
Tapi Kevin butuh segera pindah dari rumah itu, karena semakin hari semakin banyak orang mencurigakan, tidak dikenal warga dan jumlahnya bergerombol mondar-mandir di depan rumah Kevin.
Juga karena ia sudah ditagih biaya kontrakan.
Maunya sih tidak memakai dana yang diberikan Nirmala. Kan sayang bisa dipakai untuk kuliah dan kebutuhan yang lebih mendesak. Emas peninggalan ibunya juga masih banyak.
Tapi, hal kampret lain tiba-tiba datang.
Malam itu, Kevin selesai main game dan sedang membuat teh di dapur.
Tiba-tiba ada yang membunyikan lonceng di gerbangnya. (Jadi model kunci gerbangnya Kevin masih pakai gantungan bel sapi, kalau gerak dikit ‘kloneng-kloneng' bunyinya.)
Kevin pun menatap jam dinding.
Pukul 21.
Siapa yang datang malam-malam begini?! Pikir Kevin sebal.
Dia juga mendengar bunyi deru mesin mobil, yang menurut sepengetahuannya adalah mobil sultan. Karena suara mesinnya halus, tidak terlalu berisik, bagaikan mesin pesawat dari kejauhan. Jenis yang suka ada di mobil-mobil bermesin canggih.
Jadi dengan cangkir berisi teh di tangannya, dan wajah mengerut karena penasaran sekaligus merasa terganggu, Kevin pun keluar.
“Hey, Say!” seorang wanita cantik seksi tinggi menyapanya. Bajunya gemerlapan, dan dandanannya tebal.
Kevin sampai bengong.
Terus terang dia tidak kenal siapa wanita yang ada di depan gerbangnya. Tapi dia mengenali beberapa orang yang ada di sekeliling wanita itu adalah anak buah Mami yang kerap menemuinya kalau ada sesuatu yang mendesak.
Dan lagi mereka masuk komplek bawa-bawa Roll Royce Wraith yang harganya bisa beli rumah se-RT, mana warnanya merah putih!
Keren sih...
“Saya nggak punya hutang, salah rumah kali Bu,” desis Kevin sambil menyeringai. Dia sebenarnya tahu siapa wanita itu, tapi bermaksud menggoda.
“Cepetan buka gerbangnya, banyak nyamuk di sini!” omel wanita itu.
“Lo nggak dikuntit kan?!” Kevin membuka gembok pagarnya.
“Sudah selesai urusannya,” gumam wanita itu.
Kevin mencibir. Selesai urusan, itu berarti memakai jalur pintas. Pakai duit.
Wanita itu masuk ke dalam garasi dengan cara jalannya yang anggun ala peragawati, lalu langsung memeluk Kevin. “Duh, kangen gue sama looo!” gumam wanita itu.
“Gue hampir ketangkep Pulis loh Mam! Untung saja dewi fortuna masih betah nangkring di ubun-ubun gue!” Omel Kevin.
“Lah, apa kabar gue! Sampai kabur nggak sempet bawa apa-apa, rekening dibekuin Bareskrim. Untung aja di Amrik masih ada simpanan emas,”
“Untung saja laki lo punya jet pribadi,”
“Semua dalam hitungan menit. Telat dikit kagak bisa terbang, gue! Memang dasar tu anak Dajjal, dia yang ngelaporin gue ke Pulis!” Yang Mami maksud adalah Dian.
“Gue udah bikin dia kalem, kok,” Kevin berjalan ke dapur untuk membuatkan Mami minum. Wanita itu membulatkan matanya mendengar Kevin.
__ADS_1
“Lu apain dia?! Jangan aneh-aneh, laki gue bisa ngamuk kalo ada yang terjadi sama anak kesayangannya!”
“Nggak gue apa-apain kok, gue cuma kasih dia mainan baru. Habisnya dia ganggu gue melulu,”
“Kayaknya tadi gue pulang, Dian nggak ada di rumah sih. Kata si Mbak, dia lagi nginap di rumah temannya. Nah, gue bingung, memang dia punya teman?!”
“Bukan temen sih, hehe. Nanti gue ceritain apa saja yang terjadi waktu lo dalam pelarian,”
“Ya terus terang saja, di saat terakhir gue kepikiran lo. Karena gue akhirnya tahu kalau mereka berusaha nangkep gue, lewat elo. Lo itu mereka jadiin umpan. Tekad gue kalau bisa pulang, pertama adalah bebasin lo dari penjara,”
“Amit-amit jangan sampe dipenjara. Gue berhasil kabur, dan nggak hubungin lo sama sekali. Gara-gara warung kopi,”
“Maksudnya?”
“Bentar lagi gue ceritain. Ini, minum dulu,”
Terdengar suara Mami Dewi Tunggullangit menyeruput tehnya dengan kalem, lalu mendesah lega. “Nyokap lo dimana Kev? Tidur?” tanya Mami.
Kevin tersenyum tipis lalu duduk di depan Mami, “Iya, dia tidur,”
Mami mengangguk, “Gue mau kasih salam. Nggak enak malem-malem ganggu cuma gara-gara gue kangen sama anaknya,”
“Dia mungkin tahu kok lo kesini, walaupun lagi tidur. Lagipula dia nggak bakalan bisa bangun lagi,”
“Eh?”
