Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Berdua


__ADS_3

Di dalam ruang Direktur Dicky duduk di kursi yang biasa diduduki oleh pak Farhan, karena kini yang mengurus perusahaan itu adalah dirinya maka yang memegang jabatan Direktur utama sementara ini dipegang oleh Dicky juga.


Di kursi singgasananya Dicky sedang tertawa sendiri, pria itu menatap laptop pribadinya dengan jemari yang dengan lincahnya mengedit sebuah file yang baru dia dapatkan dari seseorang suruhannya.


Sebuah file yang berisikan rekaman suara


dari seorang pria yang ingin dia jatuhkan, dibuangnya suara yang tidak berguna dan menambahkan sedikit suara yang bisa menambah emosi joyyana nanti jika mendengarnya.


Dicky membayangkan bagaimana nantinya


jika hasil editannya itu sampai didengar oleh joyyana, bagaimana raut wajah wanita itu, perasaan yang hancur dan disitulah Dicky


akan datang untuk memberikan pelukan kedamaian bagi wanita itu.


Tiba-tiba Joy membuka pintu tanpa mengetuk langsung nyelonong masuk, Dicky


cepat-cepat menutup laptopnya, takut jika


Joy mengetahui kalau dirinya kini sedang mengedit file yang akan ditunjukkan padanya nanti.


"Hai Dic, aku ingin makan siang diluar, apa


kau mau ikut?." Duduk tepat di depan Dicky.


Dicky berusaha menyembunyikan kegugupannya agar Joy tidak curiga. Joy melihat laptop ditangan Dicky, dia sempat curiga kenapa Dicky memasukkan laptopnya


ke dalam laci dan menguncinya.


Joy bertanya-tanya dalam hati, apa ada yang Dicky sembunyikan darinya, sampai Dicky mengunci laptop itu. Tapi semua tudingan itu dia pangkas karena rasa kepercayaan yang penuh pada pria itu.


"Iya, tunggu aku sebentar." Dicky meringkas map-map yang tergeletak di atas mejanya.


"Ya sudah, aku tunggu di ruanganku ya." Joy berdiri dan keluar ruangan.


"Baiklah aku tidak lama kok." Mengeluarkan nafas lega setelah kepergian joyyana.


Hampir saja dia ketahuan.


###


Kita beralih pada Roy dan Mery.


Masih di dalam mobil, Roy mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, tujuan awal Mery yang akan ke Toko kue milik ibu angkatnya menjadi gagal karena Roy


memaksa untuk mengajaknya jalan-jalan.


Berjalan-jalan berdua menikmati masa dunia milik berdua, dalam keterdiaman Mery masih terbayang tentang Bimo yang sedang


berduaan dengan wanita lain, badannya kini bersama dengan Roy tapi pikiran dan hatinya bersama dengan fantasi Bimo.


Masih mengemudi sesekali Roy melirik gadis manis disampingnya.


"Lama sekali kita tidak berduaan seperti ini." Satu kalimat dari mulut Roy membuat Mery tersadar, jika dirinya sedang melamun dan sedikit meneteskan air matanya.


Mengusap air di pelupuk mata, Mery


berusaha agar pria di sampingnya kini tidak tersadar jika dirinya sedang menangis.


"Kau senang kan bisa berdua denganku?."


Mery menoleh.


Roy menyengirkan matanya.


"Konyol." Jawaban Mery membuat Roy terbahak-bahak.


"Aku sangat menyukai kau yang jual mahal seperti ini." Mencubit pipi Mery, tangan Roy langsung dipukul olehnya.


"Apa-apaan sih, aku bukan anak kecil kak jangan mencubitku." Sewot Mery tak terima dengan cubitan yang Roy berikan.


Roy tidak mendengarkan omongan gadis


manis di sampingnya, dia tidak heran malah menggosok rambut dan merusak tatanannya.


"Kak Roy." Teriak mery tak terima.


Dia memukul lengan Roy kesal.


"Kita mau kemana, kalau ke Tokonya ibu Wulan kan harusnya belok ke kiri, kenapa kita malah belok ke kanan." Mery heran melihat jalan.


Pojok bibir Roy terangkat.


"Sudah ku bilang kita mau ke KUA." Ucap Roy santai menggoda Mery.

__ADS_1


"Kak aku serius, kali ini aku tak ingin jawaban main-main."


