
Sambil menghabiskan eskrimnya, Wana menghela napas dengan kencang saat ia sudah berada di dalam mobil supercar Artha menuju ke pameran wedding.
Artha sampai harus menoleh ke arah gadis itu berkali-kali karena kuatir.
"Hey, kenapa lagi sih kamu?" Artha mengelus kepala Wana dengan sayang.
Wana tertegun.
Elusan dikepala, sepertinya jauh lebih ia sukai dibanding cium pipi atau bibir. Lebih terasa perhatiannya.
"Hem...," gumam Wana. Untuk membalas elusan Artha, Ia menangkap tangan Artha dan menyelipkan jemari kurusnya ke sela-sela jemari Artha.
Lalu bersandar di bahu pria itu.
Gadis itu bisa merasakan kalau Artha menegakkan tubuhnya karena gugup. Mungkin pria itu juga tidak biasa mendapat perlakuan manja. Mereka sama-sama tidak terbiasa. Tapi karena Wana menyukainya, jadi gadis itu reflek saja melakukannya.
"Perutku sakit," gumam Wana sambil mempererat pelukannya.
"Makanya jangan kepedesan indomienya," Artha meremas sayang jemari Wana.
Hanya terdengar helaan napas Wana.
Lalu gadis itu mengangkat wajahnya ke arah dagu Artha. "Minta cium,"
Desiran hasrat langsung menyerang Artha.
Ia menyukai sikap manja Wana.
Sangat menyukainya malah.
Saat berhenti di lampu merah, pria itu mengecup bibir Wana sekilas. Wana terkekeh senang.
"Ternyata ciuman itu enak ya, bikin nagih. Bisa memperbaiki suasana hati," gumam gadis itu sambil kembali menyandarkan kepalanya di bahu Artha. Kini kedua tangannya memeluk lengan Artha dengan erat. "Tapi aku lebih suka kamu mengelus kepalaku,"
"Hehe," Artha tak tahu harus bicara apa. Karena hal-hal mesum langsung berada di benak pria itu. Tapi ia harus menahannya mati-matian sampai saatnya Wana siap. "Kalau dilakukan dengan orang yang tepat memang bikin kecanduan. Kalau elus kepala, kita kayak ayah-anak,"
"Bagaimana dengan s-eks?" pertanyaan random lain dari Wana. Dan jawabannya sudah pasti sulit.
"Ada apa dengan itu?" Artha bertanya balik.
"Iya, apakah seenak ciuman?"
"Aku harus jawab sekarang nih?"
"Hem, apa itu akan jadi beban kamu?"
"Sudah pasti. Pikiranku akan terganggu ke arah situ. Aku laki-laki normal,"
"Kalau begitu tak usah dijawab, biar kurasakan sendiri," kata Wana akhirnya.
"Hehe," Artha setuju, syukurlah, pikirnya.
"Cium lagi, dong," pinta Wana.
"Kayaknya jangan sekarang,"
"Eh? Kenapa?"
Artha menelan ludah, "Aku tak yakin bisa menahan diriku untuk tidak melakukan hal-hal terlarang padamu,"
Wana pun perlahan menjauh mepet jendela, "Oke," gumamnya langsung waspada.
Mudah sekali membuat laki-laki lupa diri, ternyata.
"Wana,"
__ADS_1
"Ya?"
"Jangan menjauh, peluk lagi,"
Wana terkekeh sambil kembali memeluk Artha.
Pria itu mengecup dahi Wana.
Perjalanan mereka ke pameran wedding kini tidak terasa dipaksakan.
Mungkin memang sudah saatnya mereka berumah tangga.
*
*
(Untuk adegan berikut ini mohon pembaca mengaktifkan mode 'Sinetron Ala Channel Ikan Terbang,' hiperbolisnya harus totalitas).
Sementara itu,
"APAAAAAA???" Ibu Stela, Yuni Bahana , membelalakkan matanya dengan kaget saat menerima telepon dari anak semata wayangnya, Stela Bahana.
(Mereka selalu Mem-Bahana soalnya.)
"Kamu bilang apa, Stela?! Papa punya pacar dan pacarnya adalah teman kamu??!"
"Eeeh iya sih mah," Stela mengernyit karena suara ibunya super duper cempreng bikin sakit telinga. Ia bahkan harus menjauhkan ponselnya beberapa jengkal karena suaranya langsung seperti microphone rusak.
Ngiiiiiing, begitulah bunyinya. (Kakinya bertanduk, hewan apa namanya?)
"Jadi ada pelakor di antara kita?!" Sembur Yuni.
"Hah? Pelakor mah? Memang Papa sudah menikah dengan mama?"
