
Di Kantor...
Kini di dalam ruangan David , tercipta
suasana yang mencekam , karena ulah
David kemarahan Oma meluap .
Sekarang Andreas menjadi sasaran dari
kemarahan Oma , dia di interogasi perihal kepergian David tanpa pamit dan tiba -tiba . Oma menanyakan pada Andreas , kenapa
dia mau saja di beri tanggung jawab
sebesar ini oleh David .
Andreas hanya diam dan menunduk,
mendengar setiap alunan ocehan
kemarahan Oma , lain dengan David
yang tak mau ambil pusing , dia tahu
pasti nanti akan berhadapan dengan
kemarahan Oma.
Saat ini David pergi untuk menyusul
istrinya ke Surabaya , dia tahu jika Oma
mengetahui nya pasti Oma tidak memperbolehkan dan pasti malah menghalangi tujuannya.
Masih di kantor , Oma duduk di sofa
dengan mode marahnya dan Andreas pun sama tapi di sofa yang berbeda , siap menerima apapun yang Oma lontarkan padanya.
" Andreas jawab Oma , kemana David
pergi ?." suara Oma yang sedikit
berteriak , menambah ketakutan di hati Andreas.
" Ke Surabaya Oma , David menyusul
istrinya ." Andreas menjawab dengan
sopan , tanpa ingin menyembunyikan
sesuatu pada Oma .
" Kurang ajar , kenapa bocah tengil itu
tidak pamit dulu padaku , "Oma berteriak
dengan menggebrak meja.
Andreas kaget ," mungkin David
terburu-buru Oma ." berusaha meredakan
sedikit amarah Oma .
" Biar pun terburu buru tapi bisakan dia menelfon , jika dia masih mengganggap
kalau aku ini Omanya."
Andreas bingung harus bicara apalagi,
dia tahu jika Oma sudah mulai marah
pasti tidak akan menerima apapun alasan.
" Saya mewakili David , untuk minta maaf
pada Oma , nanti saya akan menelfonnya
agar cepat menghubungi Oma ." Andreas
bicara asal .
" Tidak usah , kenapa kau minta maaf
Andreas ini bukan salah mu , biarlah
David sendiri yang nanti berhadapan
denganku ." mendengar ucapan Andreas
kemarahan Oma bertambah.
"Seharusnya David konfirmasi dulu
padaku , karena bagaimanapun juga
urusan perusahaan tidak bisa dia
tinggalkan begitu saja." Oma berdiri dan mengemas tasnya untuk segera pergi.
" Terimakasih Andreas , kau sudah
banyak membantu pekerjaan David ,
lain kali kau jangan mau jika David
menyuruhmu seperti ini ." Oma berbicara dengan Andreas sebelum memutuskan
untuk pergi.
" Sama sama Oma ." melihat Oma yang
berjalan menuju pintu , diikuti dua orang
bodyguard di belakangnya .
Belum juga Oma sampai di ambang pintu,
telfon genggam milik Oma berbunyi,
Oma mengurungkan niatnya dan kembali
duduk di Sofa , mengangkat sebuah
telfon setelah tahu siapa yang menelfonnya .
Tertera nama " Cucuku Joy ." dilayar
depannya , memencet tombol merah
dan menaruhnya di telinga.
Belum juga rasa takut di hati Andreas
reda setelah melihat Oma yang sudah
hampir pergi , malah bertambah ketika
melihat Oma yang kembali duduk
di tempatnya semula.
☘️☘️☘️☘️☘️
Joy berada satu mobil dengan David ,
berdua menuju perjalanan pulang.
satu tangan David tak lepas dari
menggenggam jemari istrinya , rasanya
tak mau lagi berpisah seperti kemaren
hari .
" David lepaskan tanganku !, aku risih
jika terus seperti ini , kau fokus lah
pada menyetir , jika kau teledor kita
bertiga bisa celaka."
Mendengar ucapan Joy , David dengan
cepat melepaskan genggaman tangannya.
" Baiklah nyonya bos ." goda David ,
sekilas melirik istrinya kemudian
mengfokuskan perhatian nya ke depan.
Joy tidak menanggapi ucapan suaminya,
dia malah asyik senyum sendiri dengan
memalingkan wajahnya menatap kaca
jendela mobil , dia merasakan hatinya kini sangat bahagia bisa kembali melihat
David seperti yang dia kenal , dan bisa
bersama seperti sebelumnya.
" Sayang , besok kita bisa kan kembali
ke Jakarta ?." pertanyaan David membuat
Joy kaget dan menoleh seketika , dan tiba -tiba dia mengingat Oma .
