Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Kemarahan Oma ..


__ADS_3

Di Kantor...


Kini di dalam ruangan David , tercipta


suasana yang mencekam , karena ulah


David kemarahan Oma meluap .


Sekarang Andreas menjadi sasaran dari


kemarahan Oma , dia di interogasi perihal kepergian David tanpa pamit dan tiba -tiba . Oma menanyakan pada Andreas , kenapa


dia mau saja di beri tanggung jawab


sebesar ini oleh David .


Andreas hanya diam dan menunduk,


mendengar setiap alunan ocehan


kemarahan Oma , lain dengan David


yang tak mau ambil pusing , dia tahu


pasti nanti akan berhadapan dengan


kemarahan Oma.


Saat ini David pergi untuk menyusul


istrinya ke Surabaya , dia tahu jika Oma


mengetahui nya pasti Oma tidak memperbolehkan dan pasti malah menghalangi tujuannya.


Masih di kantor , Oma duduk di sofa


dengan mode marahnya dan Andreas pun sama tapi di sofa yang berbeda , siap menerima apapun yang Oma lontarkan padanya.


" Andreas jawab Oma , kemana David


pergi ?." suara Oma yang sedikit


berteriak , menambah ketakutan di hati Andreas.


" Ke Surabaya Oma , David menyusul


istrinya ." Andreas menjawab dengan


sopan , tanpa ingin menyembunyikan


sesuatu pada Oma .


" Kurang ajar , kenapa bocah tengil itu


tidak pamit dulu padaku , "Oma berteriak


dengan menggebrak meja.


Andreas kaget ," mungkin David


terburu-buru Oma ." berusaha meredakan


sedikit amarah Oma .


" Biar pun terburu buru tapi bisakan dia menelfon , jika dia masih mengganggap


kalau aku ini Omanya."


Andreas bingung harus bicara apalagi,


dia tahu jika Oma sudah mulai marah


pasti tidak akan menerima apapun alasan.


" Saya mewakili David , untuk minta maaf


pada Oma , nanti saya akan menelfonnya


agar cepat menghubungi Oma ." Andreas


bicara asal .


" Tidak usah , kenapa kau minta maaf


Andreas ini bukan salah mu , biarlah


David sendiri yang nanti berhadapan


denganku ." mendengar ucapan Andreas


kemarahan Oma bertambah.


"Seharusnya David konfirmasi dulu


padaku , karena bagaimanapun juga


urusan perusahaan tidak bisa dia


tinggalkan begitu saja." Oma berdiri dan mengemas tasnya untuk segera pergi.


" Terimakasih Andreas , kau sudah


banyak membantu pekerjaan David ,


lain kali kau jangan mau jika David


menyuruhmu seperti ini ." Oma berbicara dengan Andreas sebelum memutuskan


untuk pergi.


" Sama sama Oma ." melihat Oma yang


berjalan menuju pintu , diikuti dua orang


bodyguard di belakangnya .


Belum juga Oma sampai di ambang pintu,


telfon genggam milik Oma berbunyi,


Oma mengurungkan niatnya dan kembali


duduk di Sofa , mengangkat sebuah


telfon setelah tahu siapa yang menelfonnya .


Tertera nama " Cucuku Joy ." dilayar


depannya , memencet tombol merah


dan menaruhnya di telinga.


Belum juga rasa takut di hati Andreas


reda setelah melihat Oma yang sudah


hampir pergi , malah bertambah ketika


melihat Oma yang kembali duduk


di tempatnya semula.


☘️☘️☘️☘️☘️


Joy berada satu mobil dengan David ,


berdua menuju perjalanan pulang.


satu tangan David tak lepas dari


menggenggam jemari istrinya , rasanya


tak mau lagi berpisah seperti kemaren


hari .


" David lepaskan tanganku !, aku risih


jika terus seperti ini , kau fokus lah


pada menyetir , jika kau teledor kita


bertiga bisa celaka."


Mendengar ucapan Joy , David dengan


cepat melepaskan genggaman tangannya.


" Baiklah nyonya bos ." goda David ,


sekilas melirik istrinya kemudian


mengfokuskan perhatian nya ke depan.


Joy tidak menanggapi ucapan suaminya,


dia malah asyik senyum sendiri dengan


memalingkan wajahnya menatap kaca


jendela mobil , dia merasakan hatinya kini sangat bahagia bisa kembali melihat


David seperti yang dia kenal , dan bisa


bersama seperti sebelumnya.


" Sayang , besok kita bisa kan kembali


ke Jakarta ?." pertanyaan David membuat


Joy kaget dan menoleh seketika , dan tiba -tiba dia mengingat Oma .


