Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Salah tingkah ..


__ADS_3

Dengan rasa amarah bercampur dengan


sedikit perasaan tersinggung akan


perkataan yang Roy ucapkan tadi , Mery


berlari masuk menuju kamarnya .


Disertai dengan bantingan pintu saat


dirinya masuk dan menguncinya , yang


mewakili sebuah rasa jengkel yang


meliputi hatinya .


Mery mendudukkan dirinya diatas tempat


tidurnya dengan kasar , mengambil sebuah


boneka bear menaruh di pangkuannya ,


dengan menatap ke jendela .


" Ya , memang rumah ini sekarang adalah


miliknya , tapi dia tidak harus sok semena


- mena pada tamuku ." cerca Mery dengan


nafas yang menggebu-gebu .


Rasa sakit dihatinya menumbuhkan


kekecewaan Mery atas sikap Roy , tanpa


terasa air matanya mengalir di ujung


pelupuk mata indahnya .


Membangkitkan kiratan memori akan


kedua orang tuanya , yang telah


meninggalkannya sendiri di dunia yang


vana .


Tanpa mengurangi rasa kerinduan akan


sosok yang telah membesarkannya ,


Mery pun merasa bersalah kepada kedua


orang tuanya , karena tidak bisa menjaga


peninggalan yang mereka tinggalkan


untuknya .


" Maafkan aku pa.. ma.. karena


kesedihanku , aku sudah ceroboh ,


menjual istana kecil yang telah kalian


tinggalkan untukku , padahal aku sendiri


tahu bagaimana kalian berusaha


membangun rumah ini , agar kita bersama


bisa tinggal nyaman di sini ." batin Mery


meronta dalam kegundahan .


Air matanya pun mengalir deras , ikut


menemani sesak didalam dadanya ,


rasa penyesalan , emosi dan tersinggung


dengan sikap Roy berkecamuk menjadi


satu .Tapi Mery tahu , dia tidak bisa


berbuat apa-apa , karena rumah ini


sudah terlanjur terjual dan bukan lagi


menjadi miliknya .


πŸ€πŸ€πŸ€


Roy mengejar Mery , mengikutinya masuk


mencarinya ke dapur namun nihil , tak


terlihat batang hidungnya .


Arah pandangan nya berhenti pada satu


pintu yang tertutup , Roy tahu jika itu


adalah kamar milik Mery . Dengan langkah


pasti , Roy mendekati kamar dan berhenti


tepat didepannya .


Diangkatnya kepalan jari , keinginan yang


tumbuh dihatinya hendak mengetuk pintu,


tapi diurungkan . Daun telinga Roy menangkap sebuah pendengaran suara


Isak tangis seseorang didalam sana .


" Mery menangis ." gumam Roy yang


lebih mendekatkan telinganya ke pintu


agar lebih jelas apa yang di dengarnya .


Satu kata demi kata berhasil dikumpulkan


Roy dari apa yang ia dengarkan , dia dapat


menyimpulkan dan memastikan ternyata


Mery telah tersinggung dengan sikapnya


tadi pada Bimo .


Didalam hati Roy terpercik rasa bersalah


dan penyesalan , dikumpulkannya tekad


ingin memberi penjelasan pada Mery ,


diangkatnya kembali kepalan tangan dan


memukulkannya pelan di pintu .


Tok..tok..tok...


Suara ketukan pintu mengagetkan Mery


yang berada di dalam .

__ADS_1


" Mery buka pintunya !, aku ingin bicara


denganmu ." suara Roy pelan yang


berusaha membujuk Mery .


Yang didalam kamar tidak bergeming ,


diam tanpa ada satu kata pun untuk


menyahuti panggilan nya .


" Mery ,, apa kau marah padaku ?," tetap


tidak ada sahutan .


Merasa tidak ada respon dalam usahanya


Roy pun memutar otak , mencari solusi


bagaimana caranya agar Mery dengan


cepat mau membuka pintu kamarnya .


Karena dengan nada pelan tidak digubris


Mery , dengan terpaksa Roy membujuk


dengan ketegasan .


" Mery cepat buka pintunya ! kalau kau


tidak mau , aku akan membukanya dengan


paksa dan jangan salahkan aku jika


nanti didalam sana aku akan melahapmu


habis ." teriak Roy yang bersandar di pintu .


Mery menelan ludahnya dengan kasar ,


merasa ngeri setelah mendengar apa


yang barusan Roy ucapkan , dengan cepat


Mery menghapus sisa air matanya ,


berdiri dan berlari kearah pintu .


Dengan sekali putaran , segel pintu


berhasil terlepas dan dengan satu tarikan


pintu pun terbuka . Roy yang tadinya


asik bersandar di pintu , seketika roboh


setelah pintu terbuka , tak mampu


menjaga keseimbangan tubuhnya


membuat Roy hampir terjatuh , untung


Mery masih bisa menangkapnya .


Roy terselamatkan oleh kesigapan tangan


Mery , yang dengan cepat menangkap tubuhnya . Kini Roy dan Mery berpelukan ,


tanpa sengaja bibir Roy jatuh mendarat


tepat di pipi Mery . Mereka terdiam


sejenak , merasakan degupan jantung


yang kencang bak maraton , bergemuruh


Mery tersadar , segera bersusah payah


menegakkan tubuh Roy yang berada dipelukannya , dengan sekali dorongan


Mery berhasil menjauhkan tubuhnya


dari Roy .


