
''Hubby, bukan seperti itu maksudku ... aku tidak membentakmu kok, hanya saja suara ku yang sedikit ngebas.'' Lisa menjelaskan pada Guntur, karna sedari tadi Guntur merajuk.
''Nggak! Udah jelas jelas kamu ngebentak aku.'' Teriak Guntur, berada di bawah selimut. Menyelimuti tubuhnya dari bawah kaki hingga kepala.
'Astagfirullah ...'
''Baiklah, aku tidak sengaja ... maafkan aku yaa sayang.''
Guntur membuka sedikit selimutnya untuk melihat Lisa yang sedang tersenyum padanya. ''Baiklah, aku maafkan untuk kali ini. Tapi lain kali jangan bentak aku, kamu tau Ayank ... hatiku sakit.''
'Baru di bentak gitu aja sakit hati! Bagaimana dengan perlakuan mu dulu.' Gerutu Lisa dalam hati.
''Yasudah, makan dulu yuuu ... aku udah capek loh bikin bubur yang kamu minta.''
Guntur mengangguk, lalu menyenderkan tubuhnya ke belakang ranjang. Walau agak sedikit ragu memakan bubur itu, Guntur tetap memakannya karna tidak tega mengingat istrinya sudah susah payah membuatkan bubur untuknya.
Lisa dengan telaten menyuapi Guntur yang sekarang tidak protes lagi masalah bubur. Hati dan pikirannya di penuhi dengan pertanyaan pertanyaan tentang suaminya yang bersikap aneh semenjak pulang dari Indonesia.
'Dia ini kenapa sih? pulang dari indo bukannya jadi waras, tambah sableng aja kelakuannya.'
''Hubby, boleh aku bertanya?''
''Apa Ayank?''
''Ummm ... I-ibu aku tadi telpon dan mengatakan jikaaa ...''
''Jika aku kesana dan membeli tanah atas nama mu?''
Lisa mengangguk ragu.
Guntur tersenyum dan mengelus rambut Lisa dengan sayang. ''Aku kasian liat kedua Orangtua mu harus bekerja di ladang orang dengan upah tukang parkir, Hehe he he ... dan anggap saja permintaan maafku yang dulu berlaku kasar padamu.''
''Tapi Hubby, apa itu tidak terlalu berlebihan.''
''Tentu saja tidak, maaf untuk sikap kasar ku selama ini dan terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini bersamaku.'' Guntur mengatakan dengan tulus.
Lisa yang mendengar itu jadi terharu dan langsung memeluk Guntur. Guntur pun membalas pelukan istrinya dengan erat, ia sadar jika selama ini Lisa lah yang paling terluka. Di mana ia memaksa Lisa menikah di usia yang seharusnya Lisa masih duduk di bangku sekolah, dan di mana Lisa masih ingin bermain dengan teman-temannya.
'Maafkan aku, telah menyeret mu sampai di sini'
__ADS_1
HUUUWEEEKK.
''Ayank, aku udah kenyang,'' Ujar Guntur, saat Lisa sudah melepaskan pekukannya dan ia merasa mual di dalam perutnya.
''Baiklah, minum dulu obatnya lalu istirahat yaa.''
Guntur begitu patuh layaknya anak kecil, membuat Lisa menghela nafasnya sambil terheran karna Guntur tidak meminta jatah anu padanya ... padahal jika di pikir suaminya sudah pergi selama dua hari.
''Sudahlah, apa sih yang aku pikirkan.'' Cicit Lisa, lalu keluar dari kamar membiarkan suaminya istirahat.
•
•
•
•
Malam hari.
''Rumi, di mana istriku?'' Tanya Guntur, yang sejak bangun dari tidurnya tidak melihat Lisa.
''Ahh, baiklah.''
Guntur berjalan ke teras belakang dan melihat istrinya sedang belajar. Namun ketika ia akan menghampiri istrinya, suatu ide menjahili muncul dalam benaknya.
''Hi hi ... sepertinya seru.'' Cicit Guntur pergi ke suatu tempat.
Sementara Lisa sedang fokus belajar untuk ujian besok, saking fokusnya belajar, ia tidak memperhatikan sekitar.
GRUSUK. GRUSUK.
Samar samar Lisa mendengar suara dari arah taman yang sedikit gelap, namun ia tidak memperdulikan dan fokus lagi belajar. Namun taklama, lampu yang berada di atasnya secara aneh berkedip kedip.
''Kenapa tuh lampu, belum bayar listrik apa?''
GRUSUK. GRUSUK.
Lagi dan lagi Lisa mendengar suara dari arah yang sama, membuat Lisa penasaran dan melangkah ke arah taman yang sedikit gelap. Namun tiba-tiba angin dingin menerpa tubuhnya hingga membuat bulu kuduk Lisa merinding.
__ADS_1
'Ihhh, kenapa tiba-tiba bulu kuduk ku merinding yaa. Apa jangan-jangan ada hantu lagi. Aaahhh mana mungkin di Negara gurun ada hantu.' Batin Lisa.
GRUSUK.
''Si-Siapa itu! Rumi ...''
Jantung Lisa berdegub dengan kencang, nafasnya menjadi tidak teratur karna merasa takut.
''DOOORRR''
''Aahhkkk!'' Jerit Lisa, saat Guntur tiba-tiba muncul dari semak semak dengan tampilan hijau bagaikan hulk.
''Ha ha ha ha ...''
''Hubby! Kau mengagetkan ku.'' Sentak Lisa, saat Guntur malah tertawa terbahak bahak.
''Maafkan aku, ha ha ...''
''Ihh, kamu ngapain di sini! Trus kenapa semua kulit mu menjadi hijau seperti Hulk?''
''Hah, masa sih kaya Hulk? padahal aku dandan pengen jadi pangeran kodok, trus di cium sama kamu biar jadi manusia kembali.''
Lisa nyengir dengan kening berkerut bingung. 'Apa lagi lah kelakuannya.'
''Hubby, kalau mau jadi pangeran kodok, seharusnya tadi ngagetin aku bukan Dor! tapi harus suara kodok.''
''Ayank aku mau jadi pangeran kodok! Aku nggak mau jadi Hulk. ahhhh ...'' Kini Guntur merengek, dan melipat kedua tangannya di dada.
'Ya ampun Lisa, bodoh kamu! Bilang aja iyaaa gitu, dari pada liat bayi besar mu merengek.'
''Iya, iya ... tadi aku salah ngira Hubby. Uhhh ternyata ada pangeran kodok di sini? Sini sini, mau di cium di mana.''
''Nggak! Aku nggak mau di cium. Kamu nyebelin.'' Guntur pergi begitu saja sambil menghentakkan kedua kakinya, membuat Lisa tidak kuasa menahan tawanya.
•
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...
__ADS_1