
Joy merasa bersyukur bisa tiba di Jakarta
dengan selamat , rasanya dia ingin sekali
cepat - cepat bisa meminta maaf pada
Oma atas kesalahannya , terlebih tentang ketidak sopanannya yang pergi tanpa
pamit pada Oma , telah membuat rasa
bersalah yang penuh di dalam hatinya .
Joy berjalan menuju kamarnya ,
langkahnya terhenti tepat di depan
kamar Oma , dia berhenti dan memandang
kearah pintu ," Oma maafkan aku ."
dengan tatapan sayu , kemudian
melanjutkan langkahnya .
Kini dia berhenti di depan kamar yang
hampir seminggu ini telah di tinggalkan
nya , dibukanya dengan perlahan dan
di dorongnya pelan - pelan , bibirnya
melukiskan sebuah senyuman,
" tak berubah, bahkan aromanya pun
tetap sama ." masuk kedalam kamar .
Joy mendekati ranjang tempat tidurnya ,
" Aku sangat merindukanmu ." menepuk
kasur empuk dengan memejamkan mata ,
merasakan kehalusan seprei yang
berwarna putih bersih , warna khas
kesukaan dari suaminya .
Kelelahan Joy sudah tidak bisa diajak
kompromi , rasanya saat ini tumbuh nya
ingin sekali di manjakan dengan
kelembutan dari tempat tidur yang
sudah ia tinggalkan .
Tanpa ingin menunggu , dengan cepat Joy menuju ke ruang ganti , ingin segera
mengganti bajunya dengan baju tidur kesayangan nya .
Jari mungil nya meraih satu daster khas
ibu hamil untuk di pakainya , tapi matanya
tertuju pada tumpukan baju yang ada
di sebelah tempat baju yang telah
di ambil nya .
" Percuma punya Lingerie segini
banyaknya , tapi tidak satupun bisa aku
pakai ." dengan muka cemberut
kemudian menaruhnya kembali
ke tempat semula .
Selesai mengganti pakaiannya , Joy
ke kamar mandi , ingin menyegarkan
sedikit mukanya dan kembali tidur .
Tanpa menunggu kedatangan David ,
Joy merebahkan tubuhnya di atas
tempat tidurnya ," hemm...." merasakan
kenyamanan perpaduan lembut dan
empuk yang sangat pas , membuat Joy
langsung terlelap .
***
Di meja makan...
David yang sudah menyelesaikan acara
makannya ingin cepat menyusul istrinya ,
" Mery jika kau butuh sesuatu , panggil
saja mereka ." menunjuk para pembantu
yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat
majikan nya makan .
" Dan perlu kau ingat , rumah ini juga
milik kak Joy mu , jadi kau tidak perlu
sungkan ," Mery mengangguk .
" Aku mau menyusul Joy , kalian
cepatlah tidur , dan Roy ,, besok kita ada
rapat , ingat itu ." berdiri kemudian meninggalkan meja .
Roy dengan cepat mengangkat
tangannya di taruh di pucuk kepalanya
," siap bos ." dengan memandang
punggung David yang menjauh .
Selepas kepergian David , sekarang
tinggallah mereka berdua ,bagai sepasang
kekasih yang sedang menikmati makan
malam berdua . Dentingan garbu dan
sendok mengisi suara kesunyian malam ,
tanpa ada perbincangan yang ikut
mengisi acara makan malam mereka .
Mery berdiri dari tempat duduknya ,
" Mau kemana ." Roy meraih ujung baju Mery .
Merasa ada yang menarik , Mery pun
menoleh , " mau tidur " melihat wajah Roy
dengan muka datar .
Rasanya Roy berat jika Mery
meninggalkan nya , ingin menikmati
malam ini berdua walaupun banyak
mata yang mengawasi di rumah David ,
tapi ini adalah kesempatan yang langka
karena Joy dan David tumbenan
membiarkan mereka berdua .
" Tidak ingin tinggal lebih lama disini
denganku ?." Mery menggeleng .
" Lepaskan , jangan macam-macam
ini di Rumah kak David ." melihat tangan
Roy yang masih memegangi bajunya .
Roy mulai berdiri , mendekati Mery
dengan sorot mata yang tidak lepas
dari raut wajah Mery ," kak Roy jangan
macam-macam ." mulai siaga dengan
tangan di letakkan di dada bidang Roy .
Semakin takut terjadi hal seperti
layaknya kemarin , dengan cepat Mery
mendorong Roy lebih keras dan
menjauh dari Roy .
" Aisss.. " Roy terjatuh di tempat duduknya.
" Bi .. dimana kamarku ?, tolong antarkan
aku kesana , aku ingin cepat -cepat tidur ." merangkul lengan kepala pembantu
dengan sesekali melirik Roy .
