
Wana masuk ke dalam ruangan Leo. Suasananya sepi dan agak gelap, dengan jendela besar yang mengarah ke jalanan, memperlihatkan suasana ibukota di malam hari yang seakan tak pernah tidur.
"Nggak papa nih Om? Tadinya kan Om mau pulang kan?!" tanya Wana.
"Nggak papa, sebentar aja," Leo menuju ke arah kursi kulit hitam yang tampak sangat nyaman diduduki. Lalu menepuk-nepuk sandaran kepalanya, "Sini duduk,"
Wana duduk di kursi kerja Leo menghadap ke komputer. Sementara Leo berdiri di belakangnya sambil menyalakan PC-nya. "Kamu memang suka konsep pernikahan yang seperti apa?"
Wana mengangkat bahunya. "Terus terang aku belum kepikiran Om. Tapi daripada terjadi fitnah, lebih baik menikah. Mau di KUA aja buat aku udah cukup kok, nggak muluk-muluk. Yang penting setelah itu ada dana buat hidup sehari-hari,"
"Itu kan pemikiran kamu. Mungkin kamu memang dibesarkan dalam kesederhanaan. Tapi kalau seperti Pak Artha, perfeksionis adalah hal utama baginya. Dan dia memiliki kuasa untuk mewujudkan semua keinginannya. Jadi kalau dia memilih konsep dengan detail, saya pikir wajar saja,"
"Begitu ya Om," Wana mengangguk mengerti.
"Saya sebenarnya kaget mendengar Bapak akan menikah. Karena selama ini kan dia tak ingin terikat. Seperti mamanya Stela saja tidak dinikahi, dan banyak juga wanita lain dalam hidupnya yang hanya dia kencani semalam, besoknya dilupakan. Kamu tidak kuatir?"
"Kuatir Om?"
"Kuatir suatu saat akan ditelantarkan seperti mamanya Stela. Apalagi dia benci wanita yang terlalu bawel, terlalu mengatur seperti Yuni, mamanya Stela," Leo sedikit membungkuk agar lebih bisa mempengaruhi Wana dekat di telinga gadis itu.
"Sampai sekarang sikapnya dingin ke Stela, yang merupakan anaknya sendiri. Padahal Stela tak salah apa-apa. Anak itu hanya korban dari keegoisan orang tuanya. Terpikir nggak suatu saat itu terjadi sama anak kamu?" bisik Leo.
Wana terpaku di tempat.
Pikirannya langsung penuh dengan berbagai hal.
Leo tampaknya berhasil mempengaruhinya. Karena gadis itu kini menegakkan duduknya, tegang.
Lalu Leo menumpukan tangannya ke kedua bahu Wana, memijitnya sedikit untuk membuat gadis itu relax.
"Yah, jangan kuatir. Toh, tunjangan dari Bapak selalu ada, dan berlebihan pula jumlahnya. Hanya saja, dia tidak akan selalu ada untuk kamu dan anak kamu," bisik Leo.
Kedua tangan Leo yang tadinya ada di bahu Wana, berangsur mulai turun ke lengan Wana, lalu mengelusnya perlahan.
"Jadi sebelum semua terlanjur, lebih baik kamu tanyakan saja ke Bapak. Dia siap menikah atau tidak? Siap terikat atau tidak? Siap direpotkan setiap hari dengan urusan rumah tangga dan hal remeh atau tidak? Bisnisnya sudah pasti akan terganggu dengan adanya istri dan anak," bisik Leo.
Pria itu menunduk mendekatkan bibirnya ke pipi Wana, berniat untuk mempererat interaksinya.
Tangan Leo yang tadinya di lengan Wana, mulai merambat ke tengah menyasar ke dada gadis itu.
Tulululuttt!
Ponsel Wana berdering.
Wana tersentak kaget.
"Eh? Aduh!" dengan panik gadis itu merogoh kantong celananya.
Di layar ponselnya tertulis nama : Berondong Kampret.
