Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 2


__ADS_3

“Jam 9 malam, bisa Kev?”


Kevin membaca pesan singkat di ponselnya dengan wajah tanpa ekspresi, lalu menghela napas.


Terus terang saja dia sedang ingin bermain dengan teman-temannya. Apex Legend, game online yang saat ini sedang booming sudah memasuki season 11 dengan skin avatar yang lumayan bikin deg-degan. Rencananya malam ini Kevin seharusnya mabar (Main Bareng) dengan teman-temannya.


Tapi, kalau tidak menanggapi isi pesan singkat itu, ia bisa rugi.


“Kali ini berapa?” Ia membalas pesan itu.


"10 juta"


Gede juga nilainya, pasti bukan tante sembarangan. Pikir Kevin.


Karena penasaran Kevin pun bertanya, "Mam, pembagian begini biasanya lo dapet berapa sih?"


“ 40 : 60.”


“Ck,” decak Kevin. Sialan si mami, gue yang diperes tenaganya dia yang cuan. Ya tapi gue nggak perlu capek-capek cari klien sih.


“Gue lagi butuh dana buat dandanin anak baru, dia mintanya pencitraan dulu baru show,” balas si Mami.


“Lah, gue dari awal kayaknya nggak didandanin,”


“Lu sih sudah menjual dari awal, nggak didandanin juga bakal cuan. Kebukti kan mata gue nggak salah. Yang lain 20 : 80, gue rela sama lu 40 : 60,”


Mami yang ia hubungi ini germo tingkat tinggi yang suka menjual para artis untuk dijadikan objek seksual konglomerat hidung belang dan tante sosialita kesepian. Ia mengambil anak-anak muda yang tampangnya lumayan, ia orbitkan jadi artis atau model hingga harga jualnya tinggi.


Kevin cukup mengenalnya dengan panggilan Mami. Mengenai latar belakangnya, ia berharap tidak tahu. Kabarnya si Mami ini salah satu artis lawas, istri crazy rich, pejabat teras, dan kalau mulai terendus ia menggunakan green cardnya untuk tinggal di Amerika berbulan-bulan lari dari penyidik Indonesia, sampai keadaan mereda.


Kevin terus terang belum pernah bertemu dengannya. Transaksi hanya melalui ponsel. Namun para anak buah si Mami kerap menghampirinya jika ada masalah atau keperluan titipan si mami.


“Spik saja lu. Shareloc ya,” balas Kevin akhirnya.


“Iya, 40nya itu 10 juta ya. Sejam saja nggak usah ulur-ulur waktu nanti lo kecapekan sendiri. Dana barusan gue kirim ke rekening lo,”


“Siap,”


“Woy, Kev!! ngapain lu mojok aje di situ?! Lo jadi mabar nggak?” seru Kasep di ujung ruangan.


“Ga jadi, gue ada urusan,”


“Lah! Ini anak bagaimana sih? Kok lu seenaknya begitu?! Nggak bisa dong!!”


“Inget, besok ada ujian percobaan Matematika buat persiapan SMBPTN, gue mau belajar," Kevin meringis sambil keluar dari ruangan.


“Sejak kapan lo belajar, Coeg?! Kecuali lo lagi kesurupan! Cari alasan tuh yang masuk logika!” Omel Kasep.


“Lo semua pakai dah ruangan sampe pagi, gue udah bayar sekalian snacknya, oke?! Bay!” kata Kevin sambil berlalu.


Karena Kevin sudah bilang begitu, yang lain hanya saling lihat sambil berujar : “Asek,” dan melanjutkan aktivitas mabar di salah satu cafe game, tanpa mempertanyakan lebih lanjut.




Tubuh mulus montok itu terkulai puas di ranjang hotel malam ini. Disertai suara dengkuran yang terdengar pelan, Kevin duduk di sebelahnya sambil mengirimkan pesan ke Si Mami.


Done.


Hanya sepatah kata itu.


Enaknya, klien si Mami ini rata-rata wajahnya goodlooking jadi Kevin melayani mereka tanpa eneg. Bahkan yang perawakannya gemuk sekalipun pasti kondisinya wangi dan terawat. Rata-rata mereka memiliki karier yang cemerlang atau suami kaya yang tidak perhatian.


Pemuda berusia 18 tahun seperti Kevin sudah pasti santapan lezat.


Mungkin karena darah seorang gundik mengalir di dirinya, pekerjaan Kevin tidak jauh-jauh dari menjajakan tubuh. Juga sudah takdir dia bertemu Mami saat clubbing di salah satu tempat hiburan malam di daerah Gatot Subroto.


Ia tidak melihat Mami, tapi Mami melihatnya.


