
Dengan rasa amarah bercampur dengan
sedikit perasaan tersinggung akan
perkataan yang Roy ucapkan tadi , Mery
berlari masuk menuju kamarnya .
Disertai dengan bantingan pintu saat
dirinya masuk dan menguncinya , yang
mewakili sebuah rasa jengkel yang
meliputi hatinya .
Mery mendudukkan dirinya diatas tempat
tidurnya dengan kasar , mengambil sebuah
boneka bear menaruh di pangkuannya ,
dengan menatap ke jendela .
" Ya , memang rumah ini sekarang adalah
miliknya , tapi dia tidak harus sok semena
- mena pada tamuku ." cerca Mery dengan
nafas yang menggebu-gebu .
Rasa sakit dihatinya menumbuhkan
kekecewaan Mery atas sikap Roy , tanpa
terasa air matanya mengalir di ujung
pelupuk mata indahnya .
Membangkitkan kiratan memori akan
kedua orang tuanya , yang telah
meninggalkannya sendiri di dunia yang
vana .
Tanpa mengurangi rasa kerinduan akan
sosok yang telah membesarkannya ,
Mery pun merasa bersalah kepada kedua
orang tuanya , karena tidak bisa menjaga
peninggalan yang mereka tinggalkan
untuknya .
" Maafkan aku pa.. ma.. karena
kesedihanku , aku sudah ceroboh ,
menjual istana kecil yang telah kalian
tinggalkan untukku , padahal aku sendiri
tahu bagaimana kalian berusaha
membangun rumah ini , agar kita bersama
bisa tinggal nyaman di sini ." batin Mery
meronta dalam kegundahan .
Air matanya pun mengalir deras , ikut
menemani sesak didalam dadanya ,
rasa penyesalan , emosi dan tersinggung
dengan sikap Roy berkecamuk menjadi
satu .Tapi Mery tahu , dia tidak bisa
berbuat apa-apa , karena rumah ini
sudah terlanjur terjual dan bukan lagi
menjadi miliknya .
πππ
Roy mengejar Mery , mengikutinya masuk
mencarinya ke dapur namun nihil , tak
terlihat batang hidungnya .
Arah pandangan nya berhenti pada satu
pintu yang tertutup , Roy tahu jika itu
adalah kamar milik Mery . Dengan langkah
pasti , Roy mendekati kamar dan berhenti
tepat didepannya .
Diangkatnya kepalan jari , keinginan yang
tumbuh dihatinya hendak mengetuk pintu,
tapi diurungkan . Daun telinga Roy menangkap sebuah pendengaran suara
Isak tangis seseorang didalam sana .
" Mery menangis ." gumam Roy yang
lebih mendekatkan telinganya ke pintu
agar lebih jelas apa yang di dengarnya .
Satu kata demi kata berhasil dikumpulkan
Roy dari apa yang ia dengarkan , dia dapat
menyimpulkan dan memastikan ternyata
Mery telah tersinggung dengan sikapnya
tadi pada Bimo .
Didalam hati Roy terpercik rasa bersalah
dan penyesalan , dikumpulkannya tekad
ingin memberi penjelasan pada Mery ,
diangkatnya kembali kepalan tangan dan
memukulkannya pelan di pintu .
Tok..tok..tok...
Suara ketukan pintu mengagetkan Mery
yang berada di dalam .
__ADS_1
" Mery buka pintunya !, aku ingin bicara
denganmu ." suara Roy pelan yang
berusaha membujuk Mery .
Yang didalam kamar tidak bergeming ,
diam tanpa ada satu kata pun untuk
menyahuti panggilan nya .
" Mery ,, apa kau marah padaku ?," tetap
tidak ada sahutan .
Merasa tidak ada respon dalam usahanya
Roy pun memutar otak , mencari solusi
bagaimana caranya agar Mery dengan
cepat mau membuka pintu kamarnya .
Karena dengan nada pelan tidak digubris
Mery , dengan terpaksa Roy membujuk
dengan ketegasan .
" Mery cepat buka pintunya ! kalau kau
tidak mau , aku akan membukanya dengan
paksa dan jangan salahkan aku jika
nanti didalam sana aku akan melahapmu
habis ." teriak Roy yang bersandar di pintu .
Mery menelan ludahnya dengan kasar ,
merasa ngeri setelah mendengar apa
yang barusan Roy ucapkan , dengan cepat
Mery menghapus sisa air matanya ,
berdiri dan berlari kearah pintu .
Dengan sekali putaran , segel pintu
berhasil terlepas dan dengan satu tarikan
pintu pun terbuka . Roy yang tadinya
asik bersandar di pintu , seketika roboh
setelah pintu terbuka , tak mampu
menjaga keseimbangan tubuhnya
membuat Roy hampir terjatuh , untung
Mery masih bisa menangkapnya .
Roy terselamatkan oleh kesigapan tangan
Mery , yang dengan cepat menangkap tubuhnya . Kini Roy dan Mery berpelukan ,
tanpa sengaja bibir Roy jatuh mendarat
tepat di pipi Mery . Mereka terdiam
sejenak , merasakan degupan jantung
yang kencang bak maraton , bergemuruh
Mery tersadar , segera bersusah payah
menegakkan tubuh Roy yang berada dipelukannya , dengan sekali dorongan
Mery berhasil menjauhkan tubuhnya
dari Roy .