" David bagaimana keadaan Oma , apa
Oma marah kepadaku ? , kemaren aku
pergi lupa belum sempat pamit pada
Oma ." Joy terlihat gelisah.
" Aku tidak tahu sayang , yang pastinya
Oma pasti marah pada kita karena aku
juga tidak pamit saat akan kesini ." ucap David enteng , tapi lain dengan Joy
yang syok mendengar apa yang baru
saja ia dengar.
Tanpa berfikir lama dia segera mengambil
poncel di dalam tasnya , mencari nama
Oma untuk segera menghubungi nya ,
tidak perlu menunggu lama , sambungan
telepon pun tersambung karena Oma
mengangkatnya.
*** Oma :" Hallo Joy , apa ini kau ?
bagaimana kabarmu dan
kandunganmu ? ." sapa Oma yang baru mengangkat telfon.
*** Joy ;" iya Oma , berkat doa Oma , aku
dan kandunganku baik- baik saja , dan
aku mohon maaf karena kepergianku
ke Surabaya tidak pamit dulu pada Oma ." suara Joy memelas .
Mendengar suara Joy yang menyedihkan
Oma tidak maw memarahinya .
*** Oma : " Oma mengerti dan memaafkan mu , apa David bersamamu ?."
*** Joy : ,"iya Oma , sekarang David ada
di sampingku , apa Oma ingin bicara
dengannya ?."
Joy berbicara dengan memandang David,
yang dipandangnya malah menggelengkan
kepala dan melambaikan tangan , tanda
jika saat ini dia tidak mau berbicara dulu
dengan Oma .
*** Oma : " Tidak usah , kau saja Joy
sayang , ajak David untuk cepat pulang."
__ADS_1
***Joy : " Baiklah Oma ."
*** Oma ;" ya sudah jaga baik-baik
kesehatanmu dan cucu buyut Oma ,
Oma matikan telponnya dulu , Oma ada
urusan yang mendesak ."
Joy mematikan telfonnya , karena Oma
sudah pamit lebih dulu karena ada
urusan dan memutuskan sambungannya .
Joy memasukkan kembali poncelnya
di dalam tas .
Joy memandang wajah tampan suami
nya , menaruh salah satu tangannya
di atas paha David .
" David , kita kembali ke Jakarta malam
ini ya ?. " David seketika menoleh.
Suara Joy yang terdengar manja dan
sentuhan lembut tangannya membuat
David tak mampu menolak permintaan
dari istrinya.
" Apa Oma yang menyuruh ?." David
berbicara dengan masih fokus menyetir.
" Bukan David , aku hanya rindu dengan
Oma ," David tidak menjawab.
" Jika kau tidak mau , aku bisa pulang
sendiri ." imbuh Joy , yang mengangkat
tangannya yang tadi berada di atas
paha David .
Melihat sikap istrinya yang mulai
marah David segera menepikan
mobilnya , dia tidak mau jika susah
payah dia bisa berbaikan dengan
istrinya akan hilang dan muncul lagi kemarahan yang baru .
" Sayang , kita akan pergi malam ini
juga seperti yang kau inginkan , tapi
aku mau bertanya padamu ." tegas David , membuat wajah Joy cerah.
" Silahkan ."
" Sayang , jika sudah di rumah nanti kita
bisa kan ...." David tidak melanjutkan ucapannya malah tersenyum jahil .
" Maksudmu apa David , aku tidak
mengerti ?." masih bertukar pandang.
" Kita .." David tersenyum dengan
mengangkat kedua alisnya.
" Iya.. sekarang kau lanjutkan saja
perjalanan nya agar kita cepat pulang."
" Baiklah ." David mencium pipi Joy
kemudian melajukan mobilnya.
🍀🍀🍀🍀🍀
Di rumah Mery ...
Anggi turun dari taxi , yang berhenti
tepat di depan rumah Mery , dengan
membawa kopernya dia berjalan masuk
menuju ke halaman rumah .
Dengan melangkahkan kakinya Anggi
masuk ke dalam rumah , wajahnya syok
bercampur bingung , saat melihat apa
yang ada di dalam ruang tamu , pandangannya beralih pada tiga orang
yang sedang duduk di sofa ruang tamu.
Anggi mendekati tumpukan kardus , untuk
memenuhi rasa ingin tahunya ,
" Apa ini ?, barang siapa sebanyak ini ?
ada yang bisa jelaskan padaku ?."
Rentetan pertanyaan Anggi lontarkan
pada ketiga orang yang sedang duduk
bersantai yang tak lain adalah Mery ,
Roy dan Bimo .
