Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Emosi Wulan


__ADS_3

Setelah mengirimkan video pada tantenya, Adinda segera menuju Rumah Sakit untuk mengetahui keadaan kakaknya dan tak lupa


di perjalanan dia juga mengabari ibundanya agar menyusulnya untuk ke Rumah Sakit.


Di dalam taksi Adinda bolak balik membuka layar ponselnya, membalas pesan sang


bunda yang sangat khawatir tentang keadaan putranya, dengan wajah was-was Adinda cemas karena belum mengetahui dimana pastinya kakaknya itu dirawat sekarang.


###


Di Toko kue


Hampir tiga bulan Wulan meninggalkan Toko kue miliknya, setelah sampai di Jogja Wulan tak ingin berlama lagi untuk mendatangi toko kue miliknya itu, ingin mengetahui bagaimana perkembangan toko itu setelah dia tinggalkan.


Tidak ada perubahan yang spesifik, seperti biasa banyak pesanan yang diterima


meskipun sang pemilik tidak ada di toko itu, karena resep sudah dia terapkan pada anak buahnya jadi rasa dan kualitas tidak akan berubah meskipun sang koki tidak turun


tangan langsung.


Mendengar Wulan tiba di Jogja, banyak temannya yang mengunjungi ke Toko, selain untuk melepas rasa kangen mereka juga ingin merasakan kue buatan asli dari tangan Wulan, yang pasti dibuatkan jika Wulan ada di toko itu.


Saat sudah menyelesaikan pesanan sepuluh kue dari temannya Wulan menyerahkan


kue-kue itu pada pegawainya karena hanya tinggal di hias saja, Wulan merasa lelah dia


pun menghampiri teman-temannya yang sedang duduk di sebuah meja yang khusus


disediakan untuk pelanggan jika ingin menikmati kuenya langsung di tempat itu.


Saat asik bercengkrama dengan temannya tiba-tiba ponsel di dalam tas Wulan berdering, berulang kali ponsel itu dimatikan karena merasa terganggu tapi masih saja berdering.


Wulan tak enak dengan bunyi ponselnya yang sangat mengganggu perbincangan dengan para sahabatnya. Diambilnya sebuah ponsel dari dalam tas, ternyata sebuah pesan video dari keponakannya. Wulan tak menanggapi pesan itu, dia menyepelekannya karena dia anggap mungkin tak begitu penting.


Adinda merasa jika tantenya belum membuka video yang dia kirimkan membuat Adinda berulang kali merijek tantenya itu.


"Pesan dari siapa Wulan?." Tanya seorang teman sambil memakan sebuah pudding.


"Adinda, keponakanku yang putrinya Rani,


kau tahu kan?" Belum membuka pesan,


Wulan hendak memasukkan kembali


ponselnya ke dalam tas.


"Jika cuma pesan kenapa sampai menelpon berulang kali, coba lihat dulu kira aja penting."


Wulan masih memegang ponsel ditangan, dikeluarkan nya kembali. Mendengar


penuturan temannya membuat Wulan timbul rasa ingin tahu.


"Benar juga." Memencet tombol power agar ponsel itu menyala.


"Memangnya dia kirim pesan apaan, minta uang jajan pasti." Asumsi teman Wulan lainnya.


"Bukan, hanya sebuah video." Wulan membuka pesan.


"Video apaan sih?."


"Gak tau, ini masih loading." Masih memandang layar ponselnya, menunggu video itu terbuka.


Teman Wulan kepo dengan sebuah video


yang belum juga nampak, dia memindahkan posisi duduknya lebih mendekati Wulan,


demi ingin melihat video apa yang membuat keponakan Wulan itu sampai meneror


tantenya agar segera membuka pesan yang


dia kirim.


Mungkin sinyal internet yang membuat video itu sulit untuk diputar, hingga akhirnya Wulan bosan menunggu dan membuatnya meninggalkan tempat duduknya dan menitipkan ponselnya pada temannya untuk membantu pegawainya yang terlihat agak kerepotan.


Wulan belum datang tapi video itu sudah


mulai bisa terbuka, sedikit demi sedikit memutar setiap adegan yang ada didalamnya dengan ponsel masih di telapak tangan temannya.


Semua teman Wulan berkumpul menyaksikan video dari ponsel Wulan.


