
Teko merasakan tak ada harapan lagi menunggu isteri dan kedua anaknya, lalu ia berjalan menelusuri jalan setapak. Melewati beberapa pagar tetangga dan beberapa rumah.
Tercium wangi kue hingga ke atap rumah sebelah, teko perlahan berjalan lalu melompat ke jendela. Seorang anak kecil menyapanya lalu memanggilnya. Ia menyodorkan beberapa kue nastar kepadanya, dengan cepat teko mengunyah kue itu hingga tak sengaja menggigit jarinya. Spontan, anak tersebut memukulnya lalu sang kakak yang berada di sebelahnya menyiramkan air pada teko.
"Anak kecil tak tahu sopan santun, aku lebih tua darimu." Ia melompat ke bawah di tempat jemuran tubuhnya menggantung di salah satu pakaian dalam. Mencakar-cakar pakaian itu dengan kukunya hingga robek.
"Ibu. Lihat kucing gemuk itu merusak pakaianmu." Teriak anak kecil yang sedang menoleh ke bawah jendela. Ibunya melemparkan mainan anaknya ke arah teko hingga kepalanya benjol.
Teko menggaruk-garuk kepalanya sambil menjilat-jilat kaki depan, "Hari ini aku di perlakukan sangat buruk." Sambil berjalan melompat dan duduk di pojok rumah, beberapa menit kemudian seorang perempuan cantik dan muda berjalan masuk ke arah pintu ketika hendak membuka kunci ia menoleh ke sudut halaman rumahnya.
"Puss. Puss. Kamu kenapa benjol? Malang sekali nasibmu. Apakah kamu tersesat?" Ujar perempuan itu.
"Meoong." Mata teko seakan membentuk cinta dan pipinya tertarik ke atas.
Ia menggendong teko sambil mengecup kepalanya yang benjol, "Aku suka di kecup." Teko semakin manja dan cari perhatian.
"Aku akan mengobati lukamu, menggunakan air hangat? atau kubawa pergi ke dokter?" Sambil menaruh teko di atas tempat duduk, lalu berjalan mengambil sapu tangan dan air hangat.
Teko terbaring di atas kursi layaknya manusia, sambil menatap wajahnya. Ia menyimpan sapu tangan hangat di atas kepalanya.
Krek.. Suara pintu terbuka.
"Aku pulang. Lho Apa yang kamu lakukan membawa kucing ke dalam rumah, hidungku akan alergi. Keluarkan dia." Suaminya menutup hidung dan masuk ke dalam kamar.
"Bulunya tidak rontok, aku rasa seseorang merawatnya dengan baik. Aku simpan di dalam kandang saja ya."
"Baiklah, jauh-jauh dariku." Teriak suaminya sambil melepas kemeja.
"Kucing manis, masuk ke dalam kandang ya. Dulu aku merawat anjing kecil. Nah, tempat ini cukup luas cocok untukmu." Sambil tersenyum.
__ADS_1
"Meoong." Teko sedikit geram, ia tak mau masuk ke dalam kandang.
"Dasar suami yang tak penyayang, buluku tak akan membuatmu alergi kecuali bulu ketiakku" Sambil duduk santai.
"Moci, apakah kamu sudah memasak untukku." Suaminya memeluk erat dari belakang.
"Buka saja tutup saji itu, aku membuat masakan kesukaanmu."
"Wah. Aku suka ayam bakar, terima kasih" Mencicipinya penuh kasih sayang, "Rasanya lezat sekali, kamu pandai memasak. Besok bawakan aku bekal ya."
Teko memperhatikan kemesraan mereka sepasang suami isteri yang romantis dan saling menghargai, ia teringat isterinya namun sekejap merasa benci dengannya. "Masakanmu tak lebih baik dari perempuan ini." Bergumam dalam hatinya.
"Sayang, kucing itu akan kita rawat? Aku bisa membelikan kucing untukmu, lihatlah dia hanya kucing jelek yang tak ramah. Aku tak suka sorot matanya." Ledek suami moci sambil duduk memperhatikan teko.
"Itu perasaanmu saja kurasa kucing ini terlihat manis dan menyenangkan, sorot mata kucing memang tajam. Bahkan bercahaya di kegelapan."