Ketiga orang itu tidak menjawab , hanya
mengangkat kedua bahunya bersamaan,
kertas pada Anggi tanpa bicara.
Anggi mengambil selembar kertas lalu
membacanya . Sambil melotot Anggi
kembali menatap ketiga orang di depannya.
" Jangan bilang jika semua barang ini
adalah milik Joy ?." Anggi mengangkat
kertas yang di bawanya dengan masih
mengamati tumpukan kardus besar yang tertata rapi di ruang tamu.
Tanpa bicara Mery , Roy dan Bimo
mengangguk bersamaan , Anggi terduduk
di sebelah Mery dengan menggeleng
tak percaya.
" Tidak mungkinlah Joy membeli barang
sebanyak ini ,semua ini pasti ulah David."
jawab Roy enteng .
" Ya,,itu pasti .'" Anggi mengangguk .
Anggi menoleh pada Bimo , menatap
sejenak sebelum melempar pandangannya
pada Mery .
Mery mengerti arti dari pandangan Anggi
padanya yang seakan bertanya "siapa dia ",
tanpa banyak bicara dia langsung
memperkenalkan Bimo pada Anggi .
" Kak perkenalkan ini kak Bimo , kak Bimo
dulu kakak kelasku , rumahnya juga
di dekat sini ." Bimo mengulurkan
tangannya dan di balas oleh Anggi .
" Bimo ." sambil mengulurkan tangan.
" Anggi ."
Anggi membalas uluran tangan Bimo ,
dengan tidak melepas pandangan pada
orang di depannya , Anggi seperti
mengingat seakan wajah Bimo tak asing baginya .
Anggi masih mengamati Bimo , dengan
telapak tangan yang ditaruh di dagu , dia
mulai mengingat sesuatu ,
" Tunggu ,, sepertinya kita pernah bertemu
tapi dimana ya ..?."dengan wajah yang
masih mengingat.
Bimo diam ," benarkah kak , jadi
sebelumnya kalian sudah saling
mengenal ?," suara Mery lantang karena
terkejut .
" Kenapa kak Bimo tidak pernah bilang
jika mengenal kak Anggi ." Bimo yang
masih bingung tidak menjawab hanya
bisa mengangkat kedua bahunya.
Setelah berfikir keras , akhirnya Anggi
mengingat dimana dia bertemu dengan
Bimo , " Kau bukannya saudara Andreas ?
beberapa bulan yang lalu kita bertemu
pas hari jadi pernikahan orang tua
Andreas ."
" Oh ya aku baru ingat , kakak ini ...
kak Anggi kekasih kak Andreas itu kan ?,"
Bimo tertawa renyah setelah menepuk
keningnya , saat menyadari jika mereka memang sudah saling mengenal
sebelumnya .
" Lebay ..." suara singkat Roy , melihat
tingkah Bimo .
Roy berdiri , lalu berjalan keluar rumah
meninggalkan rumah Mery , karena
dia muak dengan adanya Bimo disana ,
yang sebelumnya dengan sengaja
__ADS_1
menginjak kaki Bimo saat melewatinya .
" Aww.." suara lirih Bimo , meringis
menahan sakit karena ulah Roy .
Sambil mengelus kakinya yang sakit ,
Bimo menatap Roy dengan tatapan yang
menantang , begitu pun sebaliknya.
"Kau mau kemana Roy ?." Anggi bertanya
saat Roy berada di ambang pintu , dan
dia ikut berdiri .
" Pulang Nggi , aku dan David menyewa
rumah di depan sana ,untuk menjaga
wanita kami dari jauh ." Roy menunjuk
sebuah rumah tepat di seberang .
Anggi mendekati Roy melihat rumah yang
di maksud Roy , dia masih belum faham dengan apa yang dikatakan Roy tadi .
" A..apa kalian tinggal di Rumah itu ?."
menunjuk sebuah rumah mewah di
depan sana .
Roy mengangguk ," kalian jauh - jauh
datang kemari hanya untuk menjaga
Joy dan Mery ?."masih dengan wajah
keterkejutannya .
" Jangan bilang , jika kalian membuntuti
kami ?." Roy mengangguk kesekian
kalinya , dan dibalas dengan gelengan
kepala oleh Anggi , dia masih tidak
percaya dengan hal bodoh yang dilakukan
oleh Roy dan David .
" Huh ... terserah suka -suka kalian , mau
membuntuti ,mau mengintai , mau
mengawal , mau mengikuti terserah
kalian ,aku tak mau ambil pusing ."
terocos Anggi dan berlalu masuk kedalam rumah menuju dapur .
