
Di dalam sebuah ruangan yang luas nan mewah , terdapat sofa berwarna silver
yang indah dan empuk tertata apik disana ,
tak lupa di setiap tembok tertempel
beberapa lukisan yang langka dari karya
pelukis terkenal .
Pernak pernik mahal ikut menghiasi
betapa indahnya Rumah mewah milik
sang Milyader , yang tak lain adalah
nyonya Ratih Alexander .
Di atas sofa duduklah tiga orang majikan
di rumah itu , mereka adalah Oma sang
pemilik rumah dengan ditemani oleh
cucu kesayangannya David beserta istrinya
yang sedang santai menunggu para
pembantu untuk menyiapkan makan siang bersama .
Di sela waktu senggang mereka
bercengkrama serius membahas tentang
keberangkatan David kali ini yang akan meninggalkan istrinya demi menyelesaikan
masalah perusahaan keluarga yang
sedang kritis .
Sebenarnya Oma tidak tega , jika harus
melihat cucunya berpisah dengan istrinya ,
karena saat ini pastilah Joy sangat
membutuhkan keberadaan suaminya .
Tapi mau bagaimana lagi keadaannya
sangat mendesak dan mengharuskan
cucunya itu untuk pergi.
Mau tidak mau Oma harus memenangkan
hati Joy sekarang , agar bersedia memantapkan hati untuk ditinggalkan oleh David , karena bagaimana pun semua ini
dia lakukan untuk masa depan mereka juga .
" Kau tenang saja David , Oma pasti akan
menjaga istri dan calon anakmu jika kau
tidak berada disini , kalau Joy mau Oma
akan memindahkan peralatan Rumah
Sakitnya kemari , dan ingatlah Joy ,, Oma
sangat menyayangimu dan calon cicit
Oma ." mengelus permukaan perut Joy .
Mendengar penjelasan dari Oma , David
menjadi agak tenang , rasa berat dan
khawatir langsung berkurang . Jadi
perjalanan nya kali ini menjadi lega .
" Baiklah , aku percayakan Joy dan anakku pada Oma , aku tidak mau ada kabar buruk apapun yang menimpa istriku , sekarang
Oma urus masalah kapan aku bisa
berangkat nya kesana ." tersenyum
dengan memandang wajah cantik istrinya.
Joy tak suka dengan kata - kata yang
suaminya ucapkan pada Oma , David
terkesan seperti sedang mengancam
padahal seharusnya David meminta
bantuan untuk menjaga istrinya .
" Jangan kasar begitu pada Oma ." Joy
memandang suaminya dengan
menggelengkan kepalanya, dia tidak
suka dengan sikap dan perkataan David .
David hanya tersenyum dan mengangguk
tidak menjawab , merasa berat jika harus berpisah lagi dengan istrinya , perasaan
takut kehilangan nya pun tiba -tiba muncul .
" Baru kemarin aku bisa merasakan
berkumpul dengan istriku , kenapa harus berpisah lagi sih , sebentar lagi my boy
juga lahir dan aku harus menjaga jarak
dengannya , huh.. tak bisakah keadaan
__ADS_1
mendukung ku ." dalam hati David meronta.
Disela percakapan tiba -tiba terdengar
sebuah suara jeritan mengagetkan semua orang-orang yang ada di dalam rumah , membuat sebagian pembantu dan
pengawal David berlari mencari dari mana sumber suara itu .
" Apa itu David , sepertinya itu suara Mery ,
dia tadi berada di kolam ." dengan wajah
panik Joy memegang lengan suaminya dia berusaha berdiri .
" Sudah sayang kau tenang saja , sudah
ada orang - orang yang pergi ke sana dan
pasti di sana juga ada Roy , tadi kan kita
lihat sendiri Roy pergi kesana ." memegang
kedua lengan Joy untuk mencegahnya
pergi .
Joy cemberut karena David
menghalanginya , dia yang khawatir membuatnya ingin cepat pergi ke kolam ,
ingin mengetahui keadaan Mery yang sebenarnya , tapi tangan David yang menghalanginya untuk berdiri dan memaksanya untuk tetap duduk di sofa .
" Biarkanlah Joy kesana David , dan kau
temanilah dia untuk berjaga jika nanti
dia melakukan hal yang bisa
mengawatirkan kandungan nya ." Oma
ikut berdiri .
Melihat raut wajah istrinya yang memohon
ditambah lagi dengan penuturan Oma ,
membuat David tak mampu untuk
menolak permintaan Joy .
