
Mobil mewah berhenti tepat tidak jauh dari gerbang sekolah internasional Dubai. Lisa membuka sabuk pengaman nya dan tersenyum pada Guntur sambil mengulurkan tanganya.
Guntur diam melihat tangan Lisa lalu menghela nafasnya, mengambil dompet dan mengambil beberapa lembar dirham.
''Apa ini cukup? mengapa kau meminta uang, sedangkan kau sekolah di internasional.''
''Heh?'' Lisa mengerutkan keningnya, dia mengulurkan tangannya untuk menyalami Guntur. Bukan meminta uang, tapi kenapa si sableng ini malah memberikan nya uang?
''Masih kurang?'' Tanya Guntur, menambahkan beberapa lembar lagi.
Lisa langsung tersenyum dan memasukkan uang itu dengan cepat sebelum Guntur menyadarinya. Lisa berpikir jika tidak apa-apa bukan menerima uang pemberian suami sendiri.
"Mumpung si sableng lagi sableng."
''Makasih yaa Hubby. Muuaacch.''
Lisa mencium pipi Guntur lalu keluar dari dalam mobil, melambaikan tangannya ke arah Guntur lalu masuk kedalam sekolah.
Sementara Guntur masih memperhatikan punggung istrinya yang tengah berlari dengan gemas, ''Cih, dasar penyihir kecil. Bisa bisa nya dia bisa membuatku luluh.'' Ucap Guntur, memijat pelipisnya.
Entah mengapa hati dan pikiran nya berbeda, apa lagi reaksi tubuhnya yang selalu mengkhianati dirinya. Pikiran nya terus menolak Lisa, namun hati nya tidak, Guntur sadar jika Lisa sudah mencuri hatinya.
''Tuan Muda, menuju kantor?'' Tanya sang supir.
''Tidak, aku ada janji bertemu dengan dokter Leo.''
''Baik, Tuan Muda.''
Mobil mewah milik Guntur pun pergi, sementara Lisa cekingak cekinguk mencari ruang kepala sekolah.
''Excuse me Sir, where is the principal's office?'' (Permisi Pak, ruang kepala sekolah di mana yaa?) Tanya Lisa, pada Satpam yang berpapasan dengan nya.
''Are you a new student?" (Kamu siswi baru?)
"Yes."
"From here go straight, then turn right." (Dari sini lurus saja, nanti belok kanan.)
__ADS_1
"Thank you very much." (Terima kasih banyak.)
Lisa berjalan sambil melihat lihat, sekolah ini begitu bagus dan luas. Banyak siswa siswi yang sudah memulai pelajaran mereka dan guru menerangkan.
"Kelas aku di mana yaaa, ahhh si Tuan Arrogant titisan unta itu sangat pintar memilih sekolah. Jika seperti ini, aku mau lah jadi pelampiasan nya selamanya ... asal jangan berlaku kasar saja.'' Lisa terkekeh dengan ucapan nya sendiri.
Bagaimana Lisa tidak berpikiran seperti itu, Jida Lintang sudah menjamin keluarganya. Suaminya yang kasar dan galak kini dengan sendirinya meluluh bahkan Lisa yakin jika suaminya akan berada di bawah gengaman nya.
"Nikmat mana yang kau dustakan."
Lisa mempercepat langkahnya, ia sudah tidak sabar untuk belajar. Walau Lisa belum bisa berbahasa Arab, tapi Lisa sangat fasih berbahasa Inggris. Mungkin tidak akan terlalu sulit untuk memulai dari awal.
Ketika Lisa tengah melangkah sambil melihat lihat, dia tidak sengaja menabrak dada bidang seseorang hingga keduanya saling menatap satu sama lain.
''Jalan tuh pakai mata!'' Sentak pria itu.
''Maaf, maaf.'' Lisa membungkuk sopan.
''Maaf, maaf!'' Pria itu sewot.
Lisa yang awalnya ingin sopan langsung cemberut, ''Biasa aja kali! Nggak usah sewot. Aku juga tidak sengaja.''
TOK.
...TOK....
TOK.
''Permisi.'' Ujar Lisa, sambil masuk kedalam ruangan tersebut.
''You, Miss Lalisa?" (Kamu, Nona Lalilas?)
"That's right Sir, I'm Lisa.''
Bapak kepala sekolah mempersilahkan Lisa duduk, mengobrol sebentar dan memberitahukan peraturan peraturan sekolah. Lisa mendengarkan walau sedikit mudeng, tapi dia tetap mencerna sebisa mungkin.
Setelah selesai, Lisa dan kepala sekolah keluar dari ruangan menuju kelas Lisa.
__ADS_1
Lisa gugup, kedua tanganya berkeringat dingin karna pasti dia akan memperkenalkan diri di depan teman sekelasnya. Lisa juga berharap jika dia bisa di terima dengan baik oleh teman sekelasnya.
''Selamat pagi Miss Fatma, kegiatan belajarnya tergangu sebentar. Karna saya membawa murid baru.''
''Oohh ... tidak apa-apa Pak, silahkan.'' Miss Fatma, mempersilahkan.
''Baik, anak anak. Bapak membawa siswi baru pindahan dari Indonesia. Bapak harap kalian akan berteman dan membantu Lisa jika ada hal yang tidak dia mengerti.''
''Baik, Pak.'' Ujar para siswa dan siswi secara bersamaan.
''Lisa, silahkan perkenalkan dirimu. Tugas bapak sudah selesai.'' Ucap Bapak kelapa sekolah, lantas pergi.
Lisa tersenyum dan melambaikan tanganya. ''Hi, my name is Lisa. I hope you guys want to be friends with me.'' (Hai, namaku Lisa. Aku harap kalian mau berteman denganku.)
Semua siswa dan siswi mengangguk.
''Oke Lisa, silahkan duduk di kursi yang kosong.'' Miss Fatma, menunjuk ujung bangku yang kosong. ''Tidak apa-apa 'kan kau duduk dengan Khaleed?''
''Tidak apa-apa, Buk.''
Lisa melangkah menuju meja belajarnya, lalu duduk di dengan rapih.
''Haii ...'' Sapa Lisa, pada teman sebangkunya.
''Kau yang tadi menabrakku 'kan?'' Tanya Pria yang bernama Khaleed.
''Aahh ... maaf soal tadi.''
''It's okay, I understand it.''
Lisa mengangguk, lalu mengeluarkan buku yang sudah di siapkan Rumi. Sesekali ia melirik ke arah Khaleed.
"Hidungnya mancung sekali, di mana aku sewaktu pembagian hidung? bisa bisanya hidungku kecil, mana nyungseb lagi."
•
...🌷🌷🌷...
__ADS_1
...LIKE.KOMEN.VOTE ...