
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Seorang wanita lari tergesa-gesa , setelah
rencananya itu gagal , dia berulang kali
menabrak orang yang dilewatinya .
Tanpa meminta maaf , wanita itu terus
berlari , takut jika nanti dirinya tertangkap
oleh anak buah dari target nya .
Tadinya dia yakin jika misinya kali ini akan
berhasil , karena sebelum dia masuk
kesana semua yang sudah dia rancanakan
sudah terlaksana .
Dari mengelabui pengawal hingga
memberikan obat pencahar pun berhasil
dia lakukan , tanpa ada halangan maupun
orang yang menyadari nya .
Tinggal sedikit saja misinya itu akan
sempurna , jika saja Anggi tidak masuk
pasti tidak ada kata kegagalan dalam
rencananya .
Dalam setiap langkahnya saat berlari
wanita itu menghujat Anggi , tak terima
karena ulah perempuan itu misinya
menjadi gagal .
" Dasar wanita set*n , harusnya aku melenyapkannya terlebih dahulu , agar
dia tidak bisa bertingkah ."
Lari sekencang-kencangnya hingga dia
sampai di depan Rumah Sakit langkahnya
terhenti , dari jarak yang tidak jauh sudah
ada sebuah mobil yang siap menghampirinya .
Mobil berhenti tepat di depan sang wanita ,
pintu mobil terbuka dari dalam , " cepat
masuk ." perintah orang di dalam mobil .
Wanita itu langsung masuk dan mobil pun melaju kencang meninggalkan halaman
Rumah Sakit .
Di dalam mobil wanita itu menarik nafas
dalam , mengambil oksigen sebanyak
mungkin , untuk mengatur nafasnya .
Disebelahnya seorang pria sedang
menyetir , fokus dengan jalan pria itu
mengomel karena kegagalan sang wanita .
" Dasar bod*h , harusnya tadi kau jangan
banyak bicara , langsung tancapkan saja
pisau tadi keperutnya , kau sangat
bertele-tele ." hujat sang pria masih
menyetir .
Pria itu mendengar setiap ucapan dari
sang wanita , karena didalam bajunya
terdapat alat perekam yang
menghubungkan keduanya , sebagai
alat mereka berkomunikasi .
" Apa maksudmu aku bertele-tele , aku
hanya ingin meluapkan kekesalan ku pada wanita jal*ng itu saja , kau tidak pernah
merasakan jadi seorang wanita yang
direbut kekasihnya ."
Tak terima dengan tudingan yang
diterimanya , wanita itu membela diri .
" Kalau sudah bod*h ya tetap bod*h ,
kau membicarakan soal kekesalan
kenapa kau luapkan dengan omong kosong
coba jika kau tadi langsung menusuknya
pasti kekesalan mu terbayarkan ."
Melempar bungkus tisu kewajah sang wanita .
" Benar juga ." Merasa malu wanita itu
menatap ke jendela .
Mobil mereka berhenti di depan sebuah
Hotel bintang lima ," cepat turun , kemasi
barang - barangmu , kau tidak bisa tinggal
lagi di sini , anak buah Roy pasti akan
menangkap mu ."
Pria itu berbicara tanpa memandang pada
wajah sang wanita , melihat sekitar untuk
memastikan jika situasinya aman .
__ADS_1
Sang wanita hendak turun , tapi pergelangan
tangannya di cekal oleh sang pria ," Rosa ,
aku tunggu di sini kita tak punya waktu
lama ." mata mereka saling menatap ,
Rosa mengangkat sudut bibirnya ," ya
Max aku mengerti , lepaskan tanganku ."
mengalihkan pandangan ke pergelangan
tangan yang masih di pegang oleh Max .
Rosa segera turun dari mobil , berlari
masuk kedalam Hotel , Max masih
memandang punggung wanita itu sampai
menghilang .
" Dasar wanita bod*h , mau - maunya
dijadikan budak oleh Tomi , apa dia tidak
sadar jika permainan Tomi ini bisa
mengancam nyawanya ." gumam max
dalam hati .
Max kasian pada Rosa , nasib nya yang
kurang baik telah membuatnya tanpa
sadar menyetorkan nyawanya sendiri .
Rosa dengan mudahnya menyetujui
tawaran Tomi tanpa mencari tahu sebab kenapa Tomi menyuruhnya untuk
berurusan dengan David .
Max adalah anak buah Tomi , yang
ditugaskan untuk melindungi Rosa , Max
tahu jika Rosa hanya digunakan sebagai
bahan tumbal oleh Tomi untuk memuluskan
niatnya untuk menghancurkan keluarga
Alexander .
" Siapkan tempat baru untuk kami ."
perintah Max dengan seseorang
di sambungan teleponnya .
Menunggu sekitar sepuluh menit akhirnya
Rosa pun muncul dengan koper kecil
ditangannya , Max segera turun dan
berlari menghampiri wanita itu .
