Om Kucing

Om Kucing
Bab 10 Warung Nasi


__ADS_3

"Tuan teko itu dia yang bernama gio, dia sudah tua senior anjing-anjing di perumahan ini." Bobo dan teko bersembunyi di balik kandang kelinci.


"Gio bagaimana kabarmu" Teriak bobo sambil berjalan ke arahnya.


"Aku baik-baik saja, hanya sedikit sakit ekor. Kelinci itu menggigitku." Sambil memperbaiki kalungnya yang berbentuk runcing tajam di semua bagian.


"Ada yang ingin ku katakan bersediakah menolong kucing yang teraniaya? Dia di serang sekelompok kucing liar, siapa lagi kalau bukan cunguk dan teman-temannya."


"Mmm. Kucing yang malang, Siapa dia." Sahut gio dengan nada sedikit tinggi.


"Dia kucing rumahan yang tinggal di perumahan ini nomor 188, pemiliknya perempuan cantik bernama angel."


"Ya manusia yang tinggal sendiri, aku mendengarkan obrolan majikan hingga mereka menangis. Menyedihkan"


"Tuan kucing keluarlah" Teriak bobo.


Teko berjalan perlahan sambil tersenyum, menghampiri gio yang saat itu duduk dekat kandangnya. "Oo ini kucing malang itu, kamu memerlukan bantuanku?"


"Benar gio, senang berkenalan denganmu. Aku mohon bantulah melawan kucing liar mereka terus menghajar hingga wajahku penuh cakaran, lihatlah." Menyodorkan wajahnya.


"Akan ku ajak semua temanku menghajarnya, tenang saja."


"Terima kasih gio, hari ini?"


"Secepatnya, bobo beri tahu semua anjing dan bawa mereka ke sini."


"Siap gio, laksanakan."


Bobo berlari sangat cepat melewati beberapa tembok pembatas dan lorong kecil lalu salur pembuangan air yang sudah tak digunakan. Sampai di halaman belakang membangunkan beberapa anjing.


Kemudian ia lanjut berlari melewati mobil bekas dan beberapa rumah kosong lalu naik ke atas atap merayap dan terjun ke bawah, sampai di atas kandang anjing. Semua anjing berlari menuju rumah gio.


"Perhatikan semua teman-teman ada yang perlu aku sampaikan, bahwa malam ini kita akan menyerang kucing liar mereka mengganggu kucing malang ini hingga wajahnya penuh cakaran dan tahukah kalian pemilik kucing ini manusia yang hidup sendiri. Ia menjaganya sepenuh hati, dia mempunyai hati yang besar sebesar tubuhnya. Anjing yang baik, kita patut menaruh hormat padanya." Gio sedikit membungkukkan tubuh dan kepalanya.


Semua anjing berlutut padanya membuat teko merasa tersanjung ia langsung menggunakan kacamatanya, berjalan melewati semua anjing.


"Sudah sudahlah terima kasih semuanya tugasku menghibur manusia yang kesepian, bukan sebagai anjing penjaga." Menepuk salah satu tubuh mereka.

__ADS_1


"Cepat pergi ke markas kucing itu" Teriak gio lalu ia masuk ke dalam kandang dan tidur.


Teko yang melihatnya yang tak ikut serta menyerang, langsung menegur, "Bukankah kamu ketua semua anjing, lalu kenapa tidur"


"Aku sudah pensiun, mereka masih muda dan gagah. Serahkan saja pada teman-temanku. Jangan khawatir." Lalu menutup matanya.


Tanpa pikir panjang teko berlari bersama bobo dan semua anjing. Sesampainya di salah satu rumah kosong, sebelah warung nasi. Kucing-kucing liar tertidur cukup pulas sekitar 20 kucing terlentang di lantai.


"Kucing pemalas, tarik ekornya lalu tendang." Bisik salah satu anjing chihuahua berwarna hitam kecoklatan."


Mereka menarik semua ekor kucing tetapi mencakar wajah dan kakinya, membuat salah satu anjing pergi meninggalkan tempat itu. Lalu seekor anjing besar menindihnya ia membalasnya dengan sekali gigitan.


"Sakit sakit. Kucing ini terlalu banyak" Teriak anjing besar.


Mereka menghajar habis-habisan anjing berukuran besar itu, kemudian ia menyerah dan pulang.


"Mereka hanya kucing kecil jangan takut ayo lawan saja" Teriak teko di balik tembok sambil mengintip dengan setengah kepalanya.