" David bagaimana keadaan Oma , apa


Oma marah kepadaku ? , kemaren aku


pergi lupa belum sempat pamit pada


Oma ." Joy terlihat gelisah.


" Aku tidak tahu sayang , yang pastinya


Oma pasti marah pada kita karena aku


juga tidak pamit saat akan kesini ." ucap David enteng , tapi lain dengan Joy


yang syok mendengar apa yang baru


saja ia dengar.


Tanpa berfikir lama dia segera mengambil


poncel di dalam tasnya , mencari nama


Oma untuk segera menghubungi nya ,


tidak perlu menunggu lama , sambungan


telepon pun tersambung karena Oma


mengangkatnya.


*** Oma :" Hallo Joy , apa ini kau ?


bagaimana kabarmu dan


kandunganmu ? ." sapa Oma yang baru mengangkat telfon.


*** Joy ;" iya Oma , berkat doa Oma , aku


dan kandunganku baik- baik saja , dan


aku mohon maaf karena kepergianku


ke Surabaya tidak pamit dulu pada Oma ." suara Joy memelas .


Mendengar suara Joy yang menyedihkan


Oma tidak maw memarahinya .


*** Oma : " Oma mengerti dan memaafkan mu , apa David bersamamu ?."


*** Joy : ,"iya Oma , sekarang David ada


di sampingku , apa Oma ingin bicara


dengannya ?."


Joy berbicara dengan memandang David,


yang dipandangnya malah menggelengkan


kepala dan melambaikan tangan , tanda


jika saat ini dia tidak mau berbicara dulu


dengan Oma .


*** Oma : " Tidak usah , kau saja Joy


sayang , ajak David untuk cepat pulang."

__ADS_1


***Joy : " Baiklah Oma ."


*** Oma ;" ya sudah jaga baik-baik


kesehatanmu dan cucu buyut Oma ,


Oma matikan telponnya dulu , Oma ada


urusan yang mendesak ."


Joy mematikan telfonnya , karena Oma


sudah pamit lebih dulu karena ada


urusan dan memutuskan sambungannya .


Joy memasukkan kembali poncelnya


di dalam tas .


Joy memandang wajah tampan suami


nya , menaruh salah satu tangannya


di atas paha David .


" David , kita kembali ke Jakarta malam


ini ya ?. " David seketika menoleh.


Suara Joy yang terdengar manja dan


sentuhan lembut tangannya membuat


David tak mampu menolak permintaan


dari istrinya.


" Apa Oma yang menyuruh ?." David


berbicara dengan masih fokus menyetir.


" Bukan David , aku hanya rindu dengan


Oma ," David tidak menjawab.


" Jika kau tidak mau , aku bisa pulang


sendiri ." imbuh Joy , yang mengangkat


tangannya yang tadi berada di atas


paha David .


Melihat sikap istrinya yang mulai


marah David segera menepikan


mobilnya , dia tidak mau jika susah


payah dia bisa berbaikan dengan


istrinya akan hilang dan muncul lagi kemarahan yang baru .


" Sayang , kita akan pergi malam ini


juga seperti yang kau inginkan , tapi


aku mau bertanya padamu ." tegas David , membuat wajah Joy cerah.


" Silahkan ."


" Sayang , jika sudah di rumah nanti kita


bisa kan ...." David tidak melanjutkan ucapannya malah tersenyum jahil .


" Maksudmu apa David , aku tidak


mengerti ?." masih bertukar pandang.


" Kita .." David tersenyum dengan


mengangkat kedua alisnya.


" Iya.. sekarang kau lanjutkan saja


perjalanan nya agar kita cepat pulang."


" Baiklah ." David mencium pipi Joy


kemudian melajukan mobilnya.


🍀🍀🍀🍀🍀


Di rumah Mery ...


Anggi turun dari taxi , yang berhenti


tepat di depan rumah Mery , dengan


membawa kopernya dia berjalan masuk


menuju ke halaman rumah .


Dengan melangkahkan kakinya Anggi


masuk ke dalam rumah , wajahnya syok


bercampur bingung , saat melihat apa


yang ada di dalam ruang tamu , pandangannya beralih pada tiga orang


yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


Anggi mendekati tumpukan kardus , untuk


memenuhi rasa ingin tahunya ,


" Apa ini ?, barang siapa sebanyak ini ?


ada yang bisa jelaskan padaku ?."


Rentetan pertanyaan Anggi lontarkan


pada ketiga orang yang sedang duduk


bersantai yang tak lain adalah Mery ,


Roy dan Bimo .


