
''Rumi.'' Teriak Lisa dari lantai atas. ''Rumi oh Rumi ...''
''Iya Nona, aku segera datang.'' Rumi bergegas melangkah ke lantai atas menemui Lisa yang berada di kamarnya. ''Ada apa Nona?''
''Rumi, boleh aku minta tolong?''
''Tentu saja Nona.''
''Tolong belikan aku pembalut, di lemariku sudah tidak ada. Aku takut jika mendadak si bulan datang.''
Rumi diam sejenak. ''Memangnya Nona belum datang bulan?''
Lisa menggeleng. ''Belum, seharusnya sih dua minggu yang lalu ... tapi sampai sekarang belum datang itu si bulan. Takutnya besok lusa di bulan datang dan aku nggak punya pembalut.''
Rumi menyunggingkan bibirnya, ''Baik Nona.''
Rumi mengerti dan segera keluar dari kamar Lisa untuk membeli sesuatu. Sedangkan Lisa berbaring di ranjang lagi, entahlah ... badannya terasa lemas dan remuk akhir akhir ini. Apa karna suaminya terus menggempurnya dari kemarin, hingga tubuhnya merasa lelah dan capek.
Mata Lisa terpenjam, bersamaan Guntur keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan handuk sepinggang. Dan sebuah kecupan mendarat di bibir Lisa.
''Kamu kenapa Ayank, sakit?'' tanya Guntur, memegang kening istrinya.
''Nggak, aku hanya sedikit lelah. Kamu sih terus main kuda kudaan terus.'' Lisa cemberut, yang mana membuat Guntur tersenyum.
''Kita makan malam ke bawah yu, dari pulang sekolah tadi kamu belum makan.''
__ADS_1
''Masih sore udah ngajak makan malam.'' Ucap Lisa kembali memejamkan kedua matanya.
''Apanya yang masih sore, sayang ... ini udah jam tujuh malam.''
''Benarkah? ya ampun ...''
•
•
Di meja makan, Lisa hanya melihat dan tidak berselera untuk memakan hidangan yang sudah tersaji. Rasanya ia bosan melihat makanan khas Timur Tengah itu.
''Sayang kenapa nggak mau makan?''
''Trus kamu mau makan apa? Biar koki di dapur yang bikinin.''
''Rasanya aku pengen makan sambel sama ikan asin, trus makan pete.''
Guntur langsung melototkan kedua matanya. ''Pete? kau suka pete?''
Lisa mengangguk, ''Itu makanan paling enak dan ter ... thebest Yank.'' Ucap Lisa, mengusap air liyur goibnya.
''Iyuuukk, jijik! Makanan bau neraka seperti itu kau suka. Enaknya dari mana coba? Waktu aku pertama datang ke rumah Orangtua mu, trus bibi mu memberikan ku pete dengan embel embel surga. Yang ada aku muntah semalaman karna baunya tidak sedap untuk di hirup,'' Guntur berujar saat ia mengingat pernah memakan pete.
Lisa terkekeh, ''Sekali makana mana nendang Yank, kau harus mencoba setidaknya dua tau tiga kali.''
__ADS_1
''Nggak ah! Di kasih uang 1m aja ogah makan itu, mana mulut bisa bau lagi.'' Ucap Guntur bersungut sungut sambil menyuapkan nasi kedalam mulutnya.
Lisa cemberut dan menopang dagu dengan kedua tangannya.
''Nona, ini barangnya.'' Rumi memberikan kantong keresek tepat di depan Lisa.
Lisa membukanya dan mengambil barang tipis yang di beli Rumi, ''Apa ini? Pembalut kok tipis kaya gini Rum?''
''Itu bukan pembalut Nona, tapi itu tespek.''
''Hah, tespek. Buat apa?'' Tanya si sableng yang sama penasarannya seperti Lisa.
Rumi memutar matanya dengan malas, ia menggerutu dalam hati. Kenapa kedua majikannya ini begitu bodoh tentang hal yang penting? Kenapa mereka hanya tau bagaimana cara Na na ni nu tanpa tau jika kecebong yang dia semburkan setiap malam akan berbuah.
''Tuan Muda, tespek ini kegunaannya untuk pengecekan jika Nona Lisa hamil atau tidak.''
''Hah!'' Keduanya terkejut secara bersamaan.
Guntur menoleh pada Lisa, ''Emang siapa yang udah hamilin kamu, Yank?'' Sebuah pertanyaan, yang membuat Rumi ingin menjedotkan kepala Guntur hingga otak cerdasnya bisa kembali berfungsi. Termasuk Lisa.
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1