Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 43


__ADS_3

Pelajaran yang bisa kita ambil dari hal ini adalah : dunia ini panggung sandiwara (nggak usah nyanyi yaaa).


Kev, bangun Kev, lanjut skenarionya. Satu episod lagi bisa ketemu Tante Nir.


*


*


"Langsung aja presentasi, Kev, udah jam segini," sahut Pak Frans Darling.


"Hah? Eeeh... Duh mati gue,"


"Jangan mati dulu, jelasin dulu ini konsepnya gimana," kata Artha sambil menopang dagunya di meja dan menatap Kevin dengan sinis. "Kita udah tanam modal bertriliun-triliun ini, awas kalo nggak achieve!"


"Om galak banget sih kalo meeting, amit-amit deh, mati aja nggak boleh," Kevin bergumam tak jelas.


"Apa?"


"Nggak jadi, Om," Kevin mengernyit sambil menelan ludahnya.


“ehem... anuuu...selamat siang para hadirin peserta meeting, Saya Kevin Cakra, software developer sekaligus hardware Engineer untuk bagian akhir dari proyek visual game dengan nama Rakhasa,”


Rasanya pandangan Kevin mulai buram. Ia pun menyalakan proyektor 4D dan sebuah hologram muncul di sekelilingnya. (Kalau pernah nonton Iron Man, nah seperti begitu).


“... jadiiiii konsep Rakhasa masih RPG tapi sekaligus Battle Royale , namun dikaitkan dengan kerajaan dan kesultanan yang pernah ada di Indonesia, bisa dibilang perang-perangan sekaligus perjalanan para tokoh untuk mengupgrade kekuatan berdasarkan kekuatan para Raja-Raaja di Indonesia di masa lampau...”


Beberapa avatar muncul di sekeliling Kevin, tampak halus grafiknya bagaikan manusia nyata.


“Game ini diciptakan dalam dua versi, yang satu dengan grafis tinggi, dengan RAM 8GB hanya bisa dioperasikan di Windows 10 keatas dengan kartu grafis Nvidia GeForce GTX 970 atau AMD Radeon R9 290, ukuran data 30 GB, tampilan seperti avatar di samping saya,”


Rasanya mau muntah...


Sekaligus kebelet pipis,


Sekaligus lapar,


Sekaligus pusing,


“Yang versi satunya dengan grafis lebih rendah dan nyaman di kantong para gamers, bocil, dan warneters dengan ukuran data hanya 8 GB, masih bisa pakai Windows 7 dan kartu Nvidia GTX 660 atau AMD Radeon HD 7870 DX11,"


“Selain avatarnya yang berbeda tampilan, apa yang menarik dari game ini?” tanya David Yudha.


Kevin langsung merinding,


“A-a-anuuu, sisi edukasinya Pak. karena para pemuda bangsa jarang ada yang perhatian terhadap sejarah Indonesia. Kekurangannya adalah saya mencari informasi hanya berdasarkan text book dan podcast, terakhir saat game ini sudah upgrade 80% baru saya tahu kalau sebenarnya banyak kisah dan sejarah yang diputarbalikkan demi kepentingan politik. Mungkin akan ada polemik sedikit, saya sudah ... duh, pusing gue,”


“Nggak usah pusing, konflik mah biasa,” kata Artha.


“Bukan game-nya Om,” gumam Kevin.


Dunia mulai berputar.


“... sudah mendiskusikannya dengan tim legal dan marketing, mereka sedang mengadakan meeting dengan sejarawan, antropolog, bahkan ahli retrokogsi, untuk memutuskan game ini layak edar atau ada perubahan, Kalau perlu Om Hao kita undang juga,”


Kevin diam.


Bukan karena presentasinya sudah selesai, tapi karena dia mulai berhalusinasi.


“Ini ada tembak-tembakannya nggak sih?” tanya Artha.


