
Kevin berbaring di atas ranjang Dian sambil menutupi kepalanya dengan lengan. Ia hanya diam, tapi lelehan air mata terlihat dari sela lengan yang menutupi matanya.
Rekaman CCTV menampilkan adegan masa lalu, hal ini sudah dilihat Kevin di kantor polisi. Namun tetap saja rasa sesak dan traumatis tetap akan berbekas seumur hidupnya.
Tapi yang baru ia lihat adalah video rekaman dari anggota PI (Private Investigation) yang menampilkan adegan pencarian mobil tersangka.
Disitu ditayangkan terdapat mobil yang mirip dengan ciri-ciri mirip seperti di CCTV. Detektif menemukannya di sebuah bengkel sekitar 2 km dari TKP. Warna putih, beberapa goresan, kaca hitam pekat, dan sedang dalam proses pengecatan menjadi warna hitam.
Di video itu terlihat Pepen sedang duduk di dalam kursi panjang bengkel, menunggu proses pengecatannya.
Ada seorang lagi yang Kevin tidak kenal berdiri mondar-mandir di depan Pepen sambil menelpon. Sesekali Pepen terlibat adu mulut dengan orang itu, namun dilerai mekanik bengkel.
"Gila," gumam Kasep. "Yang serius begini masih lo anggap permainan, Yan? Lo udah nyimpen video ini berapa lama, hah? Kalau dari awal lo kasih tau kan banyak resiko yang bisa teredam! Beda sehari dua hari aja tersangka bisa-bisa melarikan diri keluar kota dan nggak terjamah lagi!" seru Kasep sebal.
Dian hanya bisa diam, memikirkan kebenaran dari perkataan Kasep.
"Gue mau ke Kantor Polisi," kata Kevin akhirnya sambil beranjak dari ranjang.
"Gue temenin ya!" Kasep langsung gerak cepat.
"Gue ikut!" seru Agus.
"Lu di sini aje," kata Kevin dan Kasep berbarengan.
"Hah? Buat apa gue di sini?" gumam Agus.
Kevin mencabut disk dari laptop setelah mengcopynya, lalu memicingkan mata menatap Dian.
"Gue nggak mau kenal lo lagi, ini terakhir kalinya kita ketemu!," gerutunya sebal ke Dian.
Dian terpekik shock.
"Kak Kevin! Jangan gitu kak! Paling tidak aku sudah berkontribusi walaupun telat!" cewek itu mencengkeram lengan Kevin dengan kuat, mencegah Kevin pergi sebelum memaafkannya.
"Ini masuk kategori menghambat penyelidikan nggak sih?" tanya Kasep.
"Sampe segitunya, Sep?" tanya Agus sambil garuk-garuk kepala.
"Gue maafin kecuali..." Kevin melirik Agus. Lalu ia bertatapan penuh arti dengan Kasep. "...kecuali lo temenin Agus semalaman,"
"Etdah, sempet-sempetnya lo!" keluh Agus.
"Yuk Sep!" seru Kevin sambil keluar kamar.
"Makan tuh kecombrang!" seru Kasep ke Agus sambil cekikikan.
*
*
Kevin naik ke motornya dengan wajah cerah. "Lo tahu apa artinya ini Sep?!"
"Apa?"
"Selain gue dapet info gratis, Dian bakalan lepas dari hidup gue, dan akhirnya Agus nggak jomblo lagi,"
"Gertakan gue tadi mantep kan?!" Kasep menyeringai.
"Lo dan pasal-pasal karangan lo itu?! Beneran cucok jadi loyer lo!" dan Kevin toss dengan Kasep.
Akhirnya dengan tekad membara, Kevin dan Kasep menuju kantor polisi untuk menyampaikan informasi.
Apa sih sebenarnya yang semula direncanakan Kevin dan Kasep?
Saat Dian bilang kalau dia punya info mengenai tersangka, Kevin berusaha mendapatkan info itu tanpa perlu bersentuhan dengan Dian. Setelah memutar otak, Kasep datang dengan ide untuk menuduh Dian dengan kondisi menghambat penyelidikan dan bahwa tersangka bisa saja kabur karena informasi telat disampaikan.
Padahal sih, tuduhan itu tidak semudah yang dibayangkan. Sebaliknya, mereka sebenarnya harusnya berterimakasih pada Dian karena mendapatkan informasi secara gratis, karena penyelidikan memakai PI harganya mahal.
Harapannya, dengan gertakan itu Dian akan kalang kabut. Apalagi Dian sekarang sedang sendirian. Papanya ikut dengan Bu Dewi, Mama tirinya, melarikan diri ke luar negeri. Jadi dalam kondisi tanpa bekingan Dian akan panik dan segera memberitahukan info tersebut dengan sendirinya.
Tapi, kondisi Kevin nangis tadi itu beneran, sih.
"Gue berharap ini terakhir kalinya gue liat proses nyokap gue meninggal,"
__ADS_1
"Nggak bisa bro, bakalan ditampilin juga di pengadilan, nanti!"
"Haduh... Bener juga!" keluh Kevin.
*
*
Kevin menyantap bakmi di depan kantor polisi dengan lahap, bersama dengan Kasep dan AKP Suraji (ditraktir Pak Kumendan ceritanya, cuy).
"Bagaimana caranya kalian mendapatkan info itu?" tanya AKP Suraji.
"Ada temen kaya yang nyewa detektif swasta Komandan,"
"Hooo kamu beruntung punya teman sebaik itu loh, setahu saya detektif swasta itu mahal!"
