita!” kata Kevin sambil melanjutkan meneteskan antiseptik.
“Lo bikin gue jengkel, gue panggil Om Artha ini biar lo digantung,”
“Oh iya, gue sengaja kesini memang mau ngerayu lo supaya bisa minta bantuan Om lu itu,”
“Bantuan gimana?"
"Yah bisa dibilang saat ini gue sambil menyelam minum bobba,” Kevin menyeringai sambil menaik-naikan alisnya.
*
*
“Hem...” Arthasewu Connor, pria berambut panjang keperakan dan berjanggut panjang dengan mata teduh dan senyum yang terkesan menenangkan namun memiliki sifat yang bertolak belakang, angkuh dan pelit, termasuk terhadap calon istrinya sendiri, duduk di depan Kevin sambil merengut.
Astaga, kenapa akhir-akhir ini aku sering sekali bertemu si bocah tengil ini sih?! Pikirnya malas.
Jadi secepat kilat ia ngebut ke sini.
“Hai Om,” Kevin tersenyum simpul sambil mengangkat tangannya, melambai. Padahal cowok itu duduk tepat di depannya dengan jarak kurang dari satu meter.
“Hm,” begitu balas Artha, lagi-lagi ‘Hm’ andalannya.
“Kata Kevin dia mau minta tolong,” kata Wana.
“Kamu sekarang jadi jubir-nya?” sahut sinis Artha ke Wana.
“Kata dia, dia segan minta ke Om Artha,” kata Wana lagi.
“Ya kalo segan nggak usah minta-minta,” gerutu Artha.
Kevin memonyongkan bibirnya, lalu menarik Wana dan berbisik di telinga gadis itu.
“Kata Kevin, ini sebagai bayaran konsultasi waktu di rumah sakit, waktu aku dirawat atas serangan Yuni Bahana,” Kata Wana sambil setengah bengong. Lalu berikutnya dahi gadis itu mengerut, “Eh? Konsultasi apa’an sih? Kok aku nggak tahu?” tanya Wana.
Artha mencibir menatap Kevin dengan tajam.
Kevin masih mesem-mesem. Konsultasi mengenai bagaimana cara membuat Wana tersenyum.
“Ini yang terakhir, berikutnya awas kamu ganggu-ganggu saya,” dengus Artha menyerah.
Wajah Kevin langsung cerah.
“Mau apa kamu?” tanya Artha.
Kevin langsung memajukan kursinya dan mencondongkan tubuhnya, “Jadi gini Om, saya itu barusan di serang preman di rumah, saya dirampok! Pacar, eh, motor saya sempet ditendang sampe penyok, tapi untung nggak rusak, saya berhasil kabur pakai itu, bla..bla..bla.. kayaknya komplotannya sama dengan yang nabrak ibu saya bla..bla..bla..” dan Kevin pun bercerita hampir satu jam lamanya.
*
*
Satu jam kemudian,
“Astaga... pernah ada kejadian begitu?!” tanya Wana yang kini menatap Kevin sambil tangannya gemetaran.
Terus terang saja, ia begitu iba dengan penderitaan Kevin. Padahal, Kevin selalu datang sambil cengengesan kalau dimintai tolong.
“Gue beneran simpati Kev, Turut berduka cita,” Wana memeluk Kevin sambil menepuk-nepuk punggung pemuda itu.
__ADS_1
Kalau di kondisi normal, melihat pujaan hatinya berpelukan dengan cowok lain, ganteng pula, Artha pasti akan cemburu dan pasti sudah dia hadiahi bogem mentah ke hidung Kevin yang mancungnya mulus itu.
Tapi saat ini, ia sendiri pun cukup merasa kasihan dengan Kevin.
Juga merasa geram atas apa yang menimpa cowok itu.
“Jadi Om, sori saya muter-muter, saya mau minta tolong...”
“Sebentar,” Artha memotong ucapan Kevin dan mengutak-atik ponselnya. “Chandra, kita masih ada stok apartemen yang ditawarkan Jade Construction? Kalau nggak salah saya dapat stok 5 unit kan?”
Di seberang sana, Chandra mengangkat teleponnya sambil mengangkat alisnya. Bossnya jam 12 malam menelepon tanya stok apartemen. Artha sebagai investor di banyak perusahaan konstruksi memang kerap mendapat jatah apartemen gratis beberapa unit dari pengembang.
Tapi Memang siapa yang mau tinggal di sana?!
