Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kedekatan


__ADS_3

Setelah mendapat persetujuan dari pak


Farhan, Dicky pun mengajari cucu ayah angkatnya itu dengan segera, tidak ingin membuang waktu Dicky mengajari joyyana untuk menembak dengan jarak jauh.


Farhan menyetujuinya karena ada motif tersembunyi, dia ingin mendekatkan kedua orang itu.


Farhan tak ingin kehilangan putra angkatnya


ini karena dia merasa jika Dicky sangatlah handal dalam setiap hal dan patut untuk dijadikan menantu meskipun cuma menantu cucu.


Farhan takut jika Dicky meninggalkannya.


Joy yang belum pulih benar dari paska melahirkan pun hanya bisa sebentar untuk belajar menembak, dia tidak bisa


berlama-lama dalam berlatih karena kesehatannya belum fit.


Tapi tekat yang begitu dalam membuatnya cepat tanggap dan cekatan, alhasil Joy


mampu menangkap teori dan mampu untuk mempraktekkannya dengan baik.


Benar apa yang ada di pikiran Farhan, dengan adanya proses pembelajaran Joy, menjadikan hubungan mereka berdua semakin dekat,


hal itu membuat pak Farhan semakin senang, menurutnya rencananya kali ini akan berhasil.


Farhan selalu mencari informasi tentang bagaimana perkembangan hubungan cucu


dan putera angkatnya, dia akan terus


memupuk hubungan itu agar misinya kali ini berhasil.


##


Doorrrrr ..


Tembakan Joy tepat sasaran.


"Sudah cukup, waktunya untuk istirahat."


Teriak Dicky, Joy menurunkan senapan.


Dengan wajah kesal Joy berjalan ke arah


Dicky yang tak jauh darinya.


"Kenapa cuma sebentar Dic?." Berbicara dengan wajah ditekuk.


"Kau harus banyak istirahat Joy, kelihatannya tembakanmu sudah banyak kemajuan, besok kita terjun langsung ada misi untukmu." Ucap Dicky melihat papan tembak yang sudah


terisi bekas tembakan Joy yang tepat tidak melesat sedikit pun.


"Misi?, Kau anggap aku anak buahmu?." Joy menggeleng.


"Jangan banyak bicara, hari ini kau harus istirahat." Dicky menjewer telinga Joy lalu berdiri kemudian meninggalkan Joy tanpa pamit.


Joy tidak kaget dengan kepergian Dicky yang yang hilang tanpa jejak kata. Sepertinya


sudah menjadi kebiasaan orang angkuh itu,


tapi Joy senang dan menganggap Dicky


seperti kakaknya yang dengan sabar


mengajari adiknya.


##


Keesokan hari Joy diajak oleh Dicky untuk pertama kalinya dia keluar dari tempat tinggal kakek barunya itu. Joy merasa senang, seperti keluar dari kekangan yang membelenggu dirinya.


Bersama dengan Dicky, Joy naik mobil cuma berdua, yang lain menggunakan mobil


berbeda. Para anak buah Dicky mengikuti


dari belakang, kemana mobil bosnya itu mengarah.


"Kemana kita Dic?." Joy bertanya, tak tahu


mau diajak kemana dirinya kali ini.


Dicky diam.


"Kau dengar gak apa kataku, aku bertanya padamu Dic jawablah walaupun cuma deheman." Bentak Joy kesal.


"Hemm .. ." Dicky berdehem.

__ADS_1


"Ha,." Joy kaget.


"Tidak begitu juga Dickyyyy .. hemm?." Joy menahan kekesalannya.


Akhirnya Joy diam mengikuti apa yang dilakukan oleh Dicky. Menunggu kemana pria itu akan mengajaknya.


"Joy apa kau dulu punya teman di Panti?."


Dicky mulai membuka suara.


"Banyaklah, di sana kan tempat anak kecil


yang senasib." Jawab Joy enteng.


"Apa ada satu yang berkesan?." berbicara sambil menyetir.


"Tidak, aku menyayangi semuanya." ucap Joy sambil melihat jalan.


Dicky ragu untuk meneruskan pertanyaannya, dia takut jika Joy bukan orang selama ini ditunggunya. Dicky terdiam mendengar jawaban joyyana.


"****, kenapa kau tanya itu?." Menengok pria angkuh disampingnya yang sedang


mematung.


Dicky menoleh sekilas, tak kuat dengan


tatapan joyyana.


"Cuma ingin bertanya apa tidak boleh?."


"Boleh saja, aku kira kau pernah tinggal


di Panti juga terus kau mau menanyakan seseorang padaku." Memukul lengan Dicky sambil tertawa.


Dicky kaget mendengar ocehan joyyana, kenapa bisa tepat seperti apa yang dipikirkannya sekarang.


"Ya, aku pernah tinggal disana." Joy berhenti tertawa.


"Apa kau bilang, sungguh?." Joy memiringkan tubuhnya menjadi menghadap ke Dicky.


Dicky mengangguk sekali.


"Pantes aku seperti tak asing saat melihatmu." Joy mencubit pipi Dicky.


"Iya bos laksanakan." Joy manyun.


Joy menggelengkan kepalanya sambil melanjutkan tertawa, dia tak mengira jika


nasib Dicky yang sangat angkuh ini ternyata sama sepertinya, tapi nasib Dicky lebih baik darinya sebab ada orang yang mau mengadopsinya.


"Aku tak mengira ****, jika nasibmu sama sepertiku, mencicipi rasanya hidup tanpa keluarga, tapi nasibmu lebih cerah ketimbang aku, kau masih bisa mencerna pendidikan


yang layak." Joy hendak menitikkan air mata, teringat saat dirinya dulu di Panti.