Dan perlahan, Kevin menceritakan semua yang terjadi.
*
*
Mala sudah menontonnya dari siang, marathon episode, karena ini hari Minggu dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Biasanya hari minggu pun ia bekerja, atau kalau di masa lalu berkutat dengan permasalahan Jaka dan Mertuanya.
Hari ini dia manusia bebas, wanita independent yang berjuang untuk hidupnya sendiri.
Namun, ternyata diberi kebebasan ia malah galau.
Mungkin karena terbiasa sibuk, tubuhnya belum bisa menyesuaikan diri.
Dan lagi, ia butuh waktu untuk bisa melupakan sesosok laki-laki yang akhir-akhir ini ada di benaknya. Betapa penyesalan datang bertubi-tubi saat Mala dengan keegoisannya menolak pernyataan cinta.
Namun ia merasa, seandainya ia menerima pernyataan cinta Kevin, bukankah itu malah akan menjatuhkan harga dirinya? Terlalu gegabah dan terburu-buru, seakan Nirmala obsesi dengan adegan ranjang yang kerap disuguhkan Kevin. Sesuatu yang sudah lama tidak ia dapatkan dari Jaka, yang kerap kali disindir mertuanya bahwa untuk apa buang-buang waktu, toh Nirmala tidak akan hamil.
Nirmala pun menghela napas saat mengingat masa lalunya.
Apa salahnya? Kurang apa dia? Apa dia terlalu baik? Terlalu pasrah dan ikhlas? Apakah kalau sejak lama ia bersikap tegas seperti terakhir kali, ia tidak akan mendapatkan perlakuan seperti itu?
Banyak pertanyaan di benak Nirmala, yang wanita itu tahu tidak akan terjawab selamanya.
Namun, hal yang satu ini terus terngiang di benaknya...
Kapan ia bisa bertemu lagi dengan Kevin?
__ADS_1
“Uh...” Nirmala mengeluh. Kenapa sih ia harus bilang range gaji?! 30 juta? Kapan Kevin akan mendapatkan gaji bulanan sebesar itu? Dengan status Kevin yang masih fresh graduate dengan ijazah SMA, berapa lama cowok itu akan memenuhi persyaratan?!
Dan yang lebih fatal lagi, Nirmala takut Kevin akan berpaling ke wanita lain karena menganggap syarat dari Nirmala terlalu sulit. Janda dengan usia 35 tahun sepertinya, sebentar lagi akan jadi nenek-nenek, dengan kulit kendor dan tubuh tak terawat, tidak cantik lagi dengan berbagai permasalahan kesehatan, apakah Kevin akan kecewa?
Lagi-lagi Nirmala menghela napas panjang.
Ia merindukan Kevin dan senyum bengalnya itu. Dan menyesali pertemuan mereka.
Lalu wanita itu meringkuk di dalam selimutnya, memeluk dirinya sendiri.
Dan menangis menyesali kebodohannya.
*
*
“Astaga, Say... gue nggak tahu harus ngomong apa, kecuali gue amat sangat berbelasungkawa,” gumam Mami dengan wajah prihatin.
Kevin hanya mengangkat bahunya sekilas.
“Lo butuh apa? Gue akan coba bantu,” kata Mami.
“Gue butuh gaji THP 30 juta sebulan,”
“Hah?!” Mami memicingkan mata. “kalo kerja sama gue, lo tinggal nge-gym biar body lo jadi kayak Johanes juga bisa gaji 30 juta sebulan, lebih malah,”
“Lo Nggak kapok kerja beginian? Kita hampir ketangkep Mam! Gue butuh kerja yang halal dan nggak melanggar hukum,”
“Ya, jadi lo nggak mau kerja sama gue lagi dong?”
“Lo masih mau lanjut jadi Mami? Lo gila kali yak?!”
“Yaaa, makanya gue kesini. Gue mau berhenti dari kerja beginian, walopun gue akuin duitnya banyak! Apalagi karier artis gue semakin meredup, gue kan semakin tua. Dan banyak artis muda dengan bakat yang lebih cetar. Tapi, gue baru inget kalau ada beberapa klien y ang sudah bayar di muka...”
“Haduh, lo ini! Jadi lo mau minta gue lunasin hutang-hutang lo begitu?!”
“Hehehehehehe,” tawa tidak enak dari Mami.
Kevin menipiskan bibirnya, lalu menghela napas mengeluh.
“Gue janji ini yang terakhir. Habis itu kita bubar, Kev. Suer!” Jari mami membentuk angka dua.
“Ada berapa klien?” akhirnya dengan terpaksa Kevin membantu Mami.
“Lo satu saja, bayaran 45 juta. Gue kasih semua sharing ke elo. Yang lain sudah ditangani sama anak-anak, gue bagi-bagi porsi. Kali ini gue nggak ambil untung, semua cuan gue kasih ke lo,”
“Memang biasanya bayarannya segitu ya?”
“Hehehe, biasanya kalau harga lo 45 juta, gue ambil 35 juta, 10 nya buat elo,”
“Kikir parah lo, Mam! Pantesan gue sial melulu!” gerutu Kevin.
“Ini klien gue, Namanya Yuni Bahana. Besok malam ya Kev!”
__ADS_1
“Hm,” gumam kevin malas-malasan.