
Tik,,tik,,tik,,
Bunyi dentingan jarum jam di dinding
Toko kue yang penuh kegusaran itu
berbunyi .
Manik mata yang sedari tadi tertutup
itu akhirnya terbuka , memberikan
pertanda jika kesadaran yang sepuluh
menit tadi hilang itu kembali .
" Syukurlah ibu Wulan sudah sadar ."
ucap Sari sumringah , lega majikannya
telah sadar .
Berusaha membantu majikan nya berdiri
Sari mengangkat pelan punggung Wulan ,
" Hati - hati Bu ." menyerahkan botol minyak
kayu putih pada temannya .
" Aku kenapa ?." melihat semua orang
sedang mengelilinginya .
Sari menjelaskan jika majikannya itu
baru mengalami pingsan setelah
menerima telepon dari Mery .
Mereka hanya mendengarnya sekilas tidak terlalu jelas , tidak bisa menjelaskan
dengan detail apa duduk perkara yang membuat wanita itu sampai pingsan .
Wulan mencoba mengingat apa yang
di katakan Mery tadi ," Astaga , aku harus
cepat pulang ." menggapai tangan Sari berusaha beranjak dari duduknya .
Mereka tidak berani bertanya , wajah
majikannya ini sudah memberikan
gambaran jika berita yang di berikan
Mery sangat serius .
Wulan meninggalkan Toko dengan
tergesa-gesa , " Sari ku serahkan Toko ini sementara padamu , tolong handle dulu ."
mengambil tas tanpa menambah lagi
perkataannya dan langsung pergi .
" Baik Bu , ibu Wulan jangan menyetir
mobil sendiri naik taksi saja Bu , biar
aku yang mencarikan taksinya ." berlari mengikuti Wulan yang sudah keluar Toko .
###
Menaiki taksi Wulan pulang kerumahnya ,
air matanya tak berhenti menetes
di sepanjang jalan mengawatirkan
keadaan putrinya yang jauh disana .
" Ya Tuhan lindungilah putriku dan
calon bayinya , jangan sampai kau ambil
dia dariku tuhan , ijinkan aku bersama
dengan nya dan cucuku hingga akhir
khayatku ." Mengusap air mata yang membasahi pipinya .
Laju taksi berhenti , menandakan jika
tujuannya sudah sampai , Wulan turun
dengan cepat setelah menyerahkan
ongkos pada sang supir taksinya .
Wulan berlari ke Rumah saudaranya
yang berada tepat di sebelah Rumahnya ,
mendorong sebuah pagar besi dengan
sekuat tenaganya .
" Selamat sore Bu Wulan ." sapa seorang
tukang kebun yang sedang memotong
tanaman poyong dirumah orang tua Roy .
Wulan diam dengan langkah cepatnya ,
tidak menggubris sapaan orang yang
mengajak nya bicara , pandangan lurus mencari sosok orang yang menjadi tujuan awalnya .
Ada seorang gadis yang sedang duduk
di kursi teras , menggunakan celana
pendek selutut dengan kaos pink
bergambar Doraemon segera berdiri
melihat tantenya yang berjalan
terburu-buru dengan mata sembabnya .
" Tante Wulan kenapa ?." melepas satu
headset yang tertancap di telinganya .
" Bundamu mana ?." balik bertanya pada
keponakannya .
" Ada di dalam ." ucap Dinda santai
menunjuk arah pintu , Wulan masuk kedalam .
Adinda mengikuti tantenya , merasa
penasaran hal apa yang membuat
tantenya itu menangis .
" Tumben Tante menangis, kenapa ya ?."
Sesampainya di dalam Wulan menangis
histeris , berteriak sejadi-jadinya pada
adik semata wayangnya itu .
" Rania , anakku ,,, huhuhu..." memeluk
adiknya .
Dengan menepuk punggung kakaknya
Ibunda Roy bertanya ," Embak ada apa ,
coba jelaskan biar aku tahu embak ."
__ADS_1
Adinda tidak mau ikut dalam lautan
kesedihan , dia berdiri rada jauh di
pojokan karena dari tadi dia tidak tahu
masalah yang menimpa tantenya itu .
" Rani cepat telfon Roy , tanyakan padanya
bagaimana keadaan Joy sekarang ,"
melepaskan pelukan , mengambil
segenggam tisu untuk mengusap
wajahnya .
" Iya embak iya , aku akan menelfon Roy
embak yang tenang ya , Adinda ambilkan
tantemu air minum ."
Rani mengikuti apa yang di katakan
oleh kakaknya , mencari kabar terkini
pada putranya di Jakarta .
Wulan meminum air putih yang adinda
berikan , kemudian meminta adinda untuk
memesankan tiket pesawat untuk
segera terbang ke Jakarta ,
๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Roy di Kantor menyelesaikan
pekerjaannya dengan serius , semenjak
kepergian David hanya dia dan Isabella
yang meneruskannya .
Dia ingin cepat selesai agar bisa
menyusul David ke Rumah Sakit , akhirnya
tidak membutuhkan waktu terlalu lama
pekerjaan mereka pun selesai .
" Yeah , selesai juga ." membanting
bekas terakhir , membuang lelah dengan
mengangkat kedua kepalan keatas
kepala .
Isabella mengambil semua dokumen berdasarkan warnanya .
" Pak Roy biar semua dokumen ini saya
yang menatanya di laci , pak Roy bisa
ke Rumah Sakit segera ." mengambil
satu persatu dokumen dan menumpuknya .