“Ada Om, sebagaimana standar Battle Royale. Tim dipilih acak, dilengkapi onmic untuk sumpah serapah ala alayers. Awalnya ambil senjata, kalau dia sudah dapat keris, itu berarti levelnya sudah tinggi,”


“Wah, menarik. Kamu bikin malah sebaliknya ya,”


“Kalau ilmu kebatinannya sudah tinggi nggak perlu Carbine, dari jauh saja sudah bisa mati,” gumam Kevin.


Semua terkekeh.


“Bagaimana target marketnya?” tanya Pak David,


“Kita kan ada kerjasama spek dengan NVidia, kayaknya harus menyesuaikan,” kata Artha.


“Untuk yang spek tinggi target marketnya profesional dan e-sport, kami juga akan ke istana dan menteri untuk bisa diikutkan olimpiade,” kata Bu Susan,


“Iya, sudah saatnya e-sport menggunakan game buatan negara ini, karena selama ini peserta kita kan masuk final semua,”


Lalu peserta meeting mulai berdiskusi dengan sesamanya, Kevin menayangkan trailer 3 menitnya.

__ADS_1


Dan berdiri di tengah ruangan, dengan kondisi tubuh hampir limbung.


Sudah limitnya, sedetik lagi disana dia pasti akan pingsan.


“Anuuu...” gumam Kevin.


Semua diam menatapnya.


“Saya lupa matiin kompor,”


Dan dia pun kabur dari sana.


*


*


Hampir aja gue ngompol!


Kevin tertegun menatap jendela toilet. Di depannya terpampang pemandangan Kota Jakarta dari ketinggian 100 meter dari atas tanah. Urinoir kantornya memang ngeri-ngeri sedap, menghadap ke jendela. Sambil pipis bisa sambil ngelamun.


Kadang sambil pipis ketemu sama yang suka bersihin jendela dan dadah-dadah. (Becanda, jendelanya kan pakai kaca OneWay).


Sampai toilet, kesadarannya mulai pulih, ia bahkan sempat cuci muka tadi.


“Kenapa alasannya harus matiin kompor sih? Gue kan kaga punya kompor!” keluhnya merasa bego sendiri.


Dulu di depan ratusan siswa dia meracau. Sekarang malah lebih parah, di depan para pemegang saham!


“Kiamat udah hidup gue, bisa jadi bahan bully habis ini,” gerutu Kevin sambil membentuk pusaran naruto dengan air pipisnya di atas urinoir.


Lalu ponselnya pun berdering,


Dari ketua BEM di kampusnya.


“Kev, lo dimana?”


“Kantor,”


“Yah, gimana nih...” Ketua BEM mengeluh sendiri.


“Ada apa’an sik?”


“Njir, gue lupa! OTW lah,” alasan Kevin untuk pergi dari kantor secepat mungkin. Toh bagiannya dalam meeting kali ini sudah selesai, sisanya masalah teknis tinggal urusan Pak Darling dan Pak Fandy.


*


*


“Mana tu anak?” tanya Artha sambil menghampiri Raka dan Jo.


“Barusan dia WA saya, katanya ke kampus Pak, alasannya ada seminar,” kata Jo.


“Itu sih kabur, namanya,”


“Bisa dikatakan begitu, Pak,”


“Untung saja presentasinya bagus,”


“Waktu dia ngejelasin sama tim, lebih bagus lagi, Pak,” kata Raka. “Tapi waktu itu mode santai di coffe shop sih ya,”


“Kenapa sekarang keok? Terus, matiin kompor yang tadi bagaimana?”


Raka dan Jo terkekeh,


“Kevin demam panggung,”


“Anak tukang tebar pesona begitu bisa demam panggung,”


“Kalau jadi pajangan doang dan gaya-gaya di atas meja dia bisa aja Pak, tapi kalo urusan public speaking dia langsung tepar,” kata Raka.


“Hooo,” desis Artha dengan kilatan mata licik. Langsung tersirat rencana untuk menjahili Kevin di acara pernikahannya.


*


*


“Dek Keviiiinnnn!”

__ADS_1


“Ya ampuuun kiyut abbiissss!!”


“Kevin I Love You Keviiin!!”


“Kevin for President!”