"Tampaknya Papa juga tidak menganggapku anak,"
"Tetap saja, judulnya dia merebut Papa dari kita!"
"Mama juga banyak pacarnya, kok," gumam Stela.
"APA KAMU BILANG?! Kamu mau melawan Mama?!"
"Eeeh, nggak Maaaah, ampuuuun," gumam Stela malas-malasan.
"Sekarang gini, Stela! Kamu ke kantor Papa! Tanyakan semua sejelas-jelasnya!!"
"Iya nggak usah teriak-teriak," gerutu Stela, lama-lama ponselnya ngefreeze karena shock dengar suara kayak pakai toa. "Iya aku ke kantor Papa buat tanyain dia, tapi mah kalau dia nggak berkenan sama aku dan aku ada salah-salah kata, katanya tunjangan mama akan dihentikan dan aku harus tinggal sama dia buat belajar bisnis,"
"AWWPAAAAA??!" jerit Yuni histeris. "Bagaimana dengan arisan berlianku?! Butikku?! Bisnis Jastip Tas Branded-koooooh??!"
"Buset dah, kuping gue langsung minus..." gerutu Stela (nggak cuma mata yang bisa minus, ini cuma khusus telinganya Stela ya pembaca.)
"Ini tidddacck bisa dibiarkan!! Stela, kamu juga haaaaaaarus cari tahu tentang si Pelakor ITOOOHH!!"
"Baik ibunda," jawab Stela malas.
"Suruh saja si Risman dan Feri cari inpoh! Kamu temui Papa!!" Jerit Yuni.
"Baik Kanjeng Gusti Ratu,"
"Jangan lupah besok bayar sewa Birkin kamohhh! Kalo telat dendanya gede!!"
"Iyaaaaa Yang Mulia Permaisuri , besok jatuh tempo sewa tasnya dibayar," gumam Stela.
"Ya Sudah sanahh!! Mamah mau lanjut Yogahh!!"
__ADS_1
Dan ditutup lah sambungan teleponnya.
Stela menghembuskan napas ke atas sampai poninya tersingkap, lalu kembali ngemut lolipopnya.
Dia langsung badmood. Kenapa jadi malah dia yang harus cari-cari info? Kan jadinya kerja dobel! Harusnya dia diam-diam saja nggak kasih tau mamanya.
"Jadi?" tanya Risman ke Stela.
"Ya lo denger sendiri Raden Roro ngomong apa tadi. Nggak mungkin nggak denger, hape gue sampe nging nging begitu," (Tidak, Mamanya Stela bukan keturunan keraton, tapi tingkahnya memang ngalah-ngalahin tokoh Ibu Suri yang keukeuh anaknya harus jadi Raja sehingga terjadilah kudeta di dalam lingkungan Kerajaan. Semacam itu).
"Ya udah, kita ke Opal Grup. Nanti lo ke kantor ketemu Pak Artha, gue ke Om Leo cari info. Oke?"
Risman ternyata adalah keponakan Leo. Ingat Leo kan? Wakil Direktur Opal Grup yang gemar tali temali dan naksir Wana? Hehe.
*
*
Tips 10 : Cara kencan dengan Pria yang lebih tua agar tidak di cap Sugar Baby.
Tidak mungkin.
Maksudnya, Ya pasti pertamanya di cap Baby dulu. Tapi ada hal-hal untuk menimimalisir dugaan itu.
Trik :
Kalau bisa, Si Om disemir rambutnya jadi hitam. Tapi kalau hal itu membuatnya jadi nggak ganteng lagi, ya jangan panggil beliau pake 'Sayang'. Panggil aja pake 'Dad'.
Nggak usah ngobrol hal mesra kalo di tempat umum. Seperti : Aaw Daddy, makasih tas mehongnyaaa, (cipika cipiki). Jangan!
Usahakan jalan berdampingan nggak pegangan tangan, kalau perlu kamu agak jalan di belakang dikit, anggap aja dia Komandan dan kamu Kopral.
Pilih restoran yang menghargai privasi. Kan pingin juga bertatapan mata mesra sambil menikmati cake, kan? Jangan ke warung nasi padang, yang ada kamu makan sambil keringetan. Walopun mas-mas warungnya juga sebodo amat sih dengan status kalian.
Kalau kalian sudah menikah dan mau iseng kencan di luar, bikin Kaos kopel yang sablonnya Lembar pertama Buku Nikah, yang ada fotonya itu loh. Norak? Ya iya lah, kan biar heboh se mall.
Dari semua itu, paling gampang sih nggak usah pacaran di tempat umum lah yaaa.
__ADS_1