" Pergi sana !, kenapa kak Roy berteriak


tidak jelas didepan kamarku ." ketus Mery


dengan nada sinisnya .


Roy masih terdiam tidak mendengar apa


yang barusan Mery ucapkan padanya ,


dia masih sibuk merasakan debaran jantungnya yang semakin kencang .


Roy masih memandang wajah Mery ,


terlihat bibir Mery yang sedang berbicara


namun Roy tak mampu mendengarnya .


"Perasaan apa ini ?." batin Roy dalam


kebisuan .


Sampai dia tersadar dengan ucapan Mery


yang memojokkan nya .


" Oh ya , aku lupa jika rumah ini bukan


lagi milikku , apalagi kamar ini dan semua


yang ada dirumah ini adalah kepunyaan


kak Roy , maafkan aku yang tidak tahu


diri , yang menganggap rumah ini masih


rumahku dan tidak seharusnya aku


seenak hati keluar masuk didalamnya."


Bibir Mery bergetar setelah selesai mengucapkan apa yang mengganjal


didalam hatinya . Dengan sekuat tenaga


dia Mery berusaha menahan agar air


matanya tak sampai jatuh , dia tidak mau


jika Roy sampai tahu , kalau dirinya kini


lemah dan bersedih .


Melihat Mery yang sudah diam , tak


melanjutkan ucapannya . Dengan cepat


Roy mendorong tubuh Mery semakin


masuk kedalam kamar dan Roy ikut


masuk , menutup pintu kemudian menguncinya , Roy masih menatap Mery .


Mendapat tatapan yang berbeda , Mery

__ADS_1


memundurkan dirinya , merasa takut akan


sosok lain dari Roy .


Tanpa menunggu berkata , Roy mendekat


dengan cepat menangkap wajah Mery ,


dengan sekali tarikan Roy berhasil menyatukan bibir mereka berdua ,


merasakan kekenyalan dan rasa manis


dari bibir gadis yang membuat jantungnya berdegup kencang .


Mery melotot , tak cukup dengan kaget


dia juga syok dengan serangan bibir Roy


yang tiba-tiba mendarat begitu saja


di bibirnya . Dengan sekuat tenaga


di dorongnya tubuh kekar Roy , tapi


percuma . Tangkupan tangan Roy yang


erat dikedua pipinya kalah jauh dengan


tenaganya .


Dengan terpaksa Mery membiarkan Roy


menjelajahi bibirnya , Mery yang


merasakan permainan dari serangan


bibir Roy , tanpa sengaja membalas


lum***n yang Roy berikan .


Roy yang sadar akan sambutan dari


Mery , sedikit merenggangkan cengkraman


tangannya yang berada dipipi mery ,satu


tangannya berpindah ke punggung


Mery , sedikit menariknya mendekat dan


memeluknya .


Kenakalan bibir mereka terjadi beberapa


saat , sampai suara ketukan pintu yang


menghentikannya .


Tok..tok..tok..


" Mery , Roy .. apa kalian ada didalam ?,


cepat keluar !, David dan Joy sudah


datang ."


Roy melepaskan persatuan bibir mereka,


sedikit menjauh karena tercipta kecanggungan diantara keduanya ,


didalam kebingungan Mery takut jika


Anggi sampai mengetahui apa yang


mereka lakukan didalam kamar . Dengan cepat Mery menarik Roy masuk kedalam kamar mandi dan menutupnya .


" Kak Roy disini dulu ." perintah Mery


yang hendak menutup pintu .


Mata mereka sempat bertemu , Roy tersenyum , membuat Mery malu dan


menunduk .


Merasa tak ada jawaban , Anggi kembali


memanggil seseorang yang ada di dalam kamar . " Mery , kau didalam kan ?."


Dengan tergopoh-gopoh , Mery menyahut


"Iya kak , aku tertidur ." sahutnya dengan


nada sengaja di perkeras agar Anggi tidak


curiga . Mery berlari mendekati pintu ,


berusaha mengacak rambutnya dulu


sebelum memutuskan untuk membuka


pintunya .


Ceklekk... pintu berhasil terbuka .


Anggi berdiri di depan pintu dengan


bekacak pinggang , memperhatikan


Mery dari kaki sampai ujung rambut .


Kecurigaannya pun muncul , terlihat


wajah kusut dan rambut acak-acakan


seperti sesuatu yang dibuat - buat .


Pandangan Anggi terakhir tertuju pada


bibir Mery ," Aku tahu , jika kalian


melakukan ciuman didalam , Roy tidak


usah bersembunyi , aku juga tidak akan


mencarinya , aku cuma mau berkata


sekarang kau siap - siaplah kita akan


kembali ke Jakarta malam ini juga , tadi


Joy mengabariku untuk memberitahukan


padamu ," Anggi pergi meninggalkan


Mery yang mematung .


Belum jauh Anggi melangkah , dia


kembali kehadapan Mery .


" Cepat lap bibirmu , masih tersisa liur


Roy di situ ." Anggi menunjuk bibir


Mery yang sudah membengkak , dan


berbalik kembali melanjutkan langkahnya.


_

__ADS_1


_


Next πŸ€ πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2