Kevin menelponnya.
"Anuuu sori Om, saya angkat dulu teleponnya," sahut Wana sambil terburu-buru keluar dari ruangan Leo.
Leo menatap punggung Wana yang menjauh dengan sinis. Pria itu mendecak kesal.
Mangsanya lepas lagi.
Tapi setidaknya, ia sudah mengirimkan sugesti ke Wana agar gadis itu ragu dengan perasaan Artha.
*
*
__ADS_1
"Halo?" sapa Wana.
"Dasima!! Lo ada di mana?!" seru Kevin. Sepertinya cowok itu sedang panik.
"Nyebut nama gue sembarangan nanti ti**t lo mengecil tiba-tiba!" sembur Wana
"Njrit! Doanya super sadis!" seru Kevin, "Ada hal penting banget yang mau gue omongin, lu dimana?"
"Di kantor,"
"Tungguin gue di lobi, jangan kemana-mana. Lo hampir aja kena santet tau nggak?!"
"Hah?! Siapaaaa yang berani?!"
"Makanya jangan kemana-mana, tunggu gue 15 menit nyampe,"
Wana ikutan panik. "Iya deh gue tungguin! Jangan lama-lama gue jadi takut nih!"
"Sekalian beliin kopi ya! Pake coklat dikit, esnya yang banyak,"
"Woy!! Kampret nitip pula!"
Akhirnya, dengan penuh kecemasan, Wana menunggu di ruang duduk Lobi gedung.
Ia berjalan bolak balik sambil ngemil pilus yang ia sekalian beli dari konter kopi di depan air mancur lobi.
Lalu langkahnya terhenti.
Wait! Seperti ada yang terlupa dan cukup serius.
Tapi apa ya?
Wana berdiri sambil memajukan bibirnya, mencoba mengingat.
"Loh, Mbak Wana masih di kantor?" Sebuah suara membuatnya menoleh. Chandra dan Birawa baru turun dari lantai 50 dan menghampirinya. Mereka sudah berganti dengan pakaian casual yang biasa digunakan kalau pulang kerja.
"Iya barusan gue absen keluar dulu, lupa absen pas siangnya soalnya buru-buru mau ke kampus," sahut Wana.
"Hoo," Chandra dan Birawa saling bertatapan penuh arti, lalu Birawa menganggukkan kepalanya. Chandra pun menoleh kembali ke Wana.
"Sebenarnya ada yang mau kami bicarakan sih Mbak. Kalau sekarang waktu yang tepat, boleh dibahas sebentar mumpung masih hangat topiknya?" tanya Chandra.
"Gue lagi nungguin orang sih, katanya sebentar lagi sampe," kata Wana.
"Nggak lama kok, ngomong di sini juga gapapa, mumpung nggak ada Bapak,"
Wana menaikkan alisnya. Merasa aneh karena ada embel-embel 'mumpung nggak ada Bapak'.
"Boleh saja sih, ada apa ya, Mas?" tanya Wana.
"Jadi, kami memeriksa cctv tadi sore. Dan ada rekaman yang memperlihatkan ada orang asing yang memasuki ruangan Bapak,"
Wana langsung tegang.
Gawat!
Sumpah, ini gawat!
"Ada tiga orang yang bukan merupakan karyawan kami. Ketiganya bahkan menggunakan seragam putih abu-abu. Kami juga mendapati kalau Mbak Wana yang mempersilahkan mereka masuk," lanjut Chandra.
Wana hanya bisa diam.
"Mbak Wana tahu sendiri kan kalau tidak ada yang boleh memasuki ruangan Bapak selain kita bertiga," sahut Bira.
__ADS_1
"Akan ada sangsi tegas bagi yang melanggar aturan. Kalau karyawan biasa langsung kami pecat tanpa pesangon beserta surat rekomendasi buruk. Tapi kalau Mbak Wana, kami bersedia bicarakan dengan lebih kekeluargaan," kata Chandra.