Beberapa menit kemudian terlihat mereka tidur di atas ranjang, pintu terbuka lebar. Teko berusaha membuka kandang, menggeser kaitannya sedikit demi sedikit kemudian kandang itu terbuka.
"Moci. Kentutmu bau, bisakah masuk kamar mandi saja saat ingin kentut." Suaminya menutup hidung dan menyalahkan isterinya.
"Aku tidak kentut, mungkin kamu lupa tak terasa buang angin." Ketika mereka secara bersamaan membuka selimut, terlihat teko tertidur pulas di atas ranjang. Suaminya berteriak sangat kencang seakan menggetarkan seisi rumah, lalu mengeluarkan teko keluar halaman.
"Kucing sialan" Bruk. Pintu tertutup rapat.
"Seperti tak pernah buang angin saja, suamimu menyebalkan. Menikahlah denganku." Ia berjalan dengan sedikit mengantuk, lalu masuk ke dalam mobil yang saat itu kacanya terbuka di jok belakang. Teko masuk ke dalam tas besar di bagasi mobil, melanjutkan mimpinya.
"Kita harus mengantarkan pesanan ini secepatnya, jangan terlambat." Ujar pria bertato bertubuh tinggi besar.
"Siap pak, perumahan choco tak jauh dari sini. 10 menit saja sudah sampai." Sahut supir pribadinya.
__ADS_1
***
"Akhirnya pekerjaanku selesai, aku bisa istirahat dengan nyaman. Ups, lupa tas ku tertinggal di mobil." Membuka bagasi mobil lalu membawa tas besar itu.
"Berat sekali tas ini, padahal isinya hanya beberapa pakaian saja." Lalu menaruh tas itu di dalam kamar.
Pria bertato tertidur pulas di atas ranjang, kemudian mendengkur cukup keras. Membuat teko terbangun dari tidurnya.
"Siapa yang mendengkur sekeras ini, menganggu saja." Melompat lalu matanya berputar, "Dimana aku? Bukankah aku tertidur di mobil."
Berjalan di bawah kolong ranjang, lalu mencakar sprei dan menariknya. Hingga ia sampai di atas ranjang.
"Siapa pria ini, tubuhnya penuh dengan crayon." Lalu
Ia menggosok kakinya ke kaki pria itu yang penuh dengan tato, "Tak bisa hilang, crayon macam apa ini? Apakah dia menggambarnya dengan cat tembok." Lalu menggosok kakinya lagi berulang-ulang.
"Aww. Geli sayang, sudah sudah. Hihihi." Sahut pria itu dengan mata tertutup dan sedikit mendesah.
Teko turun ke bawah ranjang dan berjalan ke kamar mandi, lalu buang air kecil di atas kloset. Kemudian melompat duduk di wastafel lalu menggosok giginya. Ia meniup mulutnya hingga tercium aroma pasta gigi.
Teko melanjutkan perjalanannya mencari televisi dan menekan tombol pada remot, channel nomor 7 film favoritnya di malam hari. Sambil menikmati popcorn.
Pemilik rumah merasa terganggu dengan suara televisi, kemudian bangkit dari ranjangnya yang empuk. "Siapa yang menyalakan televisi malam hari begini, ku rasa supir itu sudah pulang. Lalu?" Ia menoleh ke ruang televisi, terlihat kucing gemuk sedang duduk santai.
Pria bertato itu langsung menggendong teko, mengecupnya dan menarik kumisnya. "Kucing yang menggemaskan, hadiah dari tuhan menemaniku saat kesepian." Raut wajah teko seakan kesal dan geli.
Kemudian menggigit tangannya, "Tak apa gigitlah aku suka di gigit kucing" Raut wajahnya semakin aneh melihat tingkah pria bertato itu. Yang sangat menyayangi kucing.
Duduk di ruang televisi kemudian menggendong teko mengayun-ayunnya seperti bayi hingga membuat kepalanya pusing. "Kasihan sekali kamu di lempar batu ya, kepalamu benjol. Besok aku bawa ke dokter. Dia akan menyuntikmu."
__ADS_1
Matanya melongo ketakutan berusaha kabur namun pria itu menangkapnya dengan cepat, mengecupnya berkali-kali. "Aku belum menggosok gigiku, tapi seperti aroma pasta menyengat hingga ke hidungku."
Bersambung...