Seekor kucing hutan datang membantu semua anjing-anjing rumahan, mencakar dan menendangnya hingga mereka tertumpuk tak berdaya. Cunguk menyerah dan mengangkat kedua kakinya. "Aku menyerah hentikan"


"Aku teman kiko, manusia itu membeliku tadi sore lalu ia berbicara mengeluh pada pemilik toko kucing. Bahwa kiko diserang beberapa kucing liar. Akhirnya ia memilihku sebagai penjaga."


"Angel membeli kucing? Aku tak ada artinya lagi. Harga diriku jatuh" Teko bergumam dalam hatinya.


"Tuan kucing bukankah namamu teko, ia menyebut namamu kiko."


"Itu nama penaku, sepertimu bobo siang dan tidur malam."


"Kalian semua pergi, huss huss.." Pemilik warung nasi geram kucing yang berlari-lari ke melewati warungnya, beberapa makananpun di curi oleh kucing liar itu.


***


Kucing hutan berkuasa di dalam rumah, tubuhnya yang kekar dan matanya yang tajam juga kukunya yang runcing membuat teko menciut.


"Kiko mendekatlah aku tak akan menggigitmu" Teriak kucing hutan yang saat itu sedang tiduran di atas ranjang bersama angel.


"Aku tidur di sini saja kucing manis"

__ADS_1


"Namaku tarsan"


"Oo ya tarsan auo uo.." Teko melengkungkan tubuhnya dan menutup mata.


Angel bermain dengan tarsan hingga tengah malam melupakan teko yang saat itu tidur sendirian di sofa, membuatnya putus asa.


Ketika mereka tertidur lelap teko berjalan menuju jendela yang terbuka lalu melompat, ia menendang salah satu kaleng sambil berteriak. "Aku bosan. Kembalikan tubuhku."


"Ada apa dengan tubuhmu" Sahut seekor kucing liar mendekatinya.


"Ah cemong berhentilah menggangguku" Sambil berjalan di kegelapan sedikit penerangan.


"Tak mengganggumu hanya saja aku ingin mengajakmu jalan-jalan." Cemong mengikuti langkah kakinya.


"Apa yang kamu ketahui? Hanya jalanan kecil penuh dengan air kotor." Ledek teko.


"Bukan, ikuti aku." Ia mendahului lalu berlari tekopun penasaran mengikutinya hingga sampai di sebuah tempat indah di penuhi rerumputan hijau serta lampu-lampu kecil. Beberapa sepasang kekasih saling berpelukan duduk dekat kolam air mancur.


"Kamu suka mengintip manusia bermesraan cemong, aku tak suka tempat ini." Lalu membalikkan tubuhnya siap meninggalkan tempat.


"Ini tempat yang sangat indah perhatikan lampu kecil itu menyala seperti matamu saat malam hari, aku menyukaimu kiko." Bisik cemong sambil mengelus-elus lehernya.


Ia langsung berlari sangat kencang hingga salah arah kemudian melompat ke atap rumah bersembunyi di sela tembok. "Seekor kucing mencintaiku, yang benar saja. Rupanya ia kucing perempuan." Jantungnya berdetak tak karuan membuat tubuhnya gemetaran.


"Kamu dimana kiko, aku sudah lama mencintaimu." Teriak cemong di bawah sambil menoleh ke semua area.


Seorang perempuan bertubuh tinggi besar menyiramkan air padanya "Berisik" Teriak cukup kencang.


"Banyak kucing berkeliaran di malam hari, mereka berkelahi dan berisik." Keluh salah satu warga perumahan lalu menutup jendela.


"Dingin. Manusia tak berperasaan." Tubuhnya menggigil ia pun berlari.


"Syukurlah kucing luntur itu sudah pergi. Aku tak akan pulang ke rumah." Berjalan melompat ke bawah lalu masuk ke dalam mobil bak yang di penuhi botol minuman.


Tubuhnya terlentang ia tertidur di dempet beberapa botol besar, "rasanya seperti di peluk oleh perempuan cantik, hihi. Hangat. Aku tak mau tidur bersamamu osin, bersama botol minuman saja" Bergumam dalam hatinya sambil tersenyum. Seekor cicak menjatuhkan hajatnya di atas hidungnya. "Kotoran apa ini, bau." Terpaksa dengan mata yang masih mengantuk mencari air dan menyiram wajahnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2