
Setelah intermezzo di bab sebelumnya (itu request pembaca sih, pada penasaran mengenai Susan dan bagaimana kehidupan Kevin-Stela saat bekerja bersama. Kira-kira ya begitu hebohnya, haha),
Sekarang, mari kita kembali ke masa kini.
Tentu saja, waktunya Artha dan Wana.
*
*
Wana duduk termangu di ranjang rumah sakit. Ia tampak menatap layar tv namun pandangannya kosong. Sesekali jemarinya menekan tuts remote untuk mengganti chanel.
Dari mulai moto GP sampai pertandingan tenis ia tonton.
Dari mulai tayangan tv berbahasa China sampai berbahasa India dia juga tonton.
Dari mulai tayangan film action sampai sinetron.
Bosan.
Pegal.
Dan merasa kalau ...
"Kok perjuangan gue begini banget sih? Padahal dipikir-pikir hidup gue nggak sedramatisir sinetron 'istri kedua ketiga keempat' harusnya bisa lancar dong?!" Keluh Wana sambil menggaruk lukanya yang mulai gatal.
...kalau menjalin hubungan dengan si Om tidak semudah yang dipikirkannya.
Lalu ponselnya berdenting. Dari Kepala HRD, Bu Viola.
"Wana, kamu nggak papa? Udah baikan kan? Kami ingin menjenguk kesana kalau kamu tidak repot," begitu isi WAnya.
"Nggak usah dijenguk bu, besok saya sudah masuk kantor kok," balas Wana.
"Bukan begitu Wana, masalahnya dari pihak atas ada klausula untuk memecat kamu, karena kamu akan menikah dengan Pak Artha. Apa itu benar?"
Beuh! Cepet bener beritanya!
Tapi kata-kata 'dipecat' kenapa terasa menyakitkan ya?!
"Saya boleh resign aja nggak sebelum dipecat?" masalahnya ini berhubungan dengan harga diri.
"Kalau resign nggak dapet pesangon," balas Bu Viola.
"Oke dipecat aja, lumayan buat bayar kosan," jawab Wana cepat.
"Kamu mau jadi istri konglomerat masih saja kepikiran bayar kosan -emot ngakak-," balas Bu Viola.
"Masalahnya konglomeratnya super pelit! Sampe males ke salon karena menurutnya mahal jadi rambutnya digondrongin!" balas Wana kesal. Lihat saja dia dikarantina di RS tanpa cemilan. Chiki kek, Donat kek, ini cuma air mineral 1 liter! Beneran nggak ada perhatiannya!
Bu Viola membalas WA wana hanya dengan emot ngakak yang banyak banget.
"Begitulah Pak Artha, kami sih sudah paham hahaha. Oke, besok kalau masuk kerja, kita proses pemecatan kamu ya Wana, selamat untuk kamu. Dari awal saya sudah ada feeling kalau kamu berbeda dari yang lain,"
Ya iya lah semua langsung ngeh kalo Wana berbeda, dari awal dia khusus dikawal duo herder, siapa coba yang nggak heran?! Anak TK juga tahu.
__ADS_1
Wana hanya memonyongkan bibirnya yang tipis lalu menghela napas.
Dia sebenarnya sedang menunggu seseorang saat ini.
Seorang kurir khusus.
Tapi...
Ini 'kurir khusus'nya lama bener datengnya, jangan bilang nyangkut di hotel bintang 7 karena ada orderan.
"Woy!" Kevin menongolkan kepalanya dari balik pintu.
"Nah!! Lama banget lo datengnya, cuy!" Wajah Wana langsung berubah cerah.
Kevin langsung menjewer telinganya, "Lu tuh sadar nggak sih gue lagi di Depok! Lu pikir gue bisa terbang jalan ke Jakpus. dalam 5 menit?! Udah gitu lu tuh request Burger Blenger yang cuma ada di Jaksel! Bukan McD lagi yang ada dimana-mana! Nih gue pesenin selusin! Biar mabok burger lo sekalian!!" Cowok itu melempar kantong plastik besar ke sebelah Wana.
"Aaah Keviiinnnnn" Wana memeluk pinggang Kevin dengan sayang, "Untung gue punya eloooo, sebagai budak. Wahahaha!"
"Gue yang bego mau aja disuruh-suruh! Lo tuh sapa sih sebenernya?! Pake penglaris lo yak?! Sampe gue ga bisa lepas!!" Omel Kevin sambil menepis pelukan Wana dan dengan misuh-misuh berjalan ke arah pintu keluar.
