
Maka Kevin pun berpisah (sementara) dari Nirmala.
Langkah pertama Kevin?
Lulus ujian, yang pasti.
Peran agen-agen sosialisasi sangat diperlukan keberadaannya sebagai jembatan dari sistem aturan yang telah menjadi kesepakatan bersama (konsensus), hal ini akan mengakibatkan tercapainya, kecuali ….
Kevin mengernyit.
Pilihan a,b,c,d,e kayaknya bener semua.
Susah, skip!
Sabri masih berusia 5 tahun, dia mulai menirukan berbagai macam peran orang dewasa disekitarnya. Sabri mulai menyadari namanya, nama orang tuanya dan orang terdekatnya dan sudah mengenal lingkungan kecilnya. Proses sosialisasi yang dilakukan oleh Sabri jika dihubungkan dengan pemikiran George Herbert Mead termasuk kedalam proses sosialisasi…
Kevin pun mengernyit lagi, kali ini extra memicingkan mata.
Hah? George itu siapa? Hubungannya sama Sabri apa? Omnya? Tetangganya? Lagipula anak 5 tahun bukannya wajar ya mulai belajar kenal lingkungannya?
Susah! Ribet! Skip,
Seorang kepala keluarga yang belum mampu memberi nafkah kepada keluarganya akan merasa sebagai kepala keluarga yang tidak bertanggung jawab. Demikian pula guru, yang melihat siswanya gagal dalam ujian akan merasa gagal dalam mendidik anak tersebut. Kasus tersebut merupakan klasifikasi nilai ….
Kevin mencebik, lalu ia pun menyatukan kedua tangannya, dan memejamkan matanya, berdoa memohon keajaiban.
Bapa di Surga, tolonglah hambaMu yang tersesat ini. Aku janji berhenti merokok dan tawuran. Tapi yang lain-lain nggak janji. Amen.
Dan dengan memejamkan mata ia pun mengisi soal ujian yang di matanya terlihat sama semua.
Dan Pembaca,
Apa kabar? Semoga sehat semua.
Seperti biasa, siang ini setelah ujian pertama selesai,
Kevin, sang idola kita ... Tidur kecapekan.
Ia tidur di koridor sekolah, posisi miring dan meringkuk, dengan kepala disangga tas.
Orang-orang yang ingin mengucapkan belasungkawa jadi urung karena tidurnya benar-benar nyenyak. Pakai mendengkur seksi. (Pas ngorok aja dia seksi, apalagi pas mulutnya ternganga. Kecoa aja nggak tega masuk).
Bu Ida, sang Kepsek, sudah maklum karena ujian pertama adalah Sosiologi. Apalagi di jam kedua nanti adalah Bahasa Indonesia. Keduanya benar-benar kelemahan Kevin. Sudah pasti dia tepar.
Sementara Kasep, yang mana adalah pakar di dua ujian kali ini, dengan mengenakan kacamata hitam seharga 5000an ia beli di pasar malam dekat kompleknya, duduk di sebelah Kevin sambil menyeruput kacang ijo kotakan dan makan roti isi daging.
Wajahnya penuh percaya diri.
"Soalnya gampil," dengusnya meremehkan.
"Sok pinter," gerutu Agus yang ngemil kuaci. "Lo pilih kampus apa sih Sep?"
"UI lah, apa lagi,"
"Kalo nggak berhasil gimana?"
"Ya masih ada SBMPTN, ikut ujian lagi,"
"Sombong," gerutu Agus.
"Laah..." balas Kasep sambil cengengesan. "Tadi lo milih jawaban pasti ngitung kancing kan?"
"Ya nggak dooong, gue ada cara yang lebih elegan. Gue baca surah pendek, perkata berhenti di huruf yang mana. Misal : Qul a'ụżu birabbin-nās, jadi pilih c,"
"Njir, ide lo mind blowing, semprul kuadrat!"
"Praktekin pas matematika besok,"
"Go-blok lu pada," gerutu Kevin yang terbangun karena ucapan ala pakarnya Agus. Sepertinya dia lagi mangkel, begitu masuk sekolah sudah harus ujian. "Kenapa sih sekolah kita harus jadi ujicoba kurikulum baru?! kan gue jadi ketemu ilmu sosiaaaaal! Otak gue nih otak IPA! Logika! Huh!" keluh Kevin.
"Bangun! Makan sana! Ngelantur melulu kerjanya, kalo lo pingsan gara-gara kelaperan, nggak bisa masuk ITB lo!" Kasep menendang betis Kevin.
"Padahal udah 'dikasih' sama Tante Nir, masih kesel aja..." kata Agus.
"Gue putus," gumam Kevin.
