
Artha berdiri sambil menatap Kevin dengan tajam. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana dan mulutnya cemberut.
Kevin berdiri bersandar di dinding. Sebenarnya dia takut tapi nggak bisa kabur juga. Ia menyesal setelah mengantar boba nggak langsung pergi malah ngobrol sama Chandra mengenai game online. Malah jadinya ketemu si Om kaaaan, hih!
Jadi Kevin hanya menunduk menatap lantai, dengan wajah berlagak santai tapi sebenarnya deg-degan takut dibanting.
"Kamu,"
Deg deg deg deg (ceritanya suara jantung Kevin yang berdetak cepat)
"Kamu bisa nggak ..."
Deg dug dig deg dug dig (makin cepat sampai Kevin tiba-tiba pusing)
"... Kasih tahu saya ..."
Dag dug dag dug bunyi genderang perang kejang-kejang gaya kayang (saking cepetnya bentar lagi jantungnya berhenti kayaknya)
"... cara membuat Wana senang?"
"Hah?" (Kevin nggak jadi mati jantungan)
"Kasih tahu saya cara membuat Wana senang. Kayaknya kamu tahu banget cara memperlakukan wanita," ulang Artha.
"Eeeeeh... Yah pengalaman sih Om," Kevin mengelus dadanya karena dia kali ini nggak jadi ketemu Lucifer.
"Cuma dibeliin minuman pake candil aja dia udah seneng banget kayaknya,"
"Itu boba Om namanya, teksturnya lebih keras dari candil"
"Sama aja bulet-bulet kayak candil kenyal-kenyal,"
"Beda Om, candil dari beras ketan, Boba dari tepung tapioka,"
"Saya pikir kok lebih enak pake candil ya, lebih gampang dikunyah,"
"Tergantung Om, kami kan masih muda gigi masih kuat, nyelip dikit tak apa,"
"Hei hei, awas kamu ya bawa-bawa umur,"
"Ampun Om," Kevin langsung menunduk hormat.
"Jadi bagaimana?"
Kevin menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. "Saya nggak bisa bikin boba Om,"
"Bukan boba, kunyuk. Cara membuat Wana senang," geram Arthba.
"Ooh, itu yaaaa," Kevin mengelus tengkuknya, merinding. "Jadi diri sendiri aja Om, apa adanya. Diubah malah aneh dan maksa,"
"Kelihatannya dia gampang senyum kalo sama kamu,"
"Nggak juga Om, situ aja yang terlalu cemburu sama saya jadi kesannya Wana senyum padahal mah biasa aja. Saya juga beliin begituan karena dia suruh saya kok, nggak inisiatif sendiri,"
__ADS_1
"Hemm..."
"Hehe,"
*
*
Back to office,
"Ampuni gue broooooo, plis batalin ajaaaaa," Bira bersujud di depan Chandra saat pria itu tiba di kantor dan keluar dari lift.
"Dih, chicken! Yang ngusulin taruhan sapa, yang minta batalin sapa!" Kekeh Chandra.
"Kan gue lupa kalo ada peraturan sekantor nggak boleh nikaaaaaah!" Seru Bira sambil tetap bersujud.
"Ya salah sendiri, nggak bisa dibatalin. Lo kalah! Besok seharian pake daster dan traktir gue makan sebulan. Titik!"
"Tega lu brooo, kalo foto kesebar dilihat camer bisa-bisa gue lagi-lagi batal nikah brooooo!"
"Gue nggak sebaik itu. Gue cowok jahat yang suka ketawa di atas penderitaan..."
"Ngapain kamu sujud-sujud?!" Artha tiba-tiba sudah berdiri di depan Bira yang masih terlungkup di lantai.
"Eh, Bapak, ini loh si Chandra dan saya ..."
Chandra langsung menarik Bira supaya berdiri, "Duit koin jatoh Pak, jadi Bira lagi mungut di lantai, hehe,"
"Mana duitnya?" tanya Artha.
"Masa duit gitu aja nggak ketemu sampe sujud-sujud?"
"Gue nggak mungut duit..." gumam Bira.
Chandra langsung membekap mulut Bira.
"Pak Artha besok jadi ke London? Butuh dibantu apa Pak?" tanya Chandra mengalihkan perhatian.
Bira yang mulutnya masih terbekap melirik Chandra sambil memicingkan mata. Langsung ngeh kalau besok jadwalnya Artha keluar negeri jadi Chandra bisa memperbudak Bira sesuka hati.
Tapi keadaan bisa saja berbalik berubah kalau Artha tahu rencana ini, jadi Bira akan memberitahu Artha taruhan mereka.
