
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Sinar matahari menyinari bumi , begitu
teriknya membuat banyak orang malas
untuk keluar rumah , entah apa yang
membuat mereka malas , takut terkena
panas atau mereka lebih dominan takut
jika kulit mereka hitam .
Tapi ketakutan itu hanya dirasakan oleh
sebagian orang yang hidup mereka
sudah terbilang mapan , yang hanya
memikirkan masalah penampilan .
Beda halnya dengan orang yang lebih
mementingkan kebutuhan keluarganya ,
jangankan terik matahari bahkan kerasnya
hidup pasti akan di terjang .
Siang ini Anggi terduduk didepan Toko ,
setia menanti kedatangan Andreas yang
katanya akan mengajaknya untuk melihat
Joy dan bayinya di Rumah Sakit .
Panas terik sang Surya yang teramat
menyilaukan , tak menghalangi niatan
Anggi untuk mengunjungi sahabatnya itu.
Sebuah rasa bersalahnya masih terasa
meskipun Andreas sudah menjelaskan
jika gangguan pada kandungan Joy
kemaren bukan akibat dari kesalahannya ,
Tapi tidak mengubah pernyataan , jika temannya itu mengalami tidak sadarkan
diri setelah mendengar apa yang keluar
dari mulut nya .
Bujukan Nenek dan dukungan dari
kekasihnya membuat Anggi memantapkan
diri untuk menemui sahabatnya .
" Nggi , bawalah bunga mawar putih
kesukaan Joy ini , pasti dia senang ."
Seorang nenek memberikan sebuket
bunga mawar putih pada cucunya .
" Baiklah nek , aku sampai lupa , terima
kasih sudah diingatkan ." menerima
dengan kedua tangan .
" Embak Anggi mau ke Rumah Sakit
menjenguk embak Joy ?." tanya Julia
saat merapikan pot bunga .
" Iya , kau mau ikut ?."
" Tidak embak , saya titip salam saja
untuk disampaikan pada embak Joy nya ,
saya doakan semoga cepat sembuh dan
dedek bayinya diberikan cepet dapet adek
baru ," tersenyum , kemudian masuk
kedalam Toko .
Nenek dan Anggi tertawa bersamaan .
" Juli,, Juli kau ini bicara apa , Joy nya
saja belum sembuh , malah
membicarakan soal anak lagi , ngelantur
kamu ini ." melanjutkan tertawa .
" Saya cuma bercanda nek , biar embak
Anggi nya gak tegang , tu kan pangeran
bermobil nya sudah datang ." menunjuk
dengan dagunya .
Anggi menoleh ," emang ada pangeran
bermobil , jadi aneh aku denger nya ."
Berdiri menghampiri Andreas yang baru
saja membuka pintu mobil, mengeluarkan
satu kakinya untuk melangkah keluar .
" Lho ada embak , pangeran Charles ."
menjawab kemudian menutup mulut .
" Iya deh iya , kalau sudah debat aku kalah
jauh denganmu Jul , Nek aku berangkat
dan kau Juli aku titip Toko dan nenek ya ."
Masuk kedalam Mobil dengan
sebelumnya mencium tangan neneknya
terlebih dahulu .
Sebelum mengikuti Anggi masuk ke dalam mobil , Andreas berpamitan pada nenek
dan memberikan sedikit senyum pada
Julia , tanda kesopanan dengan adanya
Julia disana .
πππ
Di dalam mobil , Anggi menaruh bunga
mawar putih yang di bawanya tadi
di kursi belakang , agar tidak rusak
terkena gesekan dirinya .
" Dari kemarin kau belum kesana Dre ?."
bertanya sambil membetulkan riasannya .
__ADS_1
" Belum , aku ingin kesana bersama dengan
dirimu sayang ." sesekali menoleh sambil
melihat lurus kearah depan .
Anggi seketika menutup kaca bedaknya ,
memandang Andreas dengan menaruh
tangannya didagu , " sekarang nakal ya ."
Mendekatkan diri pada Andreas ," sini anak nakal aku kasih hukuman ." Anggi
mencium pipi Andreas kemudian
kembali membenarkan duduknya .
" Kalau hukumannya begini , sering- sering
saja aku nakal ." Andreas tertawa
cengengesan .
" Sudah - sudah di kasih hati malah
ngelunjak ." menjewer telinga Andreas .
Candaan demi candaan Andreas luncurkan
untuk membuat Anggi agar melupakan
rasa kesal padanya .
Masalah wanita penggoda kemarin
saja membuat hati Andreas was - was ,
takut jika Anggi tak akan memaafkannya .
Andreas bersyukur , jika kejadian Joy
ini bisa mendekatkan mereka berdua .
" Sayang kau kenal sepupuku yang
bernama Bimo ?." Anggi menoleh .
" Bimo ?." menaruh satu telapak tangannya
di kepala dengan siku yang ditempelkan
di jendela mobil .
" O,, yang ketemu di Surabaya itu ?, "
" Iya , kamu ingat kan sayang , kemarin
malam dia tiba di Rumahku ."
Anggi setengah kaget , tapi dia juga
tahu alasan apa yang membuat sepupu
Andreas itu datang ke Jakarta , pasti
ingin mengejar Mery .
Yang Anggi tahu mereka pulang ke
Jakarta dengan tergesa-gesa , dan
pastinya Mery belum sempat bertemu
dengan Bimo untuk berpamitan .
" Pasti dia kemari untuk mendatangi
Mery , rasakan kau Roy , pasti seru jika
melihat pertunjukan persaingan perebutan
si lugu Mery ." Anggi tersenyum sendiri .
" Pasti karena Mery , iya kan ?."
bagaimana bisa kekasihnya ini tahu
padahal dia belum mengatakan nya .
