Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Behind The Scene


__ADS_3

Bagaimana cara Wana membereskan semuanya?


Yah, dia bukan Bandung Bondowoso yang bisa membangun seribu candi untuk Rara Jonggrang. Si Bandung aja cuma bisa membangun 999, terus digagalkan sama ayam jago yang dipaksa berkokok pas sebelum subuh.


Kan kasihan si ayam jadi jetlag.


Kalau di novel ini, siapa yang jadi jin? Bisa membereskan ruangan dalam waktu 2 jam?


Sudah pasti ...


Mari kita flashback!


"Lama banget sih datengnya!!" desis Wana ngedumel saat Kevin dan dua orang temannya yang masih berpakaian putih abu-abu, masuk ke lobi lewat lift barang di basement.


"Kalo minta tolong tuh jangan ngedadak, Non!" dengus Kevin sambil menjitak dahi Wana.


"Ini beneran kita bakalan dikasih unipin 500rb seorang kan?!" tanya Agus, teman Kevin.


"Iya,"


"Bayar di depan aja deh," kata Kasep, teman Kevin. Perawakan tinggi besar kayak tentara, tapi pakai putih abu-abu.


"Astaga! Naik dulu lah ke atas! Buruan mumpung lg pada sibuk meeting, gue punya akses VVIP!" sahut Wana sambil menggiring mereka ke lift khusus pejabat di sisi satunya dan menekan kartu yang diberikan Artha.


"Njir, liftnya lebih mewah dari museum. Ada artefak di dalem lift," Agus berdecak kagum melihat-lihat pajangan yang kelihatannya mahal.


"Ini emas asli nggak sih? Kok meyakinkan?" gumam Kasep sambil mengorek-korek dinding lift.


"Temen lo alay banget sih?" Bisik Wana ke Kevin.


"Sst! Kita pun pernah melewati masa-masa itu, nggak usah protes. Yang tahan temenan sama gue cuma mereka soalnya," desis Kevin sambil mencibir.


Wana terkekeh.


Wajar, karena bagi cowok lain, sosok Kevin merupakan penghinaan. Sudah ganteng, tinggi, bule, otak encer, jago tawuran pula (hush!). Dan dia pengalaman soal wanita. Wajar kalau semua cowok menganggapnya ancaman.


Wana menempelkan telunjuk ke bibirnya. Memberi briefing sebelum liftt terbuka di lantai 50. "Inget ya cuy, lo semua penyelundup di kantor Singa Afrika. Berisik dikit, sensor nyala, kena tembak di jidat lo! Jadi jangan menarik perhatian! Ngerti?!" ujar Wana tegas.


"Njir! Siap Bu!" desis ketiganya.


"Kayaknya gue pernah kesini deh, jemput klien." Bisik Kevin ke Wana. Lift sudah memasuki lantai 40 Sebentar lagi sampai di lantai 50.


"Hah? Siapa?" Wana kaget.


"Namanya Viola. Lo kenal? Dia HRD di Opal Persada,"


Wana langsung mengernyit jijik dan menjauh selangkah.


"Rambutnya sebahu, tinggi, langsing , pantatnya gede, lumayan bi-nal tapi cepet lemesnya," Kevin meneruskan kalimatnya.


"Udah nggak usah diterusin, kampret! Iya gue kenal jadi nggak usah dibahas!" Wana memukul bahu Kevin sambil mencibir.


Kevin terkekeh.


*


*


"Gue nyerah, pulang ah!" kata Kasep langsung, saat melihat hamparan kertas di depannya.


"Gue tambahin kuotanya seratus ribu!" Tembak Wana.


"Non! Ini tuh sama aja lo nyuruh gue bersihin Bantar Gebang! Pulang-pulang gue berubah jadi Hulk! Kena zat kimia!" Seru Kasep ketakutan.

__ADS_1


"Tambah gopek jadi sejuta!"


"Oke lah! Mana sarung tangan?" Cepet banget nyerahnya Sep...(beuh!)


"Kertas2 jangan dibuang, kasih gue. Urusan lo bertiga bersih-bersih debu," Wana menumpuk bantex-bantex kosong di sofa terdekat.


"Siap!" seru mereka bertiga.


"Berdoa kita pulang dengan anggota tubuh masih lengkap dan badan sehat!"


"Aamiin!" seru mereka bertiga. "Hachim!!" seru semuanya kemasukan debu.


"Waaan waaan, baru jadi pacar aja lo udah dikerjain. Mending hutang lo langsung lunas, yang ada lo malah kehilangan 3 juta buat kita bertiga," desis Kevin sambil melap kabinet. Sekali lap langsung hitam kainnya. Jadi dia buang daripada kotoran menembus sarung tangan karetnya.


"Lo tau gaji gue sebagai OG disini berapa?"


"Berapa?"


"6 juta,"


"Widih! Itu setara karyawan!"


"Jadi nggak sampe setahun logikanya gue bisa resign dong!"