Lalu Mami mengutus salah satu anak buahnya untuk mendekati Kevin, dan terjadilah semua.


Bersenang-senang, berfoya-foya, gaya hidup hedon.


Impian semua anak muda.


Dan tentunya, kepuasan seksual.


Kevin tidak bisa menghamburkan uangnya dengan mencolok karena akan jadi banyak pertanyaan terlontar di mulut ibunya.

__ADS_1


Sebagian kecil ia hamburkan untuk merawat tunggangannya, traktiran teman-temannya, makanan mahal dan fashion.


Ia tentu juga harus merawat diri dengan langganan di gym terkenal di dalam mall kawasan Sudirman. Sisanya ia gunakan untuk pembayaran sekolah, dengan berdalih ke ibunya kalau ia mendapatkan beasiswa. Padahal sih tidak, ia cukup payah dalam pelajaran.


Kecuali komputer.


Ia sangat tergila-gila dengan coding dan game. Kamarnya penuh dengan hal itu. Uangnya sebagian besar digunakan untuk hardware tercanggih dan software terbaru. Kalau di depan komputernya, ia bisa streaming berjam-jam sampai melupakan semua aktivitas lain termasuk makan dan ke toilet. Atau sekedar membuat podcast remeh di tiktok dan memancing bitcoin.


Kevin bermimpi menjadi programer, bekerja di perusahaan bonafit di bidang teknologi atau memasuki ranah metaverse.


Jadi, setelah menunaikan tugasnya dan si tante tidur dengan senyum puas tersungging, Kevin searching VGA terbaru untuk dipasang di PCnya. Ia butuh untuk upload skin baru di Apex legend atau Valorant (Game yang sedang booming saat ini), kepentingan streaming, biasa, Hehe.


Ia akan membeli beberapa alat dari hasil bisnis haramnya kali ini.


Tiba-tiba, iklan game di salah satu platform menampilkan brand anime baru. Cukup seksi dan menggairahkan.


Seperti layaknya anak muda yang masih labil, melihat dada besar walaupun bentuknya 2D, Kevin ‘On’ lagi.


Dan ia melirik ke sebelahnya.


Yah, si tante nyenyak banget tidurnya! Keluh Kevin.


Tapi ia harus menyalurkan hasrat.


Jadi ia guncangkan tubuh mulus si Tante, dan berbisik. “Tante, mau sekali lagi nggak? Servis sesi kedua gratis, deh,” rayu Kevin




Saat istirahat siang, Kevin dipanggil ke ruang kepala sekolah.


Dengan langkah gontai dia menyeret kakinya menyusuri lorong sekolah menuju ke ruang kepala sekolah.


Kevin pun menghela napas panjang, dan mengetuk ruangan itu.


“Masuk,” sebuah suara bening yang ia kenal. Ibu Kepala Sekolah.


“Permisi, Bu Ida,” Kevin dengan hati-hati membuka pintunya dan melongok ke dalam.


Ida sudah menanti cowok itu dengan kedua tangan tersilang di depan dadanya, dan wajah sinis. “Dasar trouble maker,” desisnya.


"Dasar biang kerok! Tahu nggak sih kamu itu sebentar lagi lulus! Sebulan lagi!! Dan kamu siswa unggulan! Kalau begini kamu bisa di skors!" Bu Ida langsung naik pitam.


Kevin hanya diam berdiri dan bersandar di meja. Pegal, harusnya semalam nggak usah kebanyakan gaya. Pikirnya.


Malah gagal fokus.


"Coba saya tanya sekarang, apa gunanya kamu ikut tawuran, hah?!" seru Bu Ida emosi.


Kevin hanya diam. Karena jelas tidak ada gunanya. Itu hanya sekedar rasa kesetiakawanan dengan cara yang jelas-jelas salah. Toh, Kevin sudah minta mundur tapi teman-temannya tak mengizinkan.


"Kevin, jawab!!" teriak Bu Ida.


"Hm, maaf Bu," hanya itu gumaman Kevin, tanpa melihat ke arah Bu Ida. Karena takut menguap. Ia lagi ngantuk-ngantuknya karena pulang malam.


"Sekarang jawab, harus saya apakan kamu, hah?!"




Tok


Tok


Tok


“Permisi,” beberapa siswi dengan lambang Rohis di lengan mereka mengetuk ruangan Kepala Sekolah sambil membawa beberapa proposal pengajuan acara keagamaan.


Tidak ada sahutan dari dalam,


“Coba buka pintunya?”


“Ah, takut gue. Siapa tahu memang Bu Ida nggak ada di dalam,”


“Tapi tadi dia minta dibawain proposalnya buat dia baca,”


“Masih makan siang, kali,”

__ADS_1


Salah satu anak menurunkan gagang pintu.


