Oh My GiRL,

Oh My GiRL,
Hampir saja


__ADS_3

Tik,,tik,,tik,,


Bunyi dentingan jarum jam di dinding


Toko kue yang penuh kegusaran itu


berbunyi .


Manik mata yang sedari tadi tertutup


itu akhirnya terbuka , memberikan


pertanda jika kesadaran yang sepuluh


menit tadi hilang itu kembali .


" Syukurlah ibu Wulan sudah sadar ."


ucap Sari sumringah , lega majikannya


telah sadar .


Berusaha membantu majikan nya berdiri


Sari mengangkat pelan punggung Wulan ,


" Hati - hati Bu ." menyerahkan botol minyak


kayu putih pada temannya .


" Aku kenapa ?." melihat semua orang


sedang mengelilinginya .


Sari menjelaskan jika majikannya itu


baru mengalami pingsan setelah


menerima telepon dari Mery .


Mereka hanya mendengarnya sekilas tidak terlalu jelas , tidak bisa menjelaskan


dengan detail apa duduk perkara yang membuat wanita itu sampai pingsan .


Wulan mencoba mengingat apa yang


di katakan Mery tadi ," Astaga , aku harus


cepat pulang ." menggapai tangan Sari berusaha beranjak dari duduknya .


Mereka tidak berani bertanya , wajah


majikannya ini sudah memberikan


gambaran jika berita yang di berikan


Mery sangat serius .


Wulan meninggalkan Toko dengan


tergesa-gesa , " Sari ku serahkan Toko ini sementara padamu , tolong handle dulu ."


mengambil tas tanpa menambah lagi


perkataannya dan langsung pergi .


" Baik Bu , ibu Wulan jangan menyetir


mobil sendiri naik taksi saja Bu , biar


aku yang mencarikan taksinya ." berlari mengikuti Wulan yang sudah keluar Toko .


###


Menaiki taksi Wulan pulang kerumahnya ,


air matanya tak berhenti menetes


di sepanjang jalan mengawatirkan


keadaan putrinya yang jauh disana .


" Ya Tuhan lindungilah putriku dan


calon bayinya , jangan sampai kau ambil


dia dariku tuhan , ijinkan aku bersama


dengan nya dan cucuku hingga akhir


khayatku ." Mengusap air mata yang membasahi pipinya .


Laju taksi berhenti , menandakan jika


tujuannya sudah sampai , Wulan turun


dengan cepat setelah menyerahkan


ongkos pada sang supir taksinya .


Wulan berlari ke Rumah saudaranya


yang berada tepat di sebelah Rumahnya ,


mendorong sebuah pagar besi dengan


sekuat tenaganya .


" Selamat sore Bu Wulan ." sapa seorang


tukang kebun yang sedang memotong


tanaman poyong dirumah orang tua Roy .


Wulan diam dengan langkah cepatnya ,


tidak menggubris sapaan orang yang


mengajak nya bicara , pandangan lurus mencari sosok orang yang menjadi tujuan awalnya .


Ada seorang gadis yang sedang duduk


di kursi teras , menggunakan celana


pendek selutut dengan kaos pink


bergambar Doraemon segera berdiri


melihat tantenya yang berjalan


terburu-buru dengan mata sembabnya .


" Tante Wulan kenapa ?." melepas satu


headset yang tertancap di telinganya .


" Bundamu mana ?." balik bertanya pada


keponakannya .


" Ada di dalam ." ucap Dinda santai


menunjuk arah pintu , Wulan masuk kedalam .


Adinda mengikuti tantenya , merasa


penasaran hal apa yang membuat


tantenya itu menangis .


" Tumben Tante menangis, kenapa ya ?."


Sesampainya di dalam Wulan menangis


histeris , berteriak sejadi-jadinya pada


adik semata wayangnya itu .


" Rania , anakku ,,, huhuhu..." memeluk


adiknya .


Dengan menepuk punggung kakaknya


Ibunda Roy bertanya ," Embak ada apa ,


coba jelaskan biar aku tahu embak ."

__ADS_1


Adinda tidak mau ikut dalam lautan


kesedihan , dia berdiri rada jauh di


pojokan karena dari tadi dia tidak tahu


masalah yang menimpa tantenya itu .


" Rani cepat telfon Roy , tanyakan padanya


bagaimana keadaan Joy sekarang ,"


melepaskan pelukan , mengambil


segenggam tisu untuk mengusap


wajahnya .


" Iya embak iya , aku akan menelfon Roy


embak yang tenang ya , Adinda ambilkan


tantemu air minum ."


Rani mengikuti apa yang di katakan


oleh kakaknya , mencari kabar terkini


pada putranya di Jakarta .


Wulan meminum air putih yang adinda


berikan , kemudian meminta adinda untuk


memesankan tiket pesawat untuk


segera terbang ke Jakarta ,


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Roy di Kantor menyelesaikan


pekerjaannya dengan serius , semenjak


kepergian David hanya dia dan Isabella


yang meneruskannya .


Dia ingin cepat selesai agar bisa


menyusul David ke Rumah Sakit , akhirnya


tidak membutuhkan waktu terlalu lama


pekerjaan mereka pun selesai .


" Yeah , selesai juga ." membanting


bekas terakhir , membuang lelah dengan


mengangkat kedua kepalan keatas


kepala .


Isabella mengambil semua dokumen berdasarkan warnanya .


" Pak Roy biar semua dokumen ini saya


yang menatanya di laci , pak Roy bisa


ke Rumah Sakit segera ." mengambil


satu persatu dokumen dan menumpuknya .


