
Sambil merengut, Kevin menatap tajam ke arah Bira. Bira hanya duduk di depannya, di sebelah Chandra, sambil menunduk menghindari tatapan Kevin.
Sementara Chandra hanya melirik bolak balik antara Bira dan Kevin, Wana duduk bersandar sambil menyilangkan kedua lengannya sambil merengut.
"Jadi, karena Om Artha nggak ada di sini, padahal gue butuh penjelasan dia, dan gue juga belum siap nelpon dia karena dia juga lagi meeting, bisa gawat kalo gue diomelin! Gue akan menjelaskan tindakan yang terpaksa gue lakuin, lebih dulu," desis Wana.
Kevin mengernyit ke arahnya, "Jadi lo ngalah duluan nih? Buat apa'an?!"
"Biar cepet selesai. Urusan sama konglomerat tuh ribet cuy!" sahut Wana.
"Elaaaah," keluh Kevin. "Lu tuh pacarnya, lu dapet priviledge cuy! Kalo dibandingin dua om-om ini, level lu tuh 10 kali lebih tinggi,"
Chandra langsung mendecak. Om-om dia bilang?! Gerutu Chandra.
Bagi Kevin, Chabir memang Om-Om. Usia mereka memang sudah mendekati 30an. Atau Kevin yang malah terlalu muda?! Haha.
"Percaya aja, gue tahu banget sifat Om Artha," kata Wana. "Palingan dia cemburu sama elo, makanya nyuruh Mas Bira ngerjain lo. Salah lo juga sih waktu di RS nggak konfirmasi dulu sama gue main rangkul-rangkul aje. Mana gue tahu kalo Om Artha mulai ada hati sama gue pas itu,"
"Kan dah gue bilang kenal sama lo bikin sial," gumam Kevin.
"Tapi lo nempel melulu sama gue," gumam Wana.
Kevin diam. Dalam hati ia berpikir.
Iya, kenapa ya?!
Tapi sudahlah, ia malas memikirkan hal-hal ribet.
"Nggak papa Mbak, kami duluan saja," kata Chandra.
"Chan! Masa kita kasih tahu, kan udah dipesenin Bapak!" bisik Bira tak setuju.
"Lu nyadar nggak sih kalo cemburunya Bapak tuh nggak berdasar. Kekanak-kanakan! Lagian mereka bakalan nikah juga, buat apa juga diterusin? Memangnya kerjaan kita cuma ngurusin nih bocah satu?" sahut Chandra.
"Yah memang iya sih, tapi gimana kalo ketahuan, kalau kita yang ngasih tahu Mbak Wana?"
"Ya kalo untuk itu ..." Chandra menatap Ke arah Wana. "Mohon kerjasamanya ya mbak, jangan sampai keceplosan kalau Mbaknya tahu dari kami berdua,"
Wana menghela napas.
"Jadi bener kan dugaan gue? Dia cemburu?" tanya Wana.
Chabir mengangguk berbarengan.
"Terus salah sasaran ke Kevin," sambung Wana.
Lagi-lagi Chabir mengangguk.
"Apa saja yang sudah kalian lakukan selain mutus kabel motor?"
"Baru itu saja, tujuannya memang mencelakakan si mas ini. Tapi karena setelah itu kalian jadian, jadi belum ada instruksi lebih lanjut," kata Bira.
"Kami akan mengajukan anggaran untuk mengganti kerugian," kata Chandra.
"Ya tapi butuh waktu, mohon bersabar," kata Bira.
__ADS_1
"Buat benerin kabel, gue harus ambil job ngelayanin klien yang gue nggak pingin. Biasanya gue bisa milih, ini gara-gara butuh duit jadi terpaksa gue ambil! Mana body si tante 3x lipat dari gue, dy minta diangkat-angkat! Yang ada keluar kaga, betis gue remuk!" Omel Kevin
Chabir dan Wana hanya mengernyit menatap Kevin dengan miris. Sekaligus eneg.
"Kamu tuh masih muda banget loh, bisa nggak sih cari pekerjaan yang lebih ..."
"Kerjaan apa yang bisa menghasilkan jutaan dalam sehari pake ijazah SMA, hah? Kerja sama Bapak lo? Yang ada dibully melulu kayak lo berdua!" Kevin memotong kalimat Chandra sambil tetap mengomel.
"Dipikir bener juga, kita lebih sial," bisik Bira ke Chandra.
"Ssst! Emang lo mau jadi gigolo?!"
"Kalo kliennya cantik-cantik yaaah,"
"Parah lu," gumam Chandra.
"Oke, jadi tolong duitnya si adek ini diganti yaaaa, gimana kek caranya," kata Wana. "Terus, tolong hapus rekamannya. Karena kalau sampai Om Artha marah, dampaknya ke kalian juga. Kita semua tahu kalau dia lagi seneng dia bakalan royal. Kalo lagi kesel dia bakalan... Gue nggak berani bayanginnya," kata Wana.
Chabir sampai menggigil dan mengelus tengkuk mereka yang merinding. Bisa-bisa bonus tahunan mereka nggak dibayar saking pelitnya Artha. Jadi jangan sampai Artha kesal.
"Teman kamu yang dua itu jangan sampai keceplosan," kata Chandra ke Kevin.
"Mereka bahkan udah lupa kali," sungut Kevin.
"Memang apa sih yang kalian mau dari Om Artha sampai ngancem-ngancem gue segala?" tanya Wana.
Chabir menghela napas.
