Oh ... Tuan Guntur " Sebatas Pelampiasan dendam"

Oh ... Tuan Guntur " Sebatas Pelampiasan dendam"
Bab 22 : Kedatangan Vano.


__ADS_3

Malam hari, ketika sampai di rumah. Guntur dan Lisa turun dari mobil secara bersamaan, namun tidak bergandengan tangan.


Langkah Guntur langsung berhenti ketika netra matanya melihat Vano berdiri di depan pintu menyambutnya.


Guntur melihat kanan kiri, ia takut jika sang supir membawanya ke rumah yang salah. Sedangkan Lisa sedikit terkejut melihat Vano ada di depannya.


"Dia sudah dia ada di sini? Ngapain dia di sini."


''Aku tidak salah rumah 'kan?'' cicit Guntur dengan pelan.


''Gunturr ... Ayo masuk masuk masuk.'' Ucap Vano, layaknya pemilik rumah.


''Ck, ini rumahku. Ngapain kamu di sini?'' Guntur melewati Vano, sedangkan Lisa melambaikan tangannya untuk menyapa Vano tanpa suara.


"Haiii, Kak."


Vano tersenyum.


''Aku kesini untuk bertemu Jida, tapi Rumi memberi tahu jika Jida Lintang berada di Paris.''


''Soo, Jida tidak ada di sini. Kau bisa pulang sekarang.'' Usir Guntur.


''Aku tidak mau pulang, aku mau makan malam sebelum pulang. Dulu Jida Lintang selalu membiarkan aku kenyang saat aku pulang dari sini.''


Guntur terlihat menghela nafasnya. ''Rumi!''


''Saya, Tuan Muda.'' Rumi sudah suap siaga.


''Berikan dia makan malam, setelah itu usir dia.'' titah Guntur, melangkah ke lantai atas di susul oleh Lisa.


Sedangkan Vano tersenyum senang. ''He he, dia kesal? sangat menyenangkan.'' Entah apa yang Vano rencanakan, sehingga Vano begitu senang melihat Guntur terlihat kesal.


''Tuan, makan malam sudah siap.''


Vano menoleh dan terrsenyum pada Rumi. ''Aku akan menunggu mereka untuk makan malam bersama.''

__ADS_1


''Baik, Tuan.''


Vano duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Sementara di lantai atas, Guntur merasa kesal atas kedatangan Vano ke rumahnya.


Bayang bayang Ziell hadir kembali di benaknya, membuat kepala Guntur menjadi pening mendadak. Susah payah dia melupakan bayang bayang Ziell selama di sini, kenapa sodara tengilnya datang untuk menghancurkan moodnya.


''Hubby, airnya sudah siap.''


''Hm.''


"Mulai lagi dingin." Keluh Lisa melihat Guntur yang tidak banyak bicara.


Lisa membantu membuka semua pakaian Guntur seperti biasa, menunggu pria itu selesai mandi dan memakaikan baju bak anak kecil.


Setelah selesai, mereka keluar dari kamar menuju lantai bawah untuk makan malam.


''Kau masih di sini?''


Vano tersenyum. ''Tentu saja, mana mungkin aku makan terlebih dahulu. Sedangkan yang punya rumah belakangan, ayo kita makan bersama.''


Lisa seperti biasa menuangkan makanan untuk Guntur, dan pergerakan Lisa tidak luput dari penglihatan Vano.


"Ck, istri yang baik untuk pria sableng macam si Guntur itu tidak pantas." Gumam Vano dalam hati.


''Kau tidak makan, Lisa?'' Tanya Vano, melihat Lisa hanya diam saja.


Lisa tersenyum, ''Tidak Kak, aku makan setelah suamiku makan.''


''Setelah Guntur makan? Kau makan bekas suami mu?'' tebak Vano, membuat Guntur mencengkram sendok ya.


''Kenapa seperti itu? Kau di perlakukan buruk oleh suamimu? apa jangan jangan ... wah, wah wah. Tuan Muda satu ini, apa sebegitu prustasi nya setelah gagal mendapatkan adikku?'' ledek Vano.


PRAANG!


Guntur dengan kasar menaruh sendok dan garpunya dengan kencang.

__ADS_1


''Apa kau tidak bisa diam! Makan dan jangan ikut campur rumah tangga orang lain.''


''Slow, Bro ... kenapa begitu kesal? Bukan'kah apa yang aku katakan benar.''


Vano terkekeh namun dalam hati dia merasa puas, lalu Vano melihat Lisa.


''Lisa, jika kau sudah tidak tahan menjadi pelampiasan suami mu, maka datanglah padaku. Pintu rumahku selalu terbuka untuk wanita cantik seperti dirimu.''


BRAAAK!


''Keluar! Keluar dari rumahku.'' Usir Guntur.


''Baik, aku akan pergi. Tapi aku akan kembali untuk merebut apa yang kau punya.'' Vano berkata terang-terangan.


''Sialan!'' Bentak Guntur ingin memukul Vano, namun Vano menahan tangan Guntur yang akan memukul wajahnya.


''Ck, Ck, Ck, pria seperti dirimu tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Apa lagi memiliki istri seperti Lisa.'' Ucap Vano menekan.


''Apa mau mu!''


''Sudah aku bilang, jika aku datang untuk merebut apa yang kau punya. Aku sangat tertarik dengan istri kecil mu.'' Bisik Vano melirik Lisa, lalu menepuk bahu Guntur.


''Aku pergi hah, jaga istrimu sebisa mungkin.''


''Brengseek kau Vano!''


Vano melenggang pergo dari kediaman Arrashid dengan senyum sumringah, sedangkan Guntur yang kesal lalu pergi mengambil kunci mobilnya.


Lisa pelanga pelongo, lalu duduk kembali di kursi untuk makan. Karna perut dia sudah keroncongan meminta di isi.


''Emmm ... Ayam ini enak sekali.''


•


...🌷🌷🌷...

__ADS_1


...LIKE.KOMEN.VOTE...


__ADS_2