Kevin dan Kasep saling lihat.
"Jangan kuatir, petugas kami segera ke lokasi. Haji Sueb akan kami panggil juga untuk dimintai keterangan,"
"Makasih Pak,"
"Ngomong-ngomong, lulus sekolah kalian akan melanjutkan kemana?"
"Saya sudah diterima di Amethys Tech, Pak. Divisi IT. Masih karyawan baru sih
"Hebat kamu! Ibu kamu pasti bangga,"
Kevin hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia memang berharap ibunya mendengar hal ini.
Hiduplah dengan baik dan bahagia. Itu yang akan Kevin usahakan sekarang.
"Kalau kamu?" tanya Pak Komandan ke Kasep.
"Saya mau nikah, terus lanjut cari kerja,"
"Memang kamu hamilin anak orang? Kok nikah muda?" tembak Pak Komandan.
"Gitu deh Pak, doakan saja semua lancar," gumam Kasep.
"Ya, saya mau bicara apa, sudah terjadi. Yang harus kamu tahu sekarang, pernikahan bukan akhir segalanya. Istri dan kamu masih bisa senang-senang, masih bisa lanjut sekolah, masih bisa kumpul sama teman-teman. Dan kamu harus lindungi anak kamu sekuat tenaga karena dia tidak bersalah," kata AKP Suraji.
Kasep hanya mengangguk, karena dia sudah tahu itu semua. Tapi yang dia takutkan sekarang justru berasal dari orang-orang sekitar mereka yang pikirannya masih kolot. Takutnya mulut toxic mereka akan membuat Farida jadi merasa insecure.
Kevin menepuk-nepuk punggung Kasep. Memberitahu bahwa dia selalu mendukung Kasep. Dan hal itu sudah cukup buat Kasep untuk melanjutkan hidupnya .
*
*
Minggu pagi pukul 6 teng.
GBK masih sepi, hanya ada beberapa orang sedang joging.
Kevin sedang merenggangkan tubuhnya, ia minum banyak air putih dan sedang mempersiapkan diri.
Kasep berolahraga kecil, sambil mengamati sekitar mereka. Menunggu matahari agak terang.
Agus, entah dimana. Nggak diharapkan datang juga.
Tapi,
"Kita butuh Agus bro, ntar yang videoin siapa, gue kan harus fokus!" sahut Kasep.
"Bener sih, kita juga butuh orang buat mengamati sekuriti," desis Kevin.
"Coba ditelpon, sapa tau masih..."
Dan Kevin dan Kasep tersenyum simpul. Lalu berubah menjadi seringai.
"Taruhan yuk, yang kalah diner sama homo," Mata Kevin berkilat.
"Hah! Homo? Lu ada kenalan gay?"
__ADS_1
"Ada, yang waktu itu gue ceritain,"
"Lu bilang dia bisex!"
"Ya apa bedanya?"
"Haduuuh, tantangan yang sulit sekali brotheeeer!"
"Jadi?"
"Oke!"
"Kalo gue, hm..." Kevin menunduk berpikir. "Agus masih perjaka,"
"Oke, kalo gue, Agus udah dol!" desis Kasep.
"Lu nggak percaya banget sih ama Agus, temen kita sendiri tuh! Baik hatinya dan rajin mengaji!" gerutu Kevin.
"Yang nggak gue percaya itu Dian, dia kan kayak fanatik banget sama lo. Pengertian 'lo temenin Agus semalaman' itu gue yakin ditangkap secara mesum, bukan sekedar temenin maen monopoli semaleman!"
"Gue ngomong gitu ya?!"
"Eh si kunyuk!"
"Alam bawah sadar gue itu bro," tapi terlihat senyuman licik di bibir Kevin.
"Spik aje lu!"
dan mereka berjabat tangan, tanda taruhan pun dimulai.
Dan pesan singkat mereka pun melayang ke Agus. "Cepetan ke GBK,"
Send.
Sekitar 15 menit kemudian,
"Nggak muncul-muncul bro, gue udah habis 4 botol aqua!" Kevin duduk di pinggir jalan.
"Persiapan lo mateng sama sih! Gue aja baru sebotol. Lu tuh mau gambar apa sih?!"
"Mukanya Nirmala,"
"Njir, pake air kencing,"
"Biar eksotis!"
"Kacrut!"
"Kan kesannya seksi,"
"Fantasi lo bikin gue merinding hebat," Kasep mengelus kedua lengannya yang penuh bintik-bintik bulu kuduk, "Gue takut ngebayangin udah lo apain aja si Tante Nir,"
"Yang jelas sampe..."
"Dah cukup goblok!" potong Kasep.
Kevin terkekeh.
"Njir, gue cinta banget sama dia," Kevin mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. "Gue pingin cepet-cepet mapan jadinya,"
"Bismillah Kev,"
"Bismillah tuh artinya apa sih?"
"Ohiya gue lupa lu domba tersesat,"
"Kev?" sebuah suara memanggil mereka.
Kevin dan Kasep mengangkat wajahnya dan memicingkan mata. Sebuah sosok menghampiri mereka, menggunakan celana training dan telanjang dada. Bodynya gile bener macam pecandu gym, penuh otot maskulin.
Terlihat orang tersebut baru selesai joging karena tubuhnya penuh peluh, menambah glowing otot dadanya.
Tubuh impian setiap pria sebenarnya, kalau saja Kevin tidak mengenalnya sebagai...
__ADS_1