" Cepat masuk , biar aku yang
kemudian memasukkan nya kedalam
kursi belakang .
Max masuk , lalu menghentakkan kakinya
ke pedal gas , mobil pun pergi jauh dari
Hotel tempat Rosa bermalam sementara
untuk menuju Hotel yang baru .
" Max kita sekarang mau kemana ?, aku
bosan harus berpindah-pindah terus ."
" Kau mau kita tertangkap dan membusuk
di penjara ?, di penjara sih tidak apa-apa ,
kalau anak buah Roy atau Tomi menembak
mati kita bagaimana ." teriak Max kesal .
Rosa menangis dalam diam , setelah
mendengar kenyataan pahit yang
di ucapkan oleh rekan sekaligus teman
kencannya ini .
Dia baru menyadari jika dirinya kini tidak
bisa merasakan hidup damai , setelah keputusan konyol yang dibuatnya yaitu membuat kesepakatan dengan seorang Tomi .
Max melirik sekilas wanita di sampingnya
ternyata sedang menangis , " usap air
matamu , air mata itu tidak berguna
sekarang ." memberikan tisu dengan
satu tangannya .
Keadaan malam yang sunyi membuat jalan
begitu sepi , mobil yang Max kendarai bisa bebas melaju kencang tanpa hambatan .
Max tidak bisa melihat wajah Rosa dengan
sempurna karena dia harus melihat arus
jalan . Mobil mereka jauh meninggalkan
kota Jakarta .
Mengusap pipinya , Rosa mengamati
pemandangan yang mereka lewati ,
" Max kita ke puncak ?." Max tidak
menjawab .
" Max jawab aku , tugas ku belum selesai
bagaimana dengan Tomi , kalau dia
__ADS_1
menanyakan hasilnya ." Rosa menyentuh
lengan Max meminta jawaban .
Mobil melaju semakin kencang Rosa
merasa takut , tangan yang tadi cuma
menyentuh beralih menjadi memeluk erat .
Tak berani menatap ke depan , Rosa
menyembunyikan wajahnya di lengan
kekar Max , pria itu menyunggingkan
senyum di bibirnya .
" Masih penakut saja mau menjadi
bajing*n , hahaha ." gerutu Max melihat
tingkah laku Rosa .
###
Mobil berhenti di sebuah Villa yang jauh
dari keramaian , cuma ada dua Rumah
disana , entah itu Villa milik Tomi atau
milik Max sendiri .
Tadinya dia ingin mengajak wanita ini
ke Hotel saja tapi di perjalanan fikirannya
berubah , Max ingin mencari kedamaian
sejenak dan melupakan tentang misi
serta tugasnya .
" Sudah lepaskan lenganku sakit , turunlah
kita sudah sampai ."
Pelan - pelan Rosa merenggangkan tautan tangannya yang memeluk lengan Max ,
melihat sekeliling tempat nya kini berada .
" Jangan banyak bertanya , kita bisa
tinggal disini sementara ." Max
membukakan sabuk pengaman yang
mengikat tubuh Rosa .
Rosa memandang wajah Max dari dekat ,
dia baru menyadari jika Max menjaganya
dengan tulus , sebuah sikap tidak bisa
membohongi ucapan , meskipun ucapan
Max sangat pahit tapi perlakuan padanya
sangat hangat .
" Jangan memandangi ku terus , ayo kita
turun aku lelah sekali , ingin istirahat ."
Max keluar dari mobil , berjalan duluan
menuju Villa ," Max tunggu ." teriakan
Rosa tidak di gubris , Max meninggalkan
wanita itu sendiri di luar , sedangkan dia
sudah masuk kedalam .
" Dasar Max gil* ."
Dengan perasaan kesal Rosa akhirnya
ikut masuk kedalam villa .
Max menunjukkan letak kamar untuk
Rosa tempati , kamar mereka berdempetan .
" Tidak bisakah kita sekamar saja Max ?."
ucap Rosa yang berjalan mendekat .
" Kau suka sekali tidur sekamar denganku ."
Rosa tersenyum .
" Omong kosong apa ini Max , bualanmu
seperti kita tak pernah tidur bersama saja ,
lagi pula disini kita hanya berdua ."
Rosa membuka kancing bajunya .
" Oh ya ?."
Max melihat tubuh indah Rosa dari atas
sampai bawah , mengukir senyum tanpa menunggu aba - aba segera di dekati
wanita yang memancing gairahnya kini .
" Jangan salahkan aku jika malam ini
aku melakukan kekerasan padamu ."
mengangkat tubuh Rosa dan membawanya
ke kamar .
" Lakukan Max , hahahaha,,, ."
Gelak tawa Rosa berbarengan dengan
suara pintu kamar mereka tertutup .
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·
Siapa Tomi ? , kita ulas pelan2 ,, sambil
kita ungkap hubungan Roy dan Bimo
iklan Rosa lewat dulu y π
Rame otw lanjutttt ....
__ADS_1
Next π