"Lah ini kan gadis yang biasa disini, lalu kedua pria itu siapa?." Terheran saat mendapati jika Mery ada di dalam video itu.


Para teman Wulan tidak tahu jika salah satu pria yang ada di video itu adalah menantu Wulan, karena pernikahan joyyana mendadak dan tanpa resepsi.

__ADS_1


Wulan masih sibuk, tak memperhatikan omongan temannya yang bicara dengan temannya yang lain. Hingga saat Wulan menatap temannya itu dari kejauhan, dilambaikan tangan agar Wulan mendekat.


"Wulan sini … ." Panggilnya saat Wulan diam menatap.


Wanita itu menunjuk ponsel Wulan yang dari tadi dibawanya, sambil mengangkat agar


Wulan bisa melihatnya.


Wulan menyerahkan satu kotak yang urung saat akan diisi oleh kue pada seorang


pegawai dan memenuhi panggilan temannya.


"Ada apa sih Yun?."


Wulan duduk dan menerima ponselnya kembali, melihat dengan seksama apa yang tertera di sana.


"Ini bukannya gadis yang biasanya membantumu disini?." Wulan terdiam, sedikit kaget mendapati disana ada Mery, tapi ada yang lebih membuatnya kaget lagi yaitu


adanya Roy dan David menantunya yang sedang berkelahi.


Wulan diam mendengarkan setiap dialog yang diucapkan orang di dalam video itu, Wulan


lebih mendekatkan ponsel itu pada telinganya.


'Tidak salah lagi.' geram Wulan dalam hati.


Wulan meyakini jika tuduhannya selama ini adalah benar, jika menantunya itu sudah


mulai menyukai Mery, Wulan sangat terluka karena David telah mengkhianati cinta tulus dari putrinya.


Tidak mungkin jika seorang lelaki yang


normal tidak menyukai daun muda, begitu


juga David tidak menutup kemungkinan


untuk tidak menyukai Mery yang saat ini terpampang di depannya dikala hatinya merindukan sosok wanita yang dicintainya


dan Mery bisa menyembuhkan luka itu.


Wulan memutar ulang video itu beberapa kali, sakit hati itu seketika membara yang membuatnya segera bangkit dari tempat duduknya.


"Yun, aku pulang dulu ya, lain kali kita bertemu lagi, ku kasih gratis kau ingin makan kue apa disini, ok?." Yuni tidak menjawab, terperangah melihat temannya yang sangat terburu-buru saat meninggalkan toko.


menuju jalan untuk mencari sebuah taksi


untuk bisa mengantarkannya pulang, agar


bisa segera melabrak menantunya dan menyuruhnya untuk menjelaskan tentang apa yang ada di video itu.


Sepeninggal Wulan para teman-temannya saling bertanya dalam kebingungan.


"Kenapa Wulan syok seperti itu?, ada yang


tahu siapa kedua pria tadi?." tanya seorang wanita yang juga teman Wulan.


Semua saling menatap dan mengangkat


bahu mereka, tidak ada satupun dari mereka yang mengenali David maupun Roy. Roy


jarang pulang jadi banyak yang tidak tahu jika Roy adalah putra Rani yang sejelasnya keponakan dari Wulan.


Sebuah taksi berhenti, Wulan pun langsung masuk dan memberikan alamat rumahnya.


Di dalam taksi Wulan memikirkan bagaimana perasaan anaknya jika mengetahui kalau dia telah dikhianati oleh orang-orang yang sangat disayanginya, pastinya Joy akan sangat terluka.


"Aku tak habis pikir, sepicik itu cinta David


pada putriku, belum lama putriku meninggal


dia sudah mencari wanita lain." Sambil menangis Wulan meluapkan emosinya


di dalam taksi, dia berbicara sendiri tak memperdulikan jika ucapannya didengar


oleh si supir taksi.


Di lain tempat ada Rani yang sedang gelisah setelah mengetahui jika putranya celaka, dia ketar ketir dengan keadaan putranya karena belum bertemu langsung, pikirannya cemas takut terjadi hal yang mengkhawatirkan, Rani belum tahu jika putranya celaka karena


dipukuli oleh David, jadi dia tidak meminta penjelasan pada kakaknya.


###


David menyeret Mery agar menurut padanya, memaksa gadis itu masuk kedalam mobilnya, tanpa menoleh kebelakang David ikut masuk dan menjalankan mobilnya untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Mery marah pada kakak iparnya tapi David mengancam akan membunuh dan menghancurkan keluarga Roy jika Mery melawan dan membela pria itu.