" Tepat sekali , sayang tahu darimana ?."
" Lebih cepat sedikit jalannya , aku ingin
lebih lama berada di tempat Joy , " sewot
Anggi .
Andreas gemas dengan wanita di
sampingnya ini , mencubit hidung pesek
sambil tetap menyetir .
" Kebiasaan ditanya malah mengalihkan pembicaraan ." melepaskan cubitan
di hidung Anggi .
" Ya tahu lah , kan pas di Surabaya kemarin
Bimo juga ada disana , mereka tetangga
emangnya kamu nggak tahu Dre ?."
Andreas menggeleng .
Dia sempat kaget , sudah tertinggal jauh
berita masalah sepupunya itu , malah
kekasihnya ini tahu semuanya .
πππ
Mobil mereka sampai di Rumah Sakit ,
Anggi turun dari mobil , sambil menunggu Andreas memakirkan mobilnya , Anggi menunggu di teras Rumah Sakit .
Melihat dua orang yang tak asing sedang
duduk di Taman , Anggi segera menghampiri .
" Mer ," panggil Anggi dari kejauhan , kedua orang itupun menoleh bersamaan .
" Kalian di luar , kenapa tidak masuk ?."
Mery memutar bola matanya .
Dia menjelaskan jika didalam sana ada
Roy yang tak mau jika ada Bimo disana ,
dan perkataan Roy yang menyatakan jika
keberadaan Bimo adalah tamu yang tak
diundang membuat Mery sakit hati .
Padahal Bimo adalah orang yang datang
bersamanya , tidak ada hubungannya
dengan Roy , Mery kesal menceritakan
semuanya pada Anggi , dia hampir lupa
jika disebelahnya kini ada Bimo .
" Wah ternyata Roy di dalam , asik tuh
kalau kompor , apalagi di tambah ada
ibundanya ."
__ADS_1
Tak lama mereka berbincang , datanglah
Andreas yang berjalan dari area parkir ,
Tak perlu berlama-lama segera Andreas
mengajak Anggi masuk , karena waktunya
dia untuk menjenguk hanya sebentar dan
harus kembali ke Kantor .
Anggi tahu dimana letak ruangan yang
di tempati oleh sahabatnya itu , karena
semalam sebelum dia berani
menampakkan diri , dia sudah sempat
melihat sahabatnya itu walau dari
jarak yang agak jauh .
Masuk kedalam ruangan Joy , kejadian
didepannya seperti yang ada dipikirannya .
Perdebatan antara ibu dan anak , dengan
tokoh utama adalah Roy , Anggi tertawa
dalam hati , jiwa usilnya menggelora .
Menuang sedikit bensin pada api ,
boleh lah untuk memberikan pelajaran
pada Roy agar membuatnya jera akan
sifat buaya nya yang suka bermain wanita .
" Tak ada hubungan apa-apa tapi kalian
sering berciuman , apa itu hanya sekedar
luapan perasaan antara kakak pada
adiknya ?." sahut Anggi enteng .
Tak bisa berkutik saat semua mata tertuju padanya , meraup wajahnya kasar didalam hatinya muncul keinginan untuk melarikan diri .
Anggi berjalan dengan tenang tanpa rasa
bersalah sedikitpun pada Roy , mendekati
sahabatnya itu untuk memberikan buket
bunga mawar putih kesukaan joyyana .
" Joy maaf aku baru bisa datang ,
tentang ucapanku yang kemarin lupakan ."
memeluk pelan sahabatnya .
" Tidak apa Anggi , semua itu bukan
salahmu , aku tahu kalau kau cuma
bercanda , tapi ,, apakah benar mereka
pernah tidur bersama ?."
Belum selesai dengan ucapan Anggi
yang menyinggung tentang masalah
ciuman , sekarang di tambah dengan
ucapan Joy yang mempertanyakan tentang
masalah tidur bersama .
Menambah terbuka kesalahan demi
kesalahan yang Roy perbuat , Roy merasa
terpojok . Tak bisa berkutik hanya bisa
menunduk dengan berusaha keras
menelan ludahnya .
Suasana di kamar rawat inap joyyana
serasa mencekam , pernyataan Anggi
dan Joy membuat Roy terikat tak bisa
keluar dari masalah .
" Astaga , tak ada bahasan lain apa
aku harus bisa mengalihkan pembicaraan
mereka ." Roy berdiri menghampiri Andreas .
Rani tak bisa lagi berkata , dia tak habis
pikir ternyata sebegitu dekatnya
hubungan Mery dengan anaknya .
Padahal dia sudah senang saat melihat
putranya itu mengajak seorang wanita
saat menjemput ke Bandara tempo hari .
" Aku bisa jelaskan , semua itu tidak
seperti yang kalian pikirkan , aku dan
Mery tidak pernah tidur bersama , untuk
ciuman kami , semua dilakukan secara
tidak sengaja , bunda percaya kan ?."
Berjalan mendekati pintu , hendak berlari .
Roy membuka pintu, alangkah senangnya
dia saat mendapati ada seorang wanita
berdiri disana , orang itu bakal menjadi
penyelamat dirinya .
Menggapai pergelangan tangan , Roy
menyeret wanita itu kedalam ruangan Joy .
" Isabella katakan pada mereka , jika kau
adalah calon istriku ." Isabella hanya diam
tak bisa menjawab , melihat satu persatu
orang disana .
Bagai di guyur air bercampur bunga ,
Isabella syok bercampur senang , tak bisa
dirasakan apa yang ada di hatinya .
πΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏπΏ
Gimanaaaaaaa,,,,, dikit gpp asal up ..
ayokkkkk mana dukungan nyaaa
__ADS_1
jgn lupa jejaknya πππ
Next π