Ketiga orang itu tidak menjawab , hanya


mengangkat kedua bahunya bersamaan,


kertas pada Anggi tanpa bicara.


Anggi mengambil selembar kertas lalu


membacanya . Sambil melotot Anggi


kembali menatap ketiga orang di depannya.


" Jangan bilang jika semua barang ini


adalah milik Joy ?." Anggi mengangkat


kertas yang di bawanya dengan masih


mengamati tumpukan kardus besar yang tertata rapi di ruang tamu.


Tanpa bicara Mery , Roy dan Bimo


mengangguk bersamaan , Anggi terduduk


di sebelah Mery dengan menggeleng


tak percaya.


" Tidak mungkinlah Joy membeli barang


sebanyak ini ,semua ini pasti ulah David."


jawab Roy enteng .


" Ya,,itu pasti .'" Anggi mengangguk .


Anggi menoleh pada Bimo , menatap


sejenak sebelum melempar pandangannya


pada Mery .


Mery mengerti arti dari pandangan Anggi


padanya yang seakan bertanya "siapa dia ",


tanpa banyak bicara dia langsung


memperkenalkan Bimo pada Anggi .


" Kak perkenalkan ini kak Bimo , kak Bimo


dulu kakak kelasku , rumahnya juga


di dekat sini ." Bimo mengulurkan


tangannya dan di balas oleh Anggi .


" Bimo ." sambil mengulurkan tangan.


" Anggi ."


Anggi membalas uluran tangan Bimo ,


dengan tidak melepas pandangan pada


orang di depannya , Anggi seperti


mengingat seakan wajah Bimo tak asing baginya .


Anggi masih mengamati Bimo , dengan


telapak tangan yang ditaruh di dagu , dia


mulai mengingat sesuatu ,


" Tunggu ,, sepertinya kita pernah bertemu


tapi dimana ya ..?."dengan wajah yang


masih mengingat.


Bimo diam ," benarkah kak , jadi


sebelumnya kalian sudah saling


mengenal ?," suara Mery lantang karena


terkejut .


" Kenapa kak Bimo tidak pernah bilang


jika mengenal kak Anggi ." Bimo yang


masih bingung tidak menjawab hanya


bisa mengangkat kedua bahunya.


Setelah berfikir keras , akhirnya Anggi


mengingat dimana dia bertemu dengan


Bimo , " Kau bukannya saudara Andreas ?


beberapa bulan yang lalu kita bertemu


pas hari jadi pernikahan orang tua


Andreas ."


" Oh ya aku baru ingat , kakak ini ...


kak Anggi kekasih kak Andreas itu kan ?,"


Bimo tertawa renyah setelah menepuk


keningnya , saat menyadari jika mereka memang sudah saling mengenal


sebelumnya .


" Lebay ..." suara singkat Roy , melihat


tingkah Bimo .


Roy berdiri , lalu berjalan keluar rumah


meninggalkan rumah Mery , karena


dia muak dengan adanya Bimo disana ,


yang sebelumnya dengan sengaja

__ADS_1


menginjak kaki Bimo saat melewatinya .


" Aww.." suara lirih Bimo , meringis


menahan sakit karena ulah Roy .


Sambil mengelus kakinya yang sakit ,


Bimo menatap Roy dengan tatapan yang


menantang , begitu pun sebaliknya.


"Kau mau kemana Roy ?." Anggi bertanya


saat Roy berada di ambang pintu , dan


dia ikut berdiri .


" Pulang Nggi , aku dan David menyewa


rumah di depan sana ,untuk menjaga


wanita kami dari jauh ." Roy menunjuk


sebuah rumah tepat di seberang .


Anggi mendekati Roy melihat rumah yang


di maksud Roy , dia masih belum faham dengan apa yang dikatakan Roy tadi .


" A..apa kalian tinggal di Rumah itu ?."


menunjuk sebuah rumah mewah di


depan sana .


Roy mengangguk ," kalian jauh - jauh


datang kemari hanya untuk menjaga


Joy dan Mery ?."masih dengan wajah


keterkejutannya .


" Jangan bilang , jika kalian membuntuti


kami ?." Roy mengangguk kesekian


kalinya , dan dibalas dengan gelengan


kepala oleh Anggi , dia masih tidak


percaya dengan hal bodoh yang dilakukan


oleh Roy dan David .


" Huh ... terserah suka -suka kalian , mau


membuntuti ,mau mengintai , mau


mengawal , mau mengikuti terserah


kalian ,aku tak mau ambil pusing ."


terocos Anggi dan berlalu masuk kedalam rumah menuju dapur .