Hari ini Mery sedang tak suka jika ada orang yang bergurau dengannya, hatinya sedang tak ingin bercanda dengan keadaan. Rasanya dia ingin lari sejauh-jauhnya dan menjadi pribadi yang baru serta membuang sesak di dalam dadanya.


"Aku juga serius sayang, kalau kau mau kita bisa mewujudkannya." jawab Roy di balas kejengahan oleh Mery.


Mery hafal dengan godaan pria yang selalu menggodanya ini, jadi dia tak kaget jika Roy menggoda lagi dan lagi.


Mobil Roy menyusuri jalan, melewati pepohonan yang rindang.


"Kak, kita ke gunung?." Roy diam.


"Kak, bagaimana hubunganmu dengan


wanita itu?." Tiba-tiba Mery mengingat wanita yang katanya akan menjadi tunangan Roy.


Roy menghentikan mobilnya lalu melepas sabuk pengaman dan menatap Mery.


"Sudah ku katakan berulang kali padamu jika aku sudah tidak ada hubungan lagi


dengannya, kejadian waktu itu semata-mata hanya karena bunda tidak dengan hatiku, dari awal kita bertemu hatiku tetaplah milikmu."


Roy menegaskan, dua pasang mata bertemu.


"Mudah sekali seorang pria memutar balikkan fakta." Mery tersenyum menyeringai.


"Astaga, bagaimana aku harus membuktikan padamu agar kau percaya."


"Bukan aku yang susah percaya kak, tapi


sikap kak Roy lah yang gampangan dengan wanita yang membuat ku ragu."


Tuduhan Mery tak bisa di pungkiri oleh Roy, karena Roy sadar dengan segala perilakunya. Roy tidak bisa membantah lagi.


"Ya sudah terserah padamu sekarang, yang terpenting bagiku hatiku adalah milikmu." Roy hendak meraih pipi Mery tapi di telak duluan oleh gadis itu.


"Apa-apaan sih, gak usah pegang nanti ujung-ujungnya nyosor lagi." Mendorong Roy menjauh.


Roy tertawa mendengar ucapan Mery, karena tahu apa yang bakalan dia lakukan.


"Mer, jika perkataanku tidak bisa


membuktikan rasaku padamu apa aku harus membuktikannya dengan tindakan?." Roy bingung harus bicara apalagi agar bisa meyakinkan gadis pujaan hatinya ini.


"Ok, aku bisa saja nekat dan merusakmu sekarang juga disini agar kau tidak bisa bertunangan apalagi menikah dengan duda jelek itu." Mery melongo.


"Bukti apaan itu, kak Roy gila." Mery memalingkan wajahnya.


"Katanya kau perlu bukti." Mery menggeleng menolak penuturan Roy.


Roy melepas kancing kemeja putih yang dipakainya, berusaha menakuti Mery. Setelah habis semua kancing terlepas Roy pun memaksa Mery untuk melihatnya.


"Ayo kita lakukan disini sekarang, di pesawat kemarin tertunda sekarang tidak akan ada


yang mengganggu kita." Menarik bahu Mery agar menghadap padanya.


Mery kaget saat matanya menangkap pemandangan tubuh Roy yang putih mulus


dan berotot seperti binaraga. Mery menelan ludah.


Roy lebih mendekati Mery dan memaksa untuk menciumnya.


"Kak Roy sadar." Mery berusaha mendorong.


"Aku sadar Mer, aku akan membuktikan padamu jika hanya ini satu-satunya yang bisa menggagalkan pertunangan kalian."


"Kak Roy ku mohon jangan lakukan ini." Mery mulai menangis.


Roy seketika menghentikan tindakannya dan memakai kembali bajunya, dia tak serius


ingin merampas mahkota gadis itu, dia hanya ingin bercanda sedikit tapi Mery malah menganggapnya serius dan menangis.


"Maafkan aku, tenanglah aku tidak akan merusak wanita yang aku cintai, aku cuma bercanda tadi." Memeluk Mery yang sedang menangis.


"Tapi itu tak lucu." Mery kesegukan.


"Ya maaf, habis kau tak percaya padaku, aku bingung harus bagaimana lagi membuktikannya padamu." Mery mengambil tisu dan diusapkannya pada pipinya yang basah.