Roy melanjutkan menapakkan kakinya
meninggalkan rumah Mery . Sekarang
tinggal berdua saja , Mery dan Bimo
berada di ruang tamu .
" Mery ...." panggilan Bimo membuat
Mery menoleh." Ya kak ."
" Apa aku boleh bertanya tentang
hubungan kalian ?." kesunyian di ruang
tamu , membuat suara Bimo seakan
menggema di telinga Mery .
" Kalian ?." Mery balik bertanya , karena
dia tidak faham siapa yang di maksud
Bimo .
" Kau dan pria tadi ." Mery terkejut dan
menahan senyum .
" Maksud kak Bimo hubungan aku
dengan kak Roy ?." Mery malah tertawa
membuat Bimo semakin penasaran .
Mery berusaha meredakan tawanya
dan mengambil nafas dalam-dalam
dan mulai menjelaskan .
" Kak dengarkan aku , kakak kenal
kak Joy kan ?, dia adalah sepupu
kandung dari kak Roy , dan juga teman
dekat dari suami kak Joy ,jadi pantaslah
jika aku bersama kak Joy pasti kak Roy
juga ada ." Mery menjelaskan dengan
panjang lebar .
Mendengar penjelasan dari Mery
membuat Bimo merasa lega , ternyata
hubungan yang dia takut kan tidak
terjadi , dia sempat berpikir jika pria
tadi adalah kekasih Mery yang baru ,
" Lalu sekarang kau sedang menjalin
hubungan dengan siapa ?." pertanyaan
Bimo menghentikan tawa Mery .
" Tidak kak , aku tidak menjalin suatu
hubungan dengan siapa pun , aku sudah
tidak seperti Mery yang dulu , kini hanya
kak Joy yang menjadi keluargaku , aku
tak menyia-nyiakan harapan kak Joy ,
aku harus bisa membuat kak Joy bangga padaku , aku ingin melanjutkan kuliahku
seperti yang di inginkan kak Joy ."
Bimo terdiam mendengar setiap kata
yang keluar dari bibir mungil Mery ,
Bimo seperti menemukan sosok Mery
yang baru , Mery sudah tidak seperti
Mery yang dia kenal dulu .
Menurut hati kecil Bimo kini dia sudah berubah , lebih dewasa dan semakin menambah rasa sayang Bimo pada
sosok perempuan yang dia sukai .
"Maaf ."
Mery menatap Bimo , dia mendengar
satu kata , meskipun suaranya terdengar
lirih , yang di tatapnya malah menunduk
tanpa memandang orang yang di ajaknya
bicara .
" Kak , kenapa kak Bimo meminta maaf."
masih memandang .
" Sungguh aku tidak tahu jika kau berduka , maafkan aku karena tidak ada di saat kau terpuruk ." Bimo menggenggam jari
mungil Mery dengan penuh perasaan dan mengucapkan dengan tulus .
" Tidak apa kak , semua sudah berlalu
sekarang aku ingin menjadi Mery yang
baru , Mery yang tidak cengeng dan
tidak manja seperti Mery yang dulu ."
mengucap dengan memaksakan tersenyum.
Melihat Mery yang hampir menangis ,
Bimo segera memeluk Mery , berusaha
agar Mery tenang , belum sampai tangan
Bimo berhasil memeluknya , Mery sudah
lebih dulu menolak secara halus .
" Maaf kak , aku tidak secengeng itu
sampai kak Bimo harus memelukku
seperti bocah TK yang kehilangan permen ."
Bimo merasa malu , dia mengurungkan
niatnya dan berbalik menjadi salah
tingkah bingung harus berbuat apa.
" Ehhemm..." deheman Anggi yang berdiri
di ambang pintu mengagetkan kedua
orang yang duduk bersampingan.
" Mau minum ." menawarkan dengan
berjalan mendekati keduanya.
" Sejak kapan kak Anggi di sana ?."
Bimo penasaran .
Anggi menaruh dua botol minuman
dingin yang diambilnya di dalam
kulkas dan duduk di sebelah Mery .
" Sejak kalian mulai pembicaraan
dan aku menangkap ada orang yang
di tolak saat ingin memeluk seorang
gadis ." Anggi melanjutkan meneguk
minuman ditangannya ,
Bimo menelan ludahnya dengan kasar
menahan malu , setelah mendengar
kata yang keluar dari mulut Anggi .
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
_
_
_
__ADS_1
Langsung aja NEXT 🍀 🍀🍀🍀🍀