
Wana menggeser tangan nakal yang tadinya di pinggulnya malah jadi melipir agak ke belakang.
Tapi tangan itu bergeser lagi ke belakang.
Lalu tanpa menyerah Wana geser lagi ke pinggul.
Tapi tangan itu malah ke atas.
Jadi, Wana akhirnya mencubit pinggang si Om, cubitan kecil sepedas seblak level 15.
"Ow!" Gumam Artha kesakitan sambil meringis.
"Sekali lagi, injek kaki," bisik Wana mengancam.
"Kamu galak banget, aku suka," gumam Artha di telinga Wana.
Wana terpekik kaget, "Ternyata ini kamu yang sebenarnya dibalik kejudesan itu? Mesum begini? Ih! Ini tangan kondisikan dong!" Wana kembali mencubit jemari Artha yang merayap ke dadanya.
"Wajarnya si sayang ya begini,"
"Tau gitu aku nggak minta dipanggil sayang! Mulai sekarang ganti aja jadi Pak Boss!"
"Terserah kamu aja mau panggil aku apa, yang penting tiap hari kamu ke ruanganku,"
"Om sejak kapan punya dua kepribadian?!"
"Sejak kenal kamu, tanya dua herder di depanku ini,"
"Ehem!" dehem Chandra yang berdiri di depan.
"Ohok ohok ohok!! Banyak debu ya broooo!" Seru Birawa sambil pura-pura mengibaskan tangannya ke depan hidung.
"Minum obat batuk sana," gumam Artha cuek sambil merapatkan tubuhnya ke Wana.
Wana susah payah mendorong Artha supaya menjauh.
"Kenapa sih kamu dingin banget?" Keluh Artha.
"Gara-gara siapa coba hah?! Dasar pelit! Pegang dada 50 juta, pegang pantat 100juta! Lunas langsung hutangku, cao dari sini!" seru Wana sambil mendorong dada Artha supaya agak menjauh.
"Yah, curang deh. Kalau kamu punya pengalaman kerja, nanti kan pas sudah lulus kuliah kamu nggak perlu susah-susah lagi ngelamar, langsung diterima di kantor ini loh,"
"Ya tapi nggak jadi OG jugaaaaa Om sayaaaaanggg!!" Wana kembali mencubit lengan Artha.
"Loh, itu kan permintaan Nirmala. Sana protes ke dia,"
"Ih bawa-bawa kakak!"
"Aku sih seneng-seneng aja, jadi ada alasan biar kamu masuk ruanganku sesering mungkin,"
"Awas kamu macem-macem! Kucukur jenggotnya!" gerutu Wana.
"Bisa-bisa keberuntungan langsung terbang. Naganya lengser jadi cuma 11," gumam Chandra.
"Nguping terus kerjanya," gerutu Artha.
Ya gimana nggak kedengeran coba?! Di dalam lift mesra-mesraan, kecuali liftnya 200m2.
*
*
"Anjirr, ni ruangan kantor apa kandang kambing? Ambyar!!" desis Wana sambil menatap pemandangan di depannya dengan terkesima.
__ADS_1
Masalahnya, berantakannya nggak tanggung-tanggung.
Semua tumplek. Tumpah ruah sampai nggak keliatan lantainya pakai semen apa granit.
"Hehehehehehehe," desis ketiga pria di sana.
"Katanya Mas Chandra bersihin, dobel job!"
"Yah, saya cuma bisa bersihin pintu doang mbak, habisnya ngelirik aja udah males rasanya. Punggung langsung otomatis pegel Mbak,"
"Sejak kapan begini?!"
"Sejak kapan ya?" tanya Artha ke kedua asistennya.
"Sejak mantan pacar punya pacar baru, Pak," jawab Bira.
"Jadi udah sekitar 5-6 tahun yang lalu ya," desis Artha.
"Bisa jadi, Pak. Saya juga lupa. Mungkin aja di bawah sana ada mayat salah satu karyawan kita udah jadi mumi,"
"Hm,"
"Hm,"
"Jadi ini sebabnya nggak boleh ada yang masuk ke ruangan?!" seru Wana panik.
"Begitulah," jawab ketiganya berbarengan.
"Ya Ampun, ternyata Om jenis suami yang kalo habis mandi handuk dilempar ke kasur, nggak digantung di jemuran," Wana mengusap mukanya tanda langsung frustasi.
"Iya, dia jenis yang kalo ambil baju langsung tarik, ngga diangkat bawahnya," timpal Chandra.