" Biar aku bantu , kita bisa ke Rumah
Sakit bersama ." menoleh , terlihat
senyuman Roy yang membuat orang
terpana jika ada orang yang melihatnya .
" Baiklah ." berpaling , tak ingin ketahuan
jika dia terpesona dan hatinya berdebar
Situasi dan keadaan yang mendukung
Roy mengambil kesempatan , " Isabel
apa kau sudah mempunyai kekasih ?."
Roy berbicara dari belakang mendekatkan wajahnya hingga tertiup nafas hangat
yang tak sengaja mengenai leher
sekertaris cantik David .
Isabella tersentak kaget mendapat
perlakuan yang mengejutkan dari
asisten atasannya itu .
" Be,, belum pak ." jawab Isabella gugup
dengan tangan yang rada gemetar ,
mencoba membuang keresahannya
wanita ini melanjutkan menata dokumen .
" Benar kah , bolehkah aku mengisi
kekosongan di hatimu ?." Roy lebih mendekat .
Dengan bumbu sentuhan Roy
melancarkan aksinya , membalikkan
tubuh seksi wanita berkaca mata itu
hingga kini mereka saling berhadapan .
Dag ,, Dig,, dug..
Detak jantung Isabella bergenderang
hanya dia yang bisa merasakan .
" Jawab aku cantik , jawablah dengan
bibir manismu ini ." menyentuh bibir
Isabella dengan jari jempolnya, mengusap
pelan saat telapak tangannya berada
di pipi putih sang sekretaris yang menggoda .
Isabel tak bisa berkutik , jangankan
menjawab , bergerak saja dia tak bisa .
Merasa tidak mendapat penolakan, Roy
melanjutkan aksinya , semakin mendekat
lengan Roy melingkar di pinggang Isabel .
Semakin terpojok , Isabella semakin
mencium aroma parfum klasik mahal
milik Roy yang menusuk hidungnya ,
yang menambah romantis suasana
kali ini .
Tinggal lima senti bibir mereka bertemu ,
" Bolehkah aku mencicipinya ?." dengan
debaran hebat Isabella tak bisa menolak
hingga tanpa dia sadari , dia mengiyakan
__ADS_1
permintaan Roy .
Setelah mendapat ijin , Roy tak menunggu
lama , di cicipnya bibir merah merona
nan seksi itu dengan satu detik
menyatulah keduanya .
Isabella merasakan betapa hebatnya
permainan bibir asisten dari atasannya
ini , bibir bawah Isabel yang tebal dan
kenyal di hisap dengan gigitan kecil
hingga terbukalah mulut sekertaris
manis itu .
Roy ******* habis bibir indah Isabella
hingga dia kewalahan dengan permainan
lidah Roy yang lihai , sejatinya Isabella
belum pernah mendapat ciuman yang
hot seperti ini .
Yang dia rasakan hanyalah sebatas
kecupan dari mantan kekasihnya dulu .
Kini dia bagai di ajari oleh pakar yang
handal hingga dia kewalahan dan
tak bisa berkutik oleh irama ciuman dari
Roy .
Bagai pakar yg profesional dalam hal
berciuman , Roy bisa memberi celah
dalam bernafas meskipun bibir mereka
tidak terlepas dari satu sama lain .
Tangan nakal Roy tak bisa diam , hingga
keduanya lupa ada orang yang sedang
bertarung dengan nyawa di lain tempat .
Gairah keduanya semakin memuncak ,
hingga tak sadar bibir Roy sudah turun
ke leher .
Drettttt...tringgg tringggg....
Suara ponsel Roy menghentikan adegan
pergulatan bibir keduanya , " sebentar ."
ucap Roy melihat siapa yang
menghubunginya .
" Aishhh,, bunda ini ganggu saja ."
menggerakkan gigi , menahan geram .
Mengambil jarak agak menjauh , Roy
mengangkat telfonnya " dari bunda ."
berbicara pada Isabella tanpa
mengeluarkan suara .
" Ya Bun hallo ."
" Roy , bagaimana keadaan Joy sekarang
kau ini ada masalah darurat malah tidak
mengabari keluarga di Jogja , apa kau
tahu Tante mu di sini sangat khawatir ."
Roy terpaksa menelan ludahnya kasar ,
merasa malu Isabella mendengar
teriakan ibunya yang lupa saat menerima
telfon tadi micnya di nyalakan .
" Iya Bun maaf , bunda tunggu saja
bersama Tante di Bandara , nanti
pesawat David akan menjemput kalian ."
Seketika sambungan telepon terputus ,
setelah mendapat cercahan ceramah
dari bundanya Roy menelfon anak
buahnya agar membawa pesawat pribadi
milik David untuk menjemput
keluarganya di Jogja .
Memandang Isabella yang sedang
merapikan kancing kemejanya bagian
atas yang terlepas , Roy merasa kecewa
" tidak bisakah kita melanjutkannya ?."
mendekati .
" Maaf pak ini sudah terlalu sore ,
bukankah pak Roy mau ke Rumah Sakit ,
mari ,,."
Isabella menaruh dokumen kedalam laci ,
sedangkan Roy dengan terpaksa
membuang sesuatu yang sudah
memuncak kedalam toilet di ruangan
David .
" Bunda ,, bunda coba saja tadi
menelfonnya di pending dulu , lima
belas menit kek , kan aku tidak harus
solo begini ." oceh Roy dengan keringat
di keningnya .
๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ๐ฟ
Ayo .. ayoo mana jejaknya ,,,
lanjut GK nih... klo byk like n komen nya
besok langsung up ..
salam cinta dari Author ๐
__ADS_1
Next ๐