
Pagi ini Mery diantarkan oleh seorang supir ke Bandara, dia menolak tawaran Bimo yang berniat ingin menjemputnya untuk berangkat bersama ke Bandara.
Dia tak ingin membuat repot Bimo melainkan mengajak janji temu saja di Bandara dan juga dia memastikan nanti pasti akan datang.
Ditemani Adinda, Mery bersama ingin melepas kepergian Bimo dan ingin memenuhi keinginan Bimo tadi malam yang ingin melihat wajah kekasihnya itu untuk yang terakhir kali.
Di dalam mobil kali ini ada kesenjangan di antara mereka berdua setelah sedikit perdebatan di meja makan saat sarapan tadi, dan karena itu Adinda memutuskan untuk ikut Mery melihat Bimo di Bandara.
Saling menatap ke jendela ragu untuk saling berbicara.
Flashback on ~
Di Atas meja makan Mery dan Adinda menemani Oma sarapan, seperti biasa ada perbincangan kecil mengiringi acara santap pagi untuk menghangatkan suasana.
Setelah selesai Oma pergi ke ruang kerja milik David untuk mengambil berkas yang akan dibawanya nanti ke Kantor. Tapi sebelumnya Mery meminta izin kepada Oma agar diperbolehkan meminjam mobil beserta supirnya untuk mengantarnya ke Bandara.
Oma dengan senang hati mengizinkan karena Mery sudah mau memakai fasilitas yang ada di Rumah itu. Kepergian Oma menyisakan mereka berdua, Mery dan Adinda.
"Jadi ikut?." Berkata dengan ragu - ragu takut membuat temannya tersinggung.
"Untuk apa, tidak ada gunanya juga." Meminum segelas susu dan akan beranjak pergi untuk kembali ke kamar.
Adinda sudah tak mampu menahan sesak di dadanya, dari semalam dia sudah menolak tapi Mery masih saja mengajaknya lagi. APA MERY INGIN PAMER KEMESRAAN, kata itu yang ada di pikiran Adinda sekarang.
Dia sudah muak harus berpura-pura bahagia, kali ini dia tidak bisa memendam lagi dan akan menegaskan pada temannya itu jika tidak ya tidak.
Kepergian Adinda menambah rasa tak enak hati Mery semakin menjadi, dia mengikuti gadis itu ke dalam kamar.
__ADS_1
"Din maaf." Ikut masuk kedalam kamar.
Dinda menoleh mendengar kata maaf itu lagi dari bibir Mery, memperjelas jika dia memang melakukan kesalahan.
"Maaf apalagi sih Mer, cukup! Dari semalam aku sudah jelaskan padamu jika aku tidak ingin bertemu lagi dengan kak Bimo mu itu." Ucap Adinda menahan tangis terduduk di ranjang.
Mery mendekat.
"Dinda .. apa kau sudah tahu?." Duduk di sisi kanan temannya, Adinda manggut.
"Sejak kapan?."
"Di Taman, aku membuntuti kalian dari bioskop, itu sangat menyakitkan." Adinda menangis.
Terpaksa Adinda jujur pada Mery, dia tak ingin ada sesuatu yang dia sembunyikan lagi, dia menganggap Mery sudah lebih dari teman melainkan seorang sahabat dan juga saudara, jadi pahit dan manis akan dia bagi meskipun itu perih.
"Ma .. maaf." Mery mengucap sambil menunduk, Adinda menoleh memegang pundak sahabatnya.
"Aku benci kata maaf, sekarang lupakan perasaanku dan jemputlah kebahagiaan kalian, cintaku adalah sebuah perasaan sepihak jangan biarkan perasaan ini merusak cinta kalian." Mengusap air mata Mery.
"Tujuanku jujur padamu hanyalah agar aku tak ada beban dan aku akan membuang perasaan ini." Mengukir senyum di bibir.
Mery lega mendengar penuturan Adinda, semakin memantapkan hati jika pilihannya kali ini tidak salah," jika benar katamu Din ayo ikut aku kali ini, besok kamu tidak akan bertemu lagi dengannya."
"Tapi .. ," Mery menggeleng, tak menerima penolakan temannya.
Akhirnya Adinda pun tak bisa menolak permintaan Mery.
__ADS_1
Flashback off ~
Di Bandara Bimo tidak sendirian, menunggu waktu penerbangan dia bersama dengan Ibunda Andreas yang juga sebagai saudara kandung dari ayah Bimo.
Andreas juga ikut tapi kali ini dia sedang ke toilet, kedua gadis sedang mencari keberadaan Bimo, pandangan nya mengarah pada seorang pemuda dengan memakai kaos biru dengan kacamata yang menggantung di atas kepalanya.
Dia melambaikan tangan saat melihat Mery yang berjalan ke arahnya, wajah sumringah dan senyum yang enggan untuk luntur terlukis indah di wajahnya.
Memeluk erat sang pujaan hati Bimo melepas kerinduan, meluapkan rasa untuk yang terakhir kalinya. Adinda semakin perih melihat semua itu, dia hanya bisa memalingkan wajah. Mery yang mengetahui hal itu mencoba merenggangkan pelukan tapi Bimo semakin mengeratkan.
"Adinda menyukaimu kak." Bisik Mery
membuat Bimo syok seketika melepaskan pelukan kemudian menatap kekasihnya
Mery mengangguk.
HUH .. udara keluar dari mulut Bimo .
Bimo melepaskan rasa kagetnya, lalu pandangannya beralih pada Adinda.
๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
Sepiiii jejak nya,,,, lanjut g nihhh
๐คง๐คง๐คง
Next ????
__ADS_1