
Joy berusaha menerima kenyataan pahit tentang dirinya, awalnya hatinya sangat
terluka saat mengetahui bahwa orang yang baru saja dikenalnya dan sudah dianggap seperti neneknya sendiri ini adalah orang
yang telah tega membuangnya dulu dan
yang membuat dirinya menelan penderitaan dan olokan dari orang.
Julukan anak haram seakan melekat pada dirinya, hingga dia harus menelan malu atas cap itu. Namun Joy berusaha berlapang dada dan melupakan apa yang sudah berlalu dan berusaha menerima kenyataan ini.
Semua orang pasti mempunyai kesalahan disaat orang itu sadar dan menyesalinya, harusnya kita memberinya kesempatan dan memaafkan kesalahan itu, itu yang ada di benak Joy.
Joy mendongakkan kepalanya keatas suatu usaha untuk memasukkan kembali air
matanya yang hendak keluar, kemudian menatap nenek Antika seperti tidak terjadi apa-apa.
"Nek, semua itu sudah berlalu, nenek lupakan saja dan jaga kesehatan ya."
Joy menggigit bibir bawahnya untuk menahan air matanya yang akan menetes, menyentuh jemari wanita tua yang ternyata adalah nenek kandungnya.
Nenek Antika masih saja menangis, Joy
segera memberikan pelukan.
"Sudah, sudah .. Nenek tidak boleh menangis, aku tidak ingin nenek sakit. Bik tolong bawa Nenek masuk!." Joy melepaskan pelukan, lalu menghadap pada seorang pembantu yang menemaninya di Taman.
Nenek Antika menggeleng, masih ingin bersama cucunya.
"Nek, nenek masuk ke rumah yah, aku akan tetap disini, aku masih ingin sendiri. Boleh kan?." Joy berbicara lembut, membujuk
nenek barunya.
Antika mengangguk.
"Maafkan kakek dan nenekmu ini nak." Ucap Antika yang hendak bersimpuh, Joy menarik tubuh tua itu dengan pelukan.
"Jangan nek, aku tidak mau nenek melakukan ini, aku sudah memaafkan nenek dan kakek, semua yang sudah terjadi mari kita lupakan dan kita buka lembaran baru." Memberikan senyuman pada nenek barunya.
Antika membalas dengan senyuman dan menahan sisa tangis.
"Bik cepat bawa nenek ke dalam!." Joy mengulangi perintah.
Akhirnya Antika menuruti permintaan
cucunya dan masuk kedalam rumah
bersama pembantunya.
Joy sendirian di Taman, menyadarkan diri
atas kenyataan yang baru saja memukul
keras hatinya.
"Rahasia apalagi yang ingin Kau tunjukkan Tuhan, rahasia apalagi?." Joy duduk menyamping meletakkan wajahnya pada lengan yang menempel di kursi.
"Huhuhu .. aku yakin aku pasti kuat, tapi permainan apalagi yang akan Kau berikan."
Joy menangis pelan sambil berbicara dengan Tuhan, menuntut lika liku yang sudah dia lalui dirana kehidupannya.
Dia tak ingin terlihat menangis di depan nenek yang baru ditemukannya, jadi dia menyuruh pembantu untuk mengajak neneknya itu untuk menjauh darinya.
__ADS_1
Joy masih menangis sendiri, datanglah seorang pria tinggi kekar mendekatinya.
"Sekarang bukan waktunya untuk menangis, kau harus bahagia sudah dipertemukan kembali dengan keluargamu, ada masalah
lain yang sangat penting yang harus kau hadapi." Ucap pria itu dengan angkuh yang berdiri didekat Joy.
Joy menoleh kaget diberikannya lirikan tajam pada pria itu, tak terima dengan apa yang diucap oleh orang asing baginya.
"Kau yang kemarin kan?." Joy menyadari sesuatu.
Pria itu diam.
"Kau mudah mengatakan itu padaku. Hah, keluarga.. ini lucu." Joy tertawa remeh, lelah dengan permainan kehidupan yang seakan mempermainkannya.
"Coba bila kau berada di posisiku, apa kau sanggup untuk tidak syok, ha? Jawab aku! Apa kau sanggup untuk langsung menerima dan melupakan semua yang sudah terjadi padamu?." Bentak Joy.
Pria itu masih diam.
Joy geram, orang yang di depannya ini masih saja diam tidak mengeluarkan suara, akhirnya Joy memutuskan untuk berdiri hendak pergi, satu tangan pria itu meraih pergelangan joyyana.
"Panggil aku Dicky, aku anak angkat pak Farhan." Masih memandang kedepan, Dicky berbicara tidak memandang siapa yang diajaknya bicara.