Roy melanjutkan menapakkan kakinya


meninggalkan rumah Mery . Sekarang


tinggal berdua saja , Mery dan Bimo


berada di ruang tamu .


" Mery ...." panggilan Bimo membuat


Mery menoleh." Ya kak ."


" Apa aku boleh bertanya tentang


hubungan kalian ?." kesunyian di ruang


tamu , membuat suara Bimo seakan


menggema di telinga Mery .


" Kalian ?." Mery balik bertanya , karena


dia tidak faham siapa yang di maksud


Bimo .


" Kau dan pria tadi ." Mery terkejut dan


menahan senyum .


" Maksud kak Bimo hubungan aku


dengan kak Roy ?." Mery malah tertawa


membuat Bimo semakin penasaran .


Mery berusaha meredakan tawanya


dan mengambil nafas dalam-dalam


dan mulai menjelaskan .


" Kak dengarkan aku , kakak kenal


kak Joy kan ?, dia adalah sepupu


kandung dari kak Roy , dan juga teman


dekat dari suami kak Joy ,jadi pantaslah


jika aku bersama kak Joy pasti kak Roy


juga ada ." Mery menjelaskan dengan


panjang lebar .


Mendengar penjelasan dari Mery


membuat Bimo merasa lega , ternyata


hubungan yang dia takut kan tidak


terjadi , dia sempat berpikir jika pria


tadi adalah kekasih Mery yang baru ,


" Lalu sekarang kau sedang menjalin


hubungan dengan siapa ?." pertanyaan


Bimo menghentikan tawa Mery .


" Tidak kak , aku tidak menjalin suatu


hubungan dengan siapa pun , aku sudah


tidak seperti Mery yang dulu , kini hanya


kak Joy yang menjadi keluargaku , aku


tak menyia-nyiakan harapan kak Joy ,


aku harus bisa membuat kak Joy bangga padaku , aku ingin melanjutkan kuliahku


seperti yang di inginkan kak Joy ."


Bimo terdiam mendengar setiap kata


yang keluar dari bibir mungil Mery ,


Bimo seperti menemukan sosok Mery


yang baru , Mery sudah tidak seperti


Mery yang dia kenal dulu .


Menurut hati kecil Bimo kini dia sudah berubah , lebih dewasa dan semakin menambah rasa sayang Bimo pada


sosok perempuan yang dia sukai .


"Maaf ."


Mery menatap Bimo , dia mendengar


satu kata , meskipun suaranya terdengar


lirih , yang di tatapnya malah menunduk


tanpa memandang orang yang di ajaknya


bicara .


" Kak , kenapa kak Bimo meminta maaf."


masih memandang .


" Sungguh aku tidak tahu jika kau berduka , maafkan aku karena tidak ada di saat kau terpuruk ." Bimo menggenggam jari


mungil Mery dengan penuh perasaan dan mengucapkan dengan tulus .


" Tidak apa kak , semua sudah berlalu


sekarang aku ingin menjadi Mery yang


baru , Mery yang tidak cengeng dan


tidak manja seperti Mery yang dulu ."


mengucap dengan memaksakan tersenyum.


Melihat Mery yang hampir menangis ,


Bimo segera memeluk Mery , berusaha


agar Mery tenang , belum sampai tangan


Bimo berhasil memeluknya , Mery sudah


lebih dulu menolak secara halus .


" Maaf kak , aku tidak secengeng itu


sampai kak Bimo harus memelukku


seperti bocah TK yang kehilangan permen ."


Bimo merasa malu , dia mengurungkan


niatnya dan berbalik menjadi salah


tingkah bingung harus berbuat apa.


" Ehhemm..." deheman Anggi yang berdiri


di ambang pintu mengagetkan kedua


orang yang duduk bersampingan.


" Mau minum ." menawarkan dengan


berjalan mendekati keduanya.


" Sejak kapan kak Anggi di sana ?."


Bimo penasaran .


Anggi menaruh dua botol minuman


dingin yang diambilnya di dalam


kulkas dan duduk di sebelah Mery .


" Sejak kalian mulai pembicaraan


dan aku menangkap ada orang yang


di tolak saat ingin memeluk seorang


gadis ." Anggi melanjutkan meneguk


minuman ditangannya ,


Bimo menelan ludahnya dengan kasar


menahan malu , setelah mendengar


kata yang keluar dari mulut Anggi .


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


_


_


_

__ADS_1


Langsung aja NEXT 🍀 🍀🍀🍀🍀


__ADS_2