
Artha mengikuti Wana ke lantai 2, ke kamar Wana.
"Kalo sempit jangan protes ya Om," gumam Wana.
Mana mungkin Artha protes. Memperhatikan ruangan sekeliling saja tidak. Dimatanya hanya ada Wana dan handuk yang melingkar di atas kepalanya itu.
"Kamu baru keramas?" tanya Artha.
"Iya. Habis bersihin ruangan terbengkalai tadi, jadi takut terkontaminasi virus," sindir Wana.
Artha terkekeh.
Berikutnya, Pria itu memeluk Wana dari belakang.
Wana tersentak dan kaget.
Secepat ini?! Nggak ngopi-ngopi dulu, nih?! Pikirnya.
Si Om membuka handuk di kepala Wana. Setengah basah, tapi sudah banyak bagian yang kering.
"Wangi," Artha membenamkan wajahnya di leher Wana.
Astaga!
Wana kaget dan merasa jantungnya berdetak kencang sekali. Di satu pihak ia risih dipeluk seerat itu oleh seorang pria, tapi di lain pihak ia merasa sangat nyaman.
Begini ya rasanya sangat disayang?! Kenapa sentuhannya bagaikan aliran listrik.
"Buka ya?" Artha menyusupkan tangannya ke balik kaos Wana.
"Jangan, nanti kamu keterusan!" cegah Wana sambil menyingkirkan tangan Artha
"Aku sudah berusaha menahan dari kemarin," gumam Artha sambil mencium leher Wana.
"Duh," keluh Wana saat tangan pria itu mulai nakal membelai perutnya di balik kaos.
"Jangan pingsan lagi ya," kekeh Artha.
"Waktu itu kan aku belum siap,"
"Jadi sekarang sudah siap?"
"Buat cium sudah menyiapkan hati. Tapi buat yang lain-lain diluar ekspektasi,"
"Ya sudah, sekarang aku bilang duluan sebelum mulai," Artha mendesak Wana supaya duduk di pinggir ranjang.
"Aku ingin ..." Artha menatap Wana dengan mendamba.
Seperti biasa, kalau tanpa make up jadi lebih cantik. Wajahnya polos dan natural dengan mata bulat besar dan bibir tipisnya. Boneka hidup yang manis. Pikir Artha.
"... Menyentuh dan merasakan sendiri dengan lidah dan tanganku, rasa bibir kamu, leher kamu, dan yang ini juga," punggung telunjuk Artha digeser ke area puncak dada Wana.
"...terutama yang ini," tegasnya.
Wana menarik napas panjang dengan tegang. Saat akhirnya mengizinkan Artha masuk ke kamar kostannya, sudah pasti ia tahu kalau adegannya bukan hanya sekedar mengobrol.
Sebenarnya yang ia ingin sekali lagi rasakan dalam keadaan sadar adalah ciuman Artha.
Namun yang namanya pria, tidak akan berhenti hanya di situ.
Masalahnya Wana pun sebenarnya mulai membuka hatinya untuk Artha.
"Makasih untuk konfirmasinya, tapi ..."
__ADS_1
Tatapan ragu Wana tidak menyurutkan niat Artha.
"Sini," pria itu langsung menarik tengkuk Wana supaya mendekat tanpa memberikan Wana kesempatan meneruskan kalimatnya.
Dan menempelkan bibirnya ke bibir Wana.
Ini dia! Rasa ini yang waktu itu hanya sekilas kurasakan, Batin Artha. Rasa manis yang khas dari bibir Wana langsung merasuki otaknya dan membuat semacam candu bagi aliran darahnya.
Sementara Wana masih berusaha mempelajari semuanya. Jemarinya yang menggenggam erat lengan Artha dengan gugup. Ia sedang menguasai dirinya sekuat tenaga, tetap di kehidupan nyata.
"Pelan-pelan, ini kali pertamaku," desis Wana.
Artha menggenggam jemari Wana dengan hangat, lalu memasukkan telunjuk gadis itu ke dalam mulutnya dan mengulumnya perlahan.
Wana menatapnya dengan tertegun.
"Itu yang akan kamu rasakan di seluruh tubuh kamu,"
"Hm," gumam Wana dengan wajah kuatir. Seintens itu, apakah aku bisa menyesuaikan diri?! Pikir Wana.
"Percayakan saja padaku. Aku akan tetap menjaga kehormatan kamu," Artha mengecup lembut punggung tangan Wana.
Wana pun terlena dengan keromantisan pria itu. Gadis itu pun tersenyum dan mengangguk, mengizinkan Artha untuk menyentuhnya.
Tapi sikap lembut Artha ternyata hanya sesaat. Setelah mendapat izin Wana, berikutnya bagaikan secepat kilat menyambar, Artha langsung berubah menggebu-gebu.
