
Bersitegang 2
Mery masuk ke dalam kamar rawat kakaknya dengan mimik muka yang cemas, Mery
sempat terkejut dengan pertanyaan yang diberikan oleh Adinda saat dirinya baru saja masuk, kok bisa pas dengan situasi yang dihadapinya tadi di lift.
"Apa jangan-jangan Adinda ada kaitannya dengan amarah Tante Rani." Pikiran itu
berputar di benak Mery.
Hati Mery sekarang dipenuhi dengan banyak prasangka pada temannya yang satu ini,
semua yang dialaminya selalu terhubung dengan teman yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu.
Berjalan ke arah Adinda, Mery berniat mengintrogasi.
"Kenapa kau bisa tahu Din, jika aku tadi bertemu dengan bundamu." Mery bertanya sambil berjalan.
"Apa, jangan-jangan?." Tatapan Mery penuh selidik pada Adinda.
Adinda menelan ludahnya, merinding mendapat tatapan dari Mery.
"Bu .. bukan begitu Mer, bunda tadi baru saja dari sini, kau jangan salah paham padaku."
Menggoyangkan kedua telapak tangannya di hadapan Mery, untuk mengelak tuduhan yang diberikan padanya.
Mery tersenyum hambar, "aku sama sekali belum menuduhmu, tapi kenapa kau bisa bilang begitu."
Raut muka Adinda pucat, membuat Mery
yakin jika amarah Tante Rani tadi terjadi
akibat ulah andil dari perkataan Adinda.
"Pasti semua ini ulahmu, apa salahku pada Din?." Menaruh tas diatas kursi.
Joy melihat Mery dan Adinda, dia mencium
bau akan terjadi pertengkaran di kamarnya. Memberikan putranya segera pada perawat untuk dikembalikan ke ruangan NICU,
perawat itu langsung keluar dari sana.
Joy tak bisa membela salah satu dari mereka, dua-duanya adalah adiknya. Joy tidak bisa
pilih kasih, keduanya termasuk orang yang sangat disayanginya.
Joy berusaha untuk turun dari tempat
tidurnya, memegang lengan ibunya untuk dibuat tarikan agar dia bisa duduk seimbang.
"Kau mau kemana nak, jangan ikut campur, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, mereka sudah dewasa." Melarang putrinya agar tidak jadi turun dari ranjang.
Joy menggeleng.
"Tidak Bu, ini sudah menyangkut Mery, di sini Mery tidak punya siapa-siapa, mereka berdua adikku, aku harus bisa jadi penengah." Mendengar ucapan putrinya membuat Wulan melepaskan pegangan tangannya.
"Baiklah, jika itu baik menurutmu." Membantu putrinya turun.
__ADS_1
Dituntun ibunya, Joy berjalan pelan ke sofa, "kalian berdua duduklah kita bicarakan
dengan baik-baik."
Melihat kakaknya mendekat, Mery dan langsung Adinda duduk. Joy menyuruh Mery bicara dahulu dan kemudian Adinda agar semua bisa jelas.
"Tadi aku memang di lift bersama kak Roy,
tapi kak Roy yang memaksa masuk bukan
aku yang sengaja berdua disana kak." Jelas Mery pada kakaknya.
Joy mengalihkan pandangannya pada Adinda. "Din .. ." Panggilan Joy menandakan jika
giliran Adinda bicara.
"Tapi kan intinya kalian satu lift." Ucap Adinda enteng.
"Dinda, ucapanmu itu bisa menimbulkan
fitnah, orang bisa berpikir lain, bisa saja
Tante Rani berpikir jika kami berdua tadi berbuat apa-apa di dalam sana." Mery
membela diri.
"Aku tidak tahu Mer, kita kan tidak tahu pikiran bunda bagaimana, kau jangan menerka."
Adinda masih bersikukuh tidak mau disalahkan, dia masih menganggap dirinya benar.
"Sebentar, Mery .. Dinda .. masalahnya itu ada
"Mery."
"Dinda."
Keduanya saling menunjuk satu sama lain.
Joy menggeleng.
"Gini, dengarkan kakak! Mery, apa kau ada hubungan dengan Roy? Dan jawab
pertanyaan kakak dengan jujur, Roy dan Bimo mana yang jadi kekasihmu sekarang?." Dinda mengangguk.
"Bener kata kak Joy." Ucapan Adinda membuat Mery melotot.
Mery hendak membalas tapi di halangi oleh Joy. "Mery, jawab pertanyaan kakak!."
Adinda tertawa melihat Mery terpojok. Mery menarik nafasnya dalam.
"Aku sekarang menjalin hubungan dengan
kak Bimo, dan tentang kak Roy, aku tidak ada hubungan apa-apa." Joy tersenyum
mendengar penjelasan Mery, sesuai yang
dia harapkan.
"Bohong, aku pernah melihat kalian
berpelukan kok." Adinda masih tidak
__ADS_1
menerima.
Mery malah tertawa, dia tidak habis pikir ternyata temannya ini masih tidak bisa menerima jika orang yang dia sukai sekarang menjalin hubungan dengannya.
"Berpelukan katamu?." Mery menggeleng tak percaya.
"Dinda .. Dinda, kau belum mengenal
kakakmu ya? Kakakmu itu yang dasarnya buaya, peluk sana peluk sini. Apa kau pikir
aku kegirangan dipeluk oleh kakakmu, aku
tidak akan memeluk kakakmu karena aku
tidak semurahan itu jadi perempuan."
"Kau jangan bicara begitu Mer, mulutmu menolak tapi tubuhmu menginginkannya."
Adinda tidak terima jika Mery mengatai kakaknya dengan sebutan buaya.
"Cukup Din, tuduhanmu padaku sangat keterlaluan, aku sudah menganggapmu
seperti saudaraku sendiri, tapi aku tak habis pikir, cuma gara-gara seorang lelaki persahabatan kita hancur."
Joy melihat perdebatan ini mulai memanas, segera mengambil tindakan.
"Cukup." Bentak Joy.
Mery dan Adinda terdiam.
"Maafkan aku kak, aku mau kembali ke rumah Oma saja, aku tidak tahan dengan semua tuduhan yang orang -orang berikan padaku,
aku menunggu kakak di rumah saja." Mengambil tasnya kemudian berdiri.
Joy diam, hanya bisa mengangguk dengan keputusan terakhir Mery, menurutnya itu
adalah yang terbaik, salah satu dari mereka harus ada yang menjauh.
"Baiklah, hati -hati di jalan ya dek." Mery mengangguk kemudian menuju pintu.
Joy memandang Adinda, " sudah puas dek? Sahabatmu sudah pergi." Tersenyum pada Adinda.
"Mencari teman itu gampang tapi mencari
satu sahabat yang sesungguhnya itu
sangatlah sulit, mendapat sahabat yang baik
itu adalah anugerah, kau mencari dimana
pun tidak akan pernah ketemu, karena
sahabat itu ada bukan dicari." Mengelus pundak adik sepupunya, lalu berdiri untuk kembali ke ranjang.
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
Belum seru kalo GK lanjut , lanjut yuk..
jangan lupa jejak n dukungannya KK..
Next πππ
__ADS_1