"Atau kalo habis makan, piringnya dibiarin aja di meja makan, nggak ditaroh ke bak cucian piring," tambah Bira
"Dia pernah tandatangan kontrak penting sambil merokok, terus bara apinya jatoh ke kontrak. Untung kontraknya punya Yudha Mas yang ownernya udah paham kesablengan si gondrong,"
"Sudahlah, toh kalian bertahan juga sama saya lebih dari 15 tahun,"
"Itu karena gaji di sini gede Pak," desis Chandra dan Bira berbarengan.
"Itu karena kalian terlalu songong buat direkrut perusahaan lain,"
Chandra dan Bira menyeringai berbarengan.
"Aku mana bisa bersih-bersih sendirian?! Bisa remuk ini pinggang!" desis Wana. "Ini tumpukan kertas tingginya sampai betisku!!"
"Alon-alon asal kelakon Mbak," (pelan-pelan tapi progress maksudnya).
"Ini dikerjain alon-alon bisa selesai pas tahun baru kali!!"
"Eheheh, pokoknyaaaa, selamat mengerjakan," Chandra mundur teratur selangkah.
"Kami harus mengerjakan proyek penting," Bira mundur dua langkah.
"Aku juga harus meeting," Artha tanpa ragu langsung melenggang keluar ruangan.
"Gudluck, banyak minum ya mbak, dispenser di ujung sana, jangan kuatir airnya Fiji kok," Chandra kabur keluar.
"Kalau serasa nggak kuat, telpon saja Bu Viola, biasanya HRD sedia minyak angin. Hehehehe," Bira ikut kabur.
"Woy!! Dasar kampret semua!" Seru Wana kesal.
*
__ADS_1
*
Sekitar 2 jam kemudian,
Chandra berdiri di depan pintu ruangan Artha sambil mengusap dagunya. Ia tampak bimbang.
Artha dan Bira yang baru saja selesai meeting menghampirinya.
"Kenapa kamu?" tanya Artha.
"Hem, Pak?" Chandra menatapnya dengan kuatir. "Kok saya kuatir ya mau buka pintu,"
"Kenapa?"
"Itu, dari tadi kan Mbak Wana di dalam. Apa perlu kita panggil ambulance dulu sebelum buka pintunya?!"
Wajah Artha langsung tegang.
"Kamu jangan nakut-nakutin,"
"Yah habis, dia kan diserahi tugas yang kita semua nggak mampu menangani, Pak!" desis Chandra.
"Oke gue panggil ambulance," jawab Bira cepat.
"Jangan dulu nanti bikin heboh! Nama baik saya dipertaruhkan di sini!" cegah Artha
"Lagian Bapak kenapa nggak panggil jasa ART aja sih? Itu pacar Bapak sendiri loh!"
"Masalahnya nggak ada yang saya percaya kecuali Wana! Apalagi dia termasuk tahan banting!"
"Emang udah pernah ngebanting dia? kok tahu dia tahan banting?!"
"Ya belum sih, soon as posible," Artha menyeringai.
"Elah, punya pacar cuma buat dibanting-banting," sindir Chandra.
"Lipet-lipet sekalian," tambah Bira.
"Udah buka aja pintunya Chan, siapa tahu masih bisa diselamatkan. Satu dua tarikan napas bisa lah pake CPR," desis Bira.
"Yang CPR-in siapa?! Kalo Pak Arthha bisa-bisa jenggotnya ketelen malah keselek,"
"Keselek ya artinya sadar lah," gumam Artha.
Kedua asistennya menatap Artha dengan memicingkan mata, menyerangnya dengan pandangan menyalahkan.
"Oke, gue buka. Bismillah,"
Daaaannn...
Jreeeng!!
Wana duduk di sofa panjang sambil makan ciki dan santai nonton netflix sambil cekikikan.
Wajah sumringahnya menatap ketiga pria yang tertegun di depan pintu. "Hai Bapack-bapack nggak tau diri, kerjaan aku udah beres yaaa,"
Artha, Chandra dan Birawa, melongo melihat ruangan itu sudah rapi. Kinclong, ngebling, cling dan glowing.
"Astaga, lantainya ternyata warnanya samaan sama batu akiknya Pak Ramli, hijau gradasi," Gumam Bira takjud.
"Itu dokumen aku simpan di kabinet ya, berdasarkan tanggal dan nama perusahaan. Sortir sendiri ya," desis Wana sambil menunjuk lemari kayu jati dengan dagunya.
Semua menoleh dan terlihatlah jajaran bantex berbagai warna yang apik tersusun rapi.
__ADS_1
"Mbak Wana mau jadi istri saya aja nggak?! Saya orangnya nggak sejorok bapak kok!" Sahut Chandra.
"Heh, semprul!" Artha menggeplak bahu Chandra dengan kesal.