Artha meremas dada Wana dengan gemas, disertai lenguhan Wana yang bagaikan di awang-awang. Pria itu menyesap leher Wana yang terbuka.
"Jangan nakal! Kamu kan tahu kalau pegang dada..."
"Kamu mau minta apa, aku akan coba belikan. Aku mau sentuh tubuh kamu," geram Artha sambil sedikit memaksa meloloskan kaos Wana ke atas kepala gadis itu, dan membuka bra nya.
Wana mengeluh malu dan reflek menjauh sambil menutupi dadanya yang membusung, tapi tangan besar Artha menahannya.
"Nggak ada waktu," geram Artha sambil melu-mat bibir Wana dengan sedikit kasar, dan melilitkan lidahnya ke lidah Wana.
Hampir saja Wana pingsan saking kagetnya.
"Jangan pingsan, nanti aku bisa berbuat hal lain yang kamu nggak tahu," Ancam Artha.
Wana langsung berusaha sadar.
"Sini, tangan kamu ke sini," gumam Artha sambil mengarahkan tangan Wana ke ... Benda keras di balik celana pria itu.
Wana terpekik kaget.
Ia menyadari apa yang ia sentuh.
Ini kah wajah asli pacar Om-Omnya?!
Bibir Wana kembali terenggut, kali ini lebih dalam dari yang tadi. Artha begitu bernafsu! Pria itu menahan kepala Wana agar tidak bisa menoleh.
Wana hampir saja sesak napas, jadi gadis itu menggerakkan jemarinya yang menggenggam tubuh Artha.
Ia belai bagian itu.
Perlahan ke area bawah.
Lalu ke atas lagi dengan lembut.
Sesuai prediksi, Artha melepaskan renggutan bibirnya dan kini mende-sah.
"Iya, begitu,"
__ADS_1
Oh! Jadi ini cara menguasai laki-laki ini, si Singa Afrika ini?!
Kok rasanya mudah sekali?
Hanya dengan belaian lembut, Artha yang angkuh jadi luar biasa penurut.
"Sayang?" sambil membelai dengan lebih cepat, Wana memutuskan untuk menguji seberapa besar kekuatan jemarinya menaklukan Artha.
"Hm?" Artha menyesap puncak dada Wana lagi.
"Aku minta birkin,"
"Iya,"
"Aku juga minta perhiasan,"
"Iya,"
"Hutangku Lunas,"
"Yang itu nggak bisa, minta barang aja aku kasih,"
"Heh?! Kenapa?!"
Artha mengangkat wajahnya dan menatap Wana dengan lembut. "Kakak kamu minta ke aku secara khusus. Dia bilang kamu harus belajar dari bawah agar mengerti cara menghargai penghasilan dan kepuasan yang didapat saat menikmati uang dari hasil jerih payah sendiri. Kamu terlalu dimanja selama ini, katanya,"
Wana menghentikan gerakannya.
Kakaknya, ternyata meminta langsung kepada Artha.
Yah, kalau itu permintaan kakaknya, mau nggak mau Wana harus menurut walau berat hati.
Karena Wana percaya, kakaknya bukan melakukan hal itu dengan maksud buruk. Pasti ada kelakuan Wana yang dinilainya keterlaluan.
"Ya sudah, kalau begitu ... Aku ingin kupon makan gratis di kantin karyawan dan akses istimewa di kantor," desis Wana.
"Iya,"
Wana mempercepat belaiannya. Semua dilakukannya dengan Artha tetap berpakaian lengkap.
Bukannya dia mengerti prosesnya. Semuanya itu dia lakukan berdasarkan insting kewanitaannya.
Desa-han Artha semakin memburu, pria itu melu-mat kembali bibir Wana.
"Iya, begitu. Kamu pintar..." Pria itu mulai meracau.
Beberapa menit kemudian, geraman keras dari Artha.
Lalu pria itu pun langsung lemas. Ia memeluk Wana dengan manja dan posesif sambil membenamkan wajahnya di antara kedua paha Wana.
Saat itu Wana menyadari, Artha yang tak berdaya akibat jemari mungilnya, bisa saja terlena dengan jemari dari wanita lain yang lebih lembut.
Ia langsung cemburu dengan ibu Stela.
Lagipula, aksi mereka kali ini sudah terlalu jauh kalau hanya disebut 'berpacaran'.
"Om?" panggil Wana saat Artha terkapar di pangkuannya sambil terengah-engah.
"Hm?" gumam Artha.
"Aku ingin jadi istri Om, gimana caranya?"
Kesadaran Artha langsung kembali lagi.
__ADS_1