Ketua BEM melirik sinis si Kevin yang mesem-mesem jumawa di sebelahnya.


Ngeselin, sumpah! Udah dateng telat, begitu nongol malah jadi bikin nggak fokus! Tapi aplikasi untuk e-commerce kali ini dia yang bikin, gimana, coba?! Ketenaran gue sirna sudah! Pikir si Ketua BEM Ngenes.


“Intinya, kami bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi berusaha mempermudah program pemerintah dalam usaha UMKM dengan meluncurkan aplikasi e-commerce Anak Bangsa,” kata Ketua BEM.


“Keviiin hadap sini doooong!” seru hadirin. Tak ada yang memperhatikan Ketua BEM ngomong. (Peluk maklum Kak Ketuaaa).


“Hey, gaes, di sini Ratu Gelay! Jadi gue ini lagi ada di acaranyah anak UI getoh, dan lo liat di belakang gue neeeh, Toooh si Kevin Cakra, Bestiiiieeeee! The King Of Rupawan, Ambyaaaaaarrr!!!” sahut seorang tiktokers yang lagi pakai tongsis.


“Kevin foto bareng dooong!”


“Woy! Woy!” seseorang berteriak.


Seorang cewek nekat naik ke atas podium dan lari ke arah Kevin.


“Sekuriti! Sekuriti!!”


Panggung heboh menangkap cewek itu dan mengamankan Kevin.


“Kevin!! I Lov U! Jadi suamiku dong sayang!!” jerit cewek nekat itu.


“Amankan! Amankan!”


“Gaes! Heboh gilak! Ada yang nekat naik ke podium mau pegang-pegang Kevin! Ya bagaimana dong Gaes, diriku sih maklum ya soalnya tu cowok elok rupawan nggak punya Ig, tiktok, twitter, intinya doi low profile buangeeettt! Jadi sekalinya ada kesempatan ketemu begindang, sikaaatttt!!” seru si tiktokers.


Kevin melirik si tiktokers sambil berdehem. Bukannya dia tidak punya segala media sosial.


Dia punya, tapi pakai nama samaran.


Soalnya kalau sampai dia tenar, dan publik mengetahui asal-usulnya, pekerjaan sampingannya yang dulu pasti akan terkuak. Bisa-bisa dia ditangkep pulis.


Di lagi heboh-heboh begitu, ponselnya muncul notifikasi pesan singkat.


Dari Wana.


“Kev, help! Gue lagi coba-coba gaun wedding, gitu! Terus bingung sesuai apa nggak soalnya harganya mehong banget tapi kok jadinya aneh ya gue pake! Dan kayaknya gue juga butuh bobba deh, titip yak,”


“Aih, si Nyai...” keluh Kevin, Di saat begini ada yang minta Bobba.


“Kenapa, Kev?” tanya Ketua BEM, tapi dia lupa masih pakai mic.


“Gue butuh Bobba,” jawab Kevin.


“Beliin!! Beliin! Sang Pangeran butuh Bobba Woy!!” seru sang Tiktokers.


"Patungan beli konternya sekalian!”


“Mau bobba berapa Sri Bagindaaaa??”


“Beli selusin! Selusin borong semua!”


"Gaes, catet Gaes, ingat sampai ke liang lahat! Minuman kesukaan Kevin adalah Bobba!"


“Kev, tapi foto bareng yaaaaaa!”


Semua lagi-lagi heboh gara-gara Bobba.


“Iya, foto bareng, deh. Tapi jangan dorong-dorongan, antri,” Kevin menyerah karena kasihan. Modal foto dan senyum doang sih nggak berat buat dia.


“Antri hoi Antri!!”


“Bobbanya siapin dulu!”


“Sudah siap selusin!! Mau sekolam juga hayuk!”


Daaaan, begitulah cara Kevin mendapatkan Bobba saat Wana minta dia ke butik.


Untuk detailnya, silahkan sowan lagi ke episode 50, berjudul ‘Aku dan Gaunku’.


Ihik

__ADS_1



__ADS_2