" Biar aku bantu , kita bisa ke Rumah


Sakit bersama ." menoleh , terlihat


senyuman Roy yang membuat orang


terpana jika ada orang yang melihatnya .


" Baiklah ." berpaling , tak ingin ketahuan


jika dia terpesona dan hatinya berdebar


Situasi dan keadaan yang mendukung


Roy mengambil kesempatan , " Isabel


apa kau sudah mempunyai kekasih ?."


Roy berbicara dari belakang mendekatkan wajahnya hingga tertiup nafas hangat


yang tak sengaja mengenai leher


sekertaris cantik David .


Isabella tersentak kaget mendapat


perlakuan yang mengejutkan dari


asisten atasannya itu .


" Be,, belum pak ." jawab Isabella gugup


dengan tangan yang rada gemetar ,


mencoba membuang keresahannya


wanita ini melanjutkan menata dokumen .


" Benar kah , bolehkah aku mengisi


kekosongan di hatimu ?." Roy lebih mendekat .


Dengan bumbu sentuhan Roy


melancarkan aksinya , membalikkan


tubuh seksi wanita berkaca mata itu


hingga kini mereka saling berhadapan .


Dag ,, Dig,, dug..


Detak jantung Isabella bergenderang


hanya dia yang bisa merasakan .


" Jawab aku cantik , jawablah dengan


bibir manismu ini ." menyentuh bibir


Isabella dengan jari jempolnya, mengusap


pelan saat telapak tangannya berada


di pipi putih sang sekretaris yang menggoda .


Isabel tak bisa berkutik , jangankan


menjawab , bergerak saja dia tak bisa .


Merasa tidak mendapat penolakan, Roy


melanjutkan aksinya , semakin mendekat


lengan Roy melingkar di pinggang Isabel .


Semakin terpojok , Isabella semakin


mencium aroma parfum klasik mahal


milik Roy yang menusuk hidungnya ,


yang menambah romantis suasana


kali ini .


Tinggal lima senti bibir mereka bertemu ,


" Bolehkah aku mencicipinya ?." dengan


debaran hebat Isabella tak bisa menolak


hingga tanpa dia sadari , dia mengiyakan

__ADS_1


permintaan Roy .


Setelah mendapat ijin , Roy tak menunggu


lama , di cicipnya bibir merah merona


nan seksi itu dengan satu detik


menyatulah keduanya .


Isabella merasakan betapa hebatnya


permainan bibir asisten dari atasannya


ini , bibir bawah Isabel yang tebal dan


kenyal di hisap dengan gigitan kecil


hingga terbukalah mulut sekertaris


manis itu .


Roy ******* habis bibir indah Isabella


hingga dia kewalahan dengan permainan


lidah Roy yang lihai , sejatinya Isabella


belum pernah mendapat ciuman yang


hot seperti ini .


Yang dia rasakan hanyalah sebatas


kecupan dari mantan kekasihnya dulu .


Kini dia bagai di ajari oleh pakar yang


handal hingga dia kewalahan dan


tak bisa berkutik oleh irama ciuman dari


Roy .


Bagai pakar yg profesional dalam hal


berciuman , Roy bisa memberi celah


dalam bernafas meskipun bibir mereka


tidak terlepas dari satu sama lain .


Tangan nakal Roy tak bisa diam , hingga


keduanya lupa ada orang yang sedang


bertarung dengan nyawa di lain tempat .


Gairah keduanya semakin memuncak ,


hingga tak sadar bibir Roy sudah turun


ke leher .


Drettttt...tringgg tringggg....


Suara ponsel Roy menghentikan adegan


pergulatan bibir keduanya , " sebentar ."


ucap Roy melihat siapa yang


menghubunginya .


" Aishhh,, bunda ini ganggu saja ."


menggerakkan gigi , menahan geram .


Mengambil jarak agak menjauh , Roy


mengangkat telfonnya " dari bunda ."


berbicara pada Isabella tanpa


mengeluarkan suara .


" Ya Bun hallo ."


" Roy , bagaimana keadaan Joy sekarang


kau ini ada masalah darurat malah tidak


mengabari keluarga di Jogja , apa kau


tahu Tante mu di sini sangat khawatir ."


Roy terpaksa menelan ludahnya kasar ,


merasa malu Isabella mendengar


teriakan ibunya yang lupa saat menerima


telfon tadi micnya di nyalakan .


" Iya Bun maaf , bunda tunggu saja


bersama Tante di Bandara , nanti


pesawat David akan menjemput kalian ."


Seketika sambungan telepon terputus ,


setelah mendapat cercahan ceramah


dari bundanya Roy menelfon anak


buahnya agar membawa pesawat pribadi


milik David untuk menjemput


keluarganya di Jogja .


Memandang Isabella yang sedang


merapikan kancing kemejanya bagian


atas yang terlepas , Roy merasa kecewa


" tidak bisakah kita melanjutkannya ?."


mendekati .


" Maaf pak ini sudah terlalu sore ,


bukankah pak Roy mau ke Rumah Sakit ,


mari ,,."


Isabella menaruh dokumen kedalam laci ,


sedangkan Roy dengan terpaksa


membuang sesuatu yang sudah


memuncak kedalam toilet di ruangan


David .


" Bunda ,, bunda coba saja tadi


menelfonnya di pending dulu , lima


belas menit kek , kan aku tidak harus


solo begini ." oceh Roy dengan keringat


di keningnya .


๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ๐ŸŒฟ


Ayo .. ayoo mana jejaknya ,,,


lanjut GK nih... klo byk like n komen nya


besok langsung up ..


salam cinta dari Author ๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Next ๐Ÿ€


__ADS_2