"Kekeluargaan itu maksudnya bagaimana?" Wana mundur selangkah. Ia merasakan adanya suatu firasat buruk.
Chandra dan Birawa kembali saling bertatapan.
Mereka menyeringai.
"Ada beberapa permintaan dari kami yang sudah lama tidak direspon Bapak. Kalau Mbak Wana bisa membujuknya agar dikabulkan kami bersedia menghapus rekamannya,"
Wana lagi-lagi diam.
Kalau sampai ada permintaan yang tidak diacuhkan Om Artha, bukankah itu tandanya permintaan itu memang tidak layak diajukan dan berdampak buruk bagi perusahaan?! Begitu Pikir Wana.
"Gusti Raden Ajeng Permaisuri Wana apa-lah!" seru Kevin dari kejauhan. Cowok itu tampak setengah berlari
menghampiri Wana.
"Ehm, diskusinya kita pending dulu ya Mas!" sahut Wana sambil menghampiri Kevin.
Chandra dan Birawa melihat Kevin dengan heran.
Kenapa cowok itu bisa di sini? Ada apa lagi ini?! Pikir mereka berdua.
Tapi Kevin tidak langsung berbicara ke Wana. Ia memicingkan mata ke arah Chabir dengan curiga.
"Eh? Lu bukannya..." gumam Kevin.
Birawa langsung salah tingkah. Lalu mundur selangkah sambil melirik Chandra, berusaha memberi kode.
Chandra mencibir kuatir.
"Lu kan yang motong dioda gue!!" seru Kevin sambil menghampiri Birawa. Bira langsung berlindung di balik Chandra.
"Wo wo wo!! Sabar Pret! Eh, Kev! Kalem dulu woy!!" seru Wana sambil menghadang Kevin.
"Gue inget banget hoodie hitamnya persis begitu! Sekilas gue liat tampang songongnya langsung keukir di otak gue, nggak mungkin salah!!" seru Kevin sambil berusaha meraih Bira.
"Masa sih lo inget?!" desis Wana tak yakin. Sekelas Kevin yang bahkan nama Wana saja dilupakan malah dikira tante-tante, masa bisa inget dengan sosok Bira?
Susah payah Wana memeluk tubuh Kevin supaya tidak menyerang Bira. Bisa gawat kalau sampai terjadi baku hantam karena mereka masih di lingkungan kantor.
"Inget, soalnya dia ngerjain Pacar gue!!" Seru Kevin penuh dendam.
Oh, jadi kalau berhubungan dengan motornya jangan harap ada kata 'Damai' di kamus Kevin.
Tapi ada sesuatu yang mengganggu Wana. "Kev, lu kok wangi Chanel?!"
"Apa tuh senel?!"
"Parfum sosialita,"
"Gue belum sempat mandi, barusan klien gue namanya Yuni Bahana,"
"Iyuuuuuhhhh!!!" seru Wana langsung menjauh. "Dahlah lo mau apain tuh Mas Bira, gue males deket-deket lo!" seru Wana jijik sambil mengusap kedua lengannya menyingkirkkan wangi semerbak parfum yang juga menempel di tubuhnya. Wajahnya tampak jijik.
"Ya jangan gitu juga dong, Mbak. Kami kan cuma disuruh Bapak," gumam Bira sambil mendorong Chandra maju, untuk menetralisir keadaan.
"Disuruh Bapak? Ini si Om Artha yang nyuruh?!" seru Wana kaget.
Chandra menghela napas panjang.
"Ini maksudnya apa nih? Ada apa sih sebenarnya?!" Wana mulai kebingungan.
__ADS_1
"Lu lengah dikit, makan nih bogem! Sekalian ganti kabel pacar gue, 5 juta!" gerutu Kevin sambil memandang Bira dengan kebencian tingkat tinggi dan mengangkat tinjunya ke udara.
Bira hanya berdehem canggung.