"Ah! Paling lo dinikahin duluan,"


"Entahlah, dia pembenci wanita karena trauma sama mantan pacarnya,"


"Nggak lah," Kevin mengibaskan tangannya, "Gue lihat sih sampai dia minta lo bersihin ruangan ini, dan nggak manggil ART, karena dia percaya banget sama lo,"


"Tetep aja nggak bikin gue seneng!"


"Iya hahahaha, emang lo sial melulu, sih. Gue jadi takut kenal sama lo!"


Dan bagaimana dengan Kevin dan teman-teman setelahnya?


Di smoking room basement gedung Opal, mereka beristirahat.


"Gila bro! Gue tepar... Gue tadi nemu kalajengking udah jadi gepeng!" gumam Kasep.


"Lah, gue nemu burger McD. Dalemnya penuh belatung udah jadi kering!" sahut Agus.


"Gue nemu ini," desis Kevin. Dia merogoh jaketnya. Lalu mengeluarkan sekotak cerutu Havana yang isinya tinggal 4. "Belum kadaluarsa," Ia menyeringai.


"Widiiih...." semua langsung menatap cerutu itu dengan mata berbinar


"Kuy sebat!" sahut Kevin.


"Kuuuuy!!" seru semua.


*


*


Jadi, di hari pertama itu, Wana pun akhirnya turun ke lantai 4 untuk bertemu Pak Ramli dan mennerima seragam barunya.


Saat dia datang, semua orang menatapnya.


Wana pun berhenti sesaat, tersenyum semanis mungkin, menunduk hormat, dan bergegas ke ruangan Pak Ramli.


Ya wajar saja semua curiga, sikap Artha padanya sangat berbeda. Pria itu terkenal judes dan angkuh, dengan Wana ia jadi sumringah.


"Sore, Pak," sapa Wana dengan suara dibuat selembut mungkin.

__ADS_1


"Eeeh, Mbak Wana! Ini seragamnya masih yang tadi, karena kan mendadak ya. Mbak Wana bisa pakai celemek dulu untuk menutupi bagian depan? Kami sudah belikan celemeknya," kata Poak Ramli.


"Maksudnya apron pak? Boleh juga sih," sahut Wana.


Apron merah kotak-kotak dengan renda di bagian lengannya. Tampak manis ia kenakan di depan seragam OG berwarna maroon.


Chandra masuk ke ruangan Pak Ramli dengan tas di punggungnya. Tampaknya ia bersiap-siap pulang.


"Seragamnya sudah jadi?" tanya Chandra.


"Ya belum dong Chan. Kan baru minta tadi siang, tapi kami belikan celemek berenda dulu," kata Pak Ramli.


Wana keluar dari ruang ganti dengan seragam OG dan apron manisnya.


"Gimana Mas? Tertutup dan rapi kan ya?" tanya Wana senang.


Tapi Chandra hanya terpaku menatapnya.


Di matanya, seragam OGnya malah tak terlihat.


Yang ada di pikirannya hanya sosok Wana dengan apron berenda saja.


Hanya itu.


Tanpa ada pakaian lain.


Dia diam saja di depan Wana, memandang wanita itu tanpa ekspresi dan mata setengah menerawang.


"Bro! Ayok pulang! Gue ditungguin Far... Beuh! Mbak Wana pake Apron!" seru Birawa takjud.


"Gimana?"


"Lumayan Mbak! Manis! Cocok dah pegang pel-an," Kata Birawa.


"Apa tak perlu dipesankan seragam baru? Mahal loh kalau pesanan khusus. Apalagi kalau pesan hanya untuk satu orang. Kalau begini kan bisa lebih hemat!" Kata Pak Ramli.


"Kayaknya bisa Pak, nanti saya bilang bapak, lebih baik pakai apron saja," kata Birawa. "Yuk Bro!" dia menyenggol Chandra.


Tapi Chandra masih berdiri mematung.


"Bro?" Panggil Bira.


"Eh?" Chandra langsung menoleh ke samping.


"Ayo balik, dah sore. Ngapain di sini melulu bisa ngebul otak kita. Keburu bapak pulang ntar dikasih kerjaan lagi yang ada kita malah nginep!'


"Eeeh, oooke," Chandra masih menatap Wana. Namun kali ini dengan senyum yang berbeda.


Wana mengernyit risih. Ia kenal senyuman macam itu. Kapan yah?


Ah senyum yang sama dengan Om Willy waktu itu!


Senyum mupeng ingin dibelai lembut! Dengan kata lain Chandra sekarang sedang membayangkan yang aneh-aneh.


Wana langsung menarik napas panjang dan masuk kembali ke ruang ganti.


"Merem! Gue laporin Bapak lo ntar!" dengus Wana sambil menutup pintu.


"Lo kenapa sih, Bro?!" tanya Bira.


"Dia tuh cantik banget ya ternyata," gumam Chandra.


"Etdah! Yang bener aja, lo kalo cari saingan tuh yang biasa aja dong! Jangan raja hutan lo jadiin rival cinta! Belom tanding, ditatap aja lo dah jadi debu-debu intan!!" Omel Birawa.

__ADS_1


__ADS_2