Dengan sopan kepala pembantu di
__ADS_1
Rumah Oma mengantarkan Mery
ke kamar tamu yang sudah di persiapkan.
Roy di Rumah Oma kedudukannya
tak jauh beda dengan David , dia sudah
bertahun tahun menjadi orang
kepercayaan David dan Oma , tak ayal
para pembantu sudah menganggap
Roy juga sebagai majikan mereka .
Banyak pasang mata yang melihat
tingkah mereka berdua , tanpa ada
satu pun yang berani angkat suara
apalagi menertawakan nya , diam
dengan berpura pura tidak melihat dan mendengar , bagai patung tapi hidup .
Mereka faham dan tahu jika Roy
saat ini malu dan kesal , dengan kebisuan
satu persatu pembantu pergi
meninggalkan ruang makan , menyisakan
Roy dan tangan kanan nya , yang juga
ikut berdiri bersama dengan para
pembantu tadi .
" Kau kesini ." menunjuk tiga orang
pengawal David .
" Saya tuan ." kaget merasa terpanggil,
salah satu pengawal menunjuk dirinya ,
mereka saling memandang ,
menduga-duga siapa orang yang di
maksud oleh tuannya .
" Bukan , kalian bertiga ," berkata dengan
keras , ketiga - tiganya mendekat .
" Kalian kan belum makan ," ketiganya
mengangguk ," temani aku makan ."
mereka semakin bingung dengan
perintah tuannya .
" Ayo cepat makan , apa kalian tidak
dengar apa yang ku perintahkan ."
Dengan gerakan cepat , mengambil
piring yang ada di dapur , karena yang
tersedia di meja hanyalah untuk
tuannya , dan itupun sudah dipakai .
" Hey ajak juga teman-temanmu ."
salah satu menoleh , tersenyum dan mengangguk mendengar perkataan tuannya .
Tanpa ingin membuat rasa canggung
diantara bawahannya , Roy pun pergi
kesebuah kamar yang disediakan David untuknya , sebuah ruangan yang selalu
dia gunakan untuk istirahat jika David
mengajaknya lembur masalah pekerjaan
yang belum terselesaikan di Kantor .
***
Seorang kepala pembantu mengantarkan
Mery kesebuah kamar yang sudah
dipersiapkan untuk tamu di Rumah Oma.
Kini Mery memasuki sebuah ruangan
yang menurut nya terlalu besar dan
mewah , langkahnya bergantian semakin masuk ke dalam kamar .
Sorot matanya mengitari semua sudut
dan isi di dalamnya .
"Ini kamar apa rumah , hemmm...kak
Joy pantas mendapatkannya ."
mendudukkan dirinya di atas kasur .
" Lembuttt,,,." merebahkan dirinya .
Mery tersadar jika dia dari Bandara
belum cuci muka atau pun membersihkan
diri , " dimana kamar mandinya ."
melihat dua pintu yang bersebelahan .
Mengorek isi koper miliknya , mencari
handuk dan baju santai untuk di pakainya
tidur , dia berlari ke kamar mandi dan
tanpa dia sadari dia hanya membawa
handuk , baju yang sudah dia siapkan
malah tidak ikut di bawa , masih tergeletak
di samping koper .
Masih takjub dengan isi Kamar tamu
yang di tempati nya , Mery di kejutkan
lagi dengan pemandangan didalam
kamar mandi.
" Apa apaan ini , kalau kamar mandinya
seperti ini , aku bisa betah seharian
disini dan tidur pun akan aku lakukan
di kamar mandi , hahahaha ." dengan
cepat melepas semua pakaiannya .
Kamar mandi di Rumah Oma sangat
mewah bak istana , karena Oma tidak
ingin membuat para tamunya kecewa
atau pun tidak nyaman , Oma meminta
khusus desain pada seorang Arsitek
ternama untuk menggarap Rumah nya .
Agar orang yang tinggal di sana merasa
betah .
Mery yang asik berendam di sebuah
Bathtub dengan banyak busa
di dalamnya , merasakan air hangat
merendam tubuhnya dan tanpa terasa
dia pun tertidur .
πππ
Di Kamar lain terdapat Roy yang juga
membersihkan diri di bawah guyuran
shower yang mengalir jatuh membasahi
tubuh kekar nya .
Dengan mata terpejam Roy menggosok
setiap permukaan kulit putih yang
melekat di tubuhnya , dingin nya air
membuatnya teringat pada Mery saat
didalam kamar mandi di Rumah milik
orang tuanya .
" Sedang apa anak itu sekarang ? , apa
dia sudah tidur ." mematikan shower .