Kasep dan Agus langsung lihat-lihatan, "Cuy, nomer telpon Tante Nir berapa?" bisik Agus dan Kasep hampir berbarengan.
"Bang-sat," gerutu Kevin berguling membelakangi mereka, ceritanya ngambek.
"Kok bisa sih? perasaan kemarin hot banget," tanya Kasep.
"Gue minta dia jadi bini gue, dia bilang maunya cowok mapan, gue harus punya gaji 30 juta dulu baru nembak lagi,"
"Kapan lo punya gaji 30 juta? Keburu Imam Mahdi muncul, kali," kata Agus
"Katanya dia bakalan nungguin gue, sekarang gue dilarang hubungin dia. Ya gue ngerti dia ada trauma sama mantan suaminya, jadi sekarang nggak percaya sama cowok,"
"Nggak percaya sama lu, kaleee. Masih kinyis-kinyis begini nekat ngelamar. Yang ada dia hidupin lu, bukan lu yang ngasih nafkah!" sindir Kasep.
"Lu tuh kalo nyindir suka bener, tapi makjleb ya!" gerutu Kevin.
"Kevin?" Marisa, Si Ketos, menoel pipi Kevin dengan jari berkuku panjangnya, yang kalau jabatannya bukan Ketos pasti dia sudah dipanggil guru BK karena dandanannya yang berlebihan. Untung aja dia masuk 5 besar peringkat sekolah terus terusan.
__ADS_1
"Apa, cantik?" gumam Kevin malas-malasan.
"Gimana keadaan lo?"
"Mau mati rasanya, muter pala gue,"
"Lo pasti sedih banget ya,"
"Rasanya pingin gue bakar komputernya,"
"Apa hubungan komputer sama meninggalnya nyokap lo?"
Kevin menyeringai, "Oh, masalah itu. Gue pikir lo lagi bahas soal ujian,"
"Lo nggak sedih? Itu kan nyokap lo,"
"Ya sedih laaah," Kevin terduduk, "Tapi beliau pingin gue relain. Jadi yah, walopun maksa beginilah keadaan gue,"
"Mau gue hibur dengan cara apa?" Marisa tersenyum simpul.
Kasep dan Agus saling lirik, curiga.
Kevin tersenyum lembut. "Gue udah janji ke beliau untuk hidup dengan baik dan bahagia, jadi kayaknya tawaran lo terpaksa gue tolak,"
"Kita bisa mulai dengan pacaran, Kev,"
Kevin menaikkan alisnya, "Ogah, ntar gue dibantai Sugar Daddy lo,"
"Ih, dari mana lo tahu gue punya bekingan, sih?"
"Gue kan hidup di dunia itu,"
"Hooo, jadiii... Selama ini lo tuh, Hm," Marisa mendengus.
"Hehe," Kevin menyeringai penuh arti.
"Pantes permainan lo pro banget, Kev,"
"Makasih,"
"Ternyata mereka sama-sama penjahat," bisik Agus ke Kasep.
"Kebayang nggak kalo ada di satu scene, pasti judulnya cewek binal dan cowok fakboi bikin ranjang ambruk," bisik Kasep ke Agus.
"Nggak heran kalo masa depan tiba-tiba mereka punya lencana FBI,"
"FBI? Fakboi Binal Investigation?"
"Terus aja ngomongin gue," sindir Kevin.
"Kalo gitu, gue bisa bantu apa nih, special lah buat teman," desis Marisa.
"Hem, gue butuh pekerjaan," desis Kevin.
"Pekerjaan yaaa, nggak kuliah dulu?"
"Kerja dulu, kuliah bisa disambi,"
"Gue hubungi Om gue ya. Dia kerja di Amethys Tech. Bidangnya di e-commerce, aplikasi, software, design, bla bla semacam itu,"
Mata Kevin langsung berbinar.
"Kirim portfolio lu ke email gue, mau itu game, desain, software kecil-kecilan, boleh lah," Marisa menaikkan bahunya sambil mengerling ke Kevin.
"Nggak ada syarat dari lo kan?!" desis Kevin mewanti-wanti.
"Nggak ada, karena kayaknya lo lagi jatuh cinta. Gue sangsi lo berhenti 'ewita' cuma karena nyokap lo. Pasti ada hal lain dibalik itu," Marisa menyibakkan rambutnya dan pergi dari sana.
"Tahu aja deh dia, jangan ngeremehin insting cewek dah," gumam Kevin.
"Lo pernah punya hubungan apa sih sama Ketos?" tanya Agus pinisirin.
"Makan somay dulu ah," desis Kevin sambil beranjak, mengacuhkan pertanyaan Agus.