"Saya itu minta izin menikah," Bira mengaku. "Tapi Bapak malah sensi duluan, soalnya dia kan single seumur hidup. Malah ngomel kalo nikah itu cuma merepotkan bla bla yang gitu lah. Udah 2x saya ditinggalin pacar gara-gara disuruh ngelamar saya malah kabur," kata Bira.
"Kalau saya, ingin jadi kepala cabang. Ngatur manajemen sendiri, dan yang pasti pisah dari Bapak. Habis dia ngerepotin banget sih, hehehehe," kata Chandra.
"Lumayan senilai DP mobil lah setiap bulannya. Belum bonus dan tunjangan jabatan,"
"Jadi bisa dibilang lo berdua sebenarnya udah cukup mapan dong ya,"
"Ya makanya saya inginnya menikah! Orang tua juga udah nyuruh," kata Bira.
"Tapi Bapak tak bergeming," keluh Chandra. "Gaji kami memang besar, tapi tekanan yang diberikan lumayan bikin stress. 24 jam 7 hari kayak Ibu Rumah Tangga, kami harus siap untuk Pak Artha. Sampai tidak ada waktu untuk hal pribadi,"
Wana dan Kevin mendengarkan sambil berpangku dagu.
"Kenapa gue jadi bersimpati ya," gumam Kevin.
"Ini sih harus gue yang ngebujuk," gumam Wana.
"Lo serahin aja keperawanan lo, langsung sungkem tuh si Om. Disuruh bungee jumping dari atas pesawat juga bakalan dilakoni nggak pikir-pikir lagi," kata Kevin.
"Takut gue Kev, sakit nggak sih begituan?!"
"Katanya sakit, tapi di awal doang. Habis itu lo bakalan dihujani hampers, perhiasan, sekalian lo urus tuh akta gono-gini,"
"Gue beneran buta tentang hal itu, gimana caranya bikin dia seneng terus sama gue?!"
"Nanti gue kasih tau, gaya apa aja yang bikin gue cepet keluar,"
__ADS_1
Chabir sampai berdehem canggung mendengar Kevin dan Wana mengobrol seakan tidak ada batasan.
"Hubungan kalian tuh sebenarnya bagaimana sih? Kok akrab banget,"
"Sodara kembar ketemu gede," jawab Kevin dan Wana berbarengan.
Chabir menyeringai membenarkan.
"Gue lupa! Gue mau laporan sama lo tentang Tante Yuni Bahana," Kevin meraih ponselnya dan mencari foto di galerinya. "Siapa tahu nih dua dayang-dayang tahu masalahnya," dan memperlihatkan hasil tes DNA yang barusan ia foto.
Chabir dan Wana menatap gambar itu dengan serius, lalu menarik napas panjang tanda kaget.
Hasilnya? Tes DNA yang asli menyatakan bahwa tidak terdapat kecocokan antara Stela Bahana dan Arthasewu Connor.
Namun di Tes DNA yang satunya yang tanpa cap asli, sepertinya hasil sementara karena belum ditandatangani Kepala Lab, terdapat kecocokan antara Leo Supradja dengan Stela Bahana.
"Ya Ampun, ternyata Bu Yuni Bahana bercocok tanam dimana-mana," gumam Bira.
Kue apemnya buuu, merekaaaaah, mau apem atau mau tempe? Tempeee tempeeenya kakaaaaaa.
Peace.
"Dah gue duga, khan," gumam Chandra sambil tersenyum licik. "Gue yakin Bapak juga udah feeling ya Bir, tapi karena gengsi dia tetep aja kasih tunjangan ke Stela,"
"Tapi laporan yang satunya membagongkan sekali ya!" Bira mengelus dagunya.
"Ya mau nggak mau harus dikasih tau Bapak. Walaupun Stela bakalan tamat riwayatnya. Yang penting Bu Yuni nggak koar-koar,"
"Mau secepatnya dikasih tau?"
"Gue cariin dulu apartemen buat ngungsi si Stela, habis itu kita action,"
"Yuni Bahana tuh siapa sih sebenernya? Kok nama lo dan Om dia sebut-sebut? Mana pake nyakar gue pula," bisik Kevin.
"Baguslah, dia ngewakilin gue buat nyakar lo," gumam Wana.
"Emang gue segitu ngegemesinnya ya?"
"Kunyuk," Wana terkekeh tapi tetap sebal, "Yuni Bahana itu pacar Om Artha dulu. Terus dia hamil dan katanya anak itu anaknya Om Artha. Kebetulan anaknya, yang namanya Stela, sekampus sama gue,"
"Mas Kevin," panggil Bira memotong obrolan Kevin dan Wana. "Nanti saya bilang kalau info ini dapat dari Mas Kevin ya, biar Bapak luluh nggak dikuntit terus. Saya juga capek mata-matain sampe hampir aja kesengsem sama ibunya situ," kata Bira.
"Nyokap gue emang cantik, tapi awas aja lo ganggu-ganggu dia," gerutu Kevin.
"Mas Bira sampai ngikutin Kevin ke rumah?!"
"Ya saya kan harus tahu profil target," keluh Bira.
Wana dan Kevin hanya menghela naps panjang.
"Nih foto lo," Kevin menyerahkan selembar foto ke Wana.
"Darimana lo dapet?"
"Dari tas tante Yuni. Di dalam kain kafan dilipet-lipet, ada tanah kuburan, paku karatan dan foto lu,"
__ADS_1
"Udah jaman apa-apa pake robot, masih aja ada yang dukunan,"
"Moto GP aja masih pake pawang hujan, ya apalagi dukun, tetep eksis lah!"