
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Semalam saat Joy tersadar David tidak
ada disana , dia sedang bersama dengan
Roy , memerintahkan untuk menyelidiki
siapa dalang di balik peristiwa hampir celakanya anak dan istrinya .
David tak bisa tenang jika belum
menemukan tersangka utama , dia
menyuruh Roy untuk mengerahkan
anak buahnya agar berusaha sekeras
mungkin menangkap orang itu .
Usai pertemuan dengan Roy dan anak
buahnya , David kembali ke Rumah Sakit .
Memuaskan diri untuk yang terakhir kali bersama anak istri , dikala besok dia
harus meninggalkannya dalam waktu
yang lumayan lama .
Sampai di Rumah Sakit David langsung
menuju ruang VVIP dimana tempat
istrinya itu di rawat , masuk kedalam dia mendapati istrinya itu tertidur .
Bibir yang pucat masih tergambar
di wajah cantik ibu muda itu , mendekati
ranjang David duduk ditepi sang istri
yang sedang terbaring .
Tak tega membangunkan , David hanya
menyentuh sisi pipi mulus Joy , meredam
rasa rindu dan khawatir pada sosok
wanita yang membuat hidupnya berwarna .
" Sayang cepat sehat , kita rawat anak-
anak kita bersama .'" memandang cukup
lama dengan jari yang masih menempel
di pipi sang istri.
Oma terbangun melihat cucunya berada
di dekat Joy , seketika mendekati .
" Dia baru saja tertidur , dia terlalu lemas
hingga tak bisa bangun terlalu lama ."
ucap Oma lirih menepuk bahu cucunya .
David mengangguk ," iya aku mengerti ,
kasian dia Oma , dia tak ikut terlibat malah menjadi korban ." menyentuh tangan Oma
yang ada di bahunya lalu menyandarkan kepalanya di tangan itu .
David berdiri dan keluar dari kamar ,
" aku mau menengok putraku Oma ."
pamit sebelum menutup pintu .
Berhenti disebuah Ruangan yang
dindingnya terbuat dari kaca , sebuah
ruangan yang di khususkan untuk
tempat menyimpan para bayi yang baru
lahir di Rumah Sakit itu .
Lebih mendekat ke kaca , David mencari
sosok putra yang sudah di nantikannya
selama ini .
Memperhatikan setiap box yang di
dalamnya berisikan bayi dengan wajah
dan bentuknya hampir sama semua .
David bingung , yang mana bayinya ,
" Astaga , apa tidak tertukar bayi sebanyak
ini , apalagi yang membedakannya
hanyalah sebuah coretan papan nama ."
gerutu David mengamati seluruh bayi
dari kejauhan .
Seorang perawat keluar dari ruangan ,
segera David menghampiri ingin
bertanya ," tunggu ," panggil David saat
perawat itu hendak pergi .
" Ya pak , ada yang bisa saya bantu ?."
tanya perawat menghampiri David .
" Dimana kalian menaruh putraku ?."
keangkuhan David yang tak sabar
ingin bertemu putranya .
" Di dalam pak ."
" Iya aku tahu , tapi yang mana ?, mereka
semuanya sama , lihat tubuh mereka
kecil , tangisannya bahkan wajah mereka
sama semua ." menyeret perawat untuk
mendekat ke kaca , David menunjuk
para bayi di dalam sana .
Perawat itu tersenyum mendengar
penuturan David , dia memaklumi apa
yang dikatakan seorang ayah baru yang
sedang berdiri di depannya .
" Ya Tuhan , ya iyalah bapak kan mereka
masih bayi , lihatnya saja dari jauh
coba saja kalau lebih dekat pasti bapak
tahu perbedaannya ." sang perawat
tertawa dalam hati.
Perawat yang bertugas itu mengajak
David untuk memakai baju jenguk yang
sudah steril , kemudian dengan
bimbingannya agar mengikutinya dari belakang .
Diajaknya David masuk kedalam , ke
__ADS_1
Ruang para bayi mendapat perawatan
itu khusus .
Bola matanya menilik satu persatu bayi
yang dia lewati , ternyata dugaannya
salah , dari sekian banyak bayi tidak satu
pun ada yang sama , meskipun terlihat
sekilas sama namun ada saja dari
bentuk badan maupun wajah ada yang
membedakan .
David sengaja tidak memperhatikan
ataupun membaca papan nama yang
tertera di box bayi .
Dia ingin mengetahui mana putranya
dari naluri seorang ayah yang terjalin
diantara mereka .
" Ini bukan , bukan , ini juga bukan ,
Hemm yang mana ya , pasti aku bisa ."
gumam David , memperhatikan wajah
setiap bayi saat berhenti di dekat
box .
Sampai dia mendengar tangisan seorang
bayi yang menggetarkan hatinya ,
suara tangisan itu seakan memanggil
agar dirinya segera mendekat .
David segera menghampiri suara
tangisan bayi itu , sampai disana
alangkah terkejutnya disaat melihat
wajah sang bayi .
Terlukis sebuah replika dari wajahnya
sendiri , ibarat bayi itu bagai David
versi kecil .
Naluri hati seorang ayah pun bangkit ,
rasa ingin merangkul dalam Kungkungan
kasih sayang yang dalam tak terbendung .
Di panggillah seorang perawat agar
membantunya untuk mengeluarkan
bayi itu dari box untuk di gendongnya .
Rasa suka cita yang mendalam serta
puji syukur diucapkan didalam hati , dia
tak menyangka bisa mempunyai seorang
putra yang sangat tampan , walaupun
dengan cara ketidak sengajaan atau bisa dibilang ketidaksadaran .