"Saya batalkan ke London, Wana sedang sakit," kata Artha.
"Kalau begitu saya jadwalkan ulang kapan, Pak?" tanya Chandra, kode kalau saat Artha pergi adalah saat Bira pakai daster seharian. Karena kalau ada Artha sudah pasti tidak diizinkan berbuat seaneh itu di kantor.
"Paling tidak seminggu dari sekarang..."
Bira berontak menepis tangan Chandra. "Pak saya besok izin... Umph! Umph!!" Chandra membekap mulut Bira lagi.
"Izin apa?"
"Nggak papa Pak, dia mau berbuat aneh-aneh lagi," desis Chandra. Namun tangannya tiba-tiba terpuntir karena gerakan Bira yang tiba-tiba.
__ADS_1
"Izin pake daster seharian karena kalah taruhan!" seru Bira cepat setelah memuting lengan Chandra.
"Hah?" dengus Artha.
"Ih! Ember banget sih mulut lo, banci!" Umpat Chandra sambil membungkuk memegangi tangannya yang pegal barusan dipunting.
"Taruhan apa?" tanya Artha.
"Nggak ada taruhan kok Pak," gumam Chandra cepat
"Jadi Chandra pilih..."
"Hoy!!" seru Chandra sambil melotot ke Bira. Bira langsung lari ke belakang punggung Artha, berlindung. Jelas area restricted Chandra tak bisa mengejar.
"Lo kayak anak kecil, masa gitu aja berlindung di belakang Bapak!" Umpat Chandra.
"Chandra pilih Mbak Wana bakalan resign sebelum 3 bulan karena nggak tahan sama Pak Artha," Bira berbisik di punggung Artha.
"Sedangkan saya pilih Mbak Wana bisa bertahan setahun lebih, karena pasti disayang sama Bapak. Ternyata belum 3 bulan kalian akan menikah, dan peraturan perusahaan kan tidak boleh menikah dengan sesama karyawan, jadi otomatis Mbak Wana harus resign. Jadi Chandra menang, Pak. Tolongin saya dong Paaaaak," rayu Bira.
Artha mengangguk mengerti, "Oooh jadi dengan kata lain, Chandra tidak menyangka kalau hubungan kami bisa langgeng secepat ini ya? 3 bulan Wana resign karena nggak tahan sama saya, memangnya saya begitu jahatnya ya sampai kamu ambil kesimpulan begitu," gumam Artha sambil menatap Chandra tajam.
"Emmm... Bukan begitu Paaaaak," Chandra berusaha meluruskan masalah.
"Malah justru Bira yang mendoakan supaya saya langgeng. Keterlaluan kamu Chandra!" gumam Artha sambil mengernyit.
"Duh, Paaak," keluh Chandra sambil menatap sebal ke Bira.
Lalu tiba-tiba senyuman licik tersungging di bibir Artha.
"Jadi, saya yang ambil keputusan. Bira, kamu harus gentle dong, kamu kan kalah. Besok pake daster sana,"
"Yah, Pak!!" seru Bira kaget. Benar-benar diluar prediksinya. Dia pikir Artha akan membelanya.
"Dan kamu, kampret," kata Artha ke Chandra, "Walaupun kamu menang tapi karena niat kamu terhadap saya jelek. Jadi kamu saya hukum,"
"Hah?! Hukuman apa?!" seru Chandra panik.
"Kalau Bira besok pakai daster seharian, kamu... Pakai night dress transparan seharian,"
"PAK ARTHA!!" seru Chandra makin panik.
"WUAHAHAHAHAHAHAHA PARAAAAHHHH!!" Bira langsung ngakak.
"Saya yang akan beli khusus untuk kamu ya, saya bawa pagi-pagi. Kan kamu asisten kesayangan saya, hehehe," kekeh Artha sambil masuk ruangan.
"Anjrit! Sumpah kiamat dah gue! Anjriiittt!!" seru Chandra sambil mengacak-acak rambutnya.
"Ah, iya. Besok tolong panggil Stela kesini jam 10 ya," Artha menongolkan kepalanya dari balik pintu.
"JANGAN GITU DONG PAK CARANYA!!" seru Chandra.
"Ya suka-suka saya dong, orang kantornya kantor saya," kata Artha sambil menutup pintu ruangannya.
__ADS_1
"ARRRGH!!" seru Chandra makin Frustasi. Sementara Bira tertawa puas sekali.
Di dalam ruangannya, Artha mendengus sambil tertawa licik. Sekali-kali para asistennya yang suka ngomong seenaknya itu harus diberi pelajaran. Pikirnya puas.