"Lu mau kemana keeeev?! Gue bosen sendirian!"
"Ya mau lanjut seminar, Dasimaaaaa! Gue nih mahasiswa baru, woy!" dengus Kevin. "Besok gue demo di gedung DPR! Awas lo ganggu-ganggu gue! Gue mau kerja mulia menyampaikan aspirasi rakyat!"
"Di deket sana ada sate enak, beliin dong!"
"Bodo ah!!" Seru Kevin sambil menutup pintu kamar Wana.
Ya tapi, biasanya ngomel-ngomel, besok tahu-tahu Kevin beneran muncul dengan satenya sih.
*
*
Di atas meja sudah bergelimpangan bungkus-bungkus burger.
"Kamu... Kenapa?"
"Endul mantul hihihi," gumam Wana dengan mata menerawang tapi wajahnya seperti orang lagi sakaw.
"Hah?" Artha menatap bungkus burgernya, tulisannya Blenger. Ada ya burger dengan nama seabsurd itu. Dan lagi jumlah sampahnya kenapa banyak sekali?! "Kamu makan semuanya?"
"Aku khilaf, tau-tau habis," gumam Wana.
"Astaga, kolesterol," sahut Artha jengkel.
"Ini salah kamu,"
"Kenapa ini salahku?"
"Kamu sayang aku nggak?"
"Ya iya lah,"
"Serius?"
__ADS_1
"Sudah pasti serius,"
"Terus kenapa kamu ninggalin aku tanpa cemilan disini haaaaahhh??" seru Wana. "Suguhin cake, kek! Atau bakmi kek! Atau gorengan kek! Aku kelaperan tau!!"
"Kan udah dapet makan dari RS,"
"Rasanya hambar!"
"Ya iya kan makanan untuk orang sakit,"
"Aku nih sakit digebukin, bukan tipes! Masih bisa makan enak!!"
"Ya udah nanti dipesenin," Artha menyerah.
"Nggak usah, aku udah mabok burger!" seru Wana sambil membuang mukanya, ceritanya ngambek. "Eh, tapi kalo malemnya ada hazelnut coffe dari starbak boleh juga sih," tambahnya malu-malu.
Artha hanya mencibir sambil berkacak pinggang.
"Kenapa?!" tembak Wana melihat Artha, "Nyesel pacaran sama anak kecil?!" semburnya. "Iya aku emang masih kecil! Banyak yang nggak percaya aku udah akil baligh! Posturku emang rada mungil, tapi gini-gini aku kan juga pingin perhatian!"
Artha diam saja.
Dipikirannya sih membenarkan, tapi melihat tingkah Wana yang lagi ngomel kenapa malah lucu ya?
Sedikit-sedikit meracau, lalu mesem-mesem, terus berubah lagi ngomel-ngomel.
Seperti...
"Kamu lagi PMS?" tanya Artha.
Wana langsung menatapnya dengan sendu, "Iyaaaa, lagi sakit perut niiih,udah minta pain killer sama suster tapi habis itu malah laper bangeeet, uhuk!" Wana menjatuhkan tubuhnya dengan posisi menelungkup di ranjang.
Elah! Tinggal ngomong aja pakai muter-muter nggak jelas. Omel Artha dalam hati.
Si Om pun duduk di pinggir ranjang, di sebelah Wana sambil mengelus rambut gadis itu. "Terus maunya gimana?" tanya Artha.
"Peluk,"
"Iya, sini,"
"Semaleman,"
"Iyaaa,"
"Beneran ya?"
"Iya,"
Dan 10 menit kemudian, Wana tertidur. Extra mendengkur. Padahal cuma ditepuk-tepuk pinggulnya.
Dan Artha pun berpikir. Kalau nanti mereka punya anak, mana yang lebih kekanak-kananakan. Istrinya, anaknya atau malah dirinya?
Yang mana pun, tampaknya Artha akan menikmati setiap momentnya dengan ikhlas. Karena seharusnya sudah sejak lama ia berumah-tangga.
Informasi mengenai Yuni Bahana sudah diterimanya, bahwa gugatan sudah diajukan. Ia bahkan sudah menerima tanggal sidang.
__ADS_1
Ia berharap, saat Wana dan dirinya menikah, tidak ada lagi gangguan tak jelas yang mengancam kehidupan mereka berdua. Wana harus dalam keadaan senyaman mungkin.
Dengan lembut ia mengecup dahi calon istrinya, lalu merebahkan kepalanya ke bantal tebal di belakangnya. Dan ia pun ikut memejamkan matanya.