
Sore hari ... Guntur sudah bangun dan sudah mandi dengan tampilan segar, Ia keluar dari kamar karna perutnya sudah lapar.
Namun baru saja akan menuruni anak tangga, ia tidak sengaja melihat pemandangan di mana Ziell tengah bermesraan dengan suaminya. Namun kali ini Guntur merasa biasa saja melihat itu, tidak ada rasa iri ... tidak ada rasa kesal dalam hatinya seperti dulu. Membuat Guntur menyunggingkan bibirnya, karna dia sudah tau jawaban dari pikirannya sendiri.
"Tanpa aku sadari, jika kedatangan si penyihir kecil di kehidupan ku. Bisa merubah segalanya." Gumam Guntur dalam hati, lalu menghela nafasnya dan turun dari lantai atas.
''Son, kau mau kemana?'' Tanya Sultan, saat ia melihat Guntur menuruni anak tangga.
Ziell langsung cemberut, jika suaminya bertemu dengan Guntur pasti lupa akan segalanya ... karna Guntur adalah keponakan kesayangan nya yang dia banggakan.
''Aku lapar Om.'' Jawab Guntur.
''Kebetulan Ziell tadi masak sesuatu, jika kau mau Om hangatkan.'' Sultan langsung berdiri dari duduknya.
''Tidak perlu Om, ada bibi di dapur.'' Guntur merasa tidak enak.
''Sayang ...'' rengek Ziell.
''Tidak perlu Om, aku akan minta pada bibi di dapur.'' Ucap Guntur bergegas pergi, ia tidak mau menjadi nyamuk untuk mereka berdua.
• •
''Bi ...'' Panggil Guntur, saat ia sudah berada di dapur.
''Iya, Den.''
''Tolong buatkan aku makan.'' Pinta Guntur, lalu ia duduk di meja dapur.
''Bentar ya, Den.''
ketika bibi menyiapkan makanan, Guntur fokus pada ponselnya ... ia tengah menunggu kabar dari Lisa yang sampai saat ini belum membalas pesan darinya.
__ADS_1
"Si Lilis kemana sebenarnya? Tunggu aku pulang, akan aku hukum kau."
THAK.
Satu piring makanan sudah tersaji di depan Guntur.
''Makasih, Bi.'' Ucap Guntur tanpa melihat siapa yang memberikan nya makan.
Ziell mengerutkan keningnya, saat Guntur sama sekali tidak menoleh padanya.
''Sama sama.'' Ucap Ziell, yang membuat Guntur langsung menoleh.
''Kau yang memberiku makan?'' Tanya Guntur.
''Iya, apa salahnya aku sebagai tante memberikan mu makan. Kenapa? kau tidak mau.''
Guntur menghela nafasnya, lalu tidak lama ia berdiri dan tidak jadi untuk makan. ''Terima kasih, tapi aku tidak lapar.'' Guntur melangkah pergi, namun langkahnya terhenti saat Ziell berkata.
''Wow, kau berubah dengan cepat. Baguslah, kau sudah tidak terobsesi padaku.'' Ucap Ziell, melipat kedua tanganya.
Setelah mengatakan itu, Guntur pergi dari Mansion ke apartemen nya yang dulu sempat ia tinggali. Guntur akan menghapus semua jejak yang pernah ia ukir, termasuk semua benda yang berhubungan dengan Ziell.
Ia tidak ingin bayang bayang masalalu hadir di saat ia akan menata kehidupan baru, ia tidak mau terus terperosok kedalam lubang yang dalam dan tidak mendasar.
•
•
•
•
__ADS_1
Di sisi lain, si Lilis masih berada di gym, ia tengah berjalan jalan di arah kolam renang sambil melihat beberapa orang tengah berenang dengan lincah.
Entah mengapa ... jiwa jiwa julid nya meronta ronta dan ingin mengomentari setiap lelaki yang berpakaian ketat. Entah itu dari perut, paha, dan sesuatu yang menonjol di balik pakaian renang yang ketat.
"Andai aku punya teman untuk bergosip! Mungkin akan lebih seru." Gumam Lisa.
''Lisa!'' Panggil seseorang dari belakang.
Lisa menoleh dan terkejut melihat orang yang tidak asing.
"Gawat! Kenapa dia ada di sini ... mampus lah aku, kalau dia sampai bilang pada Guntur."
''Kau sedang apa di sini?'' Tanya Vano.
''Hah? he he he ... aku, sedang lihat lihat saja.''
''Kau bersama Guntur?''
Lisa langsung menggeleng.
''Lantas?''
''Aku bersama Gabriel ke sini.'' Jawab Lisa, sedikit kikuk. Karna Vano tidak memakai baju atasan yang mana membuat tubuh sispex nya terpampang nyata.
Vano yang peka, langsung menyunggingkan bibirnya dan melangkah lebih dekat pada Lisa.
''Apa kau ingin belajar renang?'' Tanya Vano, namun entah mengapa perkataan nya sedikit serak serak basah. Membuat si Lilis jadi susah menelan ludah nya sendiri.
"Plis ... jangan mendekat."
•
__ADS_1
...🌷🌷🌷...
...LIKE.KOMEN.VOTE...