"Jangan bicara begitu, aku seakan bersalah telah merampas hakmu." Joy menoleh.


"Kau tidak bersalah ****, semua ini sudah digariskan."


Dicky dan Joy semakin akrab dalam perbincangan, sekarang Dicky sudah banyak bicara dengan joyyana dan mau sedikit


terbuka dengan orang luar, sebelum bertemu dengan joyyana, Dicky tak pernah terbuka.


Tak banyak memakan waktu mereka


akhirnya sampai di tujuan. Dicky


menghentikan mobilnya.


Joy melihat gedung tinggi menjulang yang


ada di depannya, sepertinya tidak asing.


'Ini kan kantornya David, apa aku tidak salah lihat.' gumam Joy dalam hati.


Dicky membukakan pintu untuk Joy.


"Turunlah sebelum kita terlambat." Joy menatap Dicky yang sedang membuka pintu.


Dengan raut wajah yang belum sepenuhnya mengerti, Joy mengikuti saja apa yang dikatakan Dicky padanya.


"Ayo kita ke dalam!, praktekkan apa yang kuajarkan selama ini padamu."


"Eh apa suamiku ada di dalam?." Menarik lengan Dicky.

__ADS_1


"Kenapa, kau mau melepas rindu?." Menatap Joy sebentar kemudian menutup pintu mobil.


Tak ingin bertanya lagi, Joy mengikuti saja kemana Dicky mengajaknya. Dicky masuk kedalam kantor dengan santainya, diikuti dengan anak buah yang setia mengiringi kemanapun langkah tuannya.


Masuk ke dalam lift.


"Dengarkan aku, di dalam sana kau nanti dihadapkan langsung dengan orang yang paling berpengaruh dalam penghancuran keluargamu, jadi kau harus siap untuk menghadapinya, semua ada ditanganmu dan kali ini semua tergantung padamu, hidup dan matinya bergantung pada kesigapan satu jarimu." Sedikit penjelasan Dicky saat berada di dalam lift.


"Kau pasti hafal seluk beluk disini, aku akan bantu menyingkirkan kerikil disini, dan kau masuklah sendiri, misimu kali ini adalah ketentuan nasib kau dan keluargamu."


Pintu lift terbuka, nampaklah pemandangan dimana satu lantai tempat khusus pemimpin di gedung itu, banyak orang berjaga di depan pintu ruangan pimpinan direktur utama.


Semua memandang Joy dan Dicky dengan penuh kegarangan.


"Kau siap?, Aku akan tetap disini dan kau masuklah." Joy mengangguk.


Dicky dan anak buahnya menghajar satu persatu anak buah Tomi, Joy berjalan dengan santainya menuju ruangan Direktur, dimana tempat biasanya ditempati oleh suaminya.


Joy membuka pintu depan perlahan, Joy terkejut melihat Oma sedang bersama seorang lelaki di ruangan itu, yang satu tangannya menggenggam pistol yang ditodongkan ke arah Oma.


Flashback off ~


🌹🌹🌹


Sudah satu bulan lebih setengah David menerima hasil otopsi istrinya yang menyatakan jika mayat yang ada di jurang itu adalah benar mayat istrinya.


Hasil DNA menyatakan 99% cocok dan hal itu membuat David frustasi. Oma yang tahu jika Joy masih hidup tidak mampu berucap untuk membuka kebenaran, sebab Oma sudah berjanji pada cucu menantunya itu untuk merahasiakannya dari David.


David yang sudah berencana untuk mengirim Mery keluar negeri pun akan segera


terlaksana, dendam David pada Roy pun semakin bergemuruh.


Rasa sakit hati seorang suami yang telah kehilangan istrinya membuat David lupa


akan baik Budi serta pertemanan mereka selama ini. David telah mencap jika semua ini terjadi karena kelalaian dari Roy yang tidak mampu menjaga amanatnya.


David berusaha keras untuk membalas dendamnya, dan menggagalkan keinginan


Roy yang ingin mendekati Mery.


David mengurus surat-surat pemberangkatan Mery, serta menyebarkan berita jika dirinya


dan Mery akan segera bertunangan sebelum gadis itu berangkat.


Roy murka dan memutuskan untuk menemui sahabatnya itu. Tanpa sopan dan santun Roy memasuki kediaman Oma dan langsung


masuk ke ruang kerja David.


"Persetan kalau kau pernah menjadi temanku, kau tidak pantas menikahi Mery."


Roy membuka pintu menemukan David


sedang duduk di singgasananya dan


langsung memberikan pukulan.


David menyentuh bibirnya, memeriksa luka yang sedikit mengeluarkan darah,


memandang Roy sambil tertawa.


"Kau bilang aku tidak pantas, lalu apa kau pantas, apa kau lebih baik dan unggul dariku?." David berdiri, tertawa remeh pada Roy.


Roy terdiam.


"Kau bisa apa kalau aku sudah menginginkan dia, tidak akan bisa merubah keadaan jika aku sudah berkehendak." Ucap David dengan sombongnya.


Roy mengepalkan tangannya.


"Roy, Roy .. ingat, aku kehilangan orang yang paling berharga itu gara gara kau dan aku berjanji tidak akan membiarkan kau bahagia semudah itu." Berbicara sambil menunjuk nunjuk dada Roy.


Roy semakin merasa bersalah, tanpa kata lagi David kemudian keluar dari ruangannya.


"Ingat kau harus membayar cash dengan lukamu." Diambang pintu David berucap.


Brakkkk ..


Pintu tertutup dengan kerasnya.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Next aj yahhh... q nyesek jadi Roy 🀧🀧🀧


tapi... Q pingin yang uwuuuu, boleh?πŸ‘‰πŸ‘ˆ

__ADS_1


__ADS_2