" Pergi sana !, kenapa kak Roy berteriak
tidak jelas didepan kamarku ." ketus Mery
dengan nada sinisnya .
Roy masih terdiam tidak mendengar apa
yang barusan Mery ucapkan padanya ,
dia masih sibuk merasakan debaran jantungnya yang semakin kencang .
Roy masih memandang wajah Mery ,
terlihat bibir Mery yang sedang berbicara
namun Roy tak mampu mendengarnya .
"Perasaan apa ini ?." batin Roy dalam
kebisuan .
Sampai dia tersadar dengan ucapan Mery
yang memojokkan nya .
" Oh ya , aku lupa jika rumah ini bukan
lagi milikku , apalagi kamar ini dan semua
yang ada dirumah ini adalah kepunyaan
kak Roy , maafkan aku yang tidak tahu
diri , yang menganggap rumah ini masih
rumahku dan tidak seharusnya aku
seenak hati keluar masuk didalamnya."
Bibir Mery bergetar setelah selesai mengucapkan apa yang mengganjal
didalam hatinya . Dengan sekuat tenaga
dia Mery berusaha menahan agar air
matanya tak sampai jatuh , dia tidak mau
jika Roy sampai tahu , kalau dirinya kini
lemah dan bersedih .
Melihat Mery yang sudah diam , tak
melanjutkan ucapannya . Dengan cepat
Roy mendorong tubuh Mery semakin
masuk kedalam kamar dan Roy ikut
masuk , menutup pintu kemudian menguncinya , Roy masih menatap Mery .
Mendapat tatapan yang berbeda , Mery
__ADS_1
memundurkan dirinya , merasa takut akan
sosok lain dari Roy .
Tanpa menunggu berkata , Roy mendekat
dengan cepat menangkap wajah Mery ,
dengan sekali tarikan Roy berhasil menyatukan bibir mereka berdua ,
merasakan kekenyalan dan rasa manis
dari bibir gadis yang membuat jantungnya berdegup kencang .
Mery melotot , tak cukup dengan kaget
dia juga syok dengan serangan bibir Roy
yang tiba-tiba mendarat begitu saja
di bibirnya . Dengan sekuat tenaga
di dorongnya tubuh kekar Roy , tapi
percuma . Tangkupan tangan Roy yang
erat dikedua pipinya kalah jauh dengan
tenaganya .
Dengan terpaksa Mery membiarkan Roy
menjelajahi bibirnya , Mery yang
merasakan permainan dari serangan
bibir Roy , tanpa sengaja membalas
lum***n yang Roy berikan .
Roy yang sadar akan sambutan dari
Mery , sedikit merenggangkan cengkraman
tangannya yang berada dipipi mery ,satu
tangannya berpindah ke punggung
Mery , sedikit menariknya mendekat dan
memeluknya .
Kenakalan bibir mereka terjadi beberapa
saat , sampai suara ketukan pintu yang
menghentikannya .
Tok..tok..tok..
" Mery , Roy .. apa kalian ada didalam ?,
cepat keluar !, David dan Joy sudah
datang ."
Roy melepaskan persatuan bibir mereka,
sedikit menjauh karena tercipta kecanggungan diantara keduanya ,
didalam kebingungan Mery takut jika
Anggi sampai mengetahui apa yang
mereka lakukan didalam kamar . Dengan cepat Mery menarik Roy masuk kedalam kamar mandi dan menutupnya .
" Kak Roy disini dulu ." perintah Mery
yang hendak menutup pintu .
Mata mereka sempat bertemu , Roy tersenyum , membuat Mery malu dan
menunduk .
Merasa tak ada jawaban , Anggi kembali
memanggil seseorang yang ada di dalam kamar . " Mery , kau didalam kan ?."
Dengan tergopoh-gopoh , Mery menyahut
"Iya kak , aku tertidur ." sahutnya dengan
nada sengaja di perkeras agar Anggi tidak
curiga . Mery berlari mendekati pintu ,
berusaha mengacak rambutnya dulu
sebelum memutuskan untuk membuka
pintunya .
Ceklekk... pintu berhasil terbuka .
Anggi berdiri di depan pintu dengan
bekacak pinggang , memperhatikan
Mery dari kaki sampai ujung rambut .
Kecurigaannya pun muncul , terlihat
wajah kusut dan rambut acak-acakan
seperti sesuatu yang dibuat - buat .
Pandangan Anggi terakhir tertuju pada
bibir Mery ," Aku tahu , jika kalian
melakukan ciuman didalam , Roy tidak
usah bersembunyi , aku juga tidak akan
mencarinya , aku cuma mau berkata
sekarang kau siap - siaplah kita akan
kembali ke Jakarta malam ini juga , tadi
Joy mengabariku untuk memberitahukan
padamu ," Anggi pergi meninggalkan
Mery yang mematung .
Belum jauh Anggi melangkah , dia
kembali kehadapan Mery .
" Cepat lap bibirmu , masih tersisa liur
Roy di situ ." Anggi menunjuk bibir
Mery yang sudah membengkak , dan
berbalik kembali melanjutkan langkahnya.
_
__ADS_1
_
Next π ππππ