Otak iseng Roy mulai muncul , usai
__ADS_1
mandi dia langsung memakai bajunya
ingin cepat - cepat menghubungi Mery ,
ingin tahu apa yang anak itu lakukan
sekarang .
Dengan ponsel yang ada di tangan
Roy mencari nama Mery disana ,
mengetik pesan dengan bibir tersenyum
sendiri .
πΏRoy :" Mery .. kau sudah tidur ?."
pesan terkirim , tapi tidak di buka .
πΏRoy ;" Mery cepat balas !." tetap sama .
πΏRoy ;" kalau kau tidak balas , aku
masuk ke kamarmu ." Roy memandang
layar ponsel , menunggu balasan Mery .
πΏRoy ;" Mery. .." Roy semakin kesal .
πΏRoy ;" Anak kebo , balas pesanku ."
Tak sabar , wajah Roy yang tadinya
gembira sekarang berubah masam ,
" kemana anak ini ."
Ponsel Mery berdering berulang kali ,
menandakan beberapa pesan sudah
masuk di dalamnya , tapi sang pemilik
tidak juga membukanya , karena dia
masih tertidur di dalam kamar mandi .
Roy yang kesal karena tak sabar dengan
tak kunjungnya mendapat balasan dari
Mery , membuatnya ingin segera
menelfon agar bisa mendengar suara Mery .
" Apa aku harus masuk kesana ?, ah...
tidak mungkin , pasti David marah
jika aku melakukan itu ." Berjalan kearah balkon .
Roy berdiri menatap balkon kamar yang
ada di sebelah kamarnya , kosong
tak ada orang , dengan kaki yang
sedikit menjinjit agar bisa melihat
isi di kamar sebelahnya .
" Kemana dia ?." melihat tempat tidur
yang kosong .
**
Busa yang sudah menghilang dan air
yang merendamnya pun sudah mulai
dingin membuat Mery terbangun ,
" Hah .. dimana ini , ada air ? ." melihat
sekeliling ruangan .
" Astaga aku ketiduran , hahahaha ."
memukul kepalanya .
Merasa kedinginan Mery keluar dari
bathtub , menyalakan shower untuk
membersihkan tubuhnya .
" Bisa - bisanya aku ketiduran , sudah
berapa lama ya .." menuangkan sampoo
di telapak tangannya .
Selesai mandi , Mery mencari baju ganti
yang menurut nya tadi ikut di bawanya ,
hanya sebuah handuk yang tergantung
di gantungan .
" Hemmm.. pasti ketinggalan ." meraih
handuk .
Mery keluar dari kamar mandi karena mendengar ponselnya yang berbunyi
dari tadi , " siapa sih yang menelfon
malam - malam ."
Berjalan sedikit berlari dan meraih
ponselnya , tercantum nama Roy
di layar ," ya elah .. ternyata kak Roy ."
memencet tombol hijau untuk
menerima panggilan.
" Hallo kak ,,, ada apa menelfon malam
begini ." berteriak karena jengkel .
Dari luar Roy terpaku tak bersuara ,
matanya kini melihat Mery yang berdiri
didalam kamarnya , nampak Mery yang
masih mengenakan handuk yang melilit
di tubuhnya dengan rambut basah yang
bergerai menjuntai kebawah .
" Kak Roy hallo , jika tak ada yang
di bicarakan jangan menelfonku ."
hendak mematikan telfonnya .
" Tunggu , cepat keluar !, aku ada
di balkon ." tanpa berfikir panjang
Mery menuruti kemauan Roy .
Dia keluar menuju balkon , dan benar
disana ada Roy yang sedang berdiri
dengan satu tangannya di taruh di saku
celana , " apa ?." bentak Mery .
Sorot pandangan Roy tak lepas dari
tubuh Mery , mengamati dari ujung kaki
sampai ujung rambut Mery , tiba -tiba
saja dalam tubuh Roy terasa panas .
" Kak Roy mau apa memanggil kuuu ?."
dengan nada kesal .
Mendapati yang di ajaknya bicara tidak
menjawab dan malah menatap nya
tanpa berkedip , Mery pun tersadar
bahwa dirinya kini keluar masih dengan
mengunakan handuk yang menutupi
tubuhnya hanya sebatas di atas lutut
sampai dadanya saja .
" Astaga ." ucap Mery pelan dengan
memejamkan mata , menahan rasa malu
dan berlari masuk ke dalam kamar .
" Bodoh bisa -bisanya aku hanya
menggunakan handuk , menemui
kak Roy pula , apa yang dipikirkan nya
sekarang ." menjambak rambutnya .
Mery merasa kesal sendiri dengan
kecerobohan nya .
ππππππππππππ
__ADS_1
_
_