" Baiklah ayo , nanti disana jangan banyak
tingkah ." membantu Joy berdiri .
Joy senang akhirnya David menurutinya
dan tak ingin membantah lagi dengan
cepat di acungkan nya jempol untuk
menjawab jika dia setuju .
πππ
Niatan Mery yang ingin menghindari Roy
malah berujung keduanya tercebur ke
dalam kolam , dan membuat para
penghuni rumah berlarian karena
mereka mendengar suara jeritan Mery .
Harusnya Roy jengkel karena saat ini
bajunya basah kuyup , tapi dia malah
senang karena bisa menggoda Mery dan enggan untuk naik keluar kolam .
" Kak Roy sengaja kan ?." berusaha menepi .
" Sengaja apanya , yang tadi mendorong
masuk kesini siapa ?." memegang
pinggang Mery .
" Lepaskan !, mana ada aku mendorong ,
kak Roy saja yang memelukku secara
tiba -tiba dan tak mau melepaskanku
tadi , coba saja kalau tadi kak Roy
melepaskan ku pasti kita tidak tercebur
kesini ." Mery meronta .
Orang- orang yang baru datang dibuat
bingung dengan kedua orang yang
ada di dalam kolam , niat ingin membantu
mereka urungkan , melihat perdebatan
Roy dan Mery yang seperti tidak melihat
jika ada banyak orang disana .
Seperti tak mau mengganggu adu mulut
keduanya , para pembantu dan pengawal
di rumah Oma hanya memperhatikan dan
menahan tawa .
" Usstt,, kita biarkan saja , nanti pak Roy
__ADS_1
bisa marah jika kita ganggu mereka ."
bisik - bisik antar pembantu .
" Ya aku mengaku , kalau aku yang
memeluk mu tapi kalau kau tadi diam
pasti kita tetap di atas sana , jadi yang
ingin masuk kedalam kolam bersama
itu kau Mery ."
Mery seketika membuka mulutnya lebar ,
karena terkejut dengan tuduhan yang
Roy berikan .
" Oh no ...no.. apa - apaan ini , kok jadi
aku yang ngebet sama kakak ."
Dengan pinggang yang masih dipegang
oleh Roy , Mery tak terima dengan
tuduhan yang di tujukan padanya , dia
berbalik menghadap pria yang sedari tadi
membuat nya kesal .
" Maksud kak Roy apa sih ?."
Roy kaget dengan pergerakan Mery yang
cepat membalikkan badannya , membuat
jarak wajah mereka menjadi dekat .
Dia tertegun menangkap tatapan Mery
padanya , wajah cantik yang natural
dengan basahan air kolam melengkapi
betapa menggair*hkannya Mery kini .
Dengan sekali tarik , Roy membuat
tubuh mereka tidak berjarak dan
satu tangannya menarik bagian belakang
kepala Mery , alhasil gerakan cepat Roy mencuri ciuman dari Mery lagi .
" Wow ..." seorang pembantu keceplosan ,
melihat adegan ciuman didepan matanya
dan membuat pembantu yang lain
membungkam mulutnya .
" Kau bisa diam , bisa mampus riwayat
kita ." menyeret temannya dengan
telapak tangan yang masih membungkam .
Dilihat tidak membutuhkan bantuan ,
para penjaga di rumah Oma pun
meninggalkan kolam dengan langkah
tanpa suara .
Joy melihat orang - orang kembali masuk
kedalam rumah tanpa ada penjelasan ,
semakin membuat Joy penasaran ,
" Sayang kenapa mereka cuma diam ?."
mempercepat langkahnya.
" Jalannya pelan - pelan saja , mungkin
tidak ada hal yang perlu di takutkan
dengan Mery maupun Roy ." ucap David
santai , masih membantu istrinya berjalan .
Joy tiba di kolam bersama dengan David ,
betapa kagetnya dia saat tahu apa yang
Roy dan Mery lakukan didalam kolam .
" Kalian sedang apa ?." teriak Joy keras .
Seketika Roy melepaskan ciumannya ,
dan Mery tahu betul suara siapa yang
meneriakinya .
Dia menatap keatas kolam ternyata bukan hanya kakaknya disana melainkan ada
kakak iparnya beserta Oma juga , Mery
kikuk tak bisa menaruh mukanya karena
malu , dengan wajah menunduk dia
naik ke tepi .
__ADS_1
πππππππππππππ
Next π