Mery tak sanggup untuk menolak lagi, dalam diam dan keterpaksaan dia harus menuruti segala kemauan gila kakak iparnya, Mery kini merasa seperti budak yang tak bisa lari dari jeratan majikannya.


Mery menangis didalam mobil, tidak ingin mendengar ucapan apapun yang keluar dari mulut seorang pria kejam yang ada di sampingnya kini, yang Mery lihat kini bukan kakak iparnya lagi melainkan seorang pria angkuh yang berambisi dengan pemikiran gilanya, pria yang tidak memiliki hati nurani.


Mery berucap dalam hati, kenapa kakaknya dulu bisa bertemu dengan pria gila dan tidak berperi kemanusiaan seperti ini, apa tidak


ada pria lain yang lebih baik.


Mobil sampai di rumah, mobil David dan


Wulan tiba bersamaan. Yang berbeda dari


dua mobil itu hanyalah mobil David langsung masuk ke dalam rumah sedangkan mobil Wulan hanya berhenti di depan pagar, karena hanya sebuah taksi.


David tak sadar jika mobil itu adalah taksi


yang ditumpangi ibu mertuanya, dia tak menengok dan langsung menarik tangan Mery agar cepat turun dan mengajaknya masuk kedalam rumah.


Wulan melihat langsung apa yang David perbuat pada putri angkatnya, rasa emosinya bertambah, dia tak terima jika pengganti putrinya itu diperlakukan sekejam itu, Wulan berlari cepat ke rumahnya untuk menghampiri dua orang itu.


Sampai di dalam rumah David menyuruh


Mery untuk cepat berkemas karena mereka akan kembali ke Jakarta saat ini juga dan


David juga menegaskan jika dirinya tidak menerima penolakan apapun.


"Kemasi semua barang-barangmu kita


kembali ke Jakarta sekarang." Sekali berbicara David lalu keluar dari kamar Mery.


Brakk...


David menutup pintu kamar Mery dengan kasar.


Mery tak bisa berpikir lagi, dia menuruti saja apa yang David tuturkan padanya, di dalam kamarnya Mery mengemas dengan isakan tangis yang mengiringi setiap gerak


tangannya yang memasukkan pakaian


kedalam koper.


Wulan yang baru masuk rumahnya pun bertemu dengan pembantunya, dia mencari keberadaan Mery dan pembantunya menunjuk sebuah kamar dimana tempat Mery beristirahat.


Dan pembantu itu juga menunjuk kamar putri dari majikannya, yang dimana ada menantu Wulan berada.


Wulan membuka pintu, terpampang disana Mery yang sedang menata pakaiannya


kedalam koper dengan disertai tangisan.


Wulan berjalan pelan melihat sosok gadis dengan segala nasib malangnya.


"Kau mau pergi nak?." Duduk tepat di sebelah koper yang tergeletak diatas tempat tidur.


Mery mengusap air matanya, menatap sang


ibu angkat dengan segala harapan agar beliau bisa menolongnya dari kekangan ini.


Tanpa harus berkata, Wulan sudah mengerti dengan tatapan dari gadis malang itu.


Diraihnya tubuh tak berdaya itu kedalam pelukan, Wulan menenangkan hati putri angkatnya agar tidak menangis lagi.


"Kau diamlah disini, biar aku yang bicara pada David." Ucap Wulan seraya melepaskan pelukan.


Mery menatap sang ibu dengan ketakutan,


dia mengingat ancaman yang diucapkan oleh kakak iparnya tadi, dia takut jika semua


ucapan itu terjadi.


"Jangan Bu!." Menggapai pergelangan Wulan agar mengurungkan niatnya.


Wulan menoleh.


"Kau melarangku? Jelaskan padaku apa kau juga suka pada kakak iparmu?." Ujar Wulan sedikit membentak.


Mery menggeleng, air matanya semakin deras. Dia pun melepas genggaman tangannya.


Wulan yang emosi pun langsung keluar dari kamar itu.


πŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸŒΉπŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚πŸ‚


Yok up yokkk... kaborrrrrrrr 🚴🚴🚴🚴

__ADS_1


jgn lupa jejaknya yaaaaπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ€ͺπŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2