Roy melepaskan pelukan dan membenarkan duduknya.


"Kau mau kemana aku akan mengantarmu." tanyanya sembari memakai sabuk pengaman nya kembali.


"Ke pantai."

__ADS_1


"Ok kita berangkat, let's go." Roy menjalankan mobilnya dengan semangat.


Mery tertawa melihat kekonyolan Roy.


Sampai di pantai Roy memarkirkan mobilnya dan turun bersama dengan Mery. Mery melepaskan alas kaki dan berlari ke arah tepi pantai tanpa menunggu Roy sedang berjalan santai di belakangnya.


Roy tersenyum melihat Mery tertawa bahagia, diambilnya sepasang sepatu Mery yang tergeletak di jalan, Roy mengikuti kemana pun gadis itu berlari melepas rasa gundah dalam hatinya.


Roy tahu jika pertunangan itu tidak atas kemauan Mery, Roy juga tahu jika dalam


lubuk hati Mery masih tersimpan rasa untuknya. Bisa saja Roy memberontak pada David tapi Roy juga harus memikirkan nasib keluarganya, jika David nekat bisa saja apa yang dia katakan tempo hari akan menjadi kenyataan.


Dalam kebuntuan ini dia hanya ingin merasakan saat-saat berdua saja dengan


Mery tanpa harus memikirkan orang lain.


Roy mengambil tempat duduk tepi pantai setelah memesan dua es kelapa muda lalu menghampiri Mery yang masih bermain air


di pantai. Roy berdiri di dekat Mery yang sedang terduduk di pasir.


"Kau suka?."


"Sangat, terima kasih kak." Menatap ke atas pada lawannya bicara.


"Terima kasih untuk apa." Ikut berjongkok


di samping Mery.


"Terima kasih telah mengajakku kemari."


Melukis senyum di bibir.


"Cuma terima kasih?, Aku tidak mau, aku ingin yang lain." Goda Roy membuat Mery cemberut.


"Aish, pasti mesumnya kumat." Mery memutar bola matanya jengah dengan sifat mesum Roy yang tak bisa hilang.


"Kita sudah disini tak adil jika cuma aku yang basah." Mery memeluk Roy dan memaksanya untuk bermain air juga.


Roy terguling akibat dorongan dari pelukan Mery.


"Mer, aku tidak membawa baju ganti." Ucapan Roy terlambat, bajunya sudah basah kuyup.


Mery tertawa menang karena sudah berhasil membuat baju Roy basah seperti dirinya.


"Ok, ini permintaanmu aku akan turuti." Mery berlari menghindar takut Roy berbuat mesum lagi.


Mereka berdua bermain kejar-kejaran.


Setelah lama bermain air, Roy mengajak


Mery membeli baju ala pantai untuk


mengganti baju mereka yang sudah basah. Mereka tidak bisa pulang dengan memakai baju yang basah seperti ini, bisa-bisa mereka masuk angin jika sampai rumah.


Mereka sengaja membeli baju cople, baju bercorak bunga khas untuk di pakai di pantai dan corak dan warna yang sama dengan setelan topi untuk menambah fashion yang mereka pakai.


"Kak Roy lucu." Mery menertawakan penampilan Roy, karena dia tidak pernah melihat Roy memakai baju sesantai ini.


"Lucu kenapa, ini kan pilihanmu." Memeriksa penampilannya, melihat ke cermin tidak ada yang salah dengan penampakan dirinya, masih tampan.


"Tidak, cumaโ€ฆ." Menutup bibir menahan tawa.


"Cuma apa, cuma tampan kan?." Roy menggoda Mery dengan kepedeannya.


"Ahhhh, sudah lah, ayo kita pulang nanti ibu Wulan mencari." Menggandeng Roy agar mau menuruti ajakannya.


"Baiklah sayang."


Keduanya keluar dari toko baju, tiba-tiba ada seseorang memukul Roy.


"Lepaskan dia!." Roy tersungkur.


Mery ketakutan melihat bibir Roy yang mengeluarkan darah.


๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ๐ŸŒบ


jejak-jejak...mana jejaknya, yuhuuuuuu


siapa hayo yang mukul Roy... penjual baju


apa siapa yahhh... mungkin Roy lupa bayar kali๐Ÿคช


Next ๐Ÿ˜

__ADS_1


__ADS_2