Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Bersitegang 2


__ADS_3


Bersitegang 2



Mery masuk ke dalam kamar rawat kakaknya dengan mimik muka yang cemas, Mery


sempat terkejut dengan pertanyaan yang diberikan oleh Adinda saat dirinya baru saja masuk, kok bisa pas dengan situasi yang dihadapinya tadi di lift.


"Apa jangan-jangan Adinda ada kaitannya dengan amarah Tante Rani." Pikiran itu


berputar di benak Mery.


Hati Mery sekarang dipenuhi dengan banyak prasangka pada temannya yang satu ini,


semua yang dialaminya selalu terhubung dengan teman yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu.


Berjalan ke arah Adinda, Mery berniat mengintrogasi.


"Kenapa kau bisa tahu Din, jika aku tadi bertemu dengan bundamu." Mery bertanya sambil berjalan.


"Apa, jangan-jangan?." Tatapan Mery penuh selidik pada Adinda.


Adinda menelan ludahnya, merinding mendapat tatapan dari Mery.


"Bu .. bukan begitu Mer, bunda tadi baru saja dari sini, kau jangan salah paham padaku."


Menggoyangkan kedua telapak tangannya di hadapan Mery, untuk mengelak tuduhan yang diberikan padanya.


Mery tersenyum hambar, "aku sama sekali belum menuduhmu, tapi kenapa kau bisa bilang begitu."


Raut muka Adinda pucat, membuat Mery


yakin jika amarah Tante Rani tadi terjadi


akibat ulah andil dari perkataan Adinda.


"Pasti semua ini ulahmu, apa salahku pada Din?." Menaruh tas diatas kursi.


Joy melihat Mery dan Adinda, dia mencium


bau akan terjadi pertengkaran di kamarnya. Memberikan putranya segera pada perawat untuk dikembalikan ke ruangan NICU,


perawat itu langsung keluar dari sana.


Joy tak bisa membela salah satu dari mereka, dua-duanya adalah adiknya. Joy tidak bisa


pilih kasih, keduanya termasuk orang yang sangat disayanginya.


Joy berusaha untuk turun dari tempat


tidurnya, memegang lengan ibunya untuk dibuat tarikan agar dia bisa duduk seimbang.


"Kau mau kemana nak, jangan ikut campur, biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri, mereka sudah dewasa." Melarang putrinya agar tidak jadi turun dari ranjang.


Joy menggeleng.


"Tidak Bu, ini sudah menyangkut Mery, di sini Mery tidak punya siapa-siapa, mereka berdua adikku, aku harus bisa jadi penengah." Mendengar ucapan putrinya membuat Wulan melepaskan pegangan tangannya.


"Baiklah, jika itu baik menurutmu." Membantu putrinya turun.

__ADS_1


Dituntun ibunya, Joy berjalan pelan ke sofa, "kalian berdua duduklah kita bicarakan


dengan baik-baik."


Melihat kakaknya mendekat, Mery dan langsung Adinda duduk. Joy menyuruh Mery bicara dahulu dan kemudian Adinda agar semua bisa jelas.


"Tadi aku memang di lift bersama kak Roy,


tapi kak Roy yang memaksa masuk bukan


aku yang sengaja berdua disana kak." Jelas Mery pada kakaknya.


Joy mengalihkan pandangannya pada Adinda. "Din .. ." Panggilan Joy menandakan jika


giliran Adinda bicara.


"Tapi kan intinya kalian satu lift." Ucap Adinda enteng.


"Dinda, ucapanmu itu bisa menimbulkan


fitnah, orang bisa berpikir lain, bisa saja


Tante Rani berpikir jika kami berdua tadi berbuat apa-apa di dalam sana." Mery


membela diri.


"Aku tidak tahu Mer, kita kan tidak tahu pikiran bunda bagaimana, kau jangan menerka."


Adinda masih bersikukuh tidak mau disalahkan, dia masih menganggap dirinya benar.


"Sebentar, Mery .. Dinda .. masalahnya itu ada


"Mery."


"Dinda."


Keduanya saling menunjuk satu sama lain.


Joy menggeleng.


"Gini, dengarkan kakak! Mery, apa kau ada hubungan dengan Roy? Dan jawab


pertanyaan kakak dengan jujur, Roy dan Bimo mana yang jadi kekasihmu sekarang?." Dinda mengangguk.


"Bener kata kak Joy." Ucapan Adinda membuat Mery melotot.


Mery hendak membalas tapi di halangi oleh Joy. "Mery, jawab pertanyaan kakak!."


Adinda tertawa melihat Mery terpojok. Mery menarik nafasnya dalam.


"Aku sekarang menjalin hubungan dengan


kak Bimo, dan tentang kak Roy, aku tidak ada hubungan apa-apa." Joy tersenyum


mendengar penjelasan Mery, sesuai yang


dia harapkan.


"Bohong, aku pernah melihat kalian


berpelukan kok." Adinda masih tidak

__ADS_1


menerima.


Mery malah tertawa, dia tidak habis pikir ternyata temannya ini masih tidak bisa menerima jika orang yang dia sukai sekarang menjalin hubungan dengannya.


"Berpelukan katamu?." Mery menggeleng tak percaya.


"Dinda .. Dinda, kau belum mengenal


kakakmu ya? Kakakmu itu yang dasarnya buaya, peluk sana peluk sini. Apa kau pikir


aku kegirangan dipeluk oleh kakakmu, aku


tidak akan memeluk kakakmu karena aku


tidak semurahan itu jadi perempuan."


"Kau jangan bicara begitu Mer, mulutmu menolak tapi tubuhmu menginginkannya."


Adinda tidak terima jika Mery mengatai kakaknya dengan sebutan buaya.


"Cukup Din, tuduhanmu padaku sangat keterlaluan, aku sudah menganggapmu


seperti saudaraku sendiri, tapi aku tak habis pikir, cuma gara-gara seorang lelaki persahabatan kita hancur."


Joy melihat perdebatan ini mulai memanas, segera mengambil tindakan.


"Cukup." Bentak Joy.


Mery dan Adinda terdiam.


"Maafkan aku kak, aku mau kembali ke rumah Oma saja, aku tidak tahan dengan semua tuduhan yang orang -orang berikan padaku,


aku menunggu kakak di rumah saja." Mengambil tasnya kemudian berdiri.


Joy diam, hanya bisa mengangguk dengan keputusan terakhir Mery, menurutnya itu


adalah yang terbaik, salah satu dari mereka harus ada yang menjauh.


"Baiklah, hati -hati di jalan ya dek." Mery mengangguk kemudian menuju pintu.


Joy memandang Adinda, " sudah puas dek? Sahabatmu sudah pergi." Tersenyum pada Adinda.


"Mencari teman itu gampang tapi mencari


satu sahabat yang sesungguhnya itu


sangatlah sulit, mendapat sahabat yang baik


itu adalah anugerah, kau mencari dimana


pun tidak akan pernah ketemu, karena


sahabat itu ada bukan dicari." Mengelus pundak adik sepupunya, lalu berdiri untuk kembali ke ranjang.


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Belum seru kalo GK lanjut , lanjut yuk..


jangan lupa jejak n dukungannya KK..


Next 😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2