"Kuy, gue traktir," kata Kasep.
"Tumben,"
"Lagi ngerasa berdosa karena soal ujian tadi gampang,"
"Takabur,"
*
*
Hari itu, Kevin pulang ke rumah dan menyadari kalau ia benar-benar sendirian.
Rak kaca ibunya yang biasa dipakai untuk display lauk pauk warteg ada di sudut garasi, dengan kompor dan berbagai piring gelas.
Lalu, saat memutar kunci dan membuka pintu yang ada hanyalah keheningan. Sepi tanpa kehidupan, dan berbau lembab tanpa ada bau masakan.
Dapur yang biasanya menjadi 'kantor' ibunya, hanya terdengar suara tetesan air dari kran. Sinar matahari menyinari area itu dari atap yang dilapisi kaca.
__ADS_1
Kevin menatap sekelilingnya dan berpikir. Ia kini sendirian, ia yang harus mengurus semuanya. Apa yang perlu ia lakukan pertama?
Ini tanggal berapa?
Hampir akhir bulan, tabungannya tinggal 4,5juta. Berapa biaya listrik, air dan internet. Gas masih ada tidak? Air galon? Apa saja yang harus ia bayar selanjutnya... BPJS?
4,5juta tahan untuk berapa bulan di Jakarta Timur? Untung saja sekolahnya gratis. Tapi untuk makan sehari- hari bagaimana? Bensin motor? Sembako?
Yang paling besar adalah biaya sewa rumah, pertahunnya 15 juta. Ibu biasa menyisihkan per bulan agar tidak terlalu berat katanya.
Berapa nomor Pak Ilyas pemilik rumah?
Kevin menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Ini sih tabungannya hanya bisa bertahan 2 bulan, bisa jadi kurang dari itu.
Kevin harus mencari pekerjaan dalam waktu kurang dari sebulan.
Lalu pemuda itu masuk ke kamar ibunya. Masih sama seperti terakhir Kevin tinggalkan saat tidur di sana, tidak ada yang membereskan. Gulingnya masih tergeletak dan selimutnya berantakan.
Kevin membereskan sebisanya.
Lalu ia membuka lemari ibunya, dan memutar kunci laci lemari.
Ada kotak perhiasan, isinya gelang dan berbagai cincin emas.
"Maaf bu, harus aku jual," gumam Kevin sedih.
Lalu ia mengangkat sebuah cincin kawin yang ukurannya lebih besar dari jari ibunya. Punya Ayahnya.
"Ini adalah yang terakhir akan kujual, malah kalau bisa jangan dijual," gumam Kevin.
Dan selanjutnya...
Sepertinya ia harus pindah rumah. Mungkin kosan atau rumah sepetak saja yang biayanya lebih murah.
Hanya sedikit barang yang akan dia bawa, sisanya ia tinggalkan.
Baru selesai ia mengusap air matanya, ponselnya berdering.
Dari rumah sakit.
"Ya?" sapa Kevin.
"Dengan Pak Kevin?"
"Betul,"
"Kami dari RS. XX Pak, ingin mengabarkan, mengenai deposit atas nama Ibu Bella, sisa dananya mau ditransfer kemana?"
"Deposit?"
"Ya Pak, waktu itu ada pengisian deposit untuk biaya perawatan. Sekarang kan sudah selesai semua prosesnya, tapi masih ada sisanya,"
"Saya kesana sekarang," desis Kevin selanjutnya.
*
*
"Sisanya 60jutaan?!" Kevin menaikkan alisnya.
"Betul pak, karena waktu itu kan proses pemakaman tidak dari kami. Jadi sudah termasuk penanganan IGD dan Biaya operasi, sisanya segitu,"
"Memangnya berapa yang dideposit waktu itu?"
"Lebih dari 90 juta, Pak,"
Kevin terpaku.
Banyak sekali! Pikirnya.
Astaga, Nirmala...
Kevin mengusap tengkuknya yang merinding.
"Disini tertulis, penerima sisa deposit adalah nama bapak sesuai KTP. Tapi tidak dituliskan nomor rekeningnya,"
"Apa ada keterangan lain dari penanam deposit waktu itu?"
"Dia tidak menitipkan identitas apapun kepada kami, Pak,"
Kevin mencebik.
Langka sekali informasi untuk jati diri Nirmala yang sebenarnya.
Sudah begitu, katanya ini hadiah. Dan Kevin dilarang menghubunginya.
"Masukan ke rekening saya saja, Mbak. Ini nomornya,"
Dan begitulah, Kevin tidak jadi melarat.
Tapi tetap saja, dia harus pindah rumah agar lebih hemat.
__ADS_1