Dicky terlihat sangat angkuh. Joy terkejut, menghentikan langkahnya.
"Huh .. ." Membuang udara dari mulut demi mengurangi kekesalan.
'Gila nih orang, aku bicara panjang lebar kok malah memperkenalkan diri, haha .. .' Joy tertawa dalam hati.
Joy membalikkan badan, menatap pria yang menurutnya asing dan seenaknya bicara.
"Oh, anak angkat, salam kenal Pak Dicky." Joy mendekati pria itu, " aku tidak tanya." Ucap Joy tidak kalah angkuh, membalas sikap Dicky padanya.
'Tatapan wanita ini.' Dicky teringat lagi.
"Silahkan duduk kembali, ada yang ingin aku sampaikan pada anda."
Dicky mengambil duduk di kursi depan
tempat Joy duduk tadi, sengaja ingin
mengajak Joy bicara karena suruhan pak Farhan.
Masih berdiri, Joy menatap pria angkuh yang menyuruhnya untuk duduk, Dicky menunjuk kursi.
"Silahkan." Joy terpaksa menuruti dan duduk.
"Kau sudah siap, bisa kita mulai sekarang?."
Joy menatap Dicky.
"Kita mau apa?." Joy menarik pandangan.
Dicky menjelaskan dengan serius, tentang
apa yang sudah ditemukan saat penyelidikan. Siapa otak dibalik penculikan yang dialami
oleh joyyana dan apa motif di baliknya, Joy menelan ludah.
" Tujuan mereka hanyalah untuk menghancurkan suamimu, mereka menggunakanmu sebagai alat penghancur untuk langkah awal mereka dan itu berhasil, suamimu sekarang merasa hancur." Jelas Dicky.
Seorang pembantu datang membawa kopi
__ADS_1
dan meletakkannya di atas meja.
"Ini kopinya pak." Dicky mengangkat tangan menyuruh pembantu itu pergi.
Pembantu itu mengangguk patuh lalu kemudian pergi.
"Kurang ajar, aku tak terima ini aku akan menghancurkan mereka duluan." Bentak Joy, Dicky tertawa meremehkan.
"Tak semudah menelan makanan nona, yang anda hadapi kali ini adalah mafia."
"Kau tidak percaya padaku?, mafia juga manusia yang bisa mati, kau belum tahu saja bagaimana sadisnya seorang istri dan ibu
yang sudah marah." Bantah Joy.
Dicky melihat amarah yang tertahan di wajah wanita yang duduk bersamanya kali ini, Dicky semakin mengingat teman kecilnya.
"Baiklah kalau itu kemauan anda, jika anda sudah baikan dan apabila pak Farhan mengijinkan maka saya akan mengajari anda bermain mainan biji besi." Joy menatap Dicky sambil menelan ludahnya kasar.
Dicky menyunggingkan bibir.
"Kenapa nona, takut?." Joy melirik sinis lalu membuang mukanya kasar.
"Mana mungkin aku takut, kita lihat saja. Kenapa nunggu besok sekarang juga boleh." Tantang Joy.
Dicky berdiri dari duduknya, "anda meminta persetujuan dulu pada kakek anda, baru saya mau mengajari." Dicky pergi.
"Jadi aku harus meminta ijin dulu? Jadi aku harus berbicara pada kakek yang sudah membuangku." Joy berkata sendiri pada
dirinya sendiri, tak melihat kepergian Dicky yang sudah agak menjauh.
Joy menoleh ternyata Dicky sudah tidak ada
di kursinya.
"Hey pria angkuh, kau mau kemana?." Teriak Joy yang baru menyadari kepergian Dicky.
Dicky tak menggubris panggilan Joy, dia
masih saja melangkahkan kakinya tanpa
ingin berhenti.
##
Dari dalam rumah dua pasang mata sedang memperhatikan pertikaian mereka.
"Mereka sangatlah cocok." Ucap pria tua
yang sekarang menjadi kakeknya joyyana.
"Pak, dia sudah bersuami." Ucap Antika mengingat suaminya.
Ternyata yang memperhatikan adalah sepasang tuan rumah dirumah mewah itu, Farhan menatap istrinya.
"Apa yang tak bisa ku lakukan, jika aku menginginkan mereka menjadi sepasang suami istri itu pasti akan terjadi." Ucap
Farhan lalu meninggalkan istrinya sendiri.
Antika meneteskan air mata.
"Aku tidak akan membiarkan kisah Wulan terulang lagi. Maaf pak, kali ini aku tidak mendukung keputusanmu." Memandang kepergian suaminya.
__ADS_1
πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ
πππππ