“Yang apartemen daerah Jakarta Selatan tinggal 2 unit Pak, kalau apartemen di daerah Jakarta Utara yang menghadap ke laut itu, Dari 5 unit jatah Bapak, yang satu sudah kita jual ke Bu Nirmala Dierja. Jadi jatah Bapak tinggal 4 unit. Kalau boleh saya tanya, untuk siapa ya Pak? Nanti saya sesuaikan,” tanya Chandra.
Artha beralih ke Kevin, “Kamu mau tinggal di Utara atau Selatan?”
Ditanya mendadak begitu, Kevin bengong, “Hah? Bagaimana Om?” dia kebingungan sekaligus panik.
“Chan, daerah Utara saja kasih ini si tengil satu unit. Yang Selatan harga jualnya lebih tinggi soalnya. Rugi kalo saya kasih gratisan,” kata Artha ke Chandra sambil memutuskan sendiri karena Kevin dianggapnya terlalu lama berpikir.
“Ngasih orang kok perhitungan sih? Kalo terpaksa ya tak usah dikasih pak. Bu Nirmala saja disuruh bayar padahal mau jadi ipar, ini malah mau kasih gratisan? Siapa sih Pak? Curiga nih saya,” dengus Chandra.
Artha melirik ke arah Kevin yang kini menatapnya bagai Chow-chow berharap cemilan. Bersinar penuh harap.
“Buat selingkuhannya Wana,” dengus Artha.
“Hih! Kok aku dibawa-bawa! Amit-amit tukang celup jadi selingkuhanku!” seru Wana.
“Celap-celup juga harganya mahal ini...” gerutu Kevin sedikit tersinggung karena. sulit dipercaya ada betina yang tidak tertarik pada dirinya.
Terdengar kekehan Chandra dari seberang, “Buat Kevin? Sudah rujuk Pak? Adopsi saja jadi anak sekalian,” godanya.
“Diam kamu! Unit apartemennya hadap mana?” gerutu Artha.
“Maunya sebelah mana Pak?” Chandra bertanya.
“Nirmala yang sebelah mana?” Artha bertanya balik.
“Bu Nirmala yang hadap kolam renang karena hadap laut panas katanya,”
“Ya sudah, kasih unit depan Nirmala saja yang hadap laut, biar si tengil kulitnya agak keling,”
“Aku nggak dikasih jatah, Om?” potong Wana.
“Kamu buat apa sih apartemen? Mahal!”
“Serius ngomong gitu?! Aku calon istri Om loh! Yang lain dikasih apartemen, aku masih tinggal di kosan iniiii,” protes Wana.
“Kamu kan nggak ada masalah apa-apa. Nirmala kan saya kasih diskon karena ada masalah sama mantan suami, lalu si Kunyuk ini lagi dikerjar preman. Kalo dia sudah dapet gaji, ya cicil lah biayanya,”
“Jatuhnya itu nggak gratis Pak, berlaku cicilan pakai bunga,” sahut Chandra dari seberang.
“Bilang Susan Tanudisastro, potong gaji si tengil saja,” kata Artha.
"Ada masalah apa sih Pak?" tanya Chandra.
"Jadi begini..." Artha beranjak untuk menjauh dari Kevin dan Wana.
“Nirmala itu siapa?” tanya Kevin tegang.
“Kaka gue,” jawab Wana.
“Kakak lo?!” seru Kevin kaget. Tapi dia masih ragu Nirmala ini adalah Nirmala yang sama dengan yang ada dalam kehidupannya atau orang lain.
“Kenapa lo kaget begitu?” tanya Wana, sementara Artha masih sibuk berbicara dengan Chandra di telepon, menceritakan mengenai kejadian yang baru saja Kevin alami.
“Hem... Kenalan gue juga ada yang namanya Nirmala,” kata Kevin sambil menatap Wana, dia sedang berusaha memancing Wana supaya keceplosan.
“Kenalan lo itu maksudnya Tante-tante klien lo?? Nama Nirmala itu banyak cuy! Enak saja nyama-nyamain! Nggak mungkin Kak Mala jadi klien lo kali. Yang ini namanya Nirmala Dierja. Kenalan lo namanya siapa?!” Wana sewot.
Wah, gampang juga mancing Wana!
Maka Kevin pun langsung menyambar ponsel di kantongnya dan mengetik nama itu, lengkap.
Nirmala Dierja
Munculah foto Nirmala di layar ponselnya.
Wajah Nirmala yang ia kenal. Yang manis, seksi, dengan senyum lembutnya yang khas, yang selalu terbayang dalam benak Kevin.
Dan bibir cowok itu pun menyunggingkan senyum licik, sekaligus hampir menangis karena saking senangnya.
Akhirnya ketemu juga. Dan selama ini ternyata mereka dekat. Pikir Kevin senang.
__ADS_1