
"Maaf, sekali lagi. Suasananya jadi agak tidak enak," Artha dengan duduk tegak menatap Wana yang terlihat termangu sambil melihat ke arah luar jendela. Sebelah tangannya berpangku dagu, sebelah lagi mengaduk-aduk minumannya dengan tidak niat.
"Aku sudah biasa dibully Stela," gumam Wana. Yang ia pikirkan saat ini sebenarnya malah Artha. Bagaimana respon pria ini saat tahu Stela bukan anak kandungnya? Apakah malah lega atau malah melampiaskan kekesalannya? Terkadang Artha bisa bertindak seenaknya kalau dia tidak berkenan terhadap sesuatu. Untung saja tadi dia dapat menahan dirinya untuk tidak langsung mengucapkan kartu AS.
Walaupun Wana tidak suka dengan Stela, namun dia tidak sampai membencinya. Dia juga akan berpikir bagaimana nasib cewek itu ke depannya.
Bagaimana pun buruknya Stela, karena dialah Wana bisa bertemu dengan Artha.
"Lalu, apa yang sekarang membuat kamu galau?" tanya Artha.
"Laper,"
"Eh?"
"Habis berantem aku laper, makanannya nggak dateng-dateng,"
Artha hanya mencibir, lalu menatap tajam ke waitress yang langsung terburu-buru lari ke balik dapur untuk mempercepat pesanan Artha.
"Kamu tahu kan kalau aku laper, aku bisa berubah, dari kelinci jadi puma? Sediain snack kek buat ganjal lapar. Jangan bilang nanti menunya cuma seuprit yang ala-ala fine dining,"
"Ini kan memang fine dining," gumam Artha, sambil melirik ke waitress lagi minta disediakan porsi dobel khusus untuk Wana.
Begitulah,
Siang mereka dihabiskan dengan makan dan jalan-jalan. Malah di pertengahan Wana sudah melupakan soal Stela. Toh, waktu akan bicara dengan sendirinya.
Namun feelingnya mengenai Yuni Bahana entah bagaimana sangat kuat. Bahwa dalam waktu dekat ia akan bertemu dengan si empunya kerusuhan.
Biarkan saja lah, toh kedekatannya dengan Artha mulai saat ini sudah bukan lagi penuh keraguan. Mereka menjalani misi dan visi yang sama. Untuk membina rumah tangga bersama.
Terasa singkat?
Jelas!
Begitulah kalo perawan bertemu pria single tapi tuwir. Yang satu kebelet dibelai, yang satu kuatir umurnya tinggal sebentar lagi tanpa punya istri.
Wana bukan wanita murahan. Ia bahkan belum pernah memiliki pacar. Ia memang pernah menyukai satu dua cowok, tapi tak ada keberanian untuk mendekat atau tebar pesona. Saat melihat kakaknya banting tulang untuk biaya sekolahnya, Wana lebih memilih untuk fokus ke pendidikan.
Nanti juga tiba masanya, begitu pikirnya.
Sedangkan Artha, pembaca tahu sendiri. Dia sudah mati rasa terhadap wanita sejak lama. Justru dia dipertemukan dengan gadis polos yang sangat berbeda dengan wanita-wanita di sekitarnya. Itu yang membuatnya tak bisa lepas dari Wana.
*
*
Hari Senin pagi,
Dengan serius Artha membaca dokumen dan proposal yang bertumpuk di mejanya, sementara layar tv besar yang tergantung di depannya menampilkan jalinan angka harga saham dunia di awal bulan itu.
Minyak dunia sedang langka, properti menurun, untung saja usaha retail tetap melambung. Tak sia-sia dia bekerjasama dengan Amethys Corp untuk usaha makanan kemasan. Setidaknya masih ada yang bisa digunakan untuk menggaji karyawan dan profit masih bisa membayar deviden para shareholders.
Saat ini ia sedang membaca proposal mengenai kemungkinan meluncurkan inovasi kemasan mie rebus dengan penghangat otomatis yang dinamakan hotpack. Jadi kalau mau masak mie instan dan berada di daerah pegunungan, atau terjebak di dalam banjir, tinggal memasukan hotpack ke dalam air dan bisa matang otomatis. Tidak perlu kompor dan api. Kemasan itu akan didistribusikan ke tim SAR, atau P3K di banyak kendaraan. Tapi Artha pikir yang paling banyak membelinya malah justru anak kos yang tak memiliki kompor di kamar. Jadi mereka sedang memperhitungkan supaya harganya bersahabat.
__ADS_1
(Sebagai informasi, hotpack ini sedang digandrungi di Jepang dan Singapura. Kemasan ini berisi formula yang mengandung kalsium oksida atau kapur tohor. Saat dituang air bersuhu ruang, zat ini akan menyerap air dan akan melepaskan energi panas. Praktis oy!! Di Jepang bahkan bisa masak kare pakai ini).
Saat sedang serius-seriusnya membaca laporan IRR (perhitungan mengenai kemungkinan balik modal di tahun berapa dan apakah suatu proyek patut dijalankan atau dihentikan) interkomnya berbunyi.
Suara Birawa.