Terkunci,


“Tuh kan belum balik maksi,” kata salah satu siswi.


“Sudah yuk, nanti saja balik lagi jam istirahat kedua,”


Dan mereka pun berlalu dari sana.


Tanpa mereka sadari, sebenarnya memang ada orang di dalam ruangan itu.


"Kev... " tubuh dengan peluh menggeliat berusaha menyeimbangkan posisi berdiri, wanita itu menopang beban dengan bertumpu pada meja kerja di depannya. Membungkuk dan mengangkat pinggulnya.


"Kevin, pelan-pelan ..." Engah Bu Ida saat Kevin mulai bergerak semakin cepat. Bu Ida takut suara mereka terdengar keluar ruangan.


Bukannya Kevin bernaf-su, ia hanya ingin menyelesaikan semua lebih cepat karena ia sendiri sudah lapar. Ini jam 1 siang, dari semalam dia belum makan. Dan bel masuk kelas sudah berbunyi.


Lalu dengan beberapa hentakan lagi, ia mencabut tubuhnya dan mengeluarkan cairannya di atas area bokong Bu Ida.


Bu Ida langsung terjongkok ke lantai karena sangat letih.


"Ada makanan nggak Bu?" tanya Kevin sambil mengenakan lagi celana putih abu-abunya. Bu Ida hanya mampu menunjuk sebuah meja, tempat berbagai macam snack terhidang.


Kevin menyambar beberapa bungkus arem-arem dan sebuah pisang sunpride,


"Jadi saya dimaafkan ya Bu Ida?" tanya Kevin sambil tersenyum jahil dan membuka kulit pisangnya.


"Terserah kamu lah," Bu Ida berusaha berdiri namun ia limbung.


Kevin menangkapnya dan membantunya berdiri.


Tangan Bu Ida mencubit pipi Kevin dengan gemas, "Tapi kalau sampai kamu ketahuan tawuran lagi, kamu akan di skors dan kredit nilai kamu akan dikurangi. Surat langsung ditujukan ke Ibu kamu,"


"Jangan dong, Sayang. Kemarin kan nggak jadi tawuran, Polisi keburu dateng," rayu Kevin.


"Ya makanya lain kali jangan ikut-ikutan,"


"Menghindari yang begituan nggak segampang yang diucapkan," Kevin mengecup ringan bibir Bu Ida.


Bu Ida meraih tangan Kevin dan menatap cowok itu dengan serius, "Kali ini saya serius, hindari hal-hal yang berbahaya. Kalau siswa unggulan seperti kamu ketahuan tawuran seperri kemarin, bukan hanya nama baik sekolah ini yang tercoreng, saya dipermalukan dewan sekolah, tapi juga beasiswa kamu ke Universitas Negeri akan hangus. Pemerintah sudah menganggap tawuran sebagai bentuk kriminal, mereka tidak pandang bulu memberantas!"


Kevin menghela napas, "Oke, saya coba jauhi, asal Bu Ida nggak bilang apa pun ke ibu saya,"


Lalu sambil mengerlingkan mata, cowok itu keluar dari ruangan kepala sekolah.




"Lo dipanggil Bu Ida?" Kasep menatap Kevin dengan cemas.


"Lo sih, gue jadi yang kena. Beasiswa gue bisa hangus!" gerutu Kevin.


"Gue juga dapet surat peringatan nih nggak bisa ikut SMBPTN kalau sekali lagi ikutan tawuran, serah terima jabatan aja kali ya," ujar Kasep.


"Ya emang bukan porsi kita lagi ikutan begituan! Kan gue bilang gue mau mundur!"


"Lagak lo bilang mau mundur, Katana lo berkilauan tandanya lo udah niat pas masukin tuh benda ke tas lo tadi pagi,"


Kevin terkekeh, Kasep sepenuhnya benar, "Tau aja lo Jancoeg, hehe,"


Lalu sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Kevin.


"Nanti malam di Club Bluemoon ada acara ulangtahun Artis kondang, lu dateng ya buat layanin Klien," pesan singkat dari Mami.


"Siapa artisnya?" balas Kevin.


"Dewi Tunggullangit,"


"Namanya kayak dukun, sapa tuh?"


"Hoy! Serius lu gak kenal Dewi Tunggullangit!"


"Gak,"


"Udahlah percuma juga gue kasih tau lo! Lu dateng ya, sekalian karaoke, yang ini istri pengusaha lagi sering ribut sama suaminya. Layanin dia sebaik mungkin, lo dengerin aja curhatannya. 20 juta per dua jam,"


"Woooo, asik!" balas Kevin dengan wajah langsung sumringah. "Shareloc Mam!"

__ADS_1


__ADS_2