Luput dari itu semua , David bersyukur
bisa di pertemukan dengan seorang
wanita yang baik , meskipun dengan
Sudah lima belas menit David
menggendong putranya , bahunya tak
terasa capek sedikit pun , malah perasaan damai dalam dirinya yang ia rasakan .
Bayi itu tidak menangis sedikit pun
saat berada di gendongan ayahnya .
Tapi saat perawat memisahkan mereka
bayi itu menangis walau hanya sebentar
karena ayunan tangan lihay dari sang
perawat berhasil membawa sang bayi
ke alam mimpi .
Pukul tiga pagi David kembali keruangan istrinya , masih tetap sama tertidur
pulas dalam balutan selimut bahkan
posisi tidurnya pun tidak berubah ,
berselanjar dengan wajah yang miring
ke kanan .
Melihat keadaan sekeliling ada Oma
yang sudah tertidur diatas ranjang
yang tersedia untuk penjaga pasien ,
serta mertuanya bersama dengan ibunda
Roy tidur diatas sofa .
David mendekati istrinya , mengambil
satu tangan yang tak ikut terkena infus
menciumnya cukup lama , merasakan
kelembutan yang enggan untuk di lepaskan .
Rasa payah dan lelah seharian ini cukup
untuk membuat hati dan jantungnya berolahraga hingga membuahkan emosi
fisik dan pikirannya hampir tak bisa
di bendung .
Kelelahan yang sangat , membuatnya
tertidur dengan masih mencium jemari
istrinya .
πΏπΏπΏπΏπΏ
Pukul 05.00 David terbangun dari
tidurnya yang sambil duduk dengan
beralaskan genggaman tangannya
pada bujuran jari seorang istri yang
terlelap .
Dia membuka mata saat merasakan
gerakan tangan yang menyentuh pipinya .
Membuka matanya pelan , hal yang
pertama dilihatnya adalah sepasang
mata binar yang sama - sama baru
membuka mata .
__ADS_1
" Papi ,,, ." suara lembut menggetarkan hati .
Menghasilkan rasa semangat untuk
mengawali hari ini , menegakkan posisi
duduknya , David mengusap muka .
" Sudah baikan sayang ." berdiri sejenak
hanya untuk mencium kening istrinya .
Memberikan kecupan selamat pagi ,
hadiah telah memberikan kebahagiaan
yang lengkap dalam hidup seorang David .
Joy mengangguk ," my boy mana papi ?."
imbuhnya lirih .
David gelabakan , melihat sekeliling nya
tak ada seorang pun disana , padahal
yang ia tahu tadi sebelum dia tertidur
di dalam ruangan yang sama , ada
tiga orang perempuan yang ikut menjaga .
" Sebentar aku tanyakan pada suster ."
beranjak berdiri tapi ujung bajunya
di tarik oleh istrinya .
Joy menggeleng ," tetap disini , aku
masih ingin bersamamu papi ."
Melihat wajah lesu istrinya , David duduk
kembali ," Sudah mulai kangen ya ?."
" Papi nakal , peluk !." mengangkat kedua
tangannya , memberikan ruang untuk
David memeluknya .
Tanpa harus mengulang permintaan
istrinya segera di penuhi , karena David
sendiri juga sangat menginginkannya .
Ehemmmmm....
Suara deheman memisahkan tautan
keduanya , muka tersipu malu Joy
merapikan pakaiannya , yang kusut
akibat di peluk David terlalu rapat .
" Pelukan nya dilanjutkan nanti saja ,
sekarang putra kalian mau meminta
jatah asinya , karena dia dari tadi sudah
kelaparan ." sambil berjalan Oma
mengajak perawat masuk .
" Joy tadi juga menanyakan bayinya
Oma ." David menjauh , mempersilahkan
perawat untuk lebih dekat .
" Naluri keibuan Joy yang merasakan
jika putranya itu sudah kelaparan ,
kenapa tidak kau panggilkan tadi ,"
David meringis .
Perawat mengajari Joy untuk menyusui
dengan benar , letak duduk yang tegak
serta tangan yang merangkul agar sang
anak bisa menyesap asi dengan baik .
David terkejut , sambil melotot dia
memprotes ," Sayang apa tidak
sebaiknya my boy kita kasih susu
formula saja ?." David tak rela .
" David kau jangan ngelantur , kau
tidak mau jika anak kalian mendapat
asupan gizi terbaik ?."
" Aku mau lah Oma , tapi tidak dengan
meminum susu istriku ." Oma menepuk
keningnya .
" Astaga David , sadar itu anak kalian
kalau tidak meminum asi ibunya , lalu
meminum asi siapa lagi , sadarlah nak ."
Oma membantah sambil menahan tawa .
" Tapi Oma ,,, ."
" Tapi apa katakan ! , jangan bilang
kau menolak istrimu menyusui putra
kalian karena alesan konyol ." Oma
yang semakin kesal meletakkan
tangannya di pinggang .
" Maksud Oma ?."
" Akui saja jika kau tidak mau membagi
dengan putramu sendiri ." David
menunduk karena malu .
Perawat yang dari tadi mendengar
perdebatan antara Oma dan cucunya
ini hanya bisa diam dan menahan
tawa , tak habis pikir dengan kekonyolan
keluarga bangsawan ini .
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Kok kayaknya ketuker ini episode,
sama yang kemarin ya,,,π€
gpp deh yg penting up , gpp y,,,???
Ini gegara author dah kangen ma
keuwuan Joy ma David ,, maklumin aj y
ππππππππ
jangan lupa jejaknya ya π
Next π
__ADS_1