"Pak, maaf mengganggu, Bu Yuni Bahana ada di sini," desis Bira.
"Usir," gumam Artha cepat.
"Pakai kekerasan atau lemah lembut saja?"
"Tendang saja bokongnya sampai nyusruk keluar jendela," gumam Artha lagi.
"Dia membawa pengacaranya,"
"Ck!" decak Artha kesal. Mengganggu saja! Pikirnya sebal. "Suruh Chandra saja yang temui mereka,"
"Chandra di rumah sakit, Pak,"
"Siapa yang sakit?"
"Mental kita semua, Pak,"
"Hey, kalau itu saya sudah tahu, tapi kan selama ini otak kalian kan sudah berkarang kayak gigi! Sampai dia ke rumah sakit di hari Senin pagi pasti ada alasan kuatnya!"
Bira berdehem. Mana mungkin dia bilang kalau Chandra mengambil sendiri duplikat hasil laporan DNA Stela ke rumah sakit?! Apalagi di depannya sekarang ada si bawel julid sinetron azab ibu tiri.
"Astaga, lama-lama tingkah kalian makin nggak jelas!" gerutu Artha.
Dan terpaksa Artha mengangkat tubuhnya dan berjalan malas-malasan ke luar ruangan. Dia tak mungkin membiarkan Bira yang menemui Yuni, pria asistennya itu memiliki sifat gampang panik, bisa-bisa kencing di tempat kalau dibentak Yuni.
Tapi kalau dipikir selama ini Chandra juga tak pernah bertemu Yuni. Karena dengan Artha urusan cepat selesai.
Jadi, Hari Senin paginya kali ini berubah menjadi suram.
Kecuali Wana bisa membujuknya.
*
*
"Arthaaaaaa!! Apa khabbbuuarrrr? Sehaaata ya kayaknyaaa hadoooh makin ngguuanteng kamooohhh!" jerit Yuni. saat melihat Artha berjalan ke arahnya.
Lalu wanita itu langsung memeluk pinggang Artha.
Dengan sigap, Artha mendorong tubuh Yuni agar melepaskan pelukannya. "Sekali lagi main peluk, aku hitung hal itu sebagai pelecehan seksual," geramnya.
"Ih kamu sensitif amaaaaatttttt!! Kita kan sudah sampai melahirkan Stelaaaaaa!"
"Aku jijik terkontaminasi sper-ma orang lain," kata Artha.
Yuni diam, dan langsung berdehem sambil melirik tiga orang pengacara di belakangnya, lalu berusaha mengalihkan perhatian.
__ADS_1
"Akoooh mau bicara sesuatu, pentttiiiiinggg sekali! Yiuuuk kita ke ruangan yang lebih privaaaat biar lebih rileeeeks ngobrolnyaaaaah!"
"Ya silahkan di sana saja," Artha menunjuk ruang tunggu di depan mereka.
"Itu kaaan ruang tunggu?"
"Iya,"
"Nggak di ruangan kamu ajaaaaaa?? Penting banget loh iniiiiiii,"
"Ruangan kerjaku cuma boleh dimasuki olehku dan CALON ISTRIKU. Yang lain forbidden,"
Yuni diam lagi, kali ini wajahnya langsung ditekuk 100 kali lipatan. Alias, cemberut.
"Pak, perlu disuguhi minum?" tanya Bira.
"Tolong teh cammomile ya!" sahut Yuni.
"Nggak usah suguhi apa pun, nanti saya rugi," jawab Artha cepat.
Yuni memajukan bibirnya, cemberut lagi.
"Baik Pak," hampir saja Bira tersedak karena menahan tawa.
Artha pun duduk di salah satu kursi dan menatap semua tamu dengan tajam. "Jadi tujuan kalian ke sini apa?"
"Jadiiii aku itu sebenarnyaaaaa ..."
"Aku nggak ngomong sama kamu! Ini bapak-bapak ada perlu apa?"potong Artha.
Yuni diam, bibirnya semakin maju.
"Jadi, perkenalkan, saya Harry dari kantor pengacara Harry, SH And Partner. Tujuan kami ke sini adalah ingin mengkonfirmasi adanya ketidak-adilan yang dialami oleh Ibu Yuni Bahana terkait dengan tunjangan yang diputuskan pengadilan. Kami berniat untuk membuka kembali kasus dan mengajukan banding,"
"Hem," gumam Artha.
Tepat saat itu, sebuah pesan singkat sampai ke ponsel Artha.
Dari Chandra.
Laporan DNA dari rumah sakit, dengan cap ASLI tertanggal 20 tahun yang lalu.
Kecocokan 98,8% DNA antara Leo Supradja dengan Stela Bahana.
Si pengacara berbicara panjang lebar mengenai maksud dan tujuannya, namun terdengar seperti angin sepoi di telinga Artha. Tak terdengar kata-katanya, semua terasa bergumam.
Pria itu fokus pada ponselnya.
Beberapa saat ia baca lagi dari atas, kebawah, ke atas lagi, ke bawah lagi, sampai tiga kali.
Bagaikan air suci diguyurkan ke atas kepalanya.
Segar!!
__ADS_1