
Sekitar pukul empat sore, Guntur sudah sampai di Bandung. Namun sayang mobilnya tidak bisa masuk ke belokan rumah orangtua Lisa, hingga akhirnya Guntur keluar dari mobil dan memutuskan untuk berjalan kaki.
Namun setelah sampai di pekarangan rumah Orangtua Lisa, ia sedikit bingung dengan situasi sekarang ... di mana ia tidak melihat rumah Orangtua Lisa.
''Eh ... perasaan dulu di sini rumahnya, kok bisa hilang?'' Guntur celingak celinguk melihat sekitar dengan bodohnya.
Bagaimana tidak! Setau dirinya, dulu rumah kedua Orangtua Lisa sangat kumuh dan ingin roboh. Tapi kenapa belum genap lima bulan sudah berdiri rumah mewah dan bertingkat di depannya.
"Apa Mertua ku pindah rumah yaa?" Gumam Guntur dalam hati, namun ia sedikit geli saat mengatakan kata mertua. Ia tidak pernah membayangkan akan mengatakan hal itu di seumur hidupnya.
''Cari siapa Pak?'' Tanya seseorang dari arah belakang.
Guntur menoleh, ''Eh iya bu, saya sedang cari ... Umm, Nama mertuaku siapa yaa?"
''Cari siapa?''
''Itu, Bu. Saya suami Lisa.''
Orang itu langsung melotot karna terkejut. ''Oalaahhh, menantuku rupanya ...'' teriak orang itu, yang tidak lain adalah bibi Lisa.
''Bukan, saya bukan menantu Ibu.''
PLAAK!
Bibi Lisa yang bernama Ainun memukul pundak Guntur sambil terkekeh. ''Lisa itu keponakan saya, saya ini bibinya Lisa.''
''Ouh ...'' Guntur mengelus pundaknya yang di tepuk sangat keras. "Kuat banget pukulan nya. Alamak, remuk sudah jika aku di dekatnya."
''Ayo, kamu mau ketemu Kakak ku 'kan? dia ada di rumahku mengungsi, karna rumah ini masih di renovasi.''
__ADS_1
Bibi Ainun mengajak Guntur dan menggandengnya dengan paksa, ia banyak bercerita dan membanggakan Guntur karna menjadi suami dan menantu yang baik karna mau memperdulikan keluarga istrinya yang kesusahan.
Sedangkan Guntur hanya diam, ia tidak tau kemana arah pembicaraan sang Bibi. Karna dia tidak merasa jika dia sudah menjadi menantu dan suami yang baik, ada pun itu ... mungkin di masa depan nanti, karna dia akan membenah diri mulai dari sekarang.
''Eceu! Ini menantu mu datang.'' Teriak Bibi Ainun, membuat Ibunya Lisa yang tengah duduk di teras untuk botram (Makan bersama) langsung menoleh dan terkejut melihat menantu yang dia banggakan datang.
''Yaloh yaloh yaloh ... mantuku datang.'' Sambut Ibunya Lisa dan langsung memeluk Guntur.
Guntur tidak menolak pelukan dari mertuanya, entah mengapa ia merasa seperti di hargai dan di tunggu tunggu kedatangannya. Dan itu membuat Guntur tidak berkutik dan menerima pelukan dari mertuanya.
''Apa kabar Nak. Lisa mana?''
Guntur diam sejenak, memikirkan alasan apa yang pantas untuk ia ucapkan.
''Lisa tidak ikut, Bu. Saya sedang ada keperluan di Indonesia dan hanya mampir sebentar untuk melihat keadaan Ibu.''
Ibunya Lisa tambah sumringah, ia tidak menyangka jika menantunya yang dulu sombong dan dingin akan berlaku baik padanya.
''Mantu, kamu lapar?''
''He he, nggak kok Bu.''
KRUUUKK ...
''Iya, kamu lapar! Kasian pasti kamu lapar setelah perjalanan jauh. Ayo, ayo duduk di sebelah sini ... kita lagi botram bareng.'' Ibunya Lisa memaksa Guntur duduk untuk makan bersama.
Guntur ingin menolak pada awalnya, tapi mertua dan bibi Ainun terus memaksa. Yang pada akhirnya Guntur duduk dengan kedua wanita bersama beberapa anggota keluarga yang lainnya.
Mereka duduk lesehan di teras rumah, sedangkan kedua mata Guntur tengah mengamati makanan yang menurutnya aneh. Karna di depannya banyak sekali ikan asin, sambal, lalapan dan ada Ayam goreng yang sudah gosong.
__ADS_1
Namun satu makanan yang Guntur tidak tau jenis makanan apa yang berwarna hijau ada bijinya.
''Ibu, ini apa?'' Tanya Guntur, memegang pete dengan rasa jijik namun penasaran.
''Ini namanya Pete! Kau harus mencobanya Nak, ini enak walau pun setelah makan ini, mulut mu akan wangi wangi surga.'' Ucap sang mertua namun di tertawakan oleh semua anggota keluarga.
''Benarkah?'' Tanya Guntur tak percaya.
''Benerrr, sini bibi buka'kan.''
Bibi Ainun dengan telaten membuka satu persatu pete itu, dan menauh pete itu di atas piring Guntur.
''Nah, makanlah.'' Bibi Ainun menyedokan nasi untuk Guntur beserta lauk pauknya.
Guntur ingin memakannya, namun entah mengapa ia sedikit ragu. Sebelum makanan itu masuk ke mulut, Guntur mengendus terlebih dahulu.
''Apa ini layak di makan? Apakah ususku akan menerima yang namanya pete! Oh ... usus, maafkan aku.'' cicit Guntur dengan pelan lalu memasukan pete itu kedalam mulutnya.
Ketika si pete sudah ada di dalam mulut dan Guntur menguyahnya ... Tak lama Guntur membelalakan kedua matanya.
Satu ...
Dua ...
Tig---
HUUUWEEEKK.
•
__ADS_1
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE ...