Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Astaga


__ADS_3

Joy merasa bersyukur bisa tiba di Jakarta


dengan selamat , rasanya dia ingin sekali


cepat - cepat bisa meminta maaf pada


Oma atas kesalahannya , terlebih tentang ketidak sopanannya yang pergi tanpa


pamit pada Oma , telah membuat rasa


bersalah yang penuh di dalam hatinya .


Joy berjalan menuju kamarnya ,


langkahnya terhenti tepat di depan


kamar Oma , dia berhenti dan memandang


kearah pintu ," Oma maafkan aku ."


dengan tatapan sayu , kemudian


melanjutkan langkahnya .


Kini dia berhenti di depan kamar yang


hampir seminggu ini telah di tinggalkan


nya , dibukanya dengan perlahan dan


di dorongnya pelan - pelan , bibirnya


melukiskan sebuah senyuman,


" tak berubah, bahkan aromanya pun


tetap sama ." masuk kedalam kamar .


Joy mendekati ranjang tempat tidurnya ,


" Aku sangat merindukanmu ." menepuk


kasur empuk dengan memejamkan mata ,


merasakan kehalusan seprei yang


berwarna putih bersih , warna khas


kesukaan dari suaminya .


Kelelahan Joy sudah tidak bisa diajak


kompromi , rasanya saat ini tumbuh nya


ingin sekali di manjakan dengan


kelembutan dari tempat tidur yang


sudah ia tinggalkan .


Tanpa ingin menunggu , dengan cepat Joy menuju ke ruang ganti , ingin segera


mengganti bajunya dengan baju tidur kesayangan nya .


Jari mungil nya meraih satu daster khas


ibu hamil untuk di pakainya , tapi matanya


tertuju pada tumpukan baju yang ada


di sebelah tempat baju yang telah


di ambil nya .


" Percuma punya Lingerie segini


banyaknya , tapi tidak satupun bisa aku


pakai ." dengan muka cemberut


kemudian menaruhnya kembali


ke tempat semula .


Selesai mengganti pakaiannya , Joy


ke kamar mandi , ingin menyegarkan


sedikit mukanya dan kembali tidur .


Tanpa menunggu kedatangan David ,


Joy merebahkan tubuhnya di atas


tempat tidurnya ," hemm...." merasakan


kenyamanan perpaduan lembut dan


empuk yang sangat pas , membuat Joy


langsung terlelap .


***


Di meja makan...


David yang sudah menyelesaikan acara


makannya ingin cepat menyusul istrinya ,


" Mery jika kau butuh sesuatu , panggil


saja mereka ." menunjuk para pembantu


yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat


majikan nya makan .


" Dan perlu kau ingat , rumah ini juga


milik kak Joy mu , jadi kau tidak perlu


sungkan ," Mery mengangguk .


" Aku mau menyusul Joy , kalian


cepatlah tidur , dan Roy ,, besok kita ada


rapat , ingat itu ." berdiri kemudian meninggalkan meja .


Roy dengan cepat mengangkat


tangannya di taruh di pucuk kepalanya


," siap bos ." dengan memandang


punggung David yang menjauh .


Selepas kepergian David , sekarang


tinggallah mereka berdua ,bagai sepasang


kekasih yang sedang menikmati makan


malam berdua . Dentingan garbu dan


sendok mengisi suara kesunyian malam ,


tanpa ada perbincangan yang ikut


mengisi acara makan malam mereka .


Mery berdiri dari tempat duduknya ,


" Mau kemana ." Roy meraih ujung baju Mery .


Merasa ada yang menarik , Mery pun


menoleh , " mau tidur " melihat wajah Roy


dengan muka datar .


Rasanya Roy berat jika Mery


meninggalkan nya , ingin menikmati


malam ini berdua walaupun banyak


mata yang mengawasi di rumah David ,


tapi ini adalah kesempatan yang langka


karena Joy dan David tumbenan


membiarkan mereka berdua .


" Tidak ingin tinggal lebih lama disini


denganku ?." Mery menggeleng .


" Lepaskan , jangan macam-macam


ini di Rumah kak David ." melihat tangan


Roy yang masih memegangi bajunya .


Roy mulai berdiri , mendekati Mery


dengan sorot mata yang tidak lepas


dari raut wajah Mery ," kak Roy jangan


macam-macam ." mulai siaga dengan


tangan di letakkan di dada bidang Roy .


Semakin takut terjadi hal seperti


layaknya kemarin , dengan cepat Mery


mendorong Roy lebih keras dan


menjauh dari Roy .


" Aisss.. " Roy terjatuh di tempat duduknya.


" Bi .. dimana kamarku ?, tolong antarkan


aku kesana , aku ingin cepat -cepat tidur ." merangkul lengan kepala pembantu


dengan sesekali melirik Roy .


Dengan sopan kepala pembantu di

__ADS_1


Rumah Oma mengantarkan Mery


ke kamar tamu yang sudah di persiapkan.


Roy di Rumah Oma kedudukannya


tak jauh beda dengan David , dia sudah


bertahun tahun menjadi orang


kepercayaan David dan Oma , tak ayal


para pembantu sudah menganggap


Roy juga sebagai majikan mereka .


Banyak pasang mata yang melihat


tingkah mereka berdua , tanpa ada


satu pun yang berani angkat suara


apalagi menertawakan nya , diam


dengan berpura pura tidak melihat dan mendengar , bagai patung tapi hidup .


Mereka faham dan tahu jika Roy


saat ini malu dan kesal , dengan kebisuan


satu persatu pembantu pergi


meninggalkan ruang makan , menyisakan


Roy dan tangan kanan nya , yang juga


ikut berdiri bersama dengan para


pembantu tadi .


" Kau kesini ." menunjuk tiga orang


pengawal David .


" Saya tuan ." kaget merasa terpanggil,


salah satu pengawal menunjuk dirinya ,


mereka saling memandang ,


menduga-duga siapa orang yang di


maksud oleh tuannya .


" Bukan , kalian bertiga ," berkata dengan


keras , ketiga - tiganya mendekat .


" Kalian kan belum makan ," ketiganya


mengangguk ," temani aku makan ."


mereka semakin bingung dengan


perintah tuannya .


" Ayo cepat makan , apa kalian tidak


dengar apa yang ku perintahkan ."


Dengan gerakan cepat , mengambil


piring yang ada di dapur , karena yang


tersedia di meja hanyalah untuk


tuannya , dan itupun sudah dipakai .


" Hey ajak juga teman-temanmu ."


salah satu menoleh , tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan tuannya .


Tanpa ingin membuat rasa canggung


diantara bawahannya , Roy pun pergi


kesebuah kamar yang disediakan David untuknya , sebuah ruangan yang selalu


dia gunakan untuk istirahat jika David


mengajaknya lembur masalah pekerjaan


yang belum terselesaikan di Kantor .


***


Seorang kepala pembantu mengantarkan


Mery kesebuah kamar yang sudah


dipersiapkan untuk tamu di Rumah Oma.


Kini Mery memasuki sebuah ruangan


yang menurut nya terlalu besar dan


mewah , langkahnya bergantian semakin masuk ke dalam kamar .


Sorot matanya mengitari semua sudut


dan isi di dalamnya .


"Ini kamar apa rumah , hemmm...kak


Joy pantas mendapatkannya ."


mendudukkan dirinya di atas kasur .


" Lembuttt,,,." merebahkan dirinya .


Mery tersadar jika dia dari Bandara


belum cuci muka atau pun membersihkan


diri , " dimana kamar mandinya ."


melihat dua pintu yang bersebelahan .


Mengorek isi koper miliknya , mencari


handuk dan baju santai untuk di pakainya


tidur , dia berlari ke kamar mandi dan


tanpa dia sadari dia hanya membawa


handuk , baju yang sudah dia siapkan


malah tidak ikut di bawa , masih tergeletak


di samping koper .


Masih takjub dengan isi Kamar tamu


yang di tempati nya , Mery di kejutkan


lagi dengan pemandangan didalam


kamar mandi.


" Apa apaan ini , kalau kamar mandinya


seperti ini , aku bisa betah seharian


disini dan tidur pun akan aku lakukan


di kamar mandi , hahahaha ." dengan


cepat melepas semua pakaiannya .


Kamar mandi di Rumah Oma sangat


mewah bak istana , karena Oma tidak


ingin membuat para tamunya kecewa


atau pun tidak nyaman , Oma meminta


khusus desain pada seorang Arsitek


ternama untuk menggarap Rumah nya .


Agar orang yang tinggal di sana merasa


betah .


Mery yang asik berendam di sebuah


Bathtub dengan banyak busa


di dalamnya , merasakan air hangat


merendam tubuhnya dan tanpa terasa


dia pun tertidur .


πŸ€πŸ€πŸ€


Di Kamar lain terdapat Roy yang juga


membersihkan diri di bawah guyuran


shower yang mengalir jatuh membasahi


tubuh kekar nya .


Dengan mata terpejam Roy menggosok


setiap permukaan kulit putih yang


melekat di tubuhnya , dingin nya air


membuatnya teringat pada Mery saat


didalam kamar mandi di Rumah milik


orang tuanya .


" Sedang apa anak itu sekarang ? , apa


dia sudah tidur ." mematikan shower .


Otak iseng Roy mulai muncul , usai

__ADS_1


mandi dia langsung memakai bajunya


ingin cepat - cepat menghubungi Mery ,


ingin tahu apa yang anak itu lakukan


sekarang .


Dengan ponsel yang ada di tangan


Roy mencari nama Mery disana ,


mengetik pesan dengan bibir tersenyum


sendiri .


🌿Roy :" Mery .. kau sudah tidur ?."


pesan terkirim , tapi tidak di buka .


🌿Roy ;" Mery cepat balas !." tetap sama .


🌿Roy ;" kalau kau tidak balas , aku


masuk ke kamarmu ." Roy memandang


layar ponsel , menunggu balasan Mery .


🌿Roy ;" Mery. .." Roy semakin kesal .


🌿Roy ;" Anak kebo , balas pesanku ."


Tak sabar , wajah Roy yang tadinya


gembira sekarang berubah masam ,


" kemana anak ini ."


Ponsel Mery berdering berulang kali ,


menandakan beberapa pesan sudah


masuk di dalamnya , tapi sang pemilik


tidak juga membukanya , karena dia


masih tertidur di dalam kamar mandi .


Roy yang kesal karena tak sabar dengan


tak kunjungnya mendapat balasan dari


Mery , membuatnya ingin segera


menelfon agar bisa mendengar suara Mery .


" Apa aku harus masuk kesana ?, ah...


tidak mungkin , pasti David marah


jika aku melakukan itu ." Berjalan kearah balkon .


Roy berdiri menatap balkon kamar yang


ada di sebelah kamarnya , kosong


tak ada orang , dengan kaki yang


sedikit menjinjit agar bisa melihat


isi di kamar sebelahnya .


" Kemana dia ?." melihat tempat tidur


yang kosong .


**


Busa yang sudah menghilang dan air


yang merendamnya pun sudah mulai


dingin membuat Mery terbangun ,


" Hah .. dimana ini , ada air ? ." melihat


sekeliling ruangan .


" Astaga aku ketiduran , hahahaha ."


memukul kepalanya .


Merasa kedinginan Mery keluar dari


bathtub , menyalakan shower untuk


membersihkan tubuhnya .


" Bisa - bisanya aku ketiduran , sudah


berapa lama ya .." menuangkan sampoo


di telapak tangannya .


Selesai mandi , Mery mencari baju ganti


yang menurut nya tadi ikut di bawanya ,


hanya sebuah handuk yang tergantung


di gantungan .


" Hemmm.. pasti ketinggalan ." meraih


handuk .


Mery keluar dari kamar mandi karena mendengar ponselnya yang berbunyi


dari tadi , " siapa sih yang menelfon


malam - malam ."


Berjalan sedikit berlari dan meraih


ponselnya , tercantum nama Roy


di layar ," ya elah .. ternyata kak Roy ."


memencet tombol hijau untuk


menerima panggilan.


" Hallo kak ,,, ada apa menelfon malam


begini ." berteriak karena jengkel .


Dari luar Roy terpaku tak bersuara ,


matanya kini melihat Mery yang berdiri


didalam kamarnya , nampak Mery yang


masih mengenakan handuk yang melilit


di tubuhnya dengan rambut basah yang


bergerai menjuntai kebawah .


" Kak Roy hallo , jika tak ada yang


di bicarakan jangan menelfonku ."


hendak mematikan telfonnya .


" Tunggu , cepat keluar !, aku ada


di balkon ." tanpa berfikir panjang


Mery menuruti kemauan Roy .


Dia keluar menuju balkon , dan benar


disana ada Roy yang sedang berdiri


dengan satu tangannya di taruh di saku


celana , " apa ?." bentak Mery .


Sorot pandangan Roy tak lepas dari


tubuh Mery , mengamati dari ujung kaki


sampai ujung rambut Mery , tiba -tiba


saja dalam tubuh Roy terasa panas .


" Kak Roy mau apa memanggil kuuu ?."


dengan nada kesal .


Mendapati yang di ajaknya bicara tidak


menjawab dan malah menatap nya


tanpa berkedip , Mery pun tersadar


bahwa dirinya kini keluar masih dengan


mengunakan handuk yang menutupi


tubuhnya hanya sebatas di atas lutut


sampai dadanya saja .


" Astaga ." ucap Mery pelan dengan


memejamkan mata , menahan rasa malu


dan berlari masuk ke dalam kamar .


" Bodoh bisa -bisanya aku hanya


menggunakan handuk , menemui


kak Roy pula , apa yang dipikirkan nya


sekarang ." menjambak rambutnya .


Mery merasa kesal sendiri